
"Maksudmu, Dewa ini Om, nak," tanya Kayla pada Sha
"Apa ? Dewa , Mom."
"Iya dia Dewa. Anak panti yang dulu kau ajak berteman, kau lupa sayang."
"Hah, kak Dewa itu."
"Nanti aku jelaskan, sekarang kau sarapan dulu gih."
Sha mengangguk dan menuju ruang makan. Kayla mengajaknya makan bersama namun Dewa menolaknya. Saat Marvel turun ia mengerutkan dahi, sudah pria tampan duduk di ruang tamu sepagi ini.
"Maaf anda siapa ya?"
"Saya Dewa, Om. Teman Sha dulu waktu di panti asuhan milik Bu Yuni."
"Oh kamu. Bagaimana kabar Bu Yuni."
"Alhamdulillah baik, Om."
"Syukurlah, ayo sarapan bareng."
"Makasih Om, tapi Dewa tak biasa sarapan."
"Ya uda Om, masuk dulu."
"Siap Om."
Kayla masuk ruang makan dan ia menatap Kayla lalu berganti Sha. Tatapan mata Alden membuat Sha bergidik ngeri.
"Pagi Mom," sapa Marvel.
"Pag Dad."
"Pagi."
"Pagi Dad," Alex
"Pagi."
"Dad, di depan ada cowok. Itu siapa ?" tanya Alex
"Temen kakakmu itu," ucapnya menunjuk Sha.
"Hahahhaha, emang ada yng mau sama kakak yang bar-bar ini, ejek Alex.
"Sialan kamu, Lex."
"Ampun bang jago."
"Udah-udah makan dulu. Buruan, entar telat."
Mereka mulai beedoa dan setelah itu menyantap nasi goreng di depan mata. 15 menit kemudian, semua sudah selesai. Sha berpamitan untuk berangkat sekolah.
"Mom, Dad. Aku berangkat dulu."
"Permisi Om, Tante. Assalamuaalaikum."
"Waalaikumsalam."
"Hati-hati Dewa."
Dewa tersenyum dan membukakan pintu mobil untuk Sha. Sepanjang perjalanan, mereka saling diam, bingung mau bicara dari mana dulu.
"Kamu," ucap keduanya kompak.
"Udah kamu aja dulu ngomongnya."
"Kakak aja."
Dewa bahagia ia tak lagi dipanggil Om oleh calon istri impiannya. Ia mengulas senyum lalu mulai berbicara.
"Maafin aku Sha, jika dulu aku pergi tanpa pamit. Aku dulu tak punya apa-apa untuk menghubungi. Buat makan saja aku udah bersyukur untuk itu, aku sudah janji bakal ketemu lagi. Dan sekarang aku menepatinya meski keadaan kita sudah berubah."
"Iya kak, aku ngerti kok. Tapi kakak bisa tahu aku ada di sini," tanya nya menyelidik.
"Sekarang aku bisa mencarimu hingga di lubang semut, Sha."
"Waw, kakak udah jadi pebisnis terkenal ya. Sha juga pengen nanti kayak gitu."
__ADS_1
"Belajarlah dulu, nanti kau bisa menjemput impianmu."
Tak lama, mereka sudah berada di depan gerbang sekolah, semua menatap kearah mereka. Apalagi di saat Sha dan Dewa turun dari mobil , mereka melongo.
"Sha. Sama siapa tuh ganteng amat anjir."
"Iya, buat aku boleh nggak ya."
"Mimpi."
Sha mendengar pujian para cewek di sekolah heran selalu saja kepo kalau ada yang bening dikit.
"Udah sampai sini kak."
"Oke, kamu nanti pulang jam berapa?"
"Jam satu kak. Kalau sibuk nggak usah di paksa. Sha bisa pulang sendiri kok."
"Bisa kok, untukmu aku selalu bisa. Udah masuk sana, see you."
"See yòu."
Setelah kepergian Dewa, sekilas Sha melihat Kinan berlari kencang melewatinya menyapa. Ia heran kenapa dengan sahabatnya itu pasti ada yang telah terjadi.
"Nan, kamu kenapa lari tadi."
"Hah, kapan."
"Barusan."
"Aku takut telat soalnya tadi kesiangan bangunnya," ucapnya tersenyum kikuk padahal ia tadi berlari setelah turun dari mobil Arthur, takut ketahuan yang lain.
"Kamu beneran nggak apa."
"Nggak. Ayo duduklah."
Sha sebenanya curiga dengan sahabatnya, ia akan cari tahu sendiri nanti. Akhirnya duduk disebelah Kinan, dan tak lama Arthue datang. Membuat Sha menghampiri dan bertanya pada kakaknya.
