Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Brian kecelakaan


__ADS_3

Brak


Taksi yang di tumpangi Brian diserempet mobil seseorang yang membuntutinya sedari tadi.


Sret


Brak


Dan akhirnya menabrak sebuah pohon, Brian dalam keadaan setengah sadar menyebut nama Ayu


"Ayu."


Dan akhirnya pingsan, bersamaan gelas minum yang dipegang Ayunda terjatuh


Pyar


"Nyonya," salah satu maid menghampirinya


"Tolong ambil sapu, bik."


"Ada apa nyonya, apa anda sakit?"


"Nggak bik, tapi perasaanku tak enak saja."


"Nyonya duduklah, ini minum mungkin bisa sedikit menenangkan," salah satu maid memberikan segelas air putih


"Terimakasih bik."


"Iya nyonya."


Dan terdengar sebuah dering telepon.


"Maaf nyonya. Ada telepon dari rumah sakit."


"Rumah sakit."


"Iya nyonya."


Ayunda berjalan menuju ruang tamu dan mengangkat telpon tersebut.


"Iya selamat sore."


"Selamat sore, apa benar ini istri dari tuan Brian baratawijaya?"


"Benar, ada apa ya."


"Maaf, saya perawat di rumahsakit bunda. Tuan Brian mengalami kecelakaan."


"Apa!"


Ayunda seketika menutup telpon dan lemas mendengar suaminya kecelakaan. Tak lama, ia berlari ke dapur.


"Bik, bibik," teriaknya


"Iya nyonya, ada apa?"


"Bik, jaga Sella. Aku akan ke rumah sakit, suamiku kecelakaan," Ayunda sambil terisak


"Baik nyonya, hati-hati."


Ayunda diantar sopir meluncur ke rumah sakit bunda, sampai disana ia sudah di sambut Vero.


"Hai nona Ayu," sapa Vero


"Iya, maaf saya harus melihat keadaan suami."


"Oh ya silahkan."


Ayunda masuk ke dalam ruang dokter yang menangani Brian.


"Selamat sore, nona Ayunda."


"Sore dokter. Bagaimana keadaan suami saya."


"Keadaaan suami anda saat ini sedang tak sadarkan diri, nona. Karena kuatnya benturan membuat tuan Brian koma."


"Astaga, lalu kapan suami bisa sembuh kembali dokter?"


"Doa dan keajaiban nona, semoga tuan Brian segera pulih kembali."


"Amin, makasih dokter."


"Saya permisi dulu nona, selamat sore."


"Iya."


Usai dokter mengatakan hal tentag keadaan sumai, Ayunda terduduk lemas lau tak terasa air matanya menetes di pipi mulusnya. Dari kejauhan Vero melihat Ayunda di rundung duka, ia pun menghampiri.


"Nona Ayunda, sabarlah. Saya akan menyeret pelakunya kesini."

__ADS_1


"Terimakasih."


"Sama-sama."


Sedangkan di sekolah, Ben dan Axel gusar saat extra bela diri.


"Ada apa Ben," tanya Alex sahabat Ben


"Nggak tau kenapa, perasaanku nggak enak."


Dari belakang mereka ada yang emnyahuti


"Sama kak," ucap Axel


"Xel, duduklah."


"Masih 15 menit lagi baru selesai."


"Ya udah kalian tetep fokus aja, nanti kan seleksi. Kau pasti bisa Ben."


"Iya kak, aku mendukungmu."


"Makasih kalian udah support."


Dan akhirnya semua diminta untuk berkumpul.


"Baik anak-anak karena minggu depan ada perlombaan maka dari itu dari sekolah akan ada seleksi siapa yang akan mewakili. Benardo tama, Riko, Deo dan Miko silahkan maju kedepan. Saya minta sportif ya, Ben dan Riko silahkan maju untuk seleksi.


"Ayo kak, semangat," ucap Axel menyemangati pada Ben


"Iya, Xel."


"Semangat Ben," ujar Alex


Ben mengacungkan jempol bersiap melawan Riko di ring. Beberapa menit kemudian, pada akhirnya yang menang adalah Ben dan juga Miko. Keduanya mewakili sekolah mengikuti perlombaan bela diri di sekolah lain.


"Waw, kau menang Ben dan aakn emwakili sekolah saa Riko," ujar Alex


"Iya, ini doa kalian."


"Ya udah kak, kita pulang," ajak Axel


"Oke, kita duluan ya Lex," pamit Ben pada Alex


"Hati-hati sobat."


Axel dan Ben keluar dari sekolah dan mereka terkejut dengan muka tegang para bodyguard dan tak biasa ada di sekolah.


