Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Menang lagi


__ADS_3

Ternyata yang memanggilnya adalah Miko, teman sekolah Ben.


"Hai Miko, di antar siapa?"tanya Ben


"Aku diantar sopir sama seperti kalian. Oh ya jam berapa mulai nya lomba."


"Jam 8."


"Kau sudah sarapan, Ben, Axel."


"Kita udah, kak," jawab Axel pada Miko


"Oh ya sudah, ayo masuk. Siap-siap dulu."


"Ayo."


Ketiga bocah tampan itu, masuk ruang serba guna di sekolah lawannya. Mereka menyapa semua yang ada di dalam lalu berganti pakaian.


Pukul 8 pagi terdengar pengumuman jika perwakilan dari sekolah bernama Ben dan Miko dari sekolahnya bersiap maju untuk melawan.


Semua pun sudah siap menonton penampilan terbaik dari masing-masing sekolah. Sekitar 3 jam bermain, akhirnya babak penentuan karena Ben seri dengan lawannya.


"Baiklah, ini babak penentuan siapa yang akan menang. Mari kita saksikan bersama."


"One, two, three oh yeah."


Terlihat Ben dan lawannya mulai beraksi, hingga tak lama Ben mulai menjepit badan lawannya tak berkutik.


"One, two, three. Yeah, the winner," seru wasit


Semua berdorak ria termasuk Axel dan Miko bahagia dan bangga Ben kembali menang.


"Waw, kakak menang lagi," sorak Axel


"Keren, Ben," puji Miko pada Ben


Dan siapa sangka perlombaan itu di siarkan secara live oleh seseorang membuat semua terpana dengan bocah sekolah dasar tersebut.


"Gila, keren tuh bocah geraknya begitu lincah," ucap seseorang melihat Ben di televisi


"Iya, cari tahu siapa bocah itu."


"Baik bos."


Sedangkan di rumah sakit, Brian dan Ayunda bersiap pulang setelah di perbolehkan dokter.


"Sayang, udah apa belum?"


"Bentat Dad, aku cek dulu takutnya adaa yang ketinggalan."


"Oke."


Saat menunggu istrinya Brian mendapat pesan dari Johan.


"Bos, Ben menang lagi."


"Darimana kau tahu."


"Dari ini, lihatlah," tutur Johan memberikan sebuah video


Brian terkejut lalu mengulas senyuman. Ayunda melihat suaminya senyum-senyum segera bertanya


"Ada apa Dad, kok senyum sendiri. Awas saja macama-macam."


Brian tersenyum mriring llu emngahmpiri istrinya terlihat ngambek.


"Eh, eh sayang. Kita ini udah berapa tahun sih, kamu kok nggak percaya sama aku, hem."


"Tahu," ucaonya emngedikkan bahu


"Hei, denger ya," Brian menghadapkan tubuh istri repat di depannya.


"Apa?"


"Nyonya Brian baratawijaya, tak ada wanita lain selain kamu. Cuma kamu, jika maut memisahkan, aku takkan memiliki jiwa lain."


"Yang bener."


"Iya."


Buruan yang gemas pada istrinya dengan cepat mencium sekilas bibir manis istri

__ADS_1


Cup


"Ih, Daddy menyebalkan."


"Tapi ngangenin kan," goda Brian


"Udah deh senyum, tahu nggak putra kita menang lagi."


"Oh ya, alhamdulillah."


"Ya udah kita buruan pulang, dan buat syukuran buatnya dan kita."


"Iya, ayo."


Brian dan Ayunda keluar dari ruangan, nampak di depan para bodyguard sudah menunggu.


"Bos," sapa salah satu bodyguard


"Iya, ayo."


Saat Ayu dan Brian berjalan menuju keluar banyak pasang mata yang terpana ketampanan dan kecantikan keduanya, apalagi mereka di ikuti para bodyguard di belakang.


"Mereka sungguh serasi," puji salah satu pasien


"Aku ngefans mereka dari pas pertama nikah."


"Sama."


Dan masih banyak lagi pujian yang dilontarkan, Ayunda dan Brian dalam berjalan menuju kediaman Baratawijaya. Dan siapa sangka semula Brian dan Ayu ingin membuat kejutan untuk Ben, malahan mereka dikejutkan kedua bocah tampan itu.


"Surprise," seru semua yang datang


"Jessi, Ben, Axel, kalian pakai jin ya," ucap Brian


"Kenapa begitu Dad, kita ya naik mobil," ujar Axel


"Lah, di pikir kita keturunan jin," ujar Jessi kesal


"He ... Sebenarnya tadi mau bikin kejutan untuk mu Ben, eh malah kalian mengejutkan."


