
"Baiklah bik, makasih. Beristirahatlah."
"Sama-sama, tuan."
Ben beralih ke ruang kerja dan menelpon asistennya Rudi.
"Rudi, kau cari tahu dimana lokasi Dewi."
"Siap, bos."
Kemudian Ben menyelesaikan pekerjaannya sedikit lalu kembali ke kamar. 15 menit, Ben naik ke lantai dua menuju kamarnya, ia membuka pintu lalu ikut menuju alam mimpi dengan istrinya.
"Aku mencintaimu sayang," peluk Ben pada Bebi lalu terlelap sampai pagi.
Pagi harinya, Bebi buru-buru bangun karena ia merasa mual. Ben mendengar suara gemricik air kamar mandi ia pun bangun. Dan nampaklah bidadarinya keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Ben terkejut lalu berlari menghampirinya.
"Sayang, kau kenapa, kamu sakit."
"Nggak, aku hanya sedikit pusing."
"Aku panggilkan dokter, ya."
"Nggak perlu, aku itu nggak sakit."
"Lalu."
"Ini, lihatlah," ucