
Paparazi itu buru-buru kabur karena tak mau identitasnya diketahui. Setelah agak jauh, paparazi menelpon seseorang.
"Bos, saya sudah mengambil gambar mereka."
"Baik kirimkan ke saya."
"Siap bos."
Sedangkan di rumahsakit, Marvel beserta keluarga bingung mencari Hilda dan dari jauh nampak gadis kecil cengengesan seperti tak ada dosa membuat semua kelabakan. Ia tersenyum manis berjalan kearah mereka. Marvel dan yang lain menggeleng kepala heran dengan tingkah gadis mereka yang akan jadi seorang Ibu ini.
"Astaga, kau nak. Bikin kita khawatir tahu," Bebi menatap putri nya.
"He .... sorry semua. Hilda atraksi dulu tadi tapi udah selesai kok," Hilda cengengesan
"Kau ini Hil, lupa ya lagi hamil," tutur Ara
"Hah, Mami. Hilda lupa," rengek manja Hilda membuat semua menepuk jidat.
"Baru tahu aku, orang lupa hamil," celetuk Willi
"Ya kan namanya manusia ya bisa lupa, ayo Mi kita ke dokter periksa dulu takut kenapa-kenapa."
"Baiklah."
"Bye semua," Hilda berlalu bersama Bebi
Setelah Hilda dan Bebi pergi, Willi kembali mengeluarkan celetukannya.
"Nyidam apa dulu Tante, itu Om. Bisanya dia seperti itu."
"Ikan teri kayaknya, hahhahhaha."
"Apa! pekik semua
"Udah-udah malah bahas nyidam. Udah duduk lagi."
Di depan ruang dokter, Bebi dan Hilda sedang menunggu giliran untuk di periksa. Sesekali Hilda melirik kearah para pasien lain, ia miris ketika melihat seorang ibu-ibu membawa dua balitanya dalam keadaan mengandung besar tanpa didampingi serang suami. Pikir Hilda kasihan melihatnya, Bebi menoleh ke samping putrinya tengah mengamati seorang pasien membuatnya mengulas senyuman.
"Itulah lika liku kehidupan sayang. Kadang diatas kadang di bawah, Mami udah merasakan pahit manis kehidupan. Jadi Mami saran buat kamu, tetap rendah hati dimanapun dan satu lagi kunci dalam rumah tangga, saling percaya dan terbuka intinya jujur."
"Makasih sarannya, Mi."
Tak lama, nama Hilda dipanggil dan masuklah mereka berdua.
"Selamat malam, nona Hilda dan nyonya Bebi," sapa dokter kandungan
"Malam dok, kami kesini mau periksa janin putri saya. Karena dia banyak tingkah."
"Baiklah, mari berbaring nona Hilda."
Hilda berbaring dan suster mulai mengoles gel di perut ratanya. Sesaat dokter memperlihatkan keadaan janinnya yang masih berusia 2 bulan.
"Nah, ini nona janinnya. Dia sangat kuat dan lagi tak ada kondisi buruk apapun. Ini saya kasih vitamin dan penguat kandungan saja ya."
"Baik dok, terimakasih."
Akhirnya, Hilda dan Bebi keluar dari ruangan lalu menuju tempat Kayla dirawat. Di depan ruang rawat hanya terlihat Marvel dan Ben. Kedua perempuan itu segera bertanya.
__ADS_1
"Loh, Dad. Mana kak Dira dan Willi."
"Mereka pulang karena besok ada ujian."
"Kak Marvel nggak ujian juga," tanya Hilda memastikan.
"Mana bisa kakak ujian dalam keadaan gini, Hil."
"Tapi kak, kalau kak Kayla tahu pasti dia marah karena kakak berubah."
"Denger Hil, kakak nggak akan pergi dari tempat ini sedikitpun, kau mengerti," bentak Marvel pada Hilda
Marvel pergi memilih untuk mengunjungi baby twin mereka. Di depan ruangan bayi ia meneteskan air mata kembali mengingat perjuangan sang istri. Marvel minta tolong pada suster agar ia bisa menggendong putra-putrinya.
"Sus, aku mau lihat bayiku bisakah."
"Silahkan tuan dan waktunya hanya satu jam saja."
"Baik sus, terimakasih."
Marvel meraih tubuh mungil putranya di dalam box, ia menciumi wajah lembut putranya. Ia sungguh bahagia bisa mempunyai keturunan dari Kayla.
"Oh ya, Daddy akan beri namamu. Arthur baratawijaya," ucapnya sambil mencium putranya dan menaruhnya ke dalam box.
Kemudian ia beralih pada box warna pink yaitu putri kecilnya. Sama halnya dengan ia lakukan pada Axel, ia juga memperlakukan putri kecilnya dengan mencium wajah lalu ia memberi nama.
