Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Ingin melamar


__ADS_3

Waktu pun tak terasa cepat berlalu, kini kandungan Kayla sudah berusia 7 bulan sedangkan Viona 5 bulan. Kedua bumil itu makin doyan makannya apalagi Yasmine berat badannya makin menambah sejak ia mengetahui ternyata ada dua janin di rahimnya.


Pagi ini, Kayla mengajak suaminya jalan pagi karena ia merasa kakinya bengkak. Sedikit-sedikit ia mengajak istirahat duduk di bangku taman.


"Sayang, rasanya aku udah nggak kuat jalannya."


"Ya udah duduk dulu sayang, jangan dipaksain. Ini minumlah," Marvel memberikan sebotol minuman


Dan tanpa jeda ia meneguknya seketika, Marvel menelan ludah kasar melihat istrinya yang menggemaskan itu.


"Ih, kau gemesin sih sayang, lucu amat sebotol kau teguk sekejab," mencubit hidung mancung istrinya


"Ih, sakit tahu."


"Oh ya, nanti kontrol kan sayang."


"Hem, kamu bisa ngantar kan."


"Bisa dunk, aku mau siaga 24  jam untuk istriku."


"Ih so sweet banget suamiku. Udah yuk pulang, mau mandi nih gerah."


"Baiklah dindaku, let's go."


Keduanya pulang ke apartemen, tak lama mereka sampai di depan dan betapa terkejutnya mendapati adeknya Hilda duduk dekat pintu.


"Hilda," sapa keduanya


Hilda mendongak ternyata kakaknya sudah datang ia berhambur memeluk. Marvel mengelus puncak kepala adeknya dan menyuruhnya masuk.


"Duduklah, Hil."


"Makasih Kak."


"Biar aku aja yang ambil minum, sayang," ucap Marvel dan pergi ke dapur.


Sesaat, Marvel dan Kayla sudah duduk berdampingan siap menerima keluhan dari adeknya  yang sudah kelas 3 SMP itu.


"Ada apa Hil, coba kau ceritakan."


"Kak, maafin Hilda."


"Kenapa minta maaf, hem. Yang jelas dunk, Hil."


"Kak, aku hamil."


"Apa!" pekik keduanya hingga  Marvel seketika berdiri terkejut mendengar penuturan adeknya.


"Kau tak becanda, kan Hil."


"Emang mukaku terlihat becanda kak. Lihatlah aku pusing mikirin ini."


"Hil, kenapa kau melakukan hal itu."


"Ini bukan kemauan aku kak  tapi kecelakaan yang orang buat."


"Maksudnya Hil."


"Jadi, pas aku ulang tahun ada yang sengaja menaruh minuman aneh ke minumanku aku tiba-tiba tak ada lagi dan paginya aku udah sama cowok itu di hotel."


"Apa cowok itu yang menaruh obat padamu."


"Bukan, ia juga korban kak."


"Kenapa kamu seperti membela dia."


"Buka gitu kak, tapi kenyataanya kita dijebak kak.  Coba cek cctv dirumah pasti pelakunya ada."


"Lalu, siapa cowok itu."


"Dia ... dia adalah Raka," ucapnya menunduk.

__ADS_1


"Apa! jadi kamu selama ini menutupi dari kami saat kejadian. Oh my god, kau anggap aku apa, Hil," ucap Marvel kesal sambil mengusap wajahnya kasar.


"Maafin aku kak, maafin Hilda. Kami sepakat tak memberitahu siapapun , Hilda takut."


Kayla yang tak tega di marahin Marvel segera mendekat memeluknya.


"Mending kita cari solusi dulu sayang.  Jangan marah mulu."


"Iya sayang, tapi aku bingung harus apa."


Tiba-tiba di saat tegang,  ponsel Hilda berdering dan di situ tertera nama Raka.


"Siapa?" tanya Marvel menatap sang adik


"Raka."


"Angkat loudspeaker."


Akhirya diangkat telponnya dan Hilda mulai berbicara.


"Halo, Kak."


"Halo Hil. Nanti kita ketemuan ya di tempat biasa, ada yang mau aku omongin."


"Baik kak, sampai jumpa nanti."


Telpon selesai dan kini Marvel tengah memikirkan rencana selanjutnya. Tak butuh lama Marvel mengusulkan.


"Nanti temui dia, Hil. Kakak akan memantau kalian dari jauh setelah itu aku yang akan bilang padanya tentang kehamilanmu."


"Baik kak, terimakasih."


.......


Malamnya, Hilda bersiap untuk menemui Raka di tempat mereka biasa ketemu. Dia juga sudah mengabari kakaknya Marvel.


