
"Aku, udah maafkan kakek."
"Sungguh nak," tanya Leo
"Benar kakek."
"Terimakasih nak, kau sungguh baik. Benar saja Rendra memilihmu."
Jessi mengulas senyuman pada Leo
"Nah, sekarang kan udah baikan. Mari kita rayakan Kafe Jessi ini bersama," ucap Brian
"Chers," seru kompak
Rendra sungguh bahagia kini bisa mendaoatkan jodoh yag ia inginkan serta dapat restu dari keluarga.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, mereka memutuskan makan siang bersama. Setelah makan, satu persatu berpamotan.
"Ren, Jes. Kita pulang dulu ya, kasoha Sella uda magntuk " pamit Ayunda
"Baik Kak Ayu, hati-hati."
"Dah, sayangnya Tante," peluk cium Jessi pada
bayi mungil itu.
"Axel dan Ben juga pamit Tante," ucap Ben
"Oke, kalian hati-hati. Belajar yang pinter."
"Siap Tante."
"Kakak pulang juga Jes, Ren," pamit Brian
"Iya kak , hati-hati."
Dan yang terakhir pamit adalah Leo kakek dari Rendra.
"Ren, Jes. Kakek pamit pulang juga. Kalian jangan terlalu capek."
"Baik Kakek."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Usai semua keuarga pulang, kini Rendra mengaja Jessi ke lantai dua.
"Sayang, ikut aku."
"Kemana, Ren?"
"Nanti juga tahu."
Rendra menggandeng tangan kekasihnya naik ke lantai dua. Saat di depan ruangan, mata Jessi di tutup oleh Rendra daro belakang sambil berjalan.
"Stop. Sekarang aku hitung."
1
2
3
"Surprise," seru Rendra
Jessi mengerjab-ngerjab melihat di depannya sungguh indah dan romantis.
"Ren, ini," tanya Jessi
Namun di jawab oleh Rendra dengan cara lain
"Will you marry me, Jessica," ucap Rendra sambil berlutut
Jessi menutup mulutnya terkejut dengan apa yang Rendra lakukan.
"Ren, bangunlah."
"Belum bisa, kau harus menjawab nya."
"Menjawab apa?"
"Aduh, kau ini Jess. Nggak ada romantisnya. Iu barusan aku ucap."
__ADS_1
Rendra cemberut lalu, Jessi tertawa melihat wajah gemas kekasihnya.
"Hahahahaha, maaf. Aku yes."
"Hah, yang bener?"
"Iya. Apa kau tak memdengarku, Rendra."
"He.. Iya denger sayangku. Aku bahagia banget akhirnya mendapatkan jodoh sepertimu. Oh ya duduklah."
"Dan ini untukmu, sebaga tanda cintaku," Rendra membuka kotak kecil berwarna merah dan di masukkan ke jari Jessi.
Jessi tak menyangka jika akan ada seorang laki-laki mencintainya.
"Aku nggak bisa terima ini, Ren."
"Loh kenapa, sayang. Apa kurang mahal?"
"Bolehkah aku cerita masa lalu ku agar kau tahu siapa aku sebenarnya."
"Boleh, ceritalah."
"Dulu, aku pernah salah menjalin cinta karena terbuai rayuan dari kekasihku namanya Riko. Dia pria ambisius dan ia ingin balas dendam pada keluarga Baratawijaya, karena dia berfikir penyebab hancur dan bangkrut keluarganya karena itu padahal ulah orangtuanya sendiri. Dan saat aku di cuci otak untuk mengambil alih harta kak Brian, keponakan genius ku lebih cepat dari dugaan jadi kami tak bisa berkutik. Dan bodohnya aku, ternyata Riko hanya memanfaatku untuk alat bisa masuk ke Baratawijaya dengan cepat. Aku bodoh juga sudah memberi kepercayaan padanya lalu aku," ucapan Jessi terpotong oleh Rendra
"Stop, jangan bilang kau sudah menyerahkan mahkotamu," tanya Rendra memastikan
Jessi menunduk dan berkata, "Iya, aku udah nggak gadis lagi."
Rendra seketika raut wajahnya berubah suram, ia tak tau harus berkata apa lagi. Sedangkan Jessi tau pasti Rendra berpikir, dia perempuan murah yang mau saja tidur dengan bukan suaminya.
"Ren, apa kau marah."
"Jes, biarkan aku istirahat dulu. Kau pulanglah," usir Rendra pada Jessi
Deg
Hati Jessi terasa tertusuk beribu pisau tajam menusuknya, ia baru saja diagungkan bak ratu sekarang di hancurkan bagai debu.
