Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
My baby twin


__ADS_3

Kini, keluarga Baratawijaya dan Wijaya tengah mencari pendonor darah untuk Kayla  dan masih kurang 3 kantong lagi.


Marvel juga tak tinggal diam ia sampai turun ke jalan di bantu para sahabatnya.  Seperti saat ini, Marvel membawa tulisan 'Saya butuh  transfusi darah untuk istri, jika ada yang berkenan hubungi saya, akan ada imbalan besar untuk anda'  begitulah kira-kira tulisan yang di tenteng di depan dada nya.


Para sahabat  terharu dengan apa yang dilakukan oleh Alden, mereka juga ikutan menanyai orang di lampu lintas.  Dan tak lama ada beberapa orang ikut Alden. Ia sangat bahagia bisa mendapatkan pendonor hingga meneteskan air mata bersyukur. Sampai di rumahsakit, Ben dan Bebi terbelalak melihat putranya membawa ada sekitar 10 orang untuk siap mendonorkan. Bebi bangga putranya yang sangat mencintai istri hingga apapun ia lakukan, sama halnya seperti Ben demi cinta ia rela melakukan hal yang tak biasa. Ben pun menyuruh mereka satu persatu diperiksa apakah cocok atau tidak.


Sejam kemudian dokter berkata, "Syukurlah, kita sudah mendapatkan transfusi darah yang cocok, tuan, nona. Tinggal kita tunggu nona Kayla sadar saja, doa yang bisa membangunkannya, saya permisi."


"Alhamdulillah," ucap syukur semua.


Marvel hingga bersujud membuat para sahabat tak kuasa menahan air mata melihat perjuangan Ben, Bebi menghampiri putranya sedang kalut itu.


"Mami, bangga kau nak."


Marvel menangis sesegukan saat mendapat dukungan dari semua  keluarga dan sahabat. Raka dan Hilda bangga pada mantan playboy yang menjatuhkan pilihan untuk Kayla


Tiba-tiba, ada dua orang suster menghampiri.


"Selamat sore tuan, nona. Kami menginjinkan bayi tuan Marvel untuk di adzankan segera."


Marvel mendengar nama nya disebut dan kata 'bayi' ia mendongak, sungguh keterlaluan baginya sampai melupakan bayi nya. Lelaki tampan itu berjalan  mendekat troli bayi nya. Ia menggendong bayi mungil itu berjenis kelamin cowok dan cewek. Ia meneteskan air mata sambil mencium keduanya bergantian dan ia mulai mengadzani.


"Sudah sus, makasih," Marvel mengusap air matanya


Sahabat menepuk bahu Marvel  memberi semangat.


"Selamat kawan, kau sekarang jadi Papa muda, most wanted sekolah," Willi


"Iya Vel, kita nggak nyangka secepat ini kau menjadi Daddy, selamat ya," Leo


"Kita akan selalu ada buat kamu, baby twin dan istrimu, Vel," ucap Revan memeluk Marvel


"Makasih kalian selalu ada suka maupun duka," ucap lirihnya


Marvel saat ini begitu rapuh saat tahu istrinya berjuang melawan maut, ia sangat menyesal  pernah membuatnya sakit hati berkali-kali. Ia akan menebus semua kesalahannya jika istrinya sadar kelak.


"Sayang, cepatlah sadar. Aku janji takkan mengulangi kesalahan itu lagi," batin marvel tersiksa.


.....


Malamnya, Raka ke rumahsakit lagi bersama Hilda untuk berpamitan karena ia harus merawat Mamanya yang sedang sakit. Sejoli itu melihat keluarga berada di depan pintu icu Kayla segera menghampiri.


"Malam Om, Tante, Vel," sapa Raka


"Malam Ka, duduklah."

__ADS_1


"Maaf mengganggu Vel, Tante, Om. Raka kesini mau pamit ke New york  sekarang."


"Jadi berangkat sekarang, Ka," tanya Ben


"Iya Om, kasihan Mama. Nanti setelah selesai Raka kembali kesini untuk melamar Hilda."


"Ya sudah hati-hati salam pada orang tuamu."


"Baik Om, nanti Raka sampaikan."


"Hati-hati Ka, maaf aku tak bisa ngantar."


"Iya Vel, nggak apa. Jaga kesehatanmu, kasihan baby twin."


Marvel mengangguk dan memeluk Raka bergantian dengan Ben. Raka dan Hilda pun keluar dari rumahsakit menuju bandara. 


