Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Kau harusnya mati


__ADS_3

Brian yang sudah tak mood akibat ulah wanita ular itu, buru-buru berpamitan pada Johan untuk pulang lebih awal.


"Jo, Nad. Kita pulang dulu. Ada yang harus aku selesaikan dulu. Oh ya ini untu kalian," Brian memberikan kunci rumah dan hadiah honeymoon ke Amerika


Johan dan Nadia terkejut hadiahnya tak tanggung-tanggung


"Bri, ini," tanya Johan memastikan


"Iya terimalah, ini sudah cukup untuk kau yang sudah setia denganku."


"Thanks bos."


"Ya sudah, kami pamit."


"Terimakasih bos," ucap pasangan pengantin baru itu


"Iya."


Ayu dan Brian turun pelaminan dan segera menuju kediamannya. Sesampainya Brian dan Ayu mengajaknya beristirahat.


"Sayang, ayo cuci muka dulu. Lalu beristirahatlah."


"Iya."


Selesai cuci muka akhirnya Ayunda naik ke ranjang empuknya


"Sayang, tidurlah. Aku akan menyelesaikan masalah sebentar ya."


"Dad, ada apa sebenarnya?" Ayu penasaran setelah kejadian di pesta tadi


"Nanti kalau ada waktu tepat aku pasti cerita padamu, ya."


Ayu mengangguk tersenyum, Brian mencium kening lalu mengusap perut istrinya.


Brian membuka pintu kamar dan menutupnya segera meluncur ke suatu tempat. Tak butuh lama mobil sport milik Brian sudah sampai ditujuan.


Brian masuk ke dalam ruangan rahasia di bawah tanah. Saat turun kebawah, nampak wanita cantik itu sudah tak karuan wajah dan pakaiannya.


Brian berjalan dan tepat dihadapan wanita yang tetunduk lemas ia menodongkan senjatanya.


Vera terkejut dan mendongak melihat siapa yang menodongnya


"Brian, kau," tunjuk Vera pada Brian


"Iya aku, kenapa? apakah kurang hukumanku padamu."


"Brian, aku tak sengaja tadi," ucapnya lirih


"Apa! tak sengaja. Kau kira aku bodoh, denger ya wanita sialan. kau seharusnya itu mati. Kau coba mencelakai putra dan istriku dan bilang tak sengaja. Waw, keren sekali tapi tak mempengaruhi niatku untuk membunuhmu," Brian teriak


"Ampuni aku, Bri."


"Hahahahaha. Kau minta ampun," ucap Brian mencengkram dagu Vera kuat


"Aw, Bri ampuni aki. Aku janji nggak bakal ganggu hubungan mu dengan istri."


"Setelah berusaha melenyapkan, kau baru minta ampun."


Brian mengkode para anak buah memberi siksaan lagi pada wanita itu. Brian keluar dari ruangan hanya mendengar jeritan Vera.


Brian tersenyum smirk dan kembali menuju kediaman karena merasa lelah dan rindu pada istrinya dan kedua putra. Dalam perjalanan pulang, ponsel Bruan berderung terlihat ada panggilan dadi istrinyya, ia memberhentikan mobil sejenak di tepi jalan.


"Ya halo, assalamualaikum sayang."


"Waalaikumsalam Dad. Kau dimana?'

__ADS_1


"Aku udah di jalan mau pulang sayang. Ada apa?"


"Bisakah kau belikan aku buah manggis sayang."


"Manggis."


"Iya Dad, aku pengen banget."


"Baiklah nyonya Baratawijaya. Saya akan membelikannya untuk anda "


"Terimakasih Dad."


"Iya sayang."


"Aku tutup dulu ya, assalamulaikum."


"Waalaikumsalam."


Brian melihat di map supermarket atau toko buah yang masih buka karena jam sudah menunjukkan 11 malam. Setelah mengecek ternyata ada di dekat ia berhenti. Ia segera memacu kendaraan menuju toko buah. Sampai disana ia membeli satu kantong manggis dan satu kantong macam buah lainnya.


"Makasih mas."


"Sama-sama tuan."


Sesampainya di mansion, Brian langsung menuju ke kamar membawa pesenan sang istri. Saat membuka pintu kamar, ia melihat pemandangan menggemaskan, istrinya terlihat memegang biskuit dan tv menyala seakan tv menonton dia yang sedang tidur.


