
"Mommy."
"Hai putra mommy yang tampan dan baik hati. Apa kabarmu nak?" Kayla memeluk putra bungsunya.
"Kabar baik Mom, kok nggak kasih kabar kalau mau kesini?"
"Sengaja. Selamat ya, katanya kamu juara."
"He ... makasih Mom."
"Udah-udah sekarang kita makan dulu ya," ajak Marvel
"Siap Dad."
Setelah makan malam bersama, Alex pamit ke kamarnya. Entah mengapa ia merindukan Lala.
"Halo La, udah makan?"
"Eh Lex, uda kok barusan juga bareng nyuapin Papa. Kamu uda makan?"
"Udah kok juga barusan. Nyampek rumah ternyata Mommy ku datang, La."
"Waw, kejutan dunk."
"Iya. Oh ya gimana perkembangan Papa mu."
"Iya cuma gitu aja ,belum ada perkembangan lain."
"Aku doakan cepet sembuh, udah dulu ya, aku nyelesain tugasku dulu."
"Oke baiklah, Lex. Selamat mengerjakan."
Alex menutup telponnya dan beralih mengerjakan tugas dari sekolah. Pukul 10 malam ia baru selesai semua. Ia pun bergegas untuk menidurkan badannya terasa lelah.
Di tempat lain tepatnya di Indo, Sha dan Dewa baru balik dari bulan madunya. Pukul 11 malam ia sampai di kediaman Ben.
Tintong
Tintong
Maid mengerjap-ngerjap melihat jam di dinding. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Ia agak merinding karena sudah malam, ia berfikir mana mungkin ada yang bertamu jam segini.
Tak lama terdengar lagi suara bel bunyi.
Tintong
Tintong
"Eh kamu denger nggak, ada bel bunyi jam segini. Aku kan takut."
"Huh, dasar penakut. Ayo ikut," aja maid yang lain
"Kau juga sama."
Dua maid itu berjalan pelan dan membuka pintu, dan saat membuka pintu
Buuuuaaaaa
"Astaga, aaaaa," jerit kedua maid sambil berpelukan.
"Hahahhahaha, aduh sakit perutku kalian dasar penakut."
"Sayang, iseng banget sih."
"Salah mereka penakut."
Dan muncullah Bebi dan Ben dari kamarnya mendatangi mereka.
"Ada apa ini kok ribut, dan ini kalian ngapain saling peluk."
"Hahahhahaha, aduh Oma, ih dua orang ini penakut. Ya aku isengin jadinya gini."
"Dasar nakal."
"Kenapa kamu malam banget nyampeknya, Sha," tanya Ben.
"Delay tadi Opa. Uda ya Kita istirahat capek banget."
"Ya udah sana, selamat istirahat."
"Dewa juga ya Opa, Oma permisi."
"Iya Dewa."
Setelah pengantin baru itu pergi ke kamar, kini semua bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
Di kamar Sha.
"Sayang, aku kok penasaran Arthur kemana ya honeymoon nya nggak dikasih tahu sama sekali kita."
"Tahu dah, mending kita tidur deh kak. Capek nih."
"Boleh aku minta nggak."
"Minta apa, ini," tunjuk genggaman tangan Sha.
"He ... iya deh. Besok double."
"Terserah kau , oh ya besok aku ke butik ya. Ada kerjaan belum selesai."
"Oke, makan siang aku ke sana. Bilangin sama si gemulai agak jauh ya."
"Haahhahah kau dan Opa sama aja geli ya."
"Tahu gitu, kamu itu nemu dia dimana itu."
"Saat mangkal, haahhhah. Udah ah capek ngomong mulu."
"Selamat tidur sayang."
"Selamat tidur juga."
Dewa mencium kening istri dan beralih mematikan lampu tidur, kini keduanya masuk ke dalam alam mimpi.
__ADS_1
Paginya, Sha bangun lebih awal karena ia ingin menyelesaikan kerjaannya yang tertunda akibat honeymoon satu minggu. Sekiranya rapi ia membangunkan suaminya.
"Kak, ayo bangun. Udah siang nih."
"Em, jam berapa sih."
"Jam 6."
"Ini masih pagi sayang."
"Tapi aku pengen nyelesein kerjaanku. Mau aku tinggal nih."
"Iya-iya ini bangun."
Dewa bangun dan beranjak menuju kamar mandi ,15 menit kemudian pria tampan itu sudah nampak segar dan wangi membuat Sha mendekatinya.
"Mau minta," tanya Dewa.
"Apaan sih kak, udah ayo."
Dewa terlihat tampan dengan setelan warna hitam yang dipilihkan oleh sang istri, Sha kadang takut jika suaminya tergoda wanita lain.
"Kau kenapa tampan sih kak, bikin takut aja."
"Hei, cuma kau. Dan nggak ada yang lain."
"Ayo turun," ajak Dewa pada istri kecilnya.
Saat mereka akan ke ruang makan, ternyata barengan sejoli pulang honeymoon. Tapi ada yang berbeda dari mereka berdua terutama pada Kinan.
"Cie habis honeymoon," goda Sha pada kakaknya.
"Udah diem kau Sha."
"Ih kak, dia marahin aku."
"Itu kenapa kak, Kak Kinan " tanya Dewa.
"Oh itu nanti aku ceritain, aku bawa ke kamar dulu ya."
"Oke."
"Ayo sayang, nggak usah cemberut."
"Iya."
Mereka berdua ke ruang makan dan menyapa Opa, Oma nya yang sudah di ruang makan.
"Pagi Oma, Opa," sapa keduanya.
