Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Pingsan


__ADS_3

Pagi ini wanitanya begitu cantik dengan balutan dress peach. Arga berjalan dan mendekati istrinya menarik pinggangnya.


"Kenapa kita tak tunda saja, huntingnya sayang," Ben menatap penuh arti, Bebi tahu apa yang ada di pikiran suaminya yang tak jauh dari kata ingin itu, seketika Bebi menepuk bahu suaminya agar tersadar.


"Jangan ngigau, ayo buruan."


"He ... ayo sayang."


"Yah, gagal lagi deh," batin Ben menggerutu


Sekitar setengah jam  kemudian, mereka mulai berjalan  menuju tempat barang antik yang terkenal di kota Perancis. Saat sudah di depan toko antik para wanita dan pria berpencar.


"Waw, keren ini," ucap Bebi semangat melihat benda di tangannya


"Iya Beb, kau beli  saja, ucap Rina


"Ini kayaknya mahal deh."


"Tapi tak mungkin Ben bakal bangkrut jika  hanya itu."


"Iya, tapi aku tak biasa."


"Hei nyonya sultan, kau harus terbiasa," celetuk Hesti dari belakang mereka


"Aku masih tetap sama, Hes."


"Dasar nona pelit."


"Bukan pelit tapi berhemat."


"Ya ya terserah kau sajalah, nyonya."


Setelah satu jam, para wanita sudah mulai kelelahan. Apalagi wanita muda yang ednag hamil satu ini, dia udah bercucuran keringat dingin. Rina melihat sahabatnya pucat segera membantunya duduk dan memberikan air minum


"Minumlah, kau lelah bukan."


"Makasih, Rina."


Tiba-tiba, Ben datang dan melihat kondisi istrinya lemas. Ben  sebelumnya sudah diiberitahu Rina untuk segera menghampiri


"Sayang, kau tak apa," nampak wajah  Ben cemas dengan manatap tak tega dan menyentuh pipinya


Bebi hanya menggeleng  pelan dan akhirnya pingsan


"Sayang, please bangun."


Ben dan yang lain buru-buru membawa ke mansion  dan sesampainya, tak lama dokter datang memeriksa dan untunglah, Bebi hanya kecapekan dan bayi dikandungan tak masalah.


"Bayinya seat tuan, nona hanya kelelahan. Ini saya kasih vitaminnya," ucap dokter menyerahkan vitamin pada Ben


"Makasih dokter."


Dokter mengangguk dan keluar dari kamar mereka, ia terkejut di luar kamar ternyata ada beberapa pasang mata menunggu kedatangannya.


"Bagaimana dokter?"


"Nona hanya kelelahan saja.".


"Sukurlah."


Usai tahu keadaan Bebi, mereka kembali ke kamar masing-masing.


Sedangkan Ben kini menutup pintu kamar dan pergi ke ruang kerjanya. Saat berjalan menuju ruangannya terlihat ada notif pesan dari bodyguardnya. Arga membaca satu persatu mulai dari pesan lalu beralih pada email.


"Brengsek," teriak Ben


Hingga membuat para maid terkejut dan menyusul di ruangan Ben karena begitu kenyang umpatannya.


"Maaf tuan, ada yang bisa kami bantu," tanya maid pada Ben

__ADS_1


Ben mengusap wajah kasarnya lalu menghembuskan nafas pelan-pelan


"Tak ada, maaf jika mengganggu kalian. Kalian beristirahatlah."


"Baik tuan, kami permisi."


Arga masuk  ke ruangannya, dibalik dinding ada dua orang tak tahu diri ingin tahu apa yang terjadi, mereka adalah Rudi dan Rio.


"Kita harus cari tahu, Rio."


Rudi mengangguk dan mulai berjalan menuju ruangan Ben lalu mengetuknya


Tok


Tok


"Siapa?"


"Aku, Ben."


"Masuklah."


Dari kedua sahabatnya masuk, Ben tahu apa yang di otak mereka


"Kalian, ada apa?" ucap Ben menatap sekilas dua makhluk cengengesan di depannya


"Apa ada masalah?" tanya Rudi pelan


Ben menatap mereka lalu menjawab, "Sepertinya ada yang berkhianat?" ucap dingin Ben


Dari kata-kata Ben, membuat kebenaran memang ada masalah. Lalu, mereka mulai menerka siapa yang berkhianat?


"Lihatlah ini," Ben memberikan laptop berisi foto seseorang pada Rudi


"Oh my god," Rudi terkejut apa yang dilihatnya


"Apaan sih," Rio penasaran dan memutar laptop agar menghadap padanya.


"Kau kira bodyguard ku salah, lihatlah baik-baik siapa mereka berdua?"


"Ini mimpi kah," celetuk Rudi lalu di pukul lengannya oleh Rio


Pluk


"Aw, kau jahat sekali dokter," cibir Rudi


"Bisa diem nggak sih! Rudi, Kau bilang pada anak buah pantau sekitar apartementnya. Jika kondisi memungkinkan, aku akan menemuinya."