Brian membopong istrinya ke ranjang agar tidurnya nyaman. Brian menaruh buah ke dalam kulkas mininya dan segera membersihkan diri.


Sekitar 15 menit, Brian sudhha kembali fresh lalu menuju walk in closet mengganti pakaian. Sebelum tidur ia akan memastikan kedua puutranya di kamar terlebih dahulu.


Di kamar kedua putranya, Brian melihhat sudah gelap tapi ada satu yang membuatnya penasaran di kamar mandi terlihat sedikit cahaya. Perlahan ia berjalan menuju kamar mandi dan saat membuak ia terkejut


"Astaga."


"Daddy."


"He... Axel dan Kak Ben main game bentar. Nggak bisa tidur Dad," ucapnya tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Maafin kita, Dad," ucap Ben tertunduk


"Kali ini Daddy maafin. Sekarang hampir jam 12. Ayo buruan tidur besok sekolah nanti telat."


"Makasih Dad."


Brian mengangguk dan keluar dari kamar putranya kini, ia juga ikut menuju alam mimpinya.


Waktu terus berjalan tanpa disadari perut Ayu sudah memasuki 8 bulan. Ayu dan Nadia bersiap ke mall untuk belanja calon anak mereka. Nadia juga sedang mengandung empat bulan, ia dan Ayu semakin dekat semenjak Nadia bertukar cerita tentang awal masa kehamilannya.


"Nad, ini lihatlah lucu ya."


"Iya yu katanya jenis kelamin anakmu apa?"


"Rahasia."


"Aih kau menyebalkan."


"Hahhahaha, duh ngambek. Nnati aku traktir es krim."


"Nyuap ceritanya."


"Sedikit ih ya kau sudah tak mual lagi."


"Masih, kadang di pagi hari, kadang lemas Yu."


"Udah konsultasi smaa doktermu."

__ADS_1


"Udah, katanya nggak apa nanti hilang pada umur 6 bulan keatas."


"Ya sudah nikmatin aja, kapan lagi kayak begini."


Saat asyik berbelanja, mata Ayu melihat sekilas seseorang tak asing suddha lama ia tak bertemu.


"Kak Rena, ngapain dia disini dengan," ucapannya terhenti kala ia melihat pasangan tua bersama temannya yang dimaksud.


"Nggak, nggak mungkin kak Rena. Pasti salah lihat," batin Ayu menerka


Dan sebuah tepukkan dibahunya ia tersadar


Puk


"Ah kau Nad," ucap Ayu terkejut


"Ada apa Yu? kau seperti melihat seseorang."


"Enggak, mungkin aku salah lihat aja."


"Ya sudah kita makan dulu, mungkin karena kita lelah jadi pikiran melayang," celetuk Nadia


"Dasar bumil."


"Kau juga," tawa mereka berdua pecah


Dan saat mereka berdua makan di sebuah masakan indonesia, Lagi Ayu melihat sosok yang sama.


"Nad, kau tunggu di sini bentar."


"Mau kemana Yu?" tanya Nadia penasaran


"Udah bentar ya."


"Ok."


Ayu tak mau menyiakan kesempatan segera menghampiri meja yang ia kira temannya. dan saat tepat di depan wanita itu, Ayu menutup mulut tak percaya yang ia lihat.


"Kak Rena."


Wanita yang sedang menikmati makan bersama pria tua terkejut namanya ada yang mengenali. Ia menoleh ke arah suara dan ia terkejut pula.


"Kak, ini kak Rena kan."


"Siapa kau, aku tak kenal."


"Kak, ini aku Ayu. kau pasti pura-pura kan," Ayu memegangi tangan Rena tapii ditepis kasar oleh Rena


"Lepasin," teriak Rena dan membuat Ayu terjatuh


"Aw, sakit," ringis Ayu


Rena terkejut tapi tak bisa menolong Ayu untuk saat ini ia mengajak pria tua itu untuk segera keluar dari restauran.


"Ayo bos."


"Kau kenal wanita tadi."


"Tidak bos."


Para pengunjung teriak histeris melihat Ayu meringis dan pahanya mengeluarkan darah.


"Tolong ... tolong."


Nadia mendengar suara minta tolong, ia juga melihat kerumunan segera ia menghampiri. Nadia menutup mulut ternyata istri dari bos suaminya.

__ADS_1


"Ayu," teriak


__ADS_2