"Pagi nak, ayo duduklah."
"Eh Oma, Kakak baru aja dateng."
"Oh ya, kok Oma nggak tahu."
"Nanti juga ke sini Oma."
Dan benar saja, Arthur datang dan memcium punggung tangan Oma Opa nya.
"Waalaikumsalam. Kok kamu sendiri mana istrimi, nak."
"Istriku lagi nggak enak badan Oma."
"Oh begitu, nanti biar Oma yang lihat. Udah yo kita sarapan dulu."
Arthur mengangguk dan mereka berdoa mulai menyantap sarapan pagi.
Setelah selesai, Bebi dan Arthur naik ke kamar Arthur melihat keadaannya. Sedangkan Dewa dan Sha pamit berangkat kerja.
"Opa kita berangkat duli, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam nak. Hati-hati."
Setelah Sha dan Arthur pergi kerja, Ben ikut menyusul Ke kamar Arthur.
"Kamu kenapa nak," tanya Ben.
"Kinan pusing banget Opa."
Tak lama Maid membaw awednag jahe pesenan Bebi untuk Kinan.
"Permisi nyonya ini."
"Terimakasih bik."
"Ini nak minumlah mungkin kamu masuk angin."
Kinan mengangguk dan mulai meneguknya tai Kina bukannya tambah enak tapi ia malah mual. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Howek
Howek
"Sayang," ucap Axel sambil memijat tengkuk istri.
"Xel, biar Opa panggil uncle Erik aja."
"Baik Opa."
Sekitar 15 menit akhirnya Erik datang, dokter sekaligus sahabat Ben dari dulu tak pernah berubah masih tetap bersahaja sama halnya Ben. Meski sudah kepala enam tetap ketampanan masih terlihat.
"Pagi semua," sapa Erik.
"Udah rik buruan, jangan banyak omong."
"Cih kau itu tak berubah."
"Ehem," deheman Bebi membuat keduanya berhenti debat.
Erik seketika memriksa cucu menantu mereka. Dan nampak wajah Erik serius membuat semua menatapnya selidik.
"Selamat, kalian akan ada cicit."
__ADS_1
"Ha, sungguh."
"Iya, selamat Ya Arthur, Kinan."
"Makasih dokter."
"Waw, yuhuuu."
"Aku bahagia banget sayang, makasih," Arthur mengecup kening istriya berkali-kali membuat Erik menyeletuk.
"Tingkahnya Arthur persis kamu dan Marvel, sama nggak waras."
"Bilang apa kau hah."
"Stop atau aku siram kalian. Udah punya cucu kerjaannya debat mulu. Uda kita turun biarkan Kinan istirahat. Sayang selamat ya, jaga kesehatannya."
"Makasih Oma."
"Selamat ya Kinan,"
"Makasih Opa."
"Oh ya aku hampir lupa, ini vitamin dan obat penguat kandungannya ,Arthur."
"Makasih uncle."
"Sama-sama, sehat terus ya. Uncle pulang dulu."
Erik, Ben dan Bebi turun ke bawah dan disana Ben dan Erik masih aja berdebat yang nggak penting.
"Kalau debat lagi aku siram kalian, Berisik banget sih "
"Maaf sayang. Uda sana kau Rik."
"Idih ngusir jangan lupa bayaranku bos "
"Iya-iya."
Setelah Erk pulang, Bebi menelpon Kayla memberitahu kabar gembira.
"Halo assalamualikum Kay"
"Waalakumsalam Mi. Ada apa?"
"Mami da berita bagus untukmu dan Marvel."
"Apa itu Mi."
"Kalian akan jadi Oma, Opa."
"Maksudnya apa Mi "
"Ih kamu itu, Kinan hamil Kay."
"Ha, alhamdlillahm Berita baik ini Mi. Kayla akan buat syukuran disni."
"Iya jangan lupa yang lain."
"Baik Mi."
"Ya udah Mi tutup dulu , Mami juga mau ngasih tahu yang lain. Asslaamualaikum."
"Waaaikumsalam."
Kini Bebi berganti para sahabatnya dengan mengechat di grup.
"Eh kalian para nenek dan kakek, jangan lupa besok ke rumah ya. Aku ada syukuran."
"Syukuran apa Kay."
"Cucu menantuku hamil."
"Alhamdulillah, makin tua aja ya."
"Tak masalah tapi tetap bersahaja."
"Hahhaha percaya diri sekali anda, Kay."
"Jangan lupa para suami diberi tahu. Biar makin rame."
"Siap dah "
Di tempat lain, Kayla juga membritahu kabar baik pada suaminya dan para sahabat mereka.
"Asslaamualaium Dad."
"Waalaikumsalam sayang ,ada apa?"
"Dad, kita akan punya cucu. Kinan hamil."
"Alhamdulillah, nggak terasa ya sayang, kita jadi Oma Opa."
"Iya Dad. Nanti aku mau adain syukuran sama anak panti."
"Iya terserah kau sayang. Ya uda aku kerja lagi ya. Asslaamulaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah menelpon suami, kini Kayla me ngechat para sahabat nya.
"Hai hai para tua-tua keladi," sapa Kayla.
"Aish kau itu Kay, menghina atau kenyataan."
"Dua-duanya."
"Eh kalian nanti ke rumah ya aku ada syukuran. Aku mau jadi Oma."
"Oh ya Alhamdulillah, siapa yang hamil."
"Kinan."
"Waw, tokcer juga anak kau."
__ADS_1
"Tahu dah. Ya udah jangan lupa."
"Siap bos."