
"Kau lihatlah ini, akan jadi bahan tertawaan."
"Ini kan," ucap Axel berhenti , ia berpikir kenapa kakaknya jahil dengan cowok ini
"Kau diem aja, Xel. Nah selesai."
"Kakak kenapa merekamnya."
"Kau nanti juga tahu. Yuk, ke kelas."
Ben dan Axel segera masuk ke dalam kelas karena mereka ujian. Ben yang genius hanya butuh 15 menut mengerjakan 50 soal pertanyaan.
Semua mahasiswa di dalam kagum, akan kepintaran dari Ben, dan pria pintar kedua adalah Axel.
"Mereka memang keren segalanya."
"Most wanted tak terkalahkan otak nya."
Usai ujian, Ben dan Axel ke kantor Baratawijaya. Mereka mulai belajar bisnis semenjak di bangku perkuliahan dan wisuda juga tinggal dua bulan lagi. Ben bercita-cita bisa membantu sesama agar dapat pekerjaan dan meraih kesuksesan bersama. Ia dan Axel berencana membuka sekolah untuk masyarakat tak mampu dan tempat mengaji.
"Semoga apa yang aku impikan bisa terwujud, amin," batin Ben berharap
Axel melihat Ben termenung, ia memberanikan diri bertanya, "Melamun apa kak."
"Mau tahu aja, atau mau tahu banget."
"Malah kasih tebak-tebakan. Dasar kakak aneh."
"Hahaahaha."
Tak lama, mobil berhenti di depan lobby. Keduanya menjadi sorotan bagi para karyawan karena pesonanya. Axel dan Ben berjalan saja tanpa menghiraukan pujian para karyawan yang mengidolakan.
Sampai di depan ruang presdir, Ben dan Axel mengetuk pintu.
Tok
Tok
"Masuk."
"Assalamualaikum, Dad."
"Waalaikumsalam, nak. Duduklah, oh ya ini kalian pelajari."
"Baik, Dad."
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Brian berpamitan pada Johan karena harus keluar.
"Aku keluar dulu, Jo."
"Oke. Hati-hati."
"Iya, ayo Ben, Xel."
"Iya Dad."
Mereka menggunakan mobil Ben, dan tak lama samapailh di rumah sakit. Ben, Axel dan Brian berjalan menuju ruang tempat teman Bria di rwat. Saat sampa di ruang tunggu beetapa teekejutnya Ben saat tahu ada Bebi.
"Kau."
Bebi tak menjawab, ia memilih pura-pura tidak tahu. Sedangkan Axel, menahan tawa melihat keduanya.
"Bebi, tante mana?"
"Tante, lagi di kantin, Om."
"Oh begitu, bagaimana Papa mu."
"Masih belum sama, daritadi nyari Om."
__ADS_1
"Sabar ya, Bebi."
"Makasih, Om."
Dan akhirnya sosok istri datang menyapa
"Hai Dad, udah lama."
"Baru 10 menit yang lalu, kau darimana?"
"Dari kantin, ini beli makan untuk Bebi."
"Oh begitu, ya udah ayo masuk."
"Ayo ben, Axel kalian juga masuk."
"Hah."
"Ayo," Brian menarik keduanya agar masuk
Di ruangan itu, suasana terasa sunyi. Ben dan Axel berdiri agak jauh dari brankar. Brian pun mendekati brankar temannya.
"Her, ini aku Brian."
Hermawan mulai membuka mata pelan-pelan dan melihat ada Brian, Bebi, serta istri dan anak-anak Brian. Hermawan tersenyum ke arah merksa dan berkata, "Bri, aku minta maaf jika pernah menyakiti hatimu. Dan aku minta tolong, Bri nikahkan Bebi pada Ben. Aku tahu putramu adalah pria yang baik dan bisa menjaganya, ini permintaanku terakhir."
Ben dan Bebi terkejut dengan ucapan Hermawan tiba-tiba, Bebi ketika meneteskan air mata. Selama ini, Bebi selalu mendapat dukungan dari Papanya. Saat Papa nya berkata seperti itu, pemyap sudah hatinya. Seakan tak ada lagi tempat ia berkeluh kesah.
"Bagaimana, Bri?"
"Aku setuju saja, Her. Tapi anak-anak?"
"Bagaimana Ben, kau bisa?"
