
Paginya, setelah sarapan bersama. Kiana diajak Risa untuk melamar pekerjaan di Baratawijaya group. Saat sampai di sana ia kagum karena perusahaaan itu begitu besar.
"Perusahaan ini memang terkenal besar dan kaya Ki, siapa yang tak tahu perusahaan ini mereka berlomba-lomba menjadi karyawan karena memang bonus lumayan besar," tutur Risa membuat Kiana mengangguk.
"Oh ya mana lamaranmu, biar aku kasih asistennya."
"Baiklah, makasih ya Ris."
"Sama-sama. Oh ya mau nunggu sampai dipanggil kah di sisi. "
"Nggak ah, boring juga."
"Lalu, kamu mau pulang."
"Aku dikantin aja, nanti kabari aku ya."
"Oke. Aku masuk dulu."
Risa kemudian masuk kantor sedangkan Kiana di kantin selama itu ia akan menunggu panggilan itu dan ia akan mempelajari situasi di grup tersebut.
Di sisi lain, Arthur baru saja tiba di kantor bersama Ben. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Mereka bertanya-tanya siapa pemuda yang bersama Ben tersebut.
"Siapa ya bersama tuan Ben, tampan sekali."
"Ku harap jodohku."
"Ngarep banget."
Dan masih banyak lagi ucapan dari karyawan Baratawijaya mengenai Arthur. Tak lama ada pengumuman jika harus berkumpul di lobby kantor.
"Ada apa ya?" ucap salah satu karyawan.
"Udah, kita lihat saja nanti."
Setelah semua berkumpul, asisten Roy mulai berbicara dan di panggung sudah ada Ben serta Arthur.
"Baik temen-temen semua. Maaf jika menggangu pekerjaannya. Singkat waktu saja tuan Ben akan menyampaikan berita bahagia. Silahkan tuan," ucap Roy untuk Ben.
"Baik semua, selamat pagi. Di sini saya akan memperkenalkan cucu saya, Arthur Baratwijaya yang akan menggantikan posisi saya saat ini."
Dan suara tepukan riuh.
Prok
Prok
"Selamat pagi semua, saya Arthur Baratawijaya, semoga kalian bisa support dengan pekerjaanku menggantikan Opa saya , mohon bantuannya. Terima kasih."
Huuuu
"Yaelah presdir ku tampan sekali, jadi betah disini," celetuk salah satu karyawan.
Ucapan pujian dilontarkan untuk Arthur, namun ia tak berbesar kepala. Kini dia sudah di ruangannya dan semua sudah diberitahu oleh Ben.
"Oh ya ini ada data masuk mengenai sekretaris baru untukmu, ada dua di sini. Pilihlah nak," ucap Ben pada Arthur.
"Kita seleksi dulu aja Opa."
__ADS_1
"Baiklah, Opa akan menelpon mereka."
Beberapa saat, Kiana dan Sasa datang nampak cantik, Be pun mulai bertanya pada keduanya.
"Baik perkenalkan nama mu nak," ucap Ben.
"Saya Kiana putri, lulusan dari Sekolah Singapura. Dan ini kali pertama saya bekerja di grup. Semoga bisa di terima disimi. Terimakasih."
"Dan kau nak."
"Saya Sasa wiratmaja. Lulusan sekolah Singapura dan ini juga pertama kalinya bekerja, semoga saya bisa di terima. Terimakasih."
"Nah nak bagaimana, kau suka yang mana."
"Aku pilih yang pertama Opa."
"Oke, jadi kamu nak Sasa maaf mungkin bisa melamar di tempat lain, ya. Semoga kamu berhasil."
"Baik tuan, terimakasih."
Sasa sungguh tak terima dia gagal dalam seleksi dan itu karena Kiana. Ia beranjak dari tempat itu.
"Ya udah nak, Opa tinggal ya."
"Baik Opa."
Setelah kepergian Opa, Arthur meletakkan bolpoin dan berdiri berjalan menghampiri Kiana. Ia menarik tubuh ramping Kiana dan berkata.
"Mengapa kau tega meninggalkanku, Kinan."
"Ma-maksud tuan apa."
"Maaf anda salah orang," Kiana berusaha memberontak namun ia malah ditarik tengkuknya dan dicium oleh Arthur. Ia terkejut dan berusaha melepaskannya dengan menepuk dada bidang Arthur, namun Arthur menggigit bibir bawahnya agar bisa menjelajah rongga mulut Kiana. Tak terasa Kiana menikmati ciuman yang diberikan oleh Arthur, dan ini pertama kali mereka lakukan. Sesaat pagutan dilepaskan Arthur membuat Kiana salah tingkah.
