
Marvel pulang ke rumah dengan wajah murungnya, ia bingung apa yang harus di lakukannya. Ia kesal kenapa bisa kena hasutan dari Sella. Lelaki tampan itu kini mulai tertidur sendiri akibat pikirannya yang kacau.
Di bawah, Ben baru saja pulang dari rumahsakit sekitar jam 6 sore. Ia menghembuskan nafas kasar dan bersandar di sofa ruang tamu. Bebi melihat Ben wajahnya nampak gelisah segera mendekati suaminya.
"Dad, ada apa?"
"Sayang, maaf aku," ucapnya tak dilanjutkan karena merasa tak sanggup mengatakan pada istrinya.
"Ada apa Dad?"
"Aku menghukum putra kita lagi akibat kesalahannya. Daddy malu Mami, sama Ferry seakan aku tak bisa mendidiknya jadi lelaki sejati."
"Maksudnya Dad."
"Marvel membiarkan istrinya pingsan karena kelaparan dan dehidrasi akibat menunggunya. Daddy sudah kesal, maafkan Daddy," ucapnya sambil memijat pelipis
"Astaga, kenapa Marvel berbuat seperti itu, Dad. Nanti biar Mami yang tanya, sekarang Daddy istirahat ya."
Ben mengangguk dan mereka berjalan menuju kamar. Setelah mbiarkan suaminya istirahat kini Bebi naik ke lantai dua menemui putranya. Bebi mulai mengetuk pintu kamar Ben.
Tok
Tok
"Mami."
"Mami mau bicara denganmu."
"Masuklah Mi," ajak Marvel
Di pikiran Marvel ia pasti kena marah. Bebi berjalan dan duduk di balkon kamar putranya.
"Sayang, tolong jelaskan apa yang terjadi tadi."
Tiba-tiba, Marvel berlutut di depan Bebi.
"Mami, maafin Marvel. Hiks .... Marvel khilaf Mi, biarin Kayla menunggu, Marvel kena hasut Sella Mi, katanya dia bertemu dengan teman pria nya."
"Vel, kamu sudah dewasa bentar lagi akan jadi seorang ayah. Bagaimana kamu bisa mempercayai orang lain daripada istrimu? Mami dukung jika Daddy menghukummu lagi.
Dan yang bisa mencabutnya hanya Kayla. Mami, kali ini tak bisa mentoleransi lagi, Vep. Ambil hikmah dari hukuman Daddy berikan pada mu. Ingat Vel, wanita diam bukan berarti bodoh dan selamanya bisa memaafkan kelakuanmu."
"Mami, maafin Marvel, kan."
"Iya, udah nikmati dulu kesendirianmu," ucapnya berlalu dari kamar Marvel
Marvel menghela nafas berat, lagi dan lagi kesalahan membuat ia terpuruk. Ia sungguh merindukan istri tercintanya.
Dan hal yang sama dirasakan oleh Kayla, ia begitu rindu dengan suaminya meski tadi membuat sakit hati, ia tetap ingin berbakti pada suaminya.
"Pa, Ma. Marvel nggak kesini."
"Sayang, untuk sementara kalian tak bisa ketemu dulu, demi kebaikan kalian."
Kayla nampak bersedih hati tak bisa bertemu dengan Marvel, entah apa yang dilakukan suaminya kini. Biasanya mereka akan adu mulut atau sekedar masak bersama. Sinta yang tak tega mencoba memberi pengertian padanya.
"Sayang, Mama mohon kamu mengerti ya. Daddy Ben marah pada Marvel, jadi ini bentuk hukuman untuknya agar tak seenaknya denganmu. Mama tahu apa yang kamu rasain, iya sayang."
__ADS_1
Kayla berhambur memeluk Mama Sinta dan tangisnya pecah. Sinta mengelus Kayla menenangkan, Ferry melihatnya tak tega ia pun berpamitan keluar dari ruangan.
Pria tampan paruh baya itu kini mengemudikan mobil mewahnya menuju kediaman Ben. Sesaat pria itu sudah di halaman rumah Bwn, dan memencet bel.
Tintong
Tintong
Ferry makin geram, ia memencet bel tak ada yang buka.
Tintong
Tintong
Ferry juga mengetok pintu agar semua bisa mendengar dan tak lama pintu terbuka yang membuka Bebi.
"Fer, ada apa?"
"Panggil putramu itu, Beb," Ferry berbicara keras
Ben melihat sahabatnya terihat marah segera mendekatinya
"Ada apa Fer?"
Ferry mendorong tubuh Arga hingga terjatuh.
"Brengsek, mana putramu sialan itu."