"Baiklah, kau juga istirahat."
Jessi keluar dari ruangan sambil menahan rasa tangisnya , ia berlari entah kemana. Sedangkan rendra membanting gelas yang ada di mejanya.
"Sial."
Rendra duduk terdiam sambil berfikir, apakah keputusannya baik atau akan membuatnya terluka.
Di satu sisi, Jessi duduk sesegukan di taman. Ia menumpahkan segala rasa sakitnya disitu.
"Ren, inilah yang aku takutkan. Kau takkan bisa menerimaku yang sudah tak gadis lagi."
Tiba-tiba, hujan deras mengguyur wilayah itu, membuat Jessi percaya jika Tuhan sayang padanya menunjukkan mana yang tulus dan tidak.
Jessi memutuskan kembali ke apartemennya dan tak disangka ia bertemu dengan Viona mantan pacar Rendra.
"Eh hai, kau temennya Rendra bukan?" sapa ramah Viona
"Iya, ada apa?"
"Kau kehujanan, ini ambillah," Viona memberkan handuk kecilnya
"Tidak usah, makasih Vio."
"Tak apa, kita kan juga kawan. Kapan-kapan mainlah ke apartemen ya."
"Oke. Aku duluan, Vio."
"See you."
Jessi masuk ke dalam apartemen, ia segera mandi dan mengistirahatkan badannya. Jessi juga tak lupa mengirim pesan pada Rendra namun tak di balas. Jessi membiarkan Rendra sampai hilang marahnya.
Seminggu kemudian, Jessi dan Rendra masih belum bertemu. Akhirny Jessi berfikir mungkin Rendra memilih tidak melanjutkan hubungan, ia pun akan ke kantor Rendra untuk mengundurkan diri.
Sampai di kantor, Jessi memberikan surat pengunduran dirinya pada resepsionis.
"Mbak, titip ke Hrd ya."
"Baik nona."
Kini Jessi memilih pulang ke rumah kakaknya ingin menghilangkan penatnya dengan bermain bersama anak-anak.
Sampai di mansion Baratawijaya, Jessi berlari masuk ke dalam rumah.
"Assaalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
"Jessi, kau kemana aja seminggu ini hem," sapa Ayunda
"Aku sibuk kak, maaf ya. Mana anak-anak."
"Ada di gazebo, kesanalah mereka merindukan Tantenya."
"Oh ya. Aku kesana dulu , kak."
"Iya."
Jessi menuju gazebo tak lupa ia mebawa cemilan dari dapur.
"Hai .. Hai," sapa Jessi pada semua
"Tante."
"Hei keponakan Tante,"
"Hai, Tante. Kemana aja kok nggak kesini."
"Maaf Tante sibuk."
"Hai baby gembul. Kau lucu sekali, sayang," peluk cium bayi
Bayi itu menggeliat sambil tertawa, Jessi semakin menciumi bayi tersebut.
"Tante, lusa Bunda ulangtahun lo. Gimana kalau kita kasih surprise."
"Oh ya Axel, boleh aja, surprise dimana."
"Gimana kalau di rumah aja, tapi buat barbeque aja."
"Keren itu Ben, boleh juga. Tante udah lama nggak barbeque."
"Ya udah, kita belanja yuk," ajak Jessi
"Oke, aku pamit Bunda dulu, Tante."
"Biar Tante aja ya."
"Siap Tante. Ayo Xel, kita siap-siap."
"Mbak, jaga Sella ya. Kita keluar bentar."
"Mau nitip nggak mbak?" tanya Ben
"Nggak ada, tuan muda."
"Baiklah, ayo Xel."
Saat mereka sampai di supermarket, Jessi, Axel dan Ben berburu keperluan kejutan. Mereka sungguh bahagia apalagi sudah lama Jessi hunting.
"Eh, Xel kamu mau bakso nggak?"
"Iya Tante, kalau kau Ben?"
"Aku ikut aja Tante."
"Baiklah, kalain beli minuman disana. Tante ke sayuran disitu nanti ketemu disini."
"Siap."
Jessi pun mengambil beberapa sayuran dan cemilan, tak lupa membeli kue ulangtahun.
"Mbak, kue ulangtahunnya satu yang besar."
"Baik nona atas nama."
"Ayunda ke 32 tahun."
"Baik nona, tunggu sebentar."
Tak lama kue pesanan sudah jadi
"Nah, ini nona."
"Cantik sekali, saya simpan disini dulu ya mbak. Besok saya ambil."
"Baik nona."
Saat akan kembali ke tempat nya tadi, Jessi bertemu dengan seseorang.
__ADS_1