"Maaf tuan muda. Kami minta maaf harus segera menjemput."


"Kemana sopir kita," taya Axel


"Sopir bersama nyonya."


"Hah, bunda. Ada apa sebenarnya ini," Ben makin tak karuan perasaannya.


"Mari ikut kami saja, tuan muda."


Axel dan Ben saling melirik lalu Ben mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan, Ben semakin cemas, ia berfikir tengah ada kejadian. Dan saat mobil msuk ke dalam rumahsakit, Axle dan Ben hatinya tak karuan. Ben mencoba menata hati dan berdoa agar tak terjadi apa-apa. Axel dan Ben saling menggenggam erat tangan saling menguatkan. Keduanya pun turun dari mobil perlahan mengikuti jalannya para bodyguard. Dari jauh, terlihat Bunda menunduk tengah bersama seorang pria asing .


Kedua bocah tampan itu berjalan menghampiri


"Bunda," teriak keduanya


Ayunda menoleh kearah suara lalu ememluk kedua bocah tampan tersebut.


"Doakan Daddy cepat pulih ya," ucapnya sambil terisak


"Ada apa ini Bunda,"


"Daddy kecelakaan sayang dan masih belum sadar. Doakan ya cepat pulih."


"Daddy," teriak keduanya lalu menghampiri ruangan di depan mata memperlihatkan Brian tengah berbaring dengan alat bantu di badannya. Axel dan Ben tak bisa menahan tangisnya


"Daddy, maafin Ben belum bisa bahagiain."


"Axel juga Dad, cepetlah sadar. Kami menunggumu, Axel sayang Daddy."


Ayunda menghampiri kedua putranya dan memeluk memberikan ketenangan.


"Sabar sayang, doakan Daddy ya."


"Iya bunda."


"Kita duduk dulu, ya."


Vero sedari tai menyaksikan kedua bocah serta istri dari sahabatnya menagis ia tak tahan. Ia pun memilih berpamitan.


"Nona Ayu, Ben da Axel. Saya pamit, kalau ada kabr terbari dari Brian tolong kabari."

__ADS_1


"Baik, termakasih Vero."


"Makasih Om."


"Iya, assalamualaikum."


"Waaalaikumsalam."


Vero berpamitan dan kekuar dari rumah sakit menuju suatu tempat.


Di club


"Hahahhahaha, akhirnya aku berhasil membuatnya menuju ke neraka."


"Emang kau habis ngapain Ver."


"Bunuh orang," ucapnya lirih


"Apa!"


"Berisik banget sih kalian."


"Kau mabuk ya Ver, hahahhaha."


"Terserah kalian saja."


Nampak Vero sudah memantau gerak gerik Vera sejak dia keluar dari rumahsakit.


"Sialan nih cewek, lihat aja aku buat dia sengsara."


Satu jam kemudian, Vero melihat Vera sudah mabuk berat lalu menyuruh para bodyguardnya membawa ke hotel bersama nya. Sampai di hotel, Vero mengerjai kembali.


Di satu sisi, Johan baru saja tiba di rumahsakit.


"Bagaimana keadaannya ,Yu."


"Masih belum siuman. Doakan dia cepet bangun."


"Iya, mana Axel dan Ben."


"Mereka ke kantin. Duduklah."


"Iya, aku sungguh terkejut mendapat berita Brian. Padahal kita tadi sempet bareng. Dan maaf batreiku lowbat jadi baru bisa kesini."


"Iya tak masalah, gimana Nadia dan putrimu."


"Mereka alhamdulillah baik. Aku akan menyelidiki siapa dalang dibalik semua ini."


"Iya, aku percayakan semua ke kamu, Jo."


Dan tak berapa lama, Axel dan Ben kembali.


"Om."


"Hei boy, darimana kalian."


"Dari kantin, om. Udah lama disini."


"Baru, baru setengah jam yang lalu."


"Hah, masak sih kita selama itu ya, kak."


"Hahahahah, becanda. Baru saja kok."


"Om, mau ini."


"Apa itu."


"Nasi rames."


"Enak kayanya tapi buat kalaia aja."


"Yang bener nih."


"Iya."


Tiba-tiba dering ponsel Johan


"Ya halo."


"Eh, Jo. Aku uda kirim sesuatu sama kamu. Bukalah."


"Apaan."


"Udah lihat ja."


Tut


Johan menutup telpon beralih melihat pesan yang dikirim oleh Vero. Lalu ia menutup mulutnya

__ADS_1


"Astaga."


__ADS_2