Saat sampai di kafe, ia melihat sekeliling mencari keberadaan Raka. Dan sekilas ia melihat lambaian tangan Raka, ia tersenyum dan melambaikan balik tangannya  kemudian berjalan mendekat.


"Hai Hil, kau sepertinya cemas."


"Kak, aku hamil."


"Yang bener kak."


"Kan dari awal aku sudah bilang sama kamu, Hil."


"Makasih Kak."


"Iya. Sekarang senyum dunk."


Hilda pun menuruti ia tersenyum lebar  tiba-tiba, Marvel datang menghampiri mereka berdua.


"Marvel."


"Terkejut ya. Apa ada yang ingin kau sampaikan padaku, Ka."


"Maksudnya Vel."


"Masa Hilda belum ngomong."


Raka menatap sekilas Hilda memastikan apa yang tengah terjadi. Hilda mengkode bahwa ia sudah bercerita, akhirya Raka mulai percakapannya.


"Jadi gini Vel, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku tempo lalu. Kami sengaja menyembunyikan  kejadian itu karena Hilda takut pada orangtuamu."


"Oke aku terima alasanmu, lalu kalian udah cinta kah."


"Kalau aku udah sejak pertama bertemu di rumahmu, tapi kalau dia aku nggak tahu, Vel," ucapnya melirik Hilda


Deg


Jantung Hilda terasa ingin mlompat mendengar ucapan Raka, ia tak menyangka Raka menyukainya ia kira cintanya bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


"Jadi kamu gimana, Hil."


"Em, aku udah," ucapnya gugup apalagi ditatap Raka


Marvel melihat tingkah keduanya tersenyum miring.


"Okelah, kalau gitu. Jadi, kapan kamu akan  melamar adikku."


"Hari ini aku akan minta, bagaimana kalau kita sekarang meluncur kerumah, Vel."


"Bagus, oke lebih cepat lebih baik."


"Tapi sesungguhnya aku ke sini untuk sesuatu."


"Apa itu kak."


"Aku akan pulang ke New york, Mama ku sakit. Aku juga akan memberitahu orangtuaku perihal ini."


"Tapi jangan lama."


"Aih, lebay kau Hil."


"Cih, kayak kakak nggak juga sama kak Kayla."


"Hahhahaha, ngambek dia."


"Udah nggak usah cemberut, kasihan baby mu."


Raka merangkul Hilda dengan kehangatan, gadis itu merasa bahagia sejak dekat dengan Raka, baru tahu jika kebaikannya emang ada nyata.


Tak lama, Ketiganya menuju kediaman Arga. Hilda dan Raka sama-sama tegang, mereka saling menggenggam erat tangan. Mobil keduanya sudah tiba di kediaman Arga, Raka menghela nafas berat dan berdoa semoga baik-baik saja.


Alden melihat Raka nampak gelisah segera memberinya semangat.


"Udah tenang, pasti Daddy ngerti. Jelasin baik-baik dan jelas."


"Oke, thanks Vel."


Marvel mengulas senyum dan berjalan beriringan, saat akan memencet bel mereka terkejut tenyata Daddy Ben  membukanya terlebih dahulu.


"Daddy."


"Kenapa kaget. Ayo masuk."


"Iya Dad."


Marvel duduk sebelah Daddy sedangkan Hilda dan Raka duduk berdampingan. Ben melihat sesuatu mencurigakan dari keduanya.


"Malam Om, maaf jika Raka mengganggu."


"Tak masalah, Ka. Ada apa tumben kalian barengan."


"Jadi gini, Dad."


"Biarkan Raka yang ngomong. Kamu diem aja Vel."


"Jadi begini Om, Raka datang kesini ingin minta ijin melamar Hilda."


"Apa! Bagaimana bisa kau melamar putri Om, yang masih SMP ini, Ka."


"Jadi ceritanya, Raka sudah menghamili Hilda, Om."


"Apa! astaga. Bagaimana bisa kalian melakukan itu, coba jelaskan."


"Jadi  saat ulangtahun Hilda, kami dijebak seseorang tapi kami tak tahu siapa itu Om, minuman kami dicampur obat dan tak sadarkan diri, bangun-bangun kita udah nggak pakai baju lagi, Om."


"Sudah ku duga."


"Maksudnya Om."


"Di hari itu Om sudah mencurigai salah satu bodyguard, dan ketakutan Om akhirnya terjadi. Masalah ini biar Om yang bereskan. Aku tahu orangnya, mending kalian mengikat dulu secepatnya."

__ADS_1


"Terimakasih Om."


"Oh Daddy, makasih," peluk hangat Hilda


__ADS_2