
Teriakan itu adalah dari Johan asisten Brian yang terlihat cemas dan berlari menghampiri bos nya
"Bri, ikut aku," ucap Johan sambil berderai air mata
"Ada apa, Jo?" Brian ikut cemas
"Udah jangan banyak omong, kau," bentak Johan sambil menarik tangan kekar Brian.
Reyhan dan Vero tak mau ketinggalan menyuruh para istri berdiam diri di acar Jessi.
"Sayang, kau disini dulu. Aku lihat mereka," ucap Vero
"Ok, hati-hati."
Sedangkan di pinggir jalan banyak kerumunan orang ingin melihat apa yang tengah terjadi karena mereka terhalangi badan para bodyguard Brian.
"Ada apa ya, kok padakumpul," tanya dlaa sau warga
"Aku juga penasaran."
Dan Johan berlari diikuti Brian masuk ke dalam lingkaran bodyguard terlihat sang istri terluka parah di pangkuan Nadia.
"Sa-sayang. Kau kenapa, hah," teriak Brian
"Mending kita bawa sekarang, Bri. Aku takut terjadi sesuatu," teriak Johan
"Iya ayo," Brian membopong tubuh istrinya dan di masukkan ke dalam mobil.
Di perjalanan Brian merutuki kebodohannya mengacuhkan istri, padahal ia sungguhnya hanya memberi pelajaran tapi nyatanya ia harus menderita sendiri alibat ulah sendiri. Brian tak kuasa menahan tangis, berkali ia mencoba menyadarkan istrinya sambil menepuk pipi.
"Sayang, please. Bangun," ucap Brian sambil terisak
Dan tak lama, mobil sudah di depan ruang UGD. Bruan buru-buru menaruh badan istri di ruang itu agar segera di tangani.
"Maaf di luar dulu ya, tuan."
Brian mundur tapi tak bisa jauh dari ruang itu menunggu di depannya. Sekitar setengah jam kemudian salah satu perawat keluar dari ruangan itu.
"Selamat siang, keluarga dari pasien Ayunda.
"Saya dokter, suaminya."
"Baik, bisa ikut saya, tuan."
"Bisa sus."
"Jo, aku masuk dulu."
"Oke."
Di ruang UGD, Brian duduk dan muncullah dokter yang menangani Ayunda
"Permisi tuan, saya dokter yang menangani nona Ayunda."
"Iya dokter, bagaimana keadaan istriku."
"Perlu tindakan operasi tuan, karena kepalanya terbentur lumayan keras. Saya takut ada masalah di kepalanya karena mengeluarkan banyak darah."
"Apapun itu, lakukan yang terbaik untuk istri saya dokter."
"Baik tuan, ini silahkan tanda tangan."
"Ini dokter."
"Baik, dua jam lagi kami akan melakukan tindakan operasi."
"Silahkan dokter."
Brian keluar dari ruangan, Johan, Vero dan Reyhan menghampirinya.
"Bagaimana, Bri."
"Harus segera di operasi."
"Astaga, semoga berjalan lancar."
"Iya, amin. Makasih semua."
Dan keluarlah brankar yang berisi Ayunda menuju ruang operasi. Brian sungguh menyesal memperlakukan istrinya seperti itu.
Selama menunggu Brian ingat kata terakhir dari Ayunda.
__ADS_1
"Dad, aku minta maaf."
"Untuk."
"Semuanya."
Dan Brian tak menggubrisnya malah pergi, dan ucapan Jessi juga sudah terlihat seperti pertanda tapi Brian tak menyadarinya.
"Kak, kasihan kak Ayu. Jangan sampai kakak menyesal nantinya."
Itu kata-kata yang terngiang di hati Brian, ia sungguh bodoh bisa setega itu pada istri tercinta. Kini pria tampan itu bingung memberitahu pada kedua putranya. Brian mengusap wajahnya kasar sambil mondar mandie tak karuan.
Johan tahu jika saat ini Brian sedang kacau, ia pun berpamitan pada Brian untuk mengantar istri terlebih dahulu.
"Bri, aku pulang dulu atar istri. Nanti au balik lagi."
"Oke, makasih. Jika kau capek pulang saja."
"Aku juga, Bri," ucap Nadia
"Iya Nad, makasih."
"Kita juga bro, aku antar pulabg aora istri."
"Iya, hati-hati."
"Oke."
Setelah kepergian para sahabat, kini tinggallah sendiri Brian menunggu di depan ruang operasi, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kak, kau dimana?"
"Kakak di rumah sakit."
"Di rumah skait. Ngapain?"
"Ayunda kecelakaan."
"Apa?"
