
"Sayang, aku kira siapa tadi. Kau makin cantik."
"Rayuanmu tak mempan buatku. Oh ya, tadi siapa?"
"Yang mana?"
"Barusan itu loh sayang."
"Oh, dia itu Ferry temen ku dulu masa kuliah."
"Oh gitu."
"Kita jalan kemana lagi sayang," tanya Ben
"Kesna yuk, asik kayaknya buat foto-foto. Tapi gendong."
"Astaga."
"Nggak mau."
"Eh iya, mau-mau."
"Ngga mau tidur di luar."
"Iya udah ayo."
Ben menggendong istrinya dipunggung, mereka berdua menjadi pusat perhatian karena terlihat romantis. Axel melihatnya kesal karena pengantin baru itu selalu saja yang jadi pusatnya.
"Kamu cemburu liat Ben lebih unggul dari kamu."
"Nggak."
"Kalau nggak senyum dunk."
Axel menunjukkan gigi ratanya pada Rina, mebuat gadis itu tersenyum geli.
Malamnya, Ben dan Bebi berjalan-jalan ke tempat tak jauh dari mansion, mereka bersama yang lain di sungai Siene. Pemandangannya saat malam hari sungguh indah membuat Bebi mengajak semua untuk mengabadikan moment menggunakan kamera ponsel mereka masing-masing.
1
2
3
Ceers
Ben, Rudi, Rio, Axel juga ikut berpose bak model fashion. Bebi memandangi lelakinya luar biasa berbakat dalam bidang entertain. Setelah asyik berjalan-jalan selama dua jam, mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu di restaurant terdekat.
"Sayang, kau pesan apa?" tanya Ben pada istri
"Apa aja yang penting kenyang."
"Dan kita ngikut nyonya muda kita," seru Hesti membuat semua menahan tawa
"Oke."
Beberapa menit pesanan mereka sudah datang, Saat akan mulai menyantap, ponsel Ben berdering.
"Sayang, aku angkat telepon dulu."
__ADS_1
"Baiklah."
Ben segera mengangkat telpon agak menjauh karena telpon itu berasal dari kantor polisi.
"Halo tuan Ben, saya dari kantor polisi, memberitahukan bahwa tahanan bernama Rika kabur dari rumah sakit jiwa."
"Apa!"
"Maafkan kami tuan, karena lalai tapi para petugas sudah bergerak mencari."
"Oke, segera tangkap wanita iblis itu."
"Baik tuan."
Ben menutup telpon sambil mengusap wajahnya kasar, pertanda ada masalah. Ben masih terdiam di tempat. Rudi melihat dari kejauhan ada sesuatu pada bos nya, ia berpamitan keluar. Dan kini, Rudu sudah di belakang Ben tapi pria gondrong itu masih tak menyadari.
"Sepertinya ada masalah, tuan muda?" ucap tiba-tiba Rudi pada Ben membuat si empu mengelus dada
"Eh kau Rudi, dasar kayak hantu saja. Iya ada, masalah wanita ular itu berhasil kabur, sepertinya ini rencana dia dari awal."
"Apa! bagaimana bisa? Lalu, tindakanmu selanjutnya."
"Kau itu suka sekali, bikin orang jantungan. Aku akan mengikuti cara petugas kepolisian dulu, jika mereka dalam 3 hari ini tak bisa menemukan wanita iblis, itu aku akan bertindak."
"Oke semoga kita berhasul menemukannya. Ya sudah, mari kita masuk, kasihan yang lain kelaparan."
Ben mengangguk dan kembali kedalam bersama Rudi, ia berusaha tak membuat Bebi kepikiran. Ia tetap cool menunjukkan wajah tenang di depannya.
Bebi menatap suaminya dengan tatapan penuh arti, Bebi merasa ada yang disembunyikan dari nya. Bebi berniat menanyakan saat di kamar saja. 20 menit kemudian, mereka kembali ke mansion Ben.
"Ben, thanks," ucap Rio lalu masuk kamar bersama istri.
"Thanks sob."
"Eh kau juga, udah sana nikmatin dulu tapi kalau udah balik ke Indo baru tahu rasa."
"Emang bos nggak ada akhlak dia," batin Rudi menggerutu
Ben dan Bebi masuk ke dalam kamar, mereka bergantian cuci muka dan berganti piyama tidur. Tiba-tiba, Bebi menanyakan sesuatu pada Ben saat suaminya asyik main ponsel.
"Apa ada yang kamu sembunyikan, sayang?" tanya Bebi lekat pada suami tampannya.
