Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Sandiwara


__ADS_3

"Sialan, kau Vero,"teriak Vera di kamar mandi.


Vera kesal seenak jidat habis bermain di tinggal begitu aja, beberapa menit ia keluar dari kamar mandi dan tak sengaja melihat ada black card diatas nakas.


"Pakailah ini untuk kebutuhanmu. Maaf aku harus pergi, aku akan kembali setelah urusanku beres. Tertanda Vero."


Begitulah isi di kertas tersebut


"Sialan kau Vero. Brengsek."


"Ini aku ceritanya yang kena jebakan sendiri. Persetan dengan Vero aku membalas tanpa bantuannya."


Vera buru-buru keluar dari kamar dan checkout. Setelah itu ia memutuskan ke club mengusir kesialannya.


Di tempat lain, Brian bertemu denga shaabt lamanya. Tak berapa lama, muncul dosok sahabt yang alma tak ia kunjungi.


"Hai Bos," sapa dari belakang Brian


Bria dan Johan menengok ke belakang kearah suara


"Oh hai, Vero. Waw, kau makin sukses kayakaya," puji Brian


"Kau itu yag sukses udah jadi kepala rumah tangga, nah aku."


"Makanya bro buruan nikah. Kau senang-senang mulu," Johan menimpalinya


"Belum ada yang pas, cariin dong."


"Eh kau mau nggak tetangga ku. Dia janda hot lagi."


"Sepertinya menarik."


"Haahhaha, ssyangnyaumur udah 60 taun."


"Siaan kau, Johan. Eh ya, kapan istrimu melahirkan."


"Tinggal menghitung hari."


"Oh ya Bri, aku ada berita untukmu."


"Apa?"


"Kemarin aku tidur dengan Vera."


Uhuk ... Uhuk


Johan dan Brian terbatuk-batuk kompak mendengar nama itu.


"Ini minumlah," ucap Vero memberikan m8numan keduanya


"Eh, kau beneran,"tanya Johan wmmastikan


"Iya, emang mukaku terlihat bohong gitu."


Brian dan Johan menatap wajah Veto memng taka ada keboh9ngan disana.


"Lalu, buat apa cerita ke kita," ujar Brian


"Dia bilang akan menghancurkanmu aku tahu dia masih mencintaimu, bukan. Dan aku tak sejahat itu pada sahabtku, aku akan bersandiwara menuruti keinginannya. Jadi kalian harus ikuti aku. Aku sudah merencanakan jebakan untuknya salah satunya menidurinya agar ia kelak taubat."


Brian menanggapi tersenyum tipis lalu menatap tajam kearah Vero Vero yang ditata oleh Briap terlihat ketakutan.


"K-kau kenapa menatapku seperti memakanku hidup-hidup, Bri," ucap Vero ketakutan


"Hahahahaha, kau itu bos mafia. Tapi kenapa takut denganku," ledek Brian


"Sialan kau, Bri. Aku juga manusia, kalau berhadapan dengan kau aku mana berani."


"Dan satu lagi, jangan bilang aku ada rasa dengan si wanita siapan itu, tanya Brian menyelidik


"I-iya, makanya sengaja aku rencana begitu, agar dia melupakanmu."


Johan dan Brian tertawa bersama mendengar pengakuan Vero.


"Pakai acara rencana, padahal ia sudah mengharapkan. Udah ambil saja," Brian menahan tawa


"Makasih bro, dengan senang hati aku menerimanya."

__ADS_1


"Dasar gila emang dia," celetuk Johan.


Tiba-tiba, ada dering ponsel Johan terlihat tertera nama Nadia sang istri.


"Stt, diem istriku telpon," Johan menyuruh Brian dan Vero diam


"Oke."


"Iya halo, assalamuaikum sayang. Ada apa?"


"Sayang, ayo pulang. Aw, perutku sakit," rintih Nadia


"A-apa, kamu mau mepahirka sayang. Aduh, tynggu jangan kemana-mana," ucap Johan panik lalu menyeret kedua sahabatnya untuk ikut


"Ayo ikut aku," ucapnya menyeret keduanya


"Eh."


Ketiga pria tampan itumasuk kedalam mobil Johan. Johan menyetir mobilnya melaju cukup kencang


"Hei, kaumaumati ya," teriak Vero sambil memegang erat knop mobil ketakutan


"Iya Jo, Aku masih sayang anak istri, enak aja kau ngajak mati," gerutu Brian sambil duduk jongkok diatas jok mobil


Johan tak memperdulikan ocehan kedua sahabatnya ia hanya fokus nyetir dan menjemput sang istri untuk membawanya ke rumahsakit.