"Jes, jangan bilang sama kedua putra kakak. Bilang aja Bundanya lagi sakit, nggak boleh di tengok."
"Ya udah, kakak tutup. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Brian menutup telponnya lalu, ia menutup mata dan berdoa agar operasi istrinya lancar.
"Ya Tuhan, maafkan saya. Hukumlah saya, jika bisa membuat istri sembuh."
Tiba-tiba, Brian membuka matanya melihat sekeliling asing.
"Dimana ini?"
"Daddy," panggil Ayunda pada Brian
"Sayang, kamu udah sadar. Maafkan Daddy."
Belum sampai di jawab, Brian di bangunkan oleh Reyhan
"Bri, bangun."
"Astaga, ternyata hanya mimpi."
"Kau mengigau, Bri. Berdoa aja yang terbaik untuk istrimu."
"Makasih Rey."
Tak lama, Johan dan Vero datang kembali menemani Brian. Brian sungguh bersyukur masih di kelilingi orang baik dan setia kawan seperti mereka.
"Bri, ini minumlah. Kau juga belum makan kan."
"Iya Jo, makasih."
"Ayo aku temani makan."
"Aku baru bisa makan jika istriku keluar dari ruang operasi."
"Ya sudah, terserah kau saja."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Beberspa perawt dan dokter keluar dari ruang operasi. Dokter itu pun menghampiri Brian
"Selamat malam tuan Brian."
"Malam dokter. Bagaimana keadaaan istri saya."
"Sukurlah, operasi berjalan lancar. Tinggal menunggu nyonya Ayunda siuman."
"Alhamdulillah."
"Dan nyonya Ayunda sudah kami pindahkan di ruang rawat inap vvip, tuan. Saya permisi dulu."
"Baik dokter. Terimakasih."
"Sukurlah, Bri," Vero
"Iya, ini berkar doa kalain semya."
"Udah melow amat," pedek Johan
"Dasar asisten gila," Reyhan meledek balik
"Udah malahan ribut, ayo ke ruang nyonya bos."
"Let's go."
Keempat pria tampan itu kini sudah berada di ruang Ayunda.
"Bri, ayo makalah," ajak Veto
"Iya Bri, nanyi kau malahan sakit."
"Iya, jaga istriku awas saja. Kala ada apa-apa kabri aku."
"Iya-iya bos ini malah mengancam kita. Dasar tak tahu malu."
Brian keluar dari ruangan sambil beetaya pada Vero.
"Kau tahu ini murni kecelakaan atau ada sebuah kesengajaan."
"Kesengajaan."
Brian berhenti berjalan lalu berbicara kembali, "Apa kau bilang, kenapa kau berfikir seperti itu."
"Sejelasnya nanti tanya asistenku, Bri. Jika sudah jelas. Kau bisa hubungi aku jika butuh bantuan."
"Oke."
Mereka kini sudah ada di restauran tak jauh dari rumah sakit. Brian dan Vero memesan makanan dan minum lalu menyantapnya.
Di tempat lain, seorang wanita tertawa bahagia saat tahu targetnya sedang berjuang nmeawan maut.
"Kalian mencoba melawanku, ini adalah karma setimpal untukmu, Rendra. Karena melawanku, jikakau tak bisa di bunuh maka yang berhubungan denganmu, bisa aku singkirkan dengan mudah. Hahhahhaha."
Sedangkan Jessi dan Rendra dalam perjalanan ke rumah sakit menjenguk Ayunda. Saat sampai di sana, ia tak sengaja bertemu Brian dan Vero.
"Kakak, kak Vero. Darimana?"
"Dari resto. Ben dan Axel gimana?"
"Aman."
"Syukurlah. Ayo."
Sesaat, mata Johan melihat wanita yang sama ia lihat didekat kejadian di mana Ayunda kecelakaan . Johan berfikiran jika kecelakaan memang benar adanya kesengajaan. Brian melihat asistennya terlihat melamun, segera menyadarkannya.
"Jo, kau lihat apa?"
"Eh, nggak. Bri, aku btuh ngobrol berdua."
"Oh ok. Jes, Ren kalian masuklah. Kakka ada peru sebentar."
"Oke kak."
Vero dan Reyhan ikut bersama Jessi dan Rendra sedangkan Brian dan Johan menuju kantin.
Saat di kantin, Johan menatap sekeliling. Karena ia takut ada yang mendengarnya.
"Kau kenapa, sialan," bisik Brian
"Bri, ini kesengajaan."
__ADS_1
"Maksud kau."
"Lihat itu," tunjuk Johan dan Brian melihat yang di tunjuk Johan