Ben meletakkan ponsel saat istrinya bertanya, ia melihat mimik wajah Ara begitu penasaran. Akhirnya akan berterus terang.
"Kamu mau berjanji tak boleh berfikir yang aneh-aneh."
"Apaan sih Sayang, udah deh langsung aja."
"Iya-iya. Kau masih ingat Rika, dia sekarang kabur."
"Apa! Ba-bagaimana bisa, sayang?"
"Entah, polisi sedang mengejarnya."
Raut wajah Bebi berubah jadi gelisah seketika Ben memeluk erat istrinya dan mengelus puncak kepalanya.
"Aku akan menjagamu, sayang. Kau percaya kan, hem?" ucap Ben menenangkan Bebi
Bebi menatap lekat suaminya lalu mengangguk tersenyum, sesungguhnya Bebi masih trauma akan perlakuan Rika. Setelah tenang, Ben mengajak untuk segera ke alam mimpi.
__ADS_1
"Love you my wife," kecup Ben di kening istrinya
Esoknya, ditempat lain tepatnya di apartement Ferry ada sebuah gedoran keras dari pintu. Ia kesal karena baru tidur 2 jam, ia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu depan. Dan saat membuka pintu ia terkejut kedatangan seseorang yang dulu ia suka
"Kau," tunjuk Ferry sambil mengucek mata memastikan beneran jika ia tak bermimpi.
Perempuan itu adalah Ferry wanita yang menyukai Ben, seketika ia memeluk tubuh Ferry, perlakuan wanita itu membuat Ferrt ternganga dan ia hanya membalas menepuk bahunya.
"Rik, kau bersama siapa? jangan bilang kau."
Ucapan terhenti saat jari telunjuk Rika menutup bibir Ferry, Ferry mengerti lalu melihat situasi dan mengajak perempuan itu masuk.
"Duduklah, coba ceritakan. Sebenarnya apa yang kau lakukan pada keluarga Ben?"
Rika terisak saat ia ingat bagaimana ia menculik Bebi, ia merutuki kebodohan hanya karena duniawi saja, sekarang ia juga harus menjaga nyawa yang ada di kandungannya.
"A-aku gelap mata pada waktu itu karena butuh uang tanpa memikirkan masa depanku. Aku khilaf, Fer," ucap Rika sambil mengelap air matanya
Ferry menatap dalam Rika ia merasa tak tega, ia akan menyelidiki dulu apakah wanita ini jujur atas perkataannya atau berbohong.
"Baiklah aku percaya padamu, lalu kau akan kemana pasti polisi mengejarmu saat ini, apalagi Ben tahu semua."
"Aku tak tahu, Fer. Aku tak punya keluarga."
Ferry tak tega dengan keadaan Rika akhirnya memperbolehkan.
"Baiklah kau tinggal di sini. Tapi aku tak mengijinkanmu keluar, karena itu bisa membuatmu di penjara kembali," tutur Ferry
"Kenapa kau mau menolongku."
"Rasa kemanusiaan, Rik."
"Kamarmu sebelah kiri, aku istirahat dulu,"
ucapnya berlalu meninggalkan Rika yang masih mematung
Rika bersyukur Ferry mau menampungnya, ia berjanji akan menuruti semua ucapan Ferry. Rika berharap akan ada pertolongan dari Tuhan buatnya dan calon anak di rahimnya meski ia tak tahu siapa bapak anak ini.
Kini, Rika menata ruangan itu dan bersiap tidur. Ia ingin bangun lebih pagi daripada Ferry.
Sedangkan Ferry di kamarnya mendadak frustasi, ia menjadi tak enak pada Ben tapi di hatinya ia tak tega pada Rika. Ferry mencoba menutup mata tapi tal bisa, ia berguling kesana kemari namun hasilnya tetap tak bisa memejamkan mata.
"Sial," umpat pria tampan itu
Ferry akhirnya main game sampai pukul 2 dini hari.
....
Pukul 6 pagi waktu perancis, Ben dan Bebi bersiap jalan-jalan di kota ini karena besok mereka kembali ke tanah air. Ben masuk kamar putranya sedangkan Bebi menelpon Rina untuk bersiap.
"Halo Rin, udah bangun?"
"Eh kau Beb, baru aja. Hoam."
"Kau pasti habis begadang ya."
"Ya begitulah, he ..."
"Buruan turun, mau ikut jalan nggak besok kita balik lo,"
__ADS_1
"Apa!"