Rudi hanya manggut-manggut mendengar ucapan bos sekaligus sahabatnya.


"Oh ya Ben,  bagaimana kalau kita tunda dulu penerbangan ke Indo?" tanya Rio pada Ben yang terlihat gelisah


"Ok kita tunda, besok kita baru pulang. Lagian Bebi juga masih butuh istirahat."


"Aku sebagai sahabatmu tahu apa yang ada di hatimu saat ini," Rio menatap Ben yang tak tenang


"Kau tahu, aku selama ini percaya padanya. Bagaimana bisa dia berkhianat?" ucap tak bersemangat


"Kita cari tahu esok, pasti ada sesuatu diantara mereka."


"Oke, kalian istirahatlah."


"Aku pengen kita main game, kan udah lama tuh."


"Boleh, siapa takut."


"Aku juga ikut," celetuk Axel diambang pintu.


"Kau tadi darimana, Xel. Ayo masuklah," ucap Ben

__ADS_1


Akhirnya keempatnya main game sampek tak sadar tertidur di ruang kerja entah pukul berapa mereka mengakhiri permainan.


Pagi harinya, Bebi bangun dan meraba samping kanan tak ada manusia tampan pertanda suaminya di luar kamar. Setelah 20 menit dengan ritual mandinya, Bebi merasa lebih segar badannya segera ia mengganti pakaian. Setelah rapi, ia turun untuk memcari sosok pria kesayangan yang tak kelihatan batang hidungnya. Saat berjalan menuju ruang kerja Ben, ada seseorang memanggil


"Beb, mau kemana?" panggil Rina pada sahabatnya


"Eh Rina, mau cari Ben. Di kamar nya tak ada."


"Oh begitu, ya sudah sana. Nanti kau turun ya, aku bosen soalnya."


"Baiklah."


Rina turun sedangkan  Ara melanjutkan ke tujuannya, tiba-tiba ada yang memanggilnya kembali.


"Bebi," seru dua wanita cantik kompak memanggil Bebi menoleh, ia kesal langkahnya terhenti lagi, ia berusaha untuk tak marah dengan memasang wajah tersenyum tapi maksa, ck.


"Hei, kalian. Ada apa?


"Kamu mau kemana, Beb?"


"Mau cari suamiku, Hes, Win. Kalian juga mau kemana?"


"iya sama dunk, dari malam nggak kembali."


"Jangan-jangan," ucap ketiganya menerka jika mereka bersama dalam satu ruangan.


"Mending kita lihat di ruang kerja suamiku," ajak Bebi dan mendapat anggukan dari  dua wanita cantik itu


Saat Bebi mengetuk pintu, masih tak ada sahutan lalu perlahan Bebi membuka pintu. ketiga wanita cantik itu terbelalak melihat ruangan seperti kapal pecah dan ketiga pria itu tidur kayak orang pingsan.


Bebi mendekati suaminya mencoba membangunkan, "sayang, ayo bangun."


Sama halnya Bebi, Hesti dan juga Wina tak bisa membangunkan pria yang dicintai. Mereka atak kurang akal, Bebi mengajak dua wanita itu turun mengambil wajan, panci dan juga teflon.


Ketiga wanita kembali masuk ruangan bak sampah itu, lalu mulai lah memainkan alat yang di tangan mereka


Teng


Teng


Teng


Seketika ketiga pria tampan terbangun terkejut ada nada yang tak biasa di telinganya, berasa di pasar.


"Brengsek," umpat Ben


"Sialan," Rudi kesal


"Stupid," seruan Rio tak kalah dari Rudi dan Ben


Saat mengucek mata, ketiga pria itu sudah ingin memastikan nada sialan itu akan segera di musnahkan. Tapi saat sudah tersadar, mereka menelan ludah kasar melihat wanita tercinta mereka sudah berdiri dengan muka garang dan tangan di lipat di dada.


"Oh my god," batin Ben seram melihat tampilan istrinya cantik tapi untuk saat ini tidak ada kata itu lebih kayak hantu, ck.


Ketiganya seketika berdiri dan menghampiri ketiga wanita cantik. Arga perlahan memegang tangan istrinya


"Sayang, maaf. Aku ketiduran di sini."


"Hem," ucapnya berlalu meninggalkan ruangan.


"Mampus aku," gerutu Ben lalu mengejar istrinya


Sedangkan dua pria tampan tampak kucel itu juga menghampri wanitanya namun malah dapat jeweran.


"Aw, sayang," ringis Rudi di jewer oleh istrinya keluar dari ruangan


Sama  halnya dengan Rio, Rudi juga ikut dijewer keluar oleh istrinyam


"Aw, baby. Sakit tahu," gerutu Rudi  pada istrinya

__ADS_1


"Berisik."


__ADS_2