Ben nampak kaku wajahnya, seakan ia ingin melarikan diri saat ini, di hatinya ia tak enak hati jika menolak. Tapi apakah bisa tanpa cinta menikah, pikirannya berkelana membuat kepalanya terasa mau pecah. Di satu sisi, prinsipnya menikah sekali seumur hidup.
"Ben," Brian memanggilnya
"I-iya Dad, Ben setuju."
"Alhamdulillah."
"Dan kamu bagaimana, Beb?" tanya Ayunda
"Aku akan menuruti omongan Papa."
"Alhamdulillah."
"Sini Ben dan Bebi," Hermawan menyuruh keduanya mendekat
Hermawan memeluk keduanya dan berkata, "Jadilah panutan yang baik buat keluarga kalian, Jangan prnah menyerha dengn keadaan jadika semua motivasi dan terbukaph dalam hal apapun, pernikahan kalaian pasti akan selamanya."
"Iya, Pa," ucap kompak keduanya
Tiba-tiba, Ben dan Bebi merasa aneh dengan Hermawan yang terasa kaku. Buru-buru, Bebi melepasan pelukan Papanya.
"Pa ... Pa. Papa, bangun," ucap Bebi sambil menggoyangkan badan Papa nya
"Papa," teriak Bebi
Brian memeriksa denyut nadi Hermawan sudah tak ada
"Innalillahi wainnailahi rojiun."
Ben yang tak tega, mencoba menenangkan Bebi, Ayunda ikut bersedih hati melihat rasa kehilangan Bebi. Brian keluar ruangan, lalu mengurus jenazah Hermawan dan keperluannya.
Ben mengantar Bebi pulang ke rumahnya agar dia lebih tenang bersama Axel dan Ayunda.
Sampai di rumah, Bebi hanya diam. Ben menyuruhnya makan tapi dia menolaknya.
__ADS_1
"Kau makanlah, nanti sakit."
"Aku nggak nafsu."
"Ya sudah, kalau kau sakit jangan salahkan aku," ucap Ben berlalu
Ben kini berada di balkon menghisap rokok menghilangkan penatnya. Sudah seminggu ini, Bebi murung hingga ia berpikir untuk pergi darinya. Ayunda melihat kekecewaan pada Ben membuatnya menghampiri.
"Kau kenapa, nak," taya Ayunda pada putranya
"Aku sebal dengannya, kayak begini mau nikah."
"Ben, sabar. Rayulah dia ajak dia kemana begitu, dia baru saja kehilangan."
"Semoga Ben bisa, Bun."
"Jaga emiga, karena perniakha kaia dua hari lagi."
"Apa."
"Ben kau ini mau buat tuli, Bunda."
"Maaf Bun, Ben terkejut kenapa secepat itu."
"Biar kamu semakin bertanggung jawab pada wanita."
"Huh, iya-iya."
"Ya udah, kamu istirahatlah, kurangi rokoknya kalau mau umur panjang."
Usai Bunda Ayunda pergi, ia membuang rokok tersebut dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Dua hari kemudian, Bebi sebsnarnya ingin bertemu dengan Kekasihnya nanun tak bisa karena dia akan menjadi istri orang.
"Huh, maafkan aku."
Di ruang akad nikah, Ben terlihat tampan dengan setelan jas warna hitam. Dan tak lama, penghulu memberi aba-aba agar berjalan lancar.
"Bismillah, Saya nikahkan dan kawinnya engkau Benardo tama baratawijaya dengan Bebi hermawan dengan maskawin sebuah rumah dan hotel d8bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Bebi hermawan dengan maskawin tersebut tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah.
Tak lama, pengantin wanita di ajak keluar menuju suaminya oleh Ayunda. Saat berjalan menghampiri suami, Ben terpesona dengan kecantikan Bebi.
Axel cekikikan melihat kakaknya yang terlihat tak bisa menahannya.
"Ehm, nanti pandangannya."
Ben mendengus kesal karena digoda oleh Axel.
Usai saling memasangkan cincin, kini berganti satu persatu tamu naik ke pelamiman agar bisa menyalami pengantun baru itu.
"Selamat ya."
"Makasih."
Ben dan Bebi tak saling menyapa, mereka sungguh pandai sekali menutupi.
Malamnya, acara di gelar di hotel dengan acara makan malam spesial untuk sejoli.
Tiba-tiba, saat keduanya akan berjalan ke lobby tiba-tiba ada yang menyapa.
__ADS_1
"Ben."