Tak lama mobil mewah milik Johan samapia.


Cit....


"Oh astaga," teriak lagi Vero sambil emngeus dadanya


"Oey, gila kau ya."


Johan turun dari mobil lalu berhenti kembai melihat kedua sahabatnya ta ikut turun.


"Eh ayo kalian ikut."


"Astaga, Bri. Dia stress kali ya," omel Vero karena di tarik oleh Johan tanpa ampun


Sampai di depan kamar lantai dua, Johan meyuruh kedanya berhenti.


"Kalian tunggu sini dulu."


Vero melongo melihat kelakuan Johan


Akhirnya keduanya keluar dari kamar, lalu Brian dan Vero membantunya.


"Mana kuncimu, Jo," tanya Brian


"Ini, ada apa?"


"Aku yang nyetir. Enak aja ngajak bunuh diri."


"He .. Maaf bos. Ayo buruan."


"Iya ayo."


Brian memacu kendaraan dan menelpon salah satu petugas untuk mengamankan jalannya menuju rumah sakit agar lancar.


"Ku akui kau emang cerdas bro, daripada dia."


"Uda diem, nggak tahu aja aku panik."


Sampailah dia rumah sakit dan Mereka menuju igd, Beberapa emnit kemudian perawt keluar dari ruang igd.


"Maaf permisi, suami dari nyonya Nadia."


"Saya sus."


"Baik, silahkan masuk tuan. Dokter akan berbicara kepada anda."


"Baik sus."


Di igd, dokter memberi tau jika istrinya baru pembukaan delapan. Jadi harus tetap terjaga di dekat istri sampai pembukaan akhir .


"Ngapain Johan lama amat di dalem."

__ADS_1


"Mungkin dia disuruh dampingin kali, Vero."


"Apa sampai segitunya?"


"Makanya nikah, biar tahu rasanya."


"Huh, kau itu aja yang kau bahas. Menyebalkan."


"Ya kan emang itu apalagi. Udah diam aja, kita tunggu kabar bagus dari Johan."


Dua jam kemudian, saat dua pria tampan itu tertidur di depan ruang bersalin. Tiba-tiba terbangun mendengar teriakan tak asing.


"Aaaa."


"Eh, suaranya seperti tak asing. Kayak suara Johan ya."


Beberapa menit, terdenhar suara bayi dan teriakn kembali


Oek.. Oek..


"Aaaa."


"Hah, suara apaan tuh yang terkahir,Bri."


"Tahu," ucapnya mengedikkan bahu


Dan muncullah Johan dengan pakain dan juga rambut acak-acakkan. Brian dan Vero melongo melihat rupa Johan lalu tertawa kompak


"Hahahahaha, kau kenapa, Jo. Habis kena gempa."


"Huh, aku habis kena sasaran istriku," ucapnya menyandarkan badan di kursi tunggu


"Haahhahaha, sampai segitunya bro," tanya Vero memastikan


"Makanya nikah."


"Kalian sama saja, itu aja yang dibahas."


"Gitu aja ngambek."


"Lalu, anakmu cowok atau cewek, Jo."


"Cewek donk, namanya Tania."


"Waw, selamat ya."


"Makasih untuk kalian, udah bantu aku."


"Sama-sama."


"Ya udah aku pulang dulu. Capek kangen istri anak."


"Dan aku juga pulang, kangen bantal saaguling di rumah."


"Hahahahahha dasar jomblo."


"Biarin."


"Ya udah kalian hati-hati. Sekali lagi makasih."


"Sama-sama."


Brian dan Vero berjalan menuju keluar rumahsakit, sampai di depan Vero dan Brian berpisah.


"Hati-hati, Bri."


"Iya kau juga."


Brian masuk ke dalam taksi dan tak lama Vero juga, dari jauh ada seseorang sedari tadi membuntuti kemana Brian pergi. Dan kini mobil itu masih mengikuti, entah kenapa hari ini Brian merasa lelah dan ia memilih memejamkan mata biasanya ia akan melihat pekerjaannya terlebih dahulu.


"Pak, saya turun di perumahan elit xx no. 5, Kalau udah sampai kabari ya."


"Baik tuan."


Tiba-tiba,


Brak

__ADS_1


__ADS_2