
Pagi nya Arthur sudah bangun, ia melihat kekasih masih dalam mode mimpi. Ia beranjak dari sofa lalu mencuci muka. Saat ia kembali duduk di sofa ponselnya berdering terlihat nama Daddy nya. Arthur bingung akan menjawab apa jika di tanya.
"Halo assalamuaikum Dad."
"Waalaikumsalam. Kau dimana nak."
"Arthur di apartement, Dad."
"Arthur, Daddy berulang kali peringatkan kamu untuk jangan terlalu deket dengan Kinan."
"Dad, semakin Daddy menyuruh melupakan semakin sulit buat Arthur. Biarkan kami menjalani ini semua, jika jodoh takkan kemana bukan."
"Ya sudah terserah kau, yang penting kamu sudah Daddy peringatkan. Kapan kamu pulang," tanya Marvel ketus.
"Mungkin besok Dad. Kinan terluka ada yang berusaha menusuknya."
"Apa!"
"Arthur tutup dulu, Dad. Assaalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Marvel menutup telponnya dan mengajak istrinya untuk mengunjungi Kinan, ia menjadi tak tega saat putranya mengatakan terjadi penusukan. Marvel mulai sadar bahwa perasaan tak bisa di paksakan. Ia ingat bagaimana perjuangan mencintai istri.
"Sayang, ayo ikut aku."
"Ada apa Dad."
"Kinan tertusuk."
"Astaga, kok bisa."
"Kata Arthur, begitu tapi detailnya tak tahu aku, sayang. Ayo kita lihat kesana."
"Tunggu. Kenapa kau jadi heboh gini Dad, bukannya kamu menentang mereka."
"Aku berfikir aku salah jika menentang mereka, biarkan saja seperti air yang mengalir."
"Syukurlah kamu sadar. Jadi ku nggak repot buat jedotin kepalamu itu."
"Kau bilang apa sayang."
"No, ayo kita pergi Dad."
"Let's go."
Saat keduanya akan pergi, terlihat mobil berhenti di depan rumah dan itu dipastikan adalah Dewa dan Sha.
"Hai Mom, Dad. Mau pada kemana, kok rapi."
"Hai Om, Tante."
"Hai juga Dewa."
"Kita mau jenguk sahabatmu."
"Hah sahabat, maksudnya Kinan."
"Siapa lagi."
"Loh Kinan kenapa Mom."
"Dia tertusuk katanya Arthur."
"Udah jangan banyak tanya, mau ikut nggak."
"Iya-ya. Yuk kak," ajak Sha pada Dewa
Di rumahsakit, Arthur mulai menyuapi makan untuk Kinan. Kinan nampak murung saat ia tak bisa mengikuti perlombaan itu.
"Nan, kau kenapa?"
"Aku sedih nggak bisa ikut lomba itu."
"Hei, kan masih ada aku."
__ADS_1
"Aku nggak mau kamu terlalu bantu aku, Arthur. Aku pengen mandiri, dan punya usaha sendiri kayak kamu."
"Kamu jadi istriku, tak perlu kau kerja," goda Arthur membuat Kinan malu.
"Ih apaan sih."
Saat asyik becanda ada sebuah ketukan membuat Arthur dan Kinan saling pandang.
"Siapa Arthur?"
"Tahu, aku lihat dulu."
Arthur membuka pintu ternyata orangtua, Sha serta Dewa.
"Kalian."
"Hai, boleh kita masuk, sayang," ucap Kayla tersenyum pada putranya.
"I-iya boleh Mom."
Kinan terkejut ada orangtua, Sha dan juga Dea. Ia malu dan takut saat mereka tahu ada di rumahsakit dan ditemani Arthur.
"Maafin Kinan, Om," ucapnya lirih sambil menunduk.
Marvel dan Kayla saling pandang, dan Marvel berbicara.
"Nan, kamu nggak salah kenapa minta maaf."
"Om membiarkan kalian berhubungan, Om tak punya hak atas perasaan kalian."
Seketika Kinan dan Arthur mendongak terkejut dengan penuturan Marvel.
"Dad," ucap Arthur seakan tak percaya.
"Udah, sekarang fokus sekolah dulu. Selanjutnya biar Tuhan mengaturnya."
Arthur memeluk Daddy nya bahagia karena dijinkan berhubungan dengan kekasihnya beda keyakinan itu.
Di sisi lain, Oma Rina berulang kali menelpon Kinan namun tak diangkat. Dan bertepatan Sasa berkunjung ia sengaja mengompori agar Kinan di pecat.
"Jaga mulutmu yang berbisa itu, Sa."
"Oma- Oma, jangan terlalu percaya pada orang baru."
