Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Kertas bermaterai


__ADS_3

"Ben," panggil Rena


"Tante Rena, apa kabar?" tanya Ben ramah


"Alhamdulillah baik, nak. Kau semakin tampan, oh ya wanita cantik ini istrimu," tunjuk Bebi yang berada di sebelah Ben


"I-iya Tante, kenalkan namanya Bebi."


"Bebi, Tante," sapa Bebi sambil mengulurkan tangan


"Rena, teman Bunda Ayunda," Rena dengan senang hati menerima uluran tangan dari Bebi


"Oh ya, Tante kesini spesial untuk kalian di undang juga sama Bunda mu. Selamat berbahagia ya."


"Iya Tante, oh ya kak Rara tak ikut."


"Rara sekarang tinggal dengan Papa nya, jadi Tante tak tahu dimana mereka."


"Maaf ya Tante, Ben tak tahu."


"Iya Ben, tak masalah. Ya udah, Tante mau ketemu teman dulu, acara resepsi nanti malam bukan."


"Iya Tante, jangan lupa datang ya."


"Siap, see you Bebi."


"See you too, Tante."


Usai Rena pergi, Ben berjalan menuju kamarnya diikuti Bebi. Meski Bebi benci dengn Ben, tapi ia akan tetap mematuhinya.


Saat Ben membuka pintu kamar, ia pun memberitahu pada Bebi.


"Aku mau kau tanda tangan di kertas bermaterai ini," ucap Ben memberikan sebuah kertas berisi perjanjian


Bebi menerima kertas itu dan membacanya


"Jika ada yang tak jelas, bisa kau tanyakan," ucap Ben dingin


"Oke, deal. Ini," Bebi menyetujui semua yang ada di perjanjian itu dan menanda tangani.


"Ya udah, kau tidurlah. Nanti makeup artis bakal datang jam 4 sore."


"Iya."


Bebi buru-buru masuk ke kamar mandi membersihkan diri, tapi saat ia selesai mandi, Bebi kelupaan membawa handuknya.


"Astaga mampus aku, pakai acara lupa pula."


Bebi hampir 10 menit mondar mandi mencari cara agar bisa keluar dari kamar mandi dengan lingerie warna merah yang melekat di badannya.


Dia tak mau mondar mandir lebih lama akhirnya, ia membuka pintu kamar mandi perlahan sambil kepalanya keluar sedikit mencari keberadaan manusia dingin itu ada di kamar atau tidak.


Setelah memastikan si manusia dingin itu tak pada di kamar, ia berlari dan seketika menarik selimut. Bebi tak sadar, jika Ben melihat penampakan tubuh mulusnya saat ia berlari karena dia ada di balkon saat itu, Ben merasa ada ketegangan di tubuh membuatnya mengumpat.


"Sialan cewek itu, mau mancing aku," gerutu hati Ben


Ben yang merasa sesuatu ada yang tegak segera berlari ke kamar mandi dan menutup pintu dengan keras.

__ADS_1


Brak


Bebi yang setengah tidur menjadi terbangun karena terkejut ada yang menutup pintu dengan keras.


"Astaga, dia itu tak waras apa ya," batin Bebi


Di kamar mandi, saat Ben berendam di bathub entah mengapa ia teringat badan putih mulus Bebi.


"Sialan bener tuh cewek, ini adekku sampek ke bangun heran aku."


Ben berendam cukup lama karena menuntaskan hasrat tertundanya, hingga tak terasa sejam dia di kamar mandi. Setelah kelar urusannya, Ben keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggang.


Lelaki tampan itu melihat jika istri kontraknya sudah terlelap segera ia menuju walk-in closet mengganti pakaian.


Beberapa jam kemudian, terdengar bel kamar. Ben terbangun dan ia melihat dari lubang pintu ternyata ada Ayunda. Ben kalang kabut lalu membangunkan Bebi.


"Bangunlah, Bunda datang. Bersandiwaralah yang baik."


"Iya."


Ben kembai mendekat pada pintu lalu, membukanya.


"Sore sayang," sapa Ayunda


"Sore Bunda. Ada apa?"