"Kak, kau kemana aja."
"Ini di sini."
"Ih nyebelin banget sih, maksudnya sudah berapa hari ini kakak nggak pulang. Kakak dimana?"
"Kak aku serius."
Sha mengerucutkan bibir karena mendapat jawaban tak pasti dari kakaknya sungguh ia ingin menenggelamkannya jika bukan kakaknya. Ia pun kembali duduk sedangkan Arthur mengulas senyum pada Kinan. Kinan pura-pura tidak tahu tapi bukan Sha kalau tidak kurang akal, ia menatap keduanya lewat cermin, ia curiga seperti menyimpan sesuatu diantara mereka.
Waktu istirahat tiba, saat di kantin. Gery, Sha dan Kinan baru saja datang dan memesan makanan.
"Kamu mau pesan apa Sha, Nan."
"Aku bakso pedesnya sama es teh aja," ucap Sha
"Aku juga samain," Kinan.
"Oke tunggu."
Saat Gery memesan makanan, Arthue menghampirinya.
"Punya Kinan mana, biar aku yang bawain," ucap Arthur pada Gery membuat terkejut
"Ini, ada aja kamu Arthur," Gery memberikan mangkok dan es teh pesenan Kinan pada Arthur.
Arthur tersenyum tipis lalu menghampiri di meja Kinan.
"Ini punyamu, Nan."
"Hah," Sha dan Kinan sama-sama terperangah
"Ma-makasih."
"Eh kak, kamu nggak lagi sakit kan."
"Dasar adik durhaka doain kakakmu ya."
"Eh bukan gitu, kalian aneh."
"Siapa yang aneh, kamu yang aneh jalan sama Om-om."
__ADS_1
"Ih kakak nyebelin banget."
Brugh
Seketika Sha menendang meja tempat Arthur makan membuat kuah baksonya terkena di baju seragam Arthur.
"Ops sorry."
Arthur hanya menatap tajam dan tak merespon ucapan adeknya itu. Tak disangka tiba-tiba, ada cewek yang mengelap baju Arthur.
"Duh Arthur, baju mu kok kotor sih biar aku bantu bersihin," ucap manja Sasa.
"Brengsek, pergi kau. Aku nggak butuh," ucap Arthur paling anti sama cewek pegang-pegang.
Sasa kesal dan menghentak-hentakkan kaki nya, Sha yang tak tahan untuk tidak tertawa akhirnya pecah juga, saat kakaknya sudah pergi.
"Hahahhahhha, sumpah sakit perutku."
"Sial."
"Eh jangan harap kakakku bakal mau denganmu yang menjijikkan itu."
"Kau bilang apa, hah," Sasa tak terima.
"Mau apa kau," bentak Kinan memasang badan untuk Sha.
"Ingat ya, aku bakal hancurin kamu jika sudah mendapatkan hati kakakmu itu. Brengsek."
"Oh takut," Sha mengejek lalu tos dengan Kinan.
Gery menggeleng kepala heran dengan dua manusia cantik yang sekarang jadi sahabatnya.
"Cabut guys," ajak Sha pada Gery dan Kinan.
Tak terasa sudah pukul satu siang, Kinan dan Sha berjalan diikuti Gery dari belakang. Namun tak lama Gery berpamitan.
"Aku duluan guys."
"Oke."
Dari kejauhan tampak pria tampan bersandar di depan mobil mewah sudah dipastikan itu adalah Dewa. Dewa hati Sha saat ini, Sha mengajak Kinan untuk berkenalan.
"Sha, ini bukannya Om-om itu ya."
Sha seketika menginjak kaki Kinan untuk tak terlalu banyak bicara.
"Aw."
"Stop. Jangan banyak bicara."
"Huh dasar emang ini anak," gerutu Kinan.
"Hai Kak, udah lama."
"Hai, baru aja kok."
"Oh ya kak ,kenalin ini Kinan sahabatku."
"Kinan."
"Dewa."
"Yaudah aku duluan ya Sha, kak Dewa."
"Iya Nan, hati-hati."
Di perempatan sudah ada mobil di tepi jalan menunggu Kinan. Kinan celingukan memastikan tak ada yang mengetahuinya, ia buru-buru masuk.
"Kok lama."
"Maaf, tadi diajak kenalan sama gebetan Sha."
"Jadi beneran dia sama Om-Om itu."
"Arthur, dia masih muda kok mungkin tuaan dia 4 tahun."
"Sama aja."
"Terserah kau."
__ADS_1
Tak lama, mobil Arthur masuk ke dalam apartemen mewah membuat seseorang sedari tadi mengikuti menatap kesal.
"Brengsek, lihat aku akan buatmu menderita."