
"Aku hanya berteman aja Sha," ucapnya gelagapan.
"Oke-oke. Lihat saja jika jatuh cinta pada kakakku. Siap ku lempar kau ke kandang buaya."
Gleg
"Sadis amat."
"Hahahahaha, becanda sayang. Udah ayo, aku antar."
"Thanks."
Di kediaman Marvel, Arthur nampak mengerjakan tugasnya dari sekolah. Sekitar 25 menit, ia sudah selesai semua, ia memutuskan turun tapi malahan bertemu dengan Kinan.
"Arthur," sapa Kinan namun tak digubris oleh Arthur.
"Kenapa kakak ya," tanya Sha sendiri.
"Mending kamu pulang Nan," ucap pria dewasa dari arah belakang mereka dia adalah Marvel.
"Om."
"Nak, Om menyarankan kalian hanya berteman ya tak lebih. Kamu pasti tahu alasannya, kenapa Om melarangmu terlalu dekat, Om takut kamu terluka karena Arthur, nak."
Kinan mengangguk pelan dan Sha menatapnya bingung. Kinan pun berpamitan pulang.
"Sha, Om. Kinan pamit pulang, maaf mengganggu."
"Iya nak, hati-hati."
"Hati-hati Nan."
Setelah kepergian Kinan, Kayla yang mendenga pembicaraan sedari tadi di balik ruang makan akhirnya keluar mendekati suaminya itu.
"Dad, apa tak kasihan dia dan Arthur."
"Nggak Mom, ini demi kebaikan bersama."
"Dad, Mom, sebenarnya ada apa?"
"Kakakmu dan Kinan sepertinya saling jatuh cinta tapi Daddy melarangnya."
"Hah, kenapa Dad?"
"Karena berbeda keyakinan nak, Daddy tak mengijinkan itu."
"Tapi kasihan Dad. Sha jadi nggak tega lihatnya."
"Mommy pun sama."
"Denger ya, nggak ada yang boleh membantah."
Di sisi lain, Arthur mengikuti kemana perginya Kinan. Kinan merasa tak enak hati saat mendengar penjelasan keluarga Arthur. Ia menghela nafas berat, mulai hari ini ia akan melupakan Arthur dan kenangannya. Ia juga akan pindah dari apartemen dan mencari kos agar tak disangka mata duitan yang hanya numpang.
Sejenak Kinan berhenti karena kakinya merasa sakit setelah berjalan 1 km. Arthur ikut berhenti mengamati apa yang dilakukan Kinan.
"Huh, capek juga."
"Ini," seseorang memberikan sebotol air mineral.
Kinan mendongak dan melihat ternyata Arthur.
"Arthur."
__ADS_1
Arthur mengulas senyum dan duduk di sebelah Kinan.
"Minumlah."
Kinan tersenyum dan mengangguk tak butuh lama sebotol ia habis teguk membuat Arthur terkekeh.
"Kau tak berubah, nggak ada jaim nya."
"Dari dulu aku nggak pernah jaim, apa adanya."
"Dan aku suka."
Kinan mengerinyitkan dahi bingung maksud Arthur.
"Kinan, mau kah kamu selalu bersamaku. Maafkan sikapku beberapa hari ini, ini semua aku lakukan agar tak ada yang berani mengganggumu."
"Lalu Daddy mu, Arthur."
"Kamu tahu itu."
"Aku menyadari Arthur, dari awal. Aku berusaha untuk tak jatuh cinta namun aku nggak bisa. Maafkan aku," ucap Kinan lirih.
"Berjanjilah kita akan bersama meski orangtuaku tak menyetujui."
Kinan mengangguk dan memeluk Arthur, sungguh nyaman berada dipelukan orang terkasih di saat tak punya siapa-siapa. Arthur takkan biarkan Kinan menderita lagi, ia akan berusaha semaksimal mungkin, agar hubungannya di restui.
Esoknya, ada pengumuman yang tertempel di tiang tentang perlombaan pencak silat. Kinan melihat ada doorprize, ia berencana akan ikut untuk menambah penghasilan. Arthur tak melarang segala aktifitas Kinan asal tak mengganggu sekolahnya. Seperti saat ini, setelah pulang sekolah Ia ke tempat Oma Rina.
"Siang Oma."
"Siang nak. Bagaimana sekolahmu."
"Baik Oma. Oh ya, besok Kinan ijin, Mau tanding Oma."
"Pencak silat, Oma. Untuk tambah penghasilan hasilnya mau aku tabung, Oma."
"Hati-hati nak. Oma doakan menang ya."
"Makasih Oma, nanti kalau menang Oma bakal Kinan traktir."
