
Saat tiba di kediaman Ben, Raka dan Hilda serta Berlian masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum," Raka dan Hilda.
"Waalaikumsalam. Nona, tuan."
"Hai bik, Mami sama Daddy."
"Kita di sini," ucap keduanya dari arah ruang keluarga.
"Hai Mami, Daddy," Hilda memeluk dan menyalami punggung tangan orangtua bergantian dengan Raka.
"Hai juga sayang, gimana liburannya."
"Seneng Mi, ini oleh-oleh dari Bunda Sarah, Mi," Hilda memberikan paperbag pada orangtuanya.
"Bunda apa kabar sayang."
"Alhamdulillah baik Mi. Oh ya, tolong buatin ikan pepes dunk Mi."
"Hah, tumben kamu sayang."
"Nggak tahu pengen banget dijalan tadi."
"Ya udah Mami lihat dulu, masih ada nggak bumbunya."
"Sini Berlian biar sama Mi, Mami kangen," Bebi mengambil alih gendongan pada Berlian.
"Ini Mi."
"Kamu istirahat dulu gih, Ka. Kamu sepertinya capek banget."
"Lumayan Dad, aku masuk kamar dulu Dad."
"Iya."
Raka naik ke atas menuju kamarnya sedangkan Ara dibantu Hilda memasak ikan pepes. Hilda melihat putrinya mulai mengantuk ia membawanya ke kamar.
"Berlian tidur ya, sayang."
"Iya kak, lelah kayaknya. Aku ke bawah dulu ya."
"Ya udah, selamat makan sayang."
"Terimakasih suamiku. Tapi kakak nggak ikut nyoba."
"Nggak mau, kamu aja. Oh ya besok kita ke dokter."
"Baiklah."
Hilda menutup pintu dan turun melihat Mami sudah selesai apa belum. Di ruang makan terlihat Bebi sudah menyiapkan pesenan putrinya.
"Gimana Mi, sudah jadi."
"Udah sayang, kamu makan sekarang."
"Iya Mi, sama Mami ya, please," rengek manja Hilda membuat Bebi mengulas senyuman.
"Kamu manja banget, oh ya kenapa tiba-tiba pengen ikan pepes."
"Nggak tahu kayaknya enak gitu, Mi."
"Apa kamu nyidam, sayang."
"Tahu Mi, besok mau periksa kok."
"Jadi beneran."
"Tapi kan belum pasti ,Mi."
__ADS_1
"Semoga ada adeknya Berlian."
"Amin."
"Hahahhaaha kamu udah ngarep banget ya."
"Ih Mami godain."
Setelah selesai menyantap ikan pepes, ia segera mengajak Mami unruk beristirahat.
"Alhamdulillah Mi, kenyang. Makasih," ucap Hilda mengecup pipi Mami.
"Sama-sama, udah sana tidur. Daddy udah nungguin Mami juga."
"Cih, Daddy kayak anak muda aja."
"Daddy emang begitu sayang, dan itu membuat Mami jatuh cinta padanya."
"Aih, Mami sama aja."
Esoknya.
Di kediaman Marvel, Kayla masih setia dengan selimutnya. Marvel perlahan turun saat alarm berbunyi dan mematikannya , Ia bergegas mandi agar bisa mengantar twins sekolah. Marvel sengaja tak membangunkan istri karena tau pasti kelelahan akibat perbuatannya tadi malam.
Kini lelaki tampan itu sudah tampak rapi dengan setelan jas warna hitam. Ia berjalan mendekati istri mencium keningnya. Ia menulis sepucuk surat di atas nakas agar istrinya tak marah.
Marvel keluar dan turun untuk makan bersama.
Di ruang makan, twins sudah rapi dengan seragam mereka. Marvel menyunggingkan senyuman tatkala ingat dulu diantar oleh Daddy, sekarang tak terasa dirinya mengantar putra putri nya.
"Kalian keren pakai seragam itu."
"Terimakasih Dad."
"Belajar yang rajin ya."
"Siap Dad."
"Nona Hilda."
Hilda dan Raka masuk ke dalam ruangan dokter.
"Selamat pagi tuan, nona."
"Pagi dokter."
"Baiklah. Silahkan naik ke atas ranjang nona."
Hilda pun naik ke atas ranjang dan perawat mulai mengoles gel di perut rata Hilda. Dokter mulai melihat keadaan perut Hilda dan melihat ada sebuah titik di rahim menunjukkan jika ada nyawa di sana.
