Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Raka ku


__ADS_3

Rayan mengusap kepalanya yang terkena telur dari atas, jebakan karyawan  lain untuk Hilda. Hilda yang tak nak mencoba membersihkan rambut Rayan, lelaki tampan itu terkejut karena Hilda perhatian padanya.


"Jangan percaya diri  dulu, aku masih karena kau," bisik Hilda


"Tak masalah."


"Oh ya kalian boleh pulang dan kerja kembali 2 minggu lagi."


"Ayo Hil," ajak Ray ke ruangannya


"Eh."


Ketiga karyawan itu kesal dan menghentakkan kaki dilantai membuat karyawan lain menatap tajam  mereka. Mereka pun akhirnya keluar dengan muka masamnya.


Di sisi lain, Hilda  sedang mencuci rambut di kamar mandi rurangan Rayan. Rayan bahagia untuk pertama kalinya rambut disentuh wanita yang dia sukai. Hilda melihat Rayan senyum-senyum segera ia mencibirnya.


"Ganteng-ganteng tapi kerasukan."


Seketika Rayan menolehnya.


"Kau bilang apa tadi."


"Nggak ada siaran ulang."


"Eh nona, kau tuh cantik kenapa judes amat sih."


"Karena aku nggak mau menyukai atau dicintai cowok."


Rayan berdiri dan menghampiri Hilda membailik kan badannya, Rayan menatap manik mata kesedihan pada Hilda. Tak terasa Rayan mulai mendekat dan semakin dekat lalu mencium bibir manis Hilda, Hilda merasakan ciuman itu seperti Raka rasanya dan saat tahu di depannya, bukan Raka segera ia melepasnya.


"Maaf. Aku," ucapannya terpotong saat ingat wajah Raka dihadapannya


"Aku mengerti Hil, aku akan menyayangi mu seperti mantanmu."


Hilda berbalik badan menghadap Rayan dan berkata, "Kau tahu itu."


"Aku hanya menebak. Siapa Raka itu? karena dari awal kau bilang aku adalah Raka."


"Dia adalah mantanku. Dia dulu berjanji kembali padaku untuk melamarku tapi kejadian nahas membuatku kehilangannya," ucapnya dengan raut wajah sedih


"Maafkan aku Hil," ucap Rayan sambil memeluknya dari belakang


"Tolong lepaskan aku, Ray."


"Aku nggak akan melepaskanmu. Aku mencintaimu."


"Bagaimana bisa kau mencintaiku, kita baru saja kenal."


"Aku jatuh cinta saat pertama bertemu dan rasanya aku pengen deket terus sama kamu."


"Tapi Ray."


"Ijinkan aku menyayangimu."


"Baiklah."


Tiba-tiba, kepala Rayan merasakan pusing dan ia pingsan.


Bruk


"Ray."


Hilda lalu menelpon security untuk membawanya ke klinik terdekat. Di klinik, Rayan  sudah ditangani dan tibalah Sarah yang terlihat cemas.


"Bun."


"Sayang, bagaimana bisa Ray pingsan."


"Tadi kita ngobrol lalu ia jatuh pingsan, Bun."


Tak lama dokter keluar mengampiri mereka.


"Selamat siang, keluarga Rayan."


"Saya dokter."


"Baik, begini nyonya. Ingatan Rayan mulai  berangsur membaik."


"Alhamdulillah."


"Ya sudah saya permisi nyonya, nona."

__ADS_1


"Baik terimakasih dok."


"Sama-sama."


Setelah dokter pergi, Hilda pun memberanikan diri bertanya tentang Rayan.


"Bun, bolehkah aku bertanya. Rayan kenapa bisa amnesia."


"Jadi gini nak, sebenarnya Rayan itu anak angkat Bunda.  Bunda dulu  menemukannya di ranting pohon saat kecelakaan pesawat."


Deg


Hilda terkejut dengan ucapan Bunda Sarah, seketika ia terduduk lemas di bawah. Sarah melihat wajah Hilda shock segera memberinya minum.


"Minumlah nak, kamu kenapa?" Sarah cemas


"Bun, dia Raka ku."


"Ma-maksudmu nak."


"Dia Raka. Aku yakin itu karena  wajahnya mirip dengan kekasihku yang kecelakaan pesawat persis cerita Bunda. Hiks ... hiks."


"Apa! Jika memang benar. Kita harus memastikan ingatannya dulu. Lalu ajak keluarganya tes dna."


"Kita tes dengan Berlian anakku, bun. Karena Berlian kunci utama, dia adalah anak Raka."


"Ya udah, kita masuk dulu temui Rayan."


"Bunda masuklah dulu."


"Baiklah, kau tunggu sini."


"Iya Bun."