"Oh ya baby cantiknya Daddy, akan Daddy kasih nama Sharen baratawijaya. Kau begitu cantik persis Mami mu. Doakan Mami mu cepat sadar ya."
Marvel pun menaruh kembali bayinya ke dalam box warna pink, Ia menatap keduanya penuh haru. Lalu berpamitan pada suster yang menjaga.
"Makasih sus."
Marvel bingung, apa yang harus ia lakukan agar istrinya cepat bangun.
"Ya Tuhan, sembuhkah istriku. Aku janji takkan menyakitinya lagi," ucapnya sambil menunduk sesegukan.
Dan tak disangka ada tangan memegang bahunya, ia masih tak sadar ada orang di sebelahnya. Saat tangannya disentuh kembali, ia merasa risih dan ingin memarahi tapi terpotong karena dihadapannya seseorang yang ia rindukan.
"Sa-sayang, ini beneran kamu," Marvel menggoyangkan badan istrinya.
"Hei mantan playboy, julukanmu tak sepadan dengan tingkahmu sekarang."
"Aku tak peduli, jangan pernah tinggalin aku lagi, sayang. Aku nggak bisa hidup tanpamu," memeluk erat Kayla.
"Iya tapi kamu harus senyum dunk, masak iya most wanted jelek begini."
"Aku nggak peduli semua itu sayang, aku hanya butuh kamu dan anak-anak kita."
Marvel memeluk dan mencium wajah istrinya berulang kali membuat kedua orangtua serta adiknya terharu, sungguh perjuangan yang patut diacungi kerena mereka bisa melewati semua disaat masih belia.
.....
Tiga hari setelah kepulangan baby twin dan Kayla, Ben hari ini sedang mengadakan syukuran sembuhnya Kayla dan lahirnya keturunan Baratawijaya. Marvel sangat bahagia bisa berkumpul kembali pada istri dan anak-anaknya.
Tak lama, pembuat rusuh datang bersamaan.
"Hai-hai."
__ADS_1
"Nah kan mulai berisik deh."
"Nanti kita bawa anak-anak aja sayang, ke kamar, biar nggak di ganggu mereka."
"Hei, diskusi apaan sih. Sini, aku pengen gendong bayi tampan. Mana Vel," ucap Ega
"Aku, bayi cantiknya," Leo ikut merebut dari tangan Marvel
"Hadeh. Kalau pengen, buat sendiri," Marvel menyindir keduanya
"Belum waktunya."
"Bukan waktunya tapi kantongmu kering, mana mau."
"Nah kau tahu gitu Vel, ini aja kesini gara-gara itu tadi."
"Dasar sinting."
"Sinting begini masih ada yang mau, Vel."
"Ya, untung masih ada."
"Ih apaan sih kalian, kayak anak kecil dari tadi debat nggak selesai-selesai," Lala memarahi kedua lelaki tampan itu
"Tahu tuh, Bapak-bapak," Kayla terkekeh
"Oh ya, namanya siap ini bayi tampan, Kay."
"Arthur dan yang cantik namanya Sharen."
"Waw, cucok meong deh namanya penerus most wanted kita," riuh Revan
"Meong mu itu, Van dirumah."
"Hahahahaha," semua tertawa
Acara syukuran pun di mulai, Marvel dan Kayla duduk bersebelahan. Lalu dibelakang mereka para sahabat setianya. Acara berlangsung lancar dan hikmat, hanya dihadiri keluarga dan sahabat terdekat.
Dua jam acara itu selesai, Satu persatu berpamitan sedangkan Kayla dan Marvel tengah menemani putra putrinya begadang.
"Oh my god, ini kah namanya orangtua, hoam," ucap Marvel sambil merentangkan tangannya.
"Sabar, ini adalah anugerah Tuhan yang tak bisa digantikan apapun. Kita bersyukur, Tuhan menitipkan dua malaikat cantik dan tampan ini, cepat bukan."
"Benar sayang. Oh ya, kalau kamu ngantuk tidur dulu sayang, aku juga sambil mengerjakan laporan kafe."
"Iya, Mau dibuatin kopi nggak."
"Boleh."
Kayla pun keluar kamar dan menuju dapur. Namun ia berhenti sejenak mendengar percakapan seseorang di dekat dapur.
"Bos bilang, kita harus pergi secepatnya sebelum keluarga ini menyadari keberadaan kita."
"Baiklah, aku akan bersiap dulu."
Kayla yang penasaran kemudian mendatangi mereka.
__ADS_1
"Siapa kalian," tanya Kayla pada kedua orang itu yang sudah gugup