"Nah ini nona, ini adalah titik dimana ada sebuah nyawa di dalam sana."
"Maksudnya dokter."
"Anda sedang mengandung, nona."
"Yang bener dokter."
"Iya nona, usia baru dua minggu. Selamat untuk anda nona, tuan."
"Terimakasih dokter. Oh ya ini resep vitaminnya," ucapnya sambil memberikan resepnya.
"Baik kami permisi dokter."
Raka sungguh bahagia atas kehamilan istrinya yang kedua, ia berniat merayakan kebahagiaan ini dengan mengundang para sahabat.
Kini pria tampan itu saat sampai di kediaman Ben, buru-buru menelpon para sahabatnya.
"Halo Vel, kau dimana."
__ADS_1
"Aku di kantor, ada apa, Ka?"
"Nanti sore ke rumah, ada syukuran."
"Syukuran, syukuran apa itu?"
"Bini ku hamil lagi."
"Apa!" Pekik Marvel.
"Kau mau buat aku tuli ya. Dasar kau Vel."
"Sorry, tapi kan tuh bocah kecil masih kecil amat."
"Itulah rejeki, udah nggak usah pakai ceramah. Nanti kabary yamg lain untuk ikut ya biar rame."
"Iya, udah dulu masih sibuk nih."
"Oke-oke thanks Vell."
Marvel menutup telpon namun saat akan kembali pada laptop ada seseorang tiba-tiba nyelonong dan menggebrak meja.
Brak
Marvel seketika terlonjak kaget dan ingin memarahi siapa beraninya menggebrak meja. Dan saat mendongak nyalinya langsung menciut karena di depannya adalah sang istri.
Gleg
"Sayang, bagaimana kondisimu."
"Jangan basa basi Vel, kenapa nggak bangungin aku."
"Aku tahu kamu kelelahan akibat ulahku sayang, jadi aku nggak bangunin. Udah ya jangan marah, aku nggak mau kamu kecapekan. Sabar, nanti baby kita ikut terguncang karena Mommynya marah-marah sama Daddy."
"Biarin. Tahu nggak aku udah seneng banget bakal nemenin hari pertama sekolah twins tapi apa, aku malahan ketiduran. Hiks ... hiks... dan itu semua karena kau," ucapnya sambil memolototi suami.
Marvel pun nampak tegang saat istrinya sudah nampak kayak kucing garong siap mencakarnya.
"Ya udah kita ke sekolah twins ya. Kita pantau sama-sama oke."
Kayla akhirnya bisa tenang dan tersenyum simpul ke arah suami. Marvel bernafas lega lalu menghubungi Leo.
"Halo, Leo. Aku keluar dulu mau jemput twins ke sekolah."
"Siap bos."
Kemudian Kayla menggandeng lengan sumi untuk turun, Marvel mengelus tangan istrinya yang menggandeng erat dirinya. Sampai di lobby senyum terpancar di wajah keduanya membuat para karyawan semakin kagum dengan mereka.
"Tuan Marvel dan nona Kayla semakin keren dan harmonis ya."
"Iya lah mereka serasi. Aku akui tuan Marvel bucin banget sama nona Kayla. Beliau nggak akan biarkan satu lalat pun mengganggunya."
"Iya bener banget, tau nggak beberapa lalu ada foto nona Kayla diajak selfi sama kurir. Kan terlihat baik banget, hanya ada orang yang nyidam pengen ketemu Kayla dia sudi berfoto kalangan orang biasa."
"Iya, doakan mereka langgeng dan hanya maut memisahkan."
"Amin. Udah balik kerja jangan ghibah mulu."
Sedangkan Marvel dan Kayla kini sudah di sekolah Twins. Dan saat keduanya turun mereka masih saja kagum terhadap kedua orangtuanya twins.
"Siang tuan Marvel dan nona Kayla," sapa salah satu Ibu.
"Siang Bu, lagi jemput ya."
"Iya tuan. Kami tak mau meninggalkan putri kami sendirian takut di culik," canda Ibu itu sambil senyum-senyum. Kayla melihatnya sungguh menahan tawa.
"Ya udah kami juga mau lihat putra putri kami dulu."
"Silahkan tuan."
__ADS_1
Setelah pergi dari hadapan Ibu-ibu seketika keduanya tertawa terpingkal-pingkal melihat Ibu tadi terihat lucu tak sadar kesekolah anaknya masih pakai daster dan juga ada sisir menancap diatas kepalanya.
"Hahahhahaha."