"Oh ya."
"Iya Oma."
Tiba-tiba, ada mobil masuk halaman rumah, Oma Rina tahu jika itu cucunya yang sombong datang.
Sasa turun dari mobil dan berjalan menghampiri Oma nya, tapi ada yang membuat pandangannya beralih pada sosok di sebelah Oma Rina dia adalah Kinan. Sasa mengucek matanya berupaya apa yang di depannya itu salah.
"Waw, kejutan sekali ada lalat disini."
"Maksudmu apa Sa, kau datang sudah kayak jelangkung main asal ngomong."
"Oma, sama cucu sendiri kok gitu. Kenapa Oma memperkerjakan lalat sih. Bisa kena penyakitnya loh Oma."
"Jaga bicaramu, Sasa!" bentak Om Rina pada Sasa.
"Oma nanti bakal nyesel, bentak Sasa cucu Oma sendiri."
Dan saat melewati Kinan, ia menyenggol lengan dan berbisik, "lihat aja aku bakal buat hidupmu menderita."
"Aku tak takut."
Sasa masuk mobil dan melajukan kencang keluar dari rumah Oma nya. Sedangkan Oma Rina mendekati Kinan.
__ADS_1
"Maafka cucu Oma, Kinan. Dia memang begitu, dia menjadi angkuh sejak orangtuanya memanjakan dengan gelimang harta. Dan jadilah Oma begini kesepian setiap hari."
"Kinan tak apa Oma, Kinan udah biasa dan tahan banting. Semua cacian mereka akan menjadi penyemangatku Oma, untuk menunjukkan bahwa aku bisa seperti mereka."
"Semangat sayang, Oma dukung kau."
"Makasih Oma," Kinan memeluk Oma Rina.
Semua pelayan bahagia sejak Kinan bekerja menjadi babysitter Oma Rina. Kinan selalu bisa membuat Oma Rina bahagia, meski hanya jalan-jalan sebentar, hati Oma puas.
Dan tak terasa sore menjelang menunjukkan pukul 5 sore. Kinan berpamitan dan ia akan berbelanja susu untuk persiapan tanding esok. Saat asyik memilih susu, ada dering telpon dan ia melihat panggilan dari Arthur.
"Halo Arthur, ada apa?"
"Kamu dimana kok apartemen masih sepi."
"Oh ya, aku di minimarket beli susu. Besok kan aku tanding, Arthur. Kamu mau aku belikan sesuatu."
"Tak usah, yang penting kamu pulang dulu ya. Hati-hati."
"Iya."
Setelah berbelanja dan membayarnya, Kinan pulang buru-buru takut Arthur kelamaan nunggu dirinya. Dalam perjalanan ada dua preman menghadangnya, lantas ia sudah ancang-ancang dulu mencari posisi jika preman itu melawannya.
"Berikan uangmu," ucap salah satu preman.
"Aku takkan mau."
"Oh jadi maunya kasar. Oke."
"Serang dia kawan," seru para preman.
Preman itu mulai menyerang Kinan, ia berhasil menangkis setiap pukulan mereka, Kinan berhasil memukul para preman dan saat dia mengambil belanjaannya tiba-tiba salah satu preman berusaha menusuknya untung dia berhasil menghindar dan Kinan tergores sedikit di bagian pinggangnya.
Kinan berlari agar segera sampai namun luka tadi membuatnya nya kesusahan hingga ia berhenti sejenak, mengumpulkan tenaga agar segera sampai.
Di apartemen, Arthur semakin gelisah tatkala kekasihnya tak juga kembali. Dia mencoba menelpon tapi tak diangkat.
"Kemana dia."
Dan saat akan pergi mencari, Kinan di depannya.
"Maafkan aku, Adthur. Telat," ucapnya lirih dan akhirnya pingsan.
"Nan, Kinan, Astaga. Kau kenapa?" Arthur panik dan melihat baju Kinan sobek darahnya bercucuran
Axel menggendong tubuh kekasihnya dan membawanya ke rumahsakit.
Tiba di rumahsakit Kinan dibawa di ruang igd. Setelah setengah jam akhirnya dokter keluar.
"Keluarga pasien."
"Saya dokter."
"Pasien akan dipindahkan di ruang rawat biasa, pasien untungnya tergores sedikit saya sudah menjahit lukanya. Mungkin dua hari lagi akan pulih."
"Baik Dokter, terimakasih."
Arthur berpikir siapa yang berani melukai kekasihnya, Arthur akan mencari dalang dari penusukan itu.
Di tempat lain, gadis itu tersenyum menyeringai. Lalu memberikan bayaran pada preman itu.
"Thanks bos."
__ADS_1