"Bunda memastikan kalian udah bangun karena makeup artis mu datang sekitar setengah jam lagi."


"Baik Bunda. Kebetulan kita ingat."


"Ya udah, mana istrimu, Ben."


"Ya udah Bunda turun dulu."


"Iya Bunda," Ben dan Bebi menampakkan senyum termanis agar tak di curigai


Usai Ayunda pergi, Ben menutup dan mengunci kembali kamarnya


"Kau itu selalu buat aku tegang," omel Ben pada Bebi lalu masuk ke kamar mandi


Bebi melongo mendengar ucapan Ben, dia tak tau apa maksudnya dan saat sampai di depan cermin ia baru sadar jika hanya memakai lingerie.


Bebi menepuk jidat lalu naik ke atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Pantas dia ngomel."


Bebi melihat ada handuk kimono di sebelah ranjang ia pun memgambil dan memakainya.


"Nah, selesai."


Tiba-tiba ada bel dari kamarnya, Bebi pikir Bunda Aunda kembali saat dibuka


"Bunda."


"Sore nona," sapa dua orang Make up artis


"Oh maaf mbak, aku kira mertuaku. Mari silahkan masuk."

__ADS_1


"Baik nona."


"Taruh sini aja ya, mbak."


Tiba-tiba, dari kamar mandi muncul seorang pria tampan dengan percaya dirinya dia hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang, sontak semua menjerit.


"Aaaa."


Pata perempuan itu menutup mata dengan telapak tangan sedangkan Ben berlari menuju walk-in closet. Perlahan para perempuan membuat telapak tangan mereka, apakah Ben masih ada atau hilang. Dan akhirnya Ben hilang, mereka bernafas lega.


Kini perempuan yang biasanya cantik alami tanpa polesan di sulap menjadi princes. Gadis itu adalah Bebi istri dari Benardo hanya saja sebatas status.


"Waw, kau sangat cantik nona apalagi gaun itu pas di tubuh anda," puji salah satu designer


"Terimakasih mbak."


Bebi menatap cermin merasa malu degan wajahnya karena sandiwara atas pernikahannya. Di hati Bebi, ia ingin minta maaf sedalamnya pada almarhum Papa nya Hermawan, ia merasa salah telah membohongi semua, karena menerima perjodohan dengan Ben.


Tak lama, Ben keluar dari walk-in closet kagum dengan istri statusnya itu.


"Kenapa dia menggoda iman, sih. Lama-lama aku bisa gila," gerutu hati Ben


Ben berjalan menghampiri semua


"Sore tuan, maaf atas kejadian tadi


"Tak masalah mbak, saya yang ceroboh tak tahu kalau ada orang lain. Oh ya, tuxedo ku mana?"


"Ini tuan, cobalah," salah satu designer


"Baik mbak."uģ


Usai kedua sejoli itu di make up, mereka pun keluar dari kamar. Saat membuka pintu kamar pengantin baru itu terkejut ada Axel di depan pintu bersama Rio tersenyum penuh arti.


"Kenapa kalian ada di sisi, hah," tanya Ben menyelidik


"Kita mau jemput pengantin barulah, biar nggak kabur sama istri irang."


Bebi dan Ben saling menatap, lalu Ben berucap, " Kalau cuma mau meledek mending sana lo."


"Yah, ngambek dia," Rio cekikikan


Mereka turun dan mulai masuk ke area resepsi. Semua mata para undangan menatap kearah pengantin baru, Sella dan Axel menahan tawa sat tahu kakaknya berdampingan dengan musuh bebuyutan.


"Kak Axel, aju bayangin gimana mereka di kamar ya."


"Hus, kau itu masih belum cukup umur. Udah bayangin aja."


"Enak aja aku udah gede, udah SMA," Sella tak terima


Sungguh Ben rasanya ingin pergi dari acara ini, ia berharap mendapatkan cinta abadi bukan pernikahan tanpa cinta.


"Tenang Ben, setahun cukup kok," batinnya


Tiba-tiba, Axel menepuk bahu nya


Pluk

__ADS_1


"Cukup setahun aja, kok."


__ADS_2