Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Pindah


__ADS_3

Hilda hari ini sudah ijinkan untuk pulang setelah 3 hari di rumhsakit, Ica dan Nana heran pada Hilda yang bisa melahirkan normal, mereka saja takut membayangkan. Di kamar ketiganya asyik mengganggu tidurnya si mungil.


"Uluh .... uluh ini bayinya siapa ya tukang tidur. Diganggu juga nggak bangun, uh ante gemes tau," Ica gemas


"Anak Mami ku ante yang jeyek,"


"Ih nyebelin kau Hil, jelek apanya gini-gini ada yang suka lo."


"Siapa? palingan juga tukang kebun kita."


"Idih, kau ini Hil, nggak ada yang lebih jelek lagi hah."


"Hahhaahahaha, ngambek dia."


"Uluh .... uluh. Ini bidadarinya siapa ya suka ngambek," Nana menggoda sahabatnya


"Ih apaan sih, nggak lucu."


Tak lama ada ketukan dari pintu, Hilda pun beranjak membukanya.


"Mami, ada apa?"


"Ada temen Mami, kita turun yuk."


"Iya Mi."


Hilda memberitahu pada saatnya untuk turun, ia sebelumnya berpesan pada baby sitternya untuk menjaga.


"Mbak, aku ke bawah dulu."


"Baik nona."


Ketiga perempuan cantik yang kini duduk di bangku SMA turun, menghampiri tamu yang dikatakan Mami. Saat di bawah semua menatap haru padanya, dan salah satu tamu Mami berhambur memeluknya ia sungguh mengejutkannya.


"Mama minta maaf nak."


"Mama," tanya Hilda bingung siapa maksudnya.


"Hil, duduk dulu ya nak. Mungkin kau bingung dengan perkataan temen Mami."


Hilda duduk diikuti kedua sahabatnya, kemudian Bebi mulai menjelaskan.


"Jadi gini nak, tante ini adalah Rere Mama dari Raka."


Sontak Hilda berdiri ia terkejut karena setahunya dulu Mama Raka tak setuju. Hilda marah dan berpamitan.


"Hilda, ke kamar dulu Mi. Permisi," ucap Hilda pergi tanpa memandang.


"Hil, Hilda," panggil Bebi pada putrinya


Bebi yang tak enak minta maaf pada sahabatnya, Rere terlihat lesu akibat dirinya terlalu mengkekang atas pilihan dirinya, kini ia menanggung semua, dan penyesalan datang belakangan.


"Re, maafin putriku. mungkin dia shock, kau tolong mengerti."


"Iya Beb, aku paham. Aku yang egois hingga jodoh mereka dekat tapi membuat berpisah, aku bodoh, Beb."


"Maaf Tante, kami permisi dulu," pamit Nana dan Ica tak enak mendengarkan permasalahan

__ADS_1


"Iya Ca, Na. Kalian kalau capek istirahat di kamar Hilda."


"Baik Tante."


Sedangkan Bebi lanjut mengobrol dengan Rere.


"Beb, aku minta maaf atas semua. Aku menyesal tanpa bertanya dulu pada Raka. Dan sekarang aku kehilangan segalanya."


Dan diambang  pintu muncul Ben menyahutnya.


"Kalau penyesalan di depan, penjara tak akan ada. Lantas apa yang kau mau sekarang, Re," bentak Ben


"Dad, tenang. Kita bisa selesaikan masalah ini dengan kepala dingin."


"Aku udah hilang kesabaran Mi, Lihatlah putri kita menderita gara-gara dia memisahkan keduanya."


Rere seketika menghampiri Ben dan berlutut.


"Ben, maafin aku. Aku akan menebus kesalahanku pada putrimu, aku sudah kehilangan putra dan suamiku, aku nggak mau kehilangan menantu dan cucuku," ucapnya dengan nada bergetar


"Dad, kau jangan egois biarkan Rere menebusnya. Kasihan dia."


"Dia seenaknya sendiri Mi, egois mana Daddy atau wanita sialan ini," Ben menendang Rere  dan di tangkap seseorang dia adalah Hilda.


"Stop Dad! Biarin Mama, kasihan," ucap Hilda membela Rere


Rere dan Bebi meneteskan air mata haru melihat Hilda mau menerima kehadiran Rere walaupun telat datangnya.


Ben menghela nafas berat, saat putrinya memohon padanya. Ia yang menyayangi Hilda akhirnya membiarkan Rere menebusnya.