"Aku mencintaimu, Kinan."
Kiana tak beri respon ia malah pergi meninggalkan tempat itu. Ia berlari dan berhenti menangisi keadaan.
"Maafkan aku Arthur. Aku lakukan ini untuk cari tahu siapa pembunuhku sebenarnya. Aku tak bisa biarkan mereka menikmati hidup enak sedangkan aku menderita karenanya."
Kiana pun turun dan ia berpapasan dengan Dimas sekilas, Dimas melihat wanita berjilbab itu mirip Kinan namun ia hanya berfikir jika halusinansi.
Dimas akhirnya di ruangan Arthur.
"Arthur, itu tadi aku lihat sekilas mirip Kinan ya. Apa perasaaanku saja," ucap Dimas sambil berfikir.
"Emang dia. Kau selidik dia tinggal dimana Dim, nanti ada bonus."
"Oke siap."
"Dia jadi sekretarisku dia tak mengaku kalau emang itu Kinan."
"Emang dia bilang namanya siapa."
"Dia bilang Kiana. Tapi aku bukan bodoh begitu saja, aku mengenal caranya jalan serta suaranya karena aku mencintainya."
"Oh gitu, ya sudah aku akan cari tahu."
__ADS_1
Arthur dan Dimas kembali bekerja, sedangkan Kiana di dalam mobil membuka jilbab.
"Sial banget sih aku, kenapa dia bisa tahu semua."
Kiana melajukan mobil dan mencari keberadaan Sasa, setelah tahu jika di club Akhirnya ia melajukan ke tempat itu. Sampai di sana ia celingukan mencari Sasa tak lama nampak gadis itu sudah mabuk. Dan dia berjalan mendekati.
"Hai Sa."
"Hay, siapa kau. Ini di club kenapa pakai jilbab."
"Aku hanya ingin kau mengingat siapa aku," ucap Kinan dan membuka jilbab.
Sasa terkejut ada Kinan didepannya , ia mengucek mata jika hanya halusinasinya.
"Ki-kinan. Kamu bukannya udah mati."
"Cih, kamu kira aku segampang itu mati. Sekarang ikut aku."
Kinan menyeret tubuh Sasa dan tak tau dimana tempatnya. Tiba di gudang kosong, Kinan mengikatnya dan di depan Sasa ada sebuah kamera dan itu live di tv.
Sasa masih setengah teler, Kinan pun menyiram air ke wajah hingga gelagapan dan sadar.
"Brengsek, sialan kau."
"Huh, takut. Sekarang kau harus mengaku jika perencanaan pembunuhan itu adalah kau. Jika tidak lihat apa yang akan aku lakukan pada orangtuamu."
Terlihat vidio berdurasi 10 menit menampakkan jika di rumah Sasa, ada yang siap menembak kepala orangtuanya.
"Kau?"
"Bagaimana, masih tak mengaku juga."
"Sial."
"Aku hitung 1,2."
"Oke, aku mengaku jika aku yang melakukan perencanaan pembunuhan hingga menabrak mobil angkutan yang ada dirimu masuk ke jurang."
Kinan tersenyum menyeringai dan membiarkan gadis itu sendirian di gudang kosong.
"Kinan lepaskan aku. Aku udah mengakuinya. Brengsek!" teriak kencang Sasa tapi tak dihiraukan Kinan.
Kiana tersenyum puas dan menyeringai, "Rasakan apa yang aku rasakan saat itu."
Dan tak lama sebuah berita tentang percobaan pembunuhan terpampang disiaran tv, Arthur saat sedang rapat dengan para petinggi perusahaan di minta berhenti oleh Dimas untuk melihatnya.
"Xel, lihat acara tv."
"Emang ada apa."
"Udah lihat aja, tanya mulu."
"Oke rapat kita akhiri, esok kita lanjut. Terimakasih."
Rapat selesai dan semua karyawan keluar dari ruangan ,setelah semua pergi Dimas menyalakan acara tv. Arthur terkejut saat Sasa mulai berbicara semua apa yang dilakukannya pada Kinan.
Arthur ternganga bagaimana bisa Kinan melakukan semua itu, ia berfikir jika ada yang membantu dibelakangnya.
__ADS_1
"Sudah ku duga dia Kinan, Dim."
Arthur beranjak dan mencari Kinan tapi belum sampai turun ia berpapasan