Kebetulan yang dicari Ferry baru saja sampai dengan Willi, muncul dari pintu depan.
"Papa," sapa Marvel
Bugh
Bugh
"Sialan, kau pecundang. Papa bener-bener bodoh membiarkan Kayla bersamamu. Kau membuat putriku menderita, bodoh," teriak Ferry dan ia menghajar Marvel yang terkulai lemas akibat pukulannya tapi di cegah Ben dan Willi.
"Stop Fer! Maafin Marvel. Aku yang salah mendidiknya," ucap Ben sambil meneteskan air mata
Bebi terkejut mendapati suaminya hingga menangis karena perbuatan putranya. Bebi mendekati suaminya agar tenang. Marveo masih setengah sadar dengan wajah babak belur, ia merangkak mendekati Ferry.
"Ma-afin Marvel, Pa," Marvel dengan terbata-bata sambil memegangi perutnya memohon di kaki Marvel.
"Aku akan urus perceraian kalian," ucap tegasnya dan berlalu
Deg
Jantung Marvel terasa akan melompat mendengar kalimat yang dilontarkan mertuanya, Marvel menggeleng kepala lalu berlari mengejar Ferry.
"Pa," teriak Marvel tapi tak di gubris Ferry yang melaju meninggalkan rumah. Marvel yang tak mau kehilangan istri segera mengejar memakai mobilnya, Ben menyuruh Willi mengejar Marvel.
"Kejar dia, Wil."
"Baik Om."
Marvel menyetir tak menghiraukan nyawanya, ia melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan penuh hingga di depan ada seorang pengendara motor melintas ia terkejut dan membanting setir menabrak pohon dan mobil itu mengeluarkan api.
__ADS_1
Dari jauh, Willi melongo melihat kejadian itu ia mengira Marvel tak selamat. Ia turun dari mobil sambil berteriak.
"Tolong ... tolong. Sepupuku di dalam Pak, Bu."
Sesaat ia terkejut ada Marvel menepuk bahunya, ia kira hanya halusinasi. Ia menoleh kembali ternyata memang Marvel masih hidup.
"Anter aku ke rumahsakit," ucapnya lirih.
"Ayo," Willi sambil memapah tubuh Marvel dan membantunya masuk ke mobil.
Di rumahsakit, ia melihat kemejanya terkena cipratan darah segar Marvel. Dewi melihat raut wajah tegang Ferry mendekatinya.
"Ada apa mas?"
"Em, nggak apa. kau duduklah aku mau cerita."
"Ada apa sebenarnya?" tanya nya bingung
"Aku habis menghajar Marvel, sayang."
"Apa!"
"Maafin aku, aku khilaf karena tak sanggup lihat Kayla sakit," ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.
"Bagaimana kalau Kayla tahu, mas. Kasihan dia nanti kepikiran dan terbawa pada janinnya."
"Maafin aku, sayang."
Tak lama, Willi dan Marvel datang dengan wajah babak belur dan darah mengucur di kakinya akibat kecelakaan tadi.
"Pa, Ma," panggil Marvel lirih
Keduanya menoleh kearah suara, ternyata Alden dan Willi. Sinta menutup mulutnya terkejut melihat Marvel tak karuan, ia berjalan menghampiri.
"Vel, kau kenapa?"
"Aku nggak apa, Ma."
Marvel berjalan pincang mendekati Ferry, Ferry yang tak tega menunduk. Marvel berlutut di hadapan Ferry kembali membuat Sinta menggeleng kepala.
"Vel."
"Pa, Marvel mohon jangan urus perceraian kami. Marvel minta maaf, Pa. Hiks ..."
"Marvel khilaf Pa. Marvel janji akan menjaganya lebih baik lagi, Marvel janji Pa."
Ferry akhirnya luluh dan membantu Marvel untuk berdiri, ia juga memeluk menantunya.
"Papa udah maafin kamu, Vel. Tolong jaga Kayla untuk Papa."
"Baik Pa, makasih udah maafin Marvel."
"Papa juga minta maaf membuatmu terluka tadi, ayo ikut Papa."
Ketiga pria itu pun menuju ugd untuk mengobati luka pada Marvel. Selang satu jam, Marvel sudah bersih. Lelaki itu pun diijinkan bertemu istrinya dengan dibantu jalan oleh Willi. Saat pintu terbuka, Kayla menoleh terkejut ada suaminya tapi wajahnya terluka dan ada perban di kakinya.
"Vel, kamu kenapa?"
__ADS_1
Alden tersenyum lalu mendekati ranjang istrinya.
"Maafkan aku, sayang."