Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Mafia sial


__ADS_3

"Brengsek kau, mau pergi kemana wanita sialan," Ayunda menodong senjata api pada Jenni membuat nya ketakutan


"Ke-kenapa kau bisa kesini."


"Mau tahu, karena feeling istri takkan salah."


"Lepasin suamiku Rey," teriak Ayunda. Brian dan Reyhan terkejut Ayunda yang terlihat anggun ternyata bisa segila ini jika marah.


"Denger ya mafia sialan, kau itu terlalu bodoh pada wanita ini. Kau seharusnya melihat mana yang benar dan salah jangan asal nyerang, ini lihatlah," Ayunda memberikan rekaman cctv aslinya pada Reyhan.


Reyhan menerima rekaman itu dan ia kesal karena bisa di bodohi Jenni. Jenni ketakutan pada Reyhan yang ingin memakannya hidup-hidup.


"Biarkan aku yang nyelesin semua, Makasih Ayu."


"Bodyguard, bawa wanita sialan itu ke ruang bawah tanah."


"Siap bos."


"Reyhan, lepaskan aku," teriak Jenni


Reyhan sungguh menyesal meihat kelakuannya yang tak bersahabat. Ia berjslan mendekat ke arah Brian dan Ayu.


"Bri, maafkan aku."


"Kenapa kau minta maaf."


"Aku salah tak menyelidikinya terlebih dahulu."


"Kalau penyesalan di depan pasti semua bakal bahagia."


"Udah, aku maafin."


"Yang bener."


"Iya."


"Makasih bro, ak takkan mengecewakanmu."


"Udah, sekarang bantu aku berdiri. Pukulanmu kuat juga."


"Kau aja udah tua."


"Sialan kau mengataiku, aku masih kuat buat anak."


Reyhan pun membopong badan Brian, Ayu tersenyum bahagia melihat sahabat kembali.


Di satu sisi, Leo mencari keberadaan cucunya Rendra lewat bodyguard tapi tak kunjung bertemu.


"Maaf bos, hasil masih nihil."


"Kemana bocah tengil itu."


Leo pun mencoba beetnaa padq Ryqn asisten Rendra naun ta diangkat juga telponnya.


"Bos dan asisten sama tak tahu diuntung."


Tiba-tiba ada sebuah video di kirim di ponsel Leo.


"Sialan wanita itu penipu, untung belum jadi aku nikahkan pada Rendra."


Leo kini bingung harus kemana lagi mencari Rendra.


"Maafkan kakek, Ren."


Sedangkan Rendra yang di lamunkan tengah berada di kediaman Baratawijaya tiba-tiba merindukan kakeknya.


Jessi melihat Rendra melamun segera bertanaya


"Ada apa Ren?"


"Oh tidak , aku tidak apa-apa kok."


"Om lapar kali, kak Jessi."


"Iya Ren, kenapa ngga bilang."


"Nanti aja nunggu kakakmu."


"Oke baiklah."


Dan terdengarlah deru mobil mewah Brian masuk halaman rumah.

__ADS_1


"Nah, itu mereka."


"Sella, sama Tante ya," Jessi menggendong baby Sella.


Mereka menyambut Brian dan Ayunda nmaun ada yang beda.


"Kakak, kakak kenapa?"


"Ceritanya panjang, tapi ini udah enakan kok."


"Kak Ayu, cerita kenapa kak Brian."


"Nanti aja ada anak-anak, Jes."


"Oh iya."


"Sini Sella sama Daddy ya."


"Oh ya Ren, kau besok ada rencana kemana?"


"Mau buka kafe kak."


"Waw, keren. Dimana?"


"Nggak jauh dari sini kak, besok aku mau siapkan semua keperluan."


"Kamu hebat, secepat ini dapatnya."


"Kakak terlalu memuji, oh ya Rendra pamit pulang. Mau siap-siap."


"Baiklah, kau sudah makan."


"Udah kak."


"Apanya yang udah," sahut Jessi dari belakngnya


"Kau makanlah dulu, Ren. Barulah pulang."


"Baik kak."


Di ruang makan, dengan telatennya Jessi melayani Rendra. Rendra sungguh bahagia tak salah mencintai wanita.


"Ini makanlah."


"Nanti aja, aku belum laper. Aku temani aja ya."


Setelah makan, Rendra berpamitan pada Ayunda dan Brian


"Kak, aku pamit dulu sekalian ngantar Jessi."


"Kau nggak tinggal sama Jessi, Ren."