Sepanjang perjalanan, Raka tak melepas genggaman tangan Hilda hingga tak sadar mereka sudah sampai.


"Ih kak, ayo lepas. Udah sampai nih."


"Sayangnya lemnya terlalu kuat sayang."


"Ih nyebelin deh, ayo buruan nanti ketinggalan pesawat."


Raka turun mobil dan membukakan pintu untuk Hilda, sungguh keromantisan yang hakiki. Hal yang tak diduga sebelumnya jika pria cuek jadi manis di dengannya. Ia terkekeh geli jika mengingatnya.  Raka menoleh kearah  kekasihnya terlihat senyum-senyum sendiri.


"Hei sayang, kau kesambet setan rumahsakit kah," celetuk Raka


"Aih nyebelin banget kau, kak," Hilda memukul lengan Raka dan mereka tertawa bersama.


"Udah ya, nanti tunggu aku kembali. Jangan macem-macem selama aku di sana. Aku akan menelponmu sesering mungkin," Raka membelai pipi manis kekasihnya.


"Iya, kau juga. Awas aja berani menghianati. Lihat aja akan ku banting dia."


"Serem amat sayang, tenang kau bisa pegang janjiku. Aku kembali untukmu melamarmu. Belajar yang rajin, aku akan berjuang untuk cinta ini."


Hilda mengangguk lalu memeluk kekasihnya, ia merasakan akan ada sesuatu terjadi pada hubungan mereka entah firasat atau memang nyata nantinya.


Sesaat, pengumuman penumpang untuk segera chek-in, Raka mencium kening agak lama lalu pergi melambaikan tangan untuk kekasihnya. Raka mulai masuk ke dalam pesawat, berharap ia akan segera kembali ke Indo.


Setelah kepergian Raka ke New york rasanya sangat sepi biasanya ia adu mulut. Ia melenggang meninggalkan bandara lalu menjemput Dira di rumah untuk mengajaknya ke rumahsakit.  Tak lama, mobil yang ditumpangi Hilda sudah sampai di halaman rumahnya. Ia mengerinyitkan dahi, saat ada mobil lain ia berpikir mungkin tamu.


Hilda pun masuk dan mendapati ternyata ada Willi bersama kakanya Dira.


"Huh, aku kira tadi jelangkung."

__ADS_1


"Enak aja jelangkung  tampan keren kek gini dibilang jelangkung. Lama-lama mulutmu pedas juga, Hil," gerutu kesal Willi


"Hahhahhaha, ngambek dia. Sorry nggak ada yang diajak adu mulut  jadi yang ada aja siapa yang ma adu mulut dni sama aku."


"Hadeh, punya ipar sinting gini sih."


"Enak aja sinting, aku punya kekasih ya," ucapnya mnjulurkan lidah


"Udah-udah ini malah berantem. Kamu dari mana, Hil," tanya Dira lembut


"Habis nganter kekasih pujaan hati ke bandara, kak. Maunya sekarang ajak kakak ke rumahsakit nemenin Kak Marvel, aku nggak tega lihatnya."


"Boleh tuh, kau ikut nggak kak," tanya Dira pada Willi


"Boleh, kasihan juga dia butuh dihibur."


"Gimana kalau kakak jadi badut pasti kak Marvel tertawa," Hilda cekikikan


"Huh, sabar-sabar. Adiknya siapa sih ini resek banget."


"Udah diem. Kamu harus siap mental kak, dia nggak ada lawannya."


"Mampus deh, aku," Willi menepuk jidatnya


Dira ke kamar berganti pakaian dan mengambil slingbag nya tak sampai 15 menit, gadis cantik itu sudah rapi.


"Ayo kak, aku udah siap."


"Cantik amat kak," celetuk Hilda


"Baru nyadar kalah cantik."


"Aih, meyebalkan. Come on jelangkung."


Dira terkekeh geli melihat adeknya seneng banget usil sama Willi. Ketiganya kini tak lama, sudah di rumahsakit.  Dari kejauhan ada seseorang tengah memotret keluarganya. Ia tak mau tinggal diam, ia tak mengikuti Dira dan Willi melainkan mengikuti paparazi itu. Hilda mengendap-ngendap dan  ia menghadang paparazi itu.


"Siapa kau."


"Kau tak perlu tahu."


"Oh jadi, mau main-main denganku."


Dengan gerakan yang terlatih, Hilda mampu melawan paparazi itu.


"Sial, siapa nih cewek."

__ADS_1


__ADS_2