
Axel melihat raut muka kakaknya segera mendekat
"Ada apa kak, kenapa wajahmu seperti ingin makan orang."
"Lihat ini, ternyata penyebab Daddy kecelakaan adalah wanita tak tahu malu ini. Bisanya buat skandal."
"Aku tak tahu harus bilang apa kak, udah ah malah bahas itu. Jadi ke rumah sakit kah?"
"Iya jadi, adek sama siapa?"
"Sama mbak."
"Oh ya sudah kau bersiaplah, aku tunggu di bawah."
"Oke siap."
Axel menuju kamar mandi sedangkan Ben turun ke bawah, bocah tampan itu sudah berada di ruang tamu menunggu Axel, 15 menit kemudian Axel muncul dan mereka berpamitan pada maid.
"Bik, kita ke rumah sakit dulu ya. Titip Sella sama mbak, sekarang diatas."
"Siap tuan muda, hati-hati tuan muda, sama sopir bukan."
"Iya bik, assalamualaikum."
"Waaalaikumsalam."
Ben dan Axel masuk ke dalam mobil mewah diantar sopir keluarga saat dalam perjalanan, Ben melihat ada seorang wanita tua duduk di ekat trotoar dengan pakaian usang dan topinya. Ben menyuruh sopir berheti.
"Pak, berhenti dulu."
"Baik tuan muda."
"Mau kemana, kak," tanya Axel.
"Nanti kau juga tahu."
Ben turun dari mobil berjalan menuju wanita tua itu.
"Permisi nyonya, anda tinggal dimana," tanya Ben ramah
"Hai bocah tampan, saya tak punya rumah. Saya tiap hari berkeliling berharap ada yang tulus memebantu saya. Saya tak punya anak, rumah pun sudah tak punya karena kebakaran. Sekarang saya sakit-sakitan dan hanya bisa berharap belas kasihan dari irang lain, nak," ucapnya tanpa terasa meneteskan air mata.
Ben merasa iba lalu bertanya kembali, "Apa nyonya sudah makan."
"Belum, nak."
"Tunggu ya nyonya."
Ben melihat ada warung segera ia membelinya untuk wanita tua itu.
"Permisi nyonya, ini untuk anda dan ini ada sedikit rejeki," ucap Ben sambil memberi satu bungkus makanan dan minuman serta tak lupa amplop berisi uang
"Nak, ini sudah cukup. Kenapa kau baik sekali, nak."
"Saya pernah di posisi seperti nyonya. Jadi saya imbal balik pada anda. Semoga sehat selalu, saya permisi."
"Baiklah, terimakasih nak. Tuhan menyertaimu."
Ben tersenyum dan melenggang meninggalkan wanita tua itu.
Axel melihat kakaknya begitu bangga, ia terkadang iri sifatnya belum seperti Ben. Ben masuk kedalam mobil dan menyuruh sopirnya melanjutkan perjalanan kerumahsakit.
Sesampainya disana, Ben dan Axel menuju ruang Daddy.
Tok
Tok
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Ben, Axel, sini nak," ucap Brian
"Loh Bunda mana, Dad."
"Ke kantin makan, kalian udah makan."
"Usah Dad, Daddy juga udah."
"Iya sama. Oh ya adek Sella sama siapa?"
"Sama mbak, Dad."
__ADS_1
Tak lama, terbukalah pintu ruangan menunjukkan wanita cantik membawa sekantong cemilan.
"Bunda," seru dua bocah tampan
"Waw, kejutan kalian datang. Tahu aja Bunda bawa cemilan, nih," ucap Ayunda menaruh sekantong cemilan dia tas meja.
"Makasih bunda."
"Sama-sama."
"Oh ya Bunda, besok Ben mau lomba mewakili sekolah dengan Miko."
"Oh ya, lomba apa nak."
"Lomba beladiri, Bunda, Daddy."
"Waw, kau keren sekali. Tapi maaf Daddy tak bisa mengantamu."
"Tak masalah Dad, yang penting Daddy sembuh dulu."
"Amin, semoga kamu besok menang, boy."
"Amin Dad. Oh ya kapan Daddy boleh pulang.".
"Besok, udah boleh pulang."
"Sukurlah."
"Udah-udah, sekarang kalian udah makan," tanya Ayunda
"Udah Bunda. Bunda dan Daddy udah makan."
"Udah sayang."
Dan saat mereka asyik bercanda, ponsel Brian berdering tertera nama Jessi.