"Baiklah demi kamu sayang, Daddy akan membiarkan dia menebusnya."


Ben mengangguk dan beralih pada istrinya mengecup kening lalu memeluknya. Rere bahagia bisa berkumpul dengan Bebi dengan keadaan berbeda tentu menjadi besannya.


.....


Tiga hari kemudian, saat di sekolah Hilda jadi bahan omongan karena belum menikah tapi punya anak. Ica dan Nana kesal atas omongan yang tak benar itu, kedua sahabat Hilda menghadang si pembuat gosip.


"Eh kalian mau dikeluarin dari sini. Ghibahin sahabat kita ya."


"Kita nggak ngomong apa-apa ya kan," ucap siswi tersebut


"Eh kita nggak tuli ya, coba dengerkan ini."


Rekaman diperdengarkan pada siswi tersebut dan seketika mereka mengakui kesalahan.


"Maafkan kami kak, kami bersalah."


"Baru nyadar. Udah sana, aku muak lihat kalian."


Nampak tak jauh dari tempat mereka, Hilda merasa sakit hati dibilang seperti itu. Ia bergegas menuju kantor kepala sekolah.


"Permisi Pak, saya mau bicara  sebentar."


"Iya silakan Hil, duduklah."


"Makasih Pak, saya kesini ingin mengundurkan diri dari sekolah. Saya ingin suasana baru."

__ADS_1


"Kamu sudah pikirkan matang-matang, Hil."


"Sudah Pak."


"Maafkan jika ada kesalahan dari Bapak, maupun rekan guru di sini ya, Hil."


"Baik Pak, sama-sama Hilda juga. Ya sudah, saya permisi Pak."


"Iya Hil. Hati-hati."


Setelah kemarin keluar dari sekolah kini, Hilda meluncur ke tempat asing bersama babysitter dan putrinya. Ia akan memulai hidup barunya, ia akan berusaha menjadi Ibu dan sahabat baik untuk putrinya bernama Berlian anggara nama belakang keluarga Raka ia sematkan dibelakang.


Tak lama, mobil yang ditumpangi Hilda sudah sampai di sebuah perkampungan. Mereka turun dan berjalan 100 meter,  akhirnya menemukan sebuah rumah yang di katakan oleh Daddy nya.


"Nah, itu rumahnya bener kan, mbak," ucap Hilda sambil melihat foto dan alamat  pada baby sitter bernama Lia.


"Iya nona, sepertinya betul."


Hilda mengulas senyuman lalu membuka pintu rumah sederhana tersebut.


"Selamat datang di rumah impian," seru Hilda


Lia ikut senang jika majikannya sudah kembali lagi ceria. Lia menaruh Berlian di box lalu ia menata semua barang-barang.


Tak terasa waktu cepat berputar jam menunjukkan pukul 5 sore, Hilda dan Lia bergantian membersihkan diri.


Setelahnya, Lia pergi membeli makan malam untuk dia dan majikannya. Saat asyik jalan, ia melihat sekilas ada seseorang yang mirip di foto majikannya.


"Apa mungkin masih hidup ya."


Tak mau di tunggu majikannya, Lia membuang pikikiran itu lalu berjalan cepat membeli nasi di warung. Sesampainya Lia menata makanan diatas piring lalu memberitahu nona nya.


Lia mulai mengetuk pintu kamar Hilda.


Tok


Tok


"Iya mbak."


"Udah siap non, makanannya."


"Baiklah."


Hilda menggendong baby Lian keluar kamar  dan duduk  makan bersama Lia. Setelah selesai makan, Lia membereskan bekas makanan mereka. Saat asyik mencuci piring, Hilda mendatanginya.


"Mbak, besok bikin nasi kuning yuk buat di bagikan  ke tetangga."


"Boleh nona, sebaga tanda perkenalan kita."


"Setuju mbak. Ya sudah kalau selesai istirahat ya."


"Baik non."


Keesokan harinya, Hilda pagi sekali ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan juga bahan untuk membuat nasi kuning. Saat berjalan ia meliha ada lowongan yang ditempel di jalan. Dia mengambil selebaran itu lalu menyimpannya ke dalam saku, ia berniat besok melamar pekerjaan agar bisa bertahan hidup di kampung.


Saat asyik berjalan menuju pasar tiba-tiba ada seseorang menabraknya.

__ADS_1


"Kau."


"Nggak ... nggak mungkin."


__ADS_2