Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Aku di jebak


__ADS_3

Rendra pun menujukkan video tersebut pada calon istrinya agar tak salah sangka.


"Ini Vio di culik, sayang."


"Iya, tapi kita nggak boleh gegabah sayang. Aku akan menyelidikinya."


"Tapi aku takut kamu kenapa-kenapa."


"Tenang, aku sama Ryan dan bodyguard."


"Ya udah, kamu hati-hati."


"Ben, Axel, Om titip Tante dulu ya. Om keluar bentar."


"Butuh bantuan nggak, Om," Ben menawarkan diri


"Nggak, kamu cukup jaga Tantemu saja, Ben."


"Ben pesan, rekam semua Om," pesan Ben


Rendra ternganga akan penuturan bocah tampan yang cerdas itu dan mengangguk.


"Baiklah, makasih Ben udah ingetin."


"Sama-sama Om."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Rendra sudah menghubungi Ryan untuk menunggunya di dalam mobil juga tak lupa para anak buah. Nampak Rendra sudah masuk mobil diikuti mobil anak buah.


Di perjalanan, Rendra mengganti bajunya


"Kamu yakin dia bohong, Ren," tanya Ryan


"Lihat ini, ikatannya kendor. Dia terlalu teledor untuk membohongi orang," ucap Rendra sambil menunjukkan video yang dikirim tadim


"Kau emang teliti, Ren. Let's go."


Mereka sampailah di sebuah gedung kosong, satu persatu anak buah mulai menyebar dan menyergap pembuat ulah. Sedangkan Rendra dan Ryan masuk lewat pintu depan dengan santai seperti tidak tahu apa-apa.


Saat membuka pintu nampak waita kusut tak karuan bajunya terikat di kursi, yang membuat Ryan dan Rendra terkejut, Viona masih kalah cerdik dengan mereka.


"Rendra, tolong aku."


"Minta tolong, sini tuh lihat ada kecoak," ucap Tendra menahan tawa


"Apa, kecoak. Aaaa."


Seketika Viona berlari dan menghampiri mereka, ia lupa jika kini dia pura-pura di culik. Lalu, ia sadar wajahmya menjadi pias krena telah membohongi.


"Kau tipu kami, ya Vio."


"N-nggak Ren, kau salah paham. Aku di jebak, mana mungkin kan aku sepicik itu."


"Oh ya, lalu itu bekas makanan di dekat bibir itu apa. Wah, kau penipu ulung, Vio. Kau dulu bukan macam ini, kenapa berubah."


"Itu karena kau, Ren."


"Kok bisa aku."


"Aku takut kehilanganmu, Ren."


"Dasar tukang bohong, mending kamu pulang."


"Ren, aku emncintaimu dari dulu sampai sekarang."


"Oh ya, apa harus tidur dulu dengan orang lain agar kau tahu jika benar mencintainya."


"Dasar nggak jelas," tambahnya


"Ren, aku menyesal. Aku ingin mulai nol lagi denganmu."


"Nol ku hanya untuk istriku."


"Calon istrimu itu sama halnya denganku, Rendra," ucap Viona menyeringai


"Berhenti menceramahiku, brengsek," ucap Rendra dengan nada tinggi sambil meremas dagu Viona


"K-kau menyakitiku, Rendra."


Ryan melihat Rendra begitu marah, segera melerai nya.


"Ren, lepasin. Itu anak orang bisa mati. Ingat Jessi."

__ADS_1


Akhirnya Rendra melepaskan cengkramannya pada Viona.


Uhuk... Uhuk...


"Tangkap wanita ini," seru Rendra, nampak bermunculan anak buahnya dan mulai mengikat Viona.


"Ren, lepasin aku," teriak Viona


Rendra tak menghiraukan teriakan Viona, kini kedua pria tampan itu keluar dari gedung kosong lalu kembali ke rumahsakit.


Di rumah sakit


"Jes, kapan kau boleh pulang?" tanya Ayunda


"Besok, karena besok juga finishing gaun."


"Oh begitu, kau jaga kesehatan tetap tenang mau jadi istri nggak usah gugup, semua merasakan seperti kamu, jadi rileks."


"Iya kak, terimakasiih ceramahnya."


"Huh, dasar kau ya."


"Mana dua biang keladi?"


"Siapa maksudmu?"


"Hee ... Maaf. Axel dan Ben, kemana mereka, kak?"


"Masih sekolah, esok mau tanding lomba."


"Lomba cerdas. Kalau menang, akan di kirim ke New york sebagai hadiahnya."