"Nggak kak, takut ada setannya."


"Hahhahaha bisa aja kau. Ya udah hati-hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Rendra mengantar Jessi terlebih dahulu dan ia tidur kafe barunya.


"Hati-hati Ren."


"Iya, see you cantik."


"Nanti kabari kalau sudah sampai."


"Iya."


Rendra melajukan mobil Jessi menuju kafe barunya, sampai di sana ia terkejut ada seseorang menunggunya.


"Rendra."


"Kakek. Kenapa bisa tahu?"


"Kau lupa siapa kakek, hem."


"Ada apa kakek ke sini."


"Ren, kembalilah. Maafkan kakek yang egois. Kakek akan serahkan jodoh padamu."

__ADS_1


"Kenapa kakek bicara seperti itu, bukankah kakek yang suka aku pergi dari rumah."


"Maafkan kakek," Leo berlutut di depan Rendra


Rendra yang tak enak lalu menyuruh bangun


"Kakek bangunlah."


"Apa kau mau memaafkan kakek."


"Iya kakek."


"Terimakasih Rendra, ayo pulanglah."


"Besok Rendra baru pulang, Rendra masih mau mempersiapkan keperluan kafe."


"Baiklah, kakek tunggu."


"Besok datanglah kakek, di acara peresmian kafe Rendra."


"Iya, kakek usahakan."


Leo kini kembali ke rumah sedangkan Rendra masuk ke dala kafe. Ia melihat semua barang sudah terpenuhi. Sejam kemudian ia naik ke lantai dua untuk beristirahat tak lupa ia mengabari kekasihnya


"Aku udah di kafe sayang, maaf baru kirim pesan soalnya aku beres dulu."


"Iya tak apa. Selamat istirahat."


"Sama-sama. Good night darling."


Mereka kini terlelap dengan mimpi masing-masing, tanpa terasa waktu cepat berputar.


Pukul 8 pagi, kafe baru Rendra resmi di buka.


"Selamat menikmati menu dari kafe Jessi. Terimakasih," sambut Rendra


Prok


Prok


Semua bergembira dan bertepuk tangan, satu persatu mulai memesan.


Di meja vvip, sudah ada Brian serta keluarga dan yak lupa Leo datang diikuti beberapa bodyguardnya. Jessi yang tak enak hati ingin keluar dari acara namun tangannya di cegah oleh Rendra


"Tetaplah disini sayang."


Jessi menatap Rendra penuh arti lalu, Rendra membalas senyuman. Jessi akhirmya duduk kembali di sebelah Rendra demgan rasa gugup tak karuan apalagi Leo semakin mendekat.


"Assalamualikim," sapa Leo


"Waalikumsalam."


"Tuan Brian, apa kabar?"


"Tuan Leo, kabar saya baik. Anda semakin gagah saja."


"Anda bisa saja tuan Brian, anda yang semakin rupawan. Ini keluarga anda."


"Iya, ini istri dan kedua putra saya lalu yang ini lagu adik saya," ucap Brian sambil menekankan nda suaranya memgarah ke Jessi


"Jadi, ini adik anda tuan Brian."


"Iya tuan Leo, apa anda mengenalnya. Karena setau saya adik saya baru pulang dari Amerika lalu kerja di kantor. Itu yang saya tahu."


"Saya tak mengenal adik anda hanya pernah melihat saja, tapi saya lupa."


Leo yang tak enak hati lalu buru-buru minta maaf


"Maafkan saya tuan Brian, saya sudha ingat jika pernah bertemu degan adik anda di kantor Rendra. Saya waktu itu memarahinya karena saya tak tahu asal usulnya. Maafkan saya," ucapnya hormat menunduk


"Oh jadi anda menilai adik saya orang yang nggak jelas, begitukah."


"Bukan itu mak-maksudnya tuan, tapi."


"Tapi apa tuan Leo, meski bukan kandung tapi saya menyayanginya karena dia sudah dari bayi bersama kami. Kami tak pernah membedakan suku, ras pada orang lain."


"Maafkan saya tuan atas perkataan tak menyenangkan."


"Saya paling tidak suka orang menganggapnya remeh, apalagi tidak cari tahu dulu siapa lawannya. Untung saja saya tak mencabut saham yanga dapada Rendra grup," ucap Brian menyindir


"Sekali lagi maaf tuan Brian."

__ADS_1


"Saya sudah memaafkan, tapi tanya pada yang bersangkutan."


"A-aku."


__ADS_2