"Siapa Dad," tanya Ayu
"Jessi."
"Tumben, ada apa?"
"Nggak tahu, benar Daddy angkat dulu."
"Halo, Jes. Ada apa?"
"Kak, aku mau pulang ke Indo."
"Kenapa?"
"Aku mau ngelanjutin kuliah di Indonesia aja."
"Ada masalah kah, Jes."
"Nggak ada, oh ya gimana keadaan kakak. Katanya kecelakaan."
"Alhamdulillah udah mendingan, besok juga udah pulang. Kalau kamu mau kakak akan menyuruh Johan mencari kampus untukmu."
"Boleh kak, tapi aku mau nempatin apartemen kakak aja, boleh kan."
"Iya boleh."
"Ya udah, aku tutup kak. Salam buat kak Ayu dan tiga anak kakak."
"Iya, kau hati-hati."
"Baik kak, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Brian menutup telpon lalu ia beralih menatap wajah cantik istrinya.
"Ada apa Dad, kenapa menatapku seperti itu?"
"Kau terlalu cantik."
"Cie, Bunda," goda Ben
"Apaan sih Dad, tuh di godain putramu."
"Maaf .. maaf. Itu Jessi mau pindah kuliah di sini, besok dia pulang."
__ADS_1
"Hah, yang bener Dad," tanya Ben
"Iya, kau seneng banget kayaknya."
"Kak Jessi kan pinter bisa belajar bareng, Dad "
"Oh begitu, oh ya kalian pulanglah udah malem besok kamu hati-hati ya Ben, Axel."
"Iya Dad, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Axel dan Ben keluar dari ruangn Brian lalu bersiap pulang. Saat akan masuk ke dalam mobil sekilas Ben melihat ada wanita yang ia lihat di berita.
"Ada apa Kak?"
"Lihatlah bukannya itu wanita yang kita lihat tadi berita ya," ucap Ben pada Axel
Axel mengamati sosok itu bersama Vero
"Iya, kenapa sama Om Vero ya," ujar Axel bertanya-tanya
"Udah, kita masuk aja. Itu urusan orang dewasa."
"Oke. Jalan pak," suruh Axel
"Iya tuan muda."
Di lain sisi, Vero mendorong kursi roda Vera menuju ruangannya. Di dalam dengan pelan pria tampan itu menggendong tubuh Vera menaruhnya diatas brankar.
"Kau harus tiap hari terapi agar cepat pulih. Oh ya, perlu kau tahu kariermu kini hancur. Itu akibatnya jika berusaha melawan orang terkaya di negara ini. Denger ya Vera, Kau bersyukurlah aku masih dengan senang hati merawatmu, namun setelah kau pulih. Kau harus menjadi budakku," ucap Vero menyeringai.
Vera mendengar ucapan Vero sungguh miris karena ulahnya, ia menjadi seperti ini.
"Biarlah aku menjadi budakmu, karena aku tak ada harganya," batin Vera sakit
Ke esokan harinya, Axel dan Ben menelpon orangtua terlebih dshulu sebrlum berangkat lomba.
"Halo, assalamualaikum Bunda."
"Waalaikumsalam sayang, ada apa?"
"Bunda, Ben dan Axel mau berangkat lomba, doain kita ya."
"iya nak, doa Bunda bersama kalian. Kalian hati-hati ya. Oh ya, ini ngomong sama Daddy dulu."
"Baik Bunda."
"Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam boy. Kamu hati-hati ya berangkatnya nanti kabari kalau udah sampai."
"Baik Daddy, assalamualaikum."
"Waaalaikumsalam."
Ben menutup telpon, lalu mulai sarapan bersama Axel. usai 15 menit, keduanya berpamitan pada maid.
"Bik, kita berangkat dulu. Doakan kita menang."
"Baik tuan muda, semoga lancar dan menang."
"Amin. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ben dan Axel diantar oleh sopir keluarga, dan tak lama mereka sampai di sekolah lawan lombanya.
"Ayo kak."
"Iya. Bismilah. Oh ya Xel, kita beli minuman dulu yuk."
"Oke kak."
Sambil menunggu Axel beli minuman dan cemilan, Ben mengirim pesan ada Daddy nya jika sudah sampai.
"Udah kak, ayo."
"Oke."
Kedua bocah tampan itu kini, memasuki sekolah lawannya namun langkah mereka terhenti saat ada yang memanggil.
__ADS_1
"Ben, Axel."