"Waw, keren. Pindah sekolah, kak."


"Tak tahu, keputusan ada di tangan Daddy Brian."


"Oh begitu."


Saat asyik berbincang nampak pria tampan masuk ke dalam ruangan.


"Seru kayaknya nih," ujar Rendra


"Eh, sayang. Baru datang, gimana urusannya."


"Aku minum dulu ya, kak. Haus."


"Kau juga nggak minum dulu, Ryan," ucap Ayunda


"Oh tidak, terimakasih nona Ayu."


Di satu sisi, Ben dan Axel baru saja pulang sekolah. Saat perjalanan pulang ada mobil mengahdang.


Sektika sopir yang mengemudikan mobil Ben dan Axel rem mendadak.


Cit


"Aw, ada apa pak."


"Maaf tuan muda. Di depan ada mobil berhenti tiba-tiba."


"Itu kak, lihatlah."


Dan beberapa orang berbadan tegap mengeluarkan sopir dari mobil secara paksa.


"Keluar."


Dan kemudian menggedor pintu mobil belakang.


"Kak, gimana nih."


"Kau coba telpon Daddy dan kirim pesan. Aku aka mencoba alih kendali mobil."


"Emang kakak bisa."


"Kamu lupa tanpa kita setir, mobil ini otomatis mengemudi tinggal bilang kearah mana aja."


"Oh iya ya. Ok, kita beraksi kak, aku udah kirim pesan juga pada Daddy."


"Oke, let's go."


Ben mengoperasikan mobil itu lalu, menggerakkan nya menggunakan ponsel, sungguh Axel takjub dengan kejeniusan kakaknya yang terbilang masih kecil tapi kecerdasannya melebihi orang dewasa.


"Waw, kakak keren."


"Diem kau, lihat mereka masih ngejar nggak."

__ADS_1


"Udah nggak kak."


"Telpon sopir, suruh hampiri kita disini."


"Oke kak."


Di tempat lain, Brian terkejut mobilnya berada jauh dari titik arah tempat tinggalnya. Brian melihat pesan dari situ wajahnya nampak sumringah.


"Kau kenapa Bri," tanya Johan


"Tak apa. Aku sungguh kagum dengan kejeniusan putraku."


"Ben."


"Iya, siapa lagi."


"Axel juga pintar."


"Tapi dia ada yag nandingin, aku salut sama mereka berdua. Jo, hubungi salah sau bodyguard bilang kejar penjahat siapa yang mencoba ingin mengganggu putra-putraku."


"Siap bos."


Tak lama, mobil yang ditumpangi Ben dan Axel di halaman rumah.


"Kak, tadi macam aksi hero. Keren banget."


"Huh, ka ini suka seklai. Kaak tadi tegang tahu."


"Oh ya, tapi tak kelihatan. Malahan aku lihat nya kakak dengan santainya mengotak atik ponsel. Aku doakan kakak menang deh besok."


"Makasih, nanti aku traktir."


"Oh ya. Terimakasih."


Esoknya, dua bocah tampan itu bersiap turun untuk sarapan bersama. Di ruang makan sudah ada Ayunda dan Sella.


"Pagi Bunda," sapa kedua bocah tersebut


"Pagi boy."


"Mana Daddy."


"Bentar lagi juga turun. Kalian mau sarapan apa?"


"Roti aja, Bunda."


"Iya aku juga, Bunda."


"Nggak nasi goreng. Nanti kan kamu lomba, Ben."


"Iya, Bunda. Tapi aku males buat makan nasi."


"Ya sudah, tapi dua potong ya sama susu."


"Siap Bunda," ucap kompak keduanya


Dan akhirnya yang ditunggu muncul juga


"Pagi semua," sapa Brian mencium kening istri lalu berpindah ke baby Sella dan kedua bocah tampannya.


"Pagi Daddy."


"Ayo berdoa dulu, barulah makan."


"Siap Dad."


Setelah berdoa, mereka mulai makan dan 15 menit kemudian selesai.


"Dad, doakan Ben menang nanti akan lomba."


"Iya Dad, mau tahu nggak hadiahnya."


"Apa?"


"Ayo tebak apa, Dad?"


"Em, kemana ya. Ke museum, atau perpustakaan negara."


"Bukan."


"Lalu, kemana?"


"Ke New york."


"Hah, ke New york. Ngapain?"

__ADS_1


"Katanya hadiah akan sekolah disana, Dad."


"Apa?"


__ADS_2