"Nggak apa Dad, Ben bahagia bisa kumpul lagi apalagi ada Tante Jessi."


"Hei keluarga jin , mau sampai kapan berdiri terus, kram nih kaki," gerutu Johan


"Hahahaha, ayo kita duduk. Orangtua jin udah ngomel."


"Huh, dasar," omel Johan


Seuanya pun mulai makan berdama dan ga lupa mereka membagikan pada orang yang membutuhkan.


"Tante,sama aku ya bagikan nya," ucap Axel


"Boleh, kau ta ikut Ben."


"Enggak Tante, capek."


"Oh ya, tadi habis lomba. Yaudah kitapamit dulu Kak."


"Iya Jes, Axel hati-hati."


"Siap."


Jessi dan Axel masuk ke dalam mobil lalu melajukan pelan karena senagja ingin membagikan pada orang. Selang beberapa menit, keduanya berhenti sejenak.


"Ayo turun, Xel."


"Baik Tante."


Jessi dan Axel turun sambil membawa sebuah kantong berisi makanan dan minuman, mereka membagikan pada pengemis juga pengamen. Dan tanpa menunggu lama sudah ludes semua.


"Xel, Tante beli minum dulu ya, haus."


"Baik, Tante ayo."


Usai bei minuman saat masuk keduanya terkejut ada pria tampan di dalam mobil. Sontak mereka berteriak


"Aaaa."


"Ops, kenapa kau ikut teriak hah," bentak Jessi


"Sorry, aku kaget. Dan sorry lagi, aku main masuk ke dalam mobilmu , aku di kejar sesoramg.:

__ADS_1


"Seseorang, atau ku jangan-jangan maling ya."


"Eh ena aja, tampangku kaya gini dibilqng maling."


Dan Rendra melihat ada segerombilan cewekbrlarian ke arah mobil segera ia bersnmbunyi.


"Nah itu mereka tong diem ya."


Rendra seketika menunduk dan menutup wajahnya sedangkan Jessi dan Axel melongo ternyata yang mengejar cewek ada sekitar 5 orang.


"Jadi, kau dikejar mereka," tanya Jessi


"Iya, maaf biar aku yang setir. Kau mau ke alamat mana."


"Eh om, beneran mau anter," Axel menatap selidik


"Iya adek tampan, ayo tunjukin kemana."


"Jalan xx. "


"Baiklah, let's go."


Tak butuh lama mobil mewah sampai di depan mansion Brian.


"Astaga, tadi itu Om macam Valentino aja."


"Iya tapi nggak jadi."


"Kok bisa."


"Karena orangtuaku tak setuju. Oh ya makasih tumpangannya," Rendra turun dari mobil


"Iya Om, Om tak apa pulang sendiri, kan."


"Tak apa," Rendra tersenyum manis kearah Jessi dan melambaikan tangannya.


Jessi melajukan mobilnya masuk ke dalam gerbang. Sedangkan Rendra tengah berfikir dengan wajah Axel yang tak asing.


"Bocah itu kayak tak asing ya."


"Ah udahlah, mending aku pulang lelahnya."


Di sisi lain, Jessi dan Axwl baru sajamasuk ke dalam rumah.


"Sudah semua Jes," tanya Brian


"Alhamdulillah sudh kak, oh ya au pualng dulu ya, capek."


"Baiklah hati-hati."


Keesokan harinya, Jessi akan melamar sekretaris di perusahaan Rendra grup. Dia sengaja cari kerja untuk uang kuliahnya, ia tak enak hati jika bergantung pada Brian kakak angkatnya.


"Bismillah, semoga di trima."


Jessi turun ke bawah dan mulai sarapan dengan sepotong roti dan juga segelas teh hangat. Setelah itu, ia mengemudikan mobilnya menuju kantor Rendra grup. Sekitar 500 meter dari perusahaan tersebut, Jessi memarkirkan mobil agar tak ada yang tahu jika dia adek dari Brian.


Perempuan cantik berjalan menuju resepsionis


"Maaf mbak, saya mau melamar sekretaris apakah masih ada."


"Oh masih kak, silahkan naik ke lantai 20, ya."


"Baik, terimakasih."


Saat di lantai 20, ia pun mengetuk ruang presdir


Tok


Tok


"Masuk."


"Selamat pagi tuan, saya Jessi melamar menjadi sekretaris."


"Oh ya kau lulusan apa."


"Saya S1 tuan."


Dan akhirnya presdir tersebut berbalik badan, betapa terkejutnya mereka berdua


"Kau."

__ADS_1


__ADS_2