"Lalu, Oma harus percaya pada anak manja kayak kau."
"Terserah Oma saja. Oh ya lihat nih babysitter kesayangan Oma. Apa ini yang dibilang gadis baik-baik," Sasa memberikan foto saat Arthur dan Kinan masuk apartemen bersama.
"Cukup Sasa, lebih baik kau pergi."
"Oke-oke, Sasa pergi. Tapi jangan kecewa ya, Oma. Bye."
Oma Rina benar-benar kesal dengan kelakuan Sasa ditambah lagi, Kinan tak ada kabarnya.
Dua hari kemudian, Kinan sudah nampak pulih akibat tusukan kemarin. Ia melihat ponselnya mati, ia lupa untuk mengisi batreinya.
"Astaga, Oma pasti marah denganku."
"Aduh batre buruan full, aku mau kerja."
Sekitar 2 jam akhirnya selesai juga mengisi batrenya. Ia juga berpamitan lewat pesan singkat untuk Arthur.
"Arthur, aku kerja dulu, kalau kau mau makan udah aku siapin di meja makan."
Begitulah kira-kira pesan untuk Arthur yang masih di sekolah karena ada ekstra basket. Kinan buru-buru naik bemo dan menyuruh sopir agar cepat sampai.
"Pak, buruan. Aku takut dipecat."
"Baik non."
Bemo itu pun secepat kilat namun tetap saja berjalannya seperti keong jadi lambat. Akhirnya ia sudh ssmai didepan rumah megah milik Oma Rina.
"Makasih Pak."
"Sama-sama nona."
__ADS_1
Kinan turun dan berjalan menuju rumah Oma. Ia mulai memencet bel dan yang membuka tepat Oma Rina.
"Oma, maaf. Kinan ada."
"Kamu sibuk tidur dengan pacarmu, ya."
"Tidur dengan pacar, maksudnya apa Oma. Kinan tak mengerti, Oma."
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kau itu hanya menyamar jadi orang lemah dan butuh pekerjaan."
"Oma, Maaf. Kinan tidak seperti Oma kira."
"Lebih kamu pergi, mulai hari ini kau dipecat, dan ini upahmu," ucap Oma Rina melempar amplop berisi uang.
Kinan sakit rasanya difitnah seperti itu, ia pun berpamitan pada semua. Kinan pergi dengan perasaan campur aduk. Tapi dia tak boleh lemah, ia menghapus air matanya lalu mencari pekerjaan kembali. Ia berfikir mungkin kerjaannya cukup sampai disitu.
Dari kejauhan seorang gadis tertawa puas melihat kehancuran Kinan.
"Tinggal langkah merebut Arthur."
Arthur yang baru saja selesai kurikuler, buru-buru pulang ke apartemen. Disana terlihat sepi tanda Kinan masih bekerja. Saat ia menyalakan lampu, ia terkejut ada gadis tertidur di sofa dan itu adalah Kinan.
"Hah, Kinan. Katanya bekerja tapi kok tidur."
"Nan, Kinan. Bangun."
Kinan terlonjak kaget dan menoleh kearah suara.
"Arthur, kamu ngagetin aja."
"Kamu yang ngagetin. katanya kerja, kok kamu malah tidur."
"Aku dipecat."
"Apa! Bagaimana bisa."
"Aku difitnah, dan Oma tak mau mendengar penjelasanku. Mungkin rejeki ku disitu sampek sini aja."
"Ya udah nggak apa, atau kamu mau kerja di kafe ku."
"Apakah boleh."
"Ya boleh dunk."
"Makasih Arthur."
"Iya."
Di tempat lain Dewa menerima telpon dari perusahaannya di New york.
"Halo."
"Halo bos. Ada yang coba bermain dengan kita."
"Maksudnya."
"Ada salah karyawan memanipulasi data keuangan."
"Oke, besok aku kesana."
Dewa menutup telpon dan beralih menelpon sha.
"Halo assalamualaikum Kak."
"Waalaikumsalam Sha. Bisa kah kita ketemu malam ini."
"Bisa kak. Ada apa sepertinya ada sesuatu ya."
"Nanti kau juga tahu. Dandan yang cantik. See you. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sha bahagia saat akan ngedate bareng Dewa, ia sekarang tengah mencari busana yang cocok untuk nanti malam.
Dan waktupun date tiba, Sha begitu anggun dengan dres selutut berwarna hitam pilhan Mommy nya. Dewa terpukau dengan kecantikan alami Sha. Dewa menggenggam tangan Sha dan berucap.
__ADS_1
"Aku bahagia bersama mu, Sha. Maaf aku harus pergi."