Sarah masuk sedangkan Hilda masih menunggu di depan ruangan Rayan. Saat Sarah masuk, ia melihat putranya sudah duduk bersandar di ranjang.


"Bunda."


"Ray, bagaimana keadaanmu?"


"Rayan baik Bun, ternyata dugaan Rayan selama ini benar gadis yang ada di mimpi itu adalah Hilda. Dan aku udah mulai ingat, jika aku berjanji pada gadis itu kembali untuk melamarnya."


"Dan itu Hilda, Ray."


"Sudah Bunda duga, kamu tunggu. Bunda panggilkan dia."


"Makasih Bun."


Sarah keluar ruangan, ia melihat perempuan cantik itu tengah pulas tidur  dikursi. Wanita paruh baya  tersebut berjalan menghampiri, membangunkan Hilda.


"Hil, bangun nak."


"Eh Bunda. Maaf Hilda ketiduran."


"Tadi malam kau begadang."


"Iya Bun, Berlian nggak mau tidur."


"Oh begitu, ayo masuk. Rayan ingin bertemu denganmu."


"Iya Bun."


Hilda dan Sarah masuk  raungan Rayan, Hilda menunduk ia tak mampu menatap Rayan alias Raka.


"Sayang, kau tak rindu calon suami mu ini."


Deg


Hilda mendongak menatap wajah Rayan, ia ingin bertanya pada ucapannya.


"Bunda tinggal dulu ya. Kalian bicaralah."


Setelah Sarah keluar dari ruangan, Rayan memanggilnya.


"Sayang, kemarilah."


Hilda mendekati ranjang Rayan, lalu duduk di tepi.


"Nggak mau peluk."


"Ray."

__ADS_1


"Aku Raka, kau lupa calon suami mu ini, hem."


"Maksudnya Ray."


"Sayang, aku Raka. Kecelakaan itu membuatku hilang ingatan dan sekarang sedikit-sedikit aku mengingatnya."


"Beneran kamu Raka," ucapnya menahan tangis


Raka memegang tangan lembut Hilda dan mengulangi kata-katanya, "Aku mencintaimu selamanya."


Tangis Hilda pecah lalu memeluk pria yang selama ini ia rindukan.


"Kau jahat, ninggalin aku dan anak kita."


"Maafin aku sayang. Bayi yang bersamamu itu apakah bayi kita, sayang."


"Iya kak."


"Alhamdulillah."


Raka mencium seluruh wajah Hilda, membuat Geli.


"Ih kak ,geli."


"Aku senang baget sayang sama kamu yang manja."


"Udah ah. Aku lepasin aku mau panggil Bunda, kasihan."


"Jangan lama-lama."


"Iya."


Hilda keluar dan menghampiri Bunda sedang mengobrol dengan sesama dokter.


"Bun."


"Eh nak, ada apa?"


"Ayo masuk, Bun."


"Ya sudah dok, saya masuk ruangan dulu."


"Baik dokter."


Sarah dan Hilda masuk ruangan Raka atau Rayan tersebut. Raka mengulas senyuman saat orang yang menolongnya mendekat.


"Bun, kupasin buah."


"Manjanya, kau nggak malu sama calon istrimu, nak."


"Nggak Bun. Aku tetap Rayan Bunda, dan Raka dihati Hilda."


"Sejak kapan bisa gombal."


"Saat mencintai ratu manja, Bun."


Hilda mencubit tangan Raka membuat ia meringis.


"Aw, sayang sakit."


"Biarin."


"Dasar kalian ya. Udah ini makanlah biar bisa ketemu orangtuamu lagi."


"Raka akan membawa Bunda bertemu mereka."


"Kamu tak keberatan nak."


"Tidak Bun, Raka bahagia bisa punya banyak keluarga."


"Makasih nak," peluk Raka dan Hilda.


Usai dari rumahsakit, Hilda buru-buru pulang untuk bertemu putri kecilnya. Di rumah ternyata tak ada, ia kelimpungan mencari Lia dan putri kecilnya.


"Tidak. Mungkin Lia mengajak Berlian jalan-jalan."


Tiba-tiba, ponselnya berdering kontak yang tertera tak  ada namanya alias asing. Ia ragu untuk mengangkatnya namun berbunyi terus dan terpaksa ia mengangkatnya.


"Halo."


"Halo, datanglah ke gedung tua dekat klinik. Bawa uang 1 miliyar jika tak bawa itu. Siap-siap bayi mu yang akan mati bersama pengasuhnya."

__ADS_1


Panggilan diputus sepihak oleh penelpon tersebut, dengan cepat Hilda menuju rumahsakit menemui Raka. Saat di sana, Raka tak ada di ruangannya. Ia  semakin panik, dua orang yang ia cintai hilang, ia berlari keluar dan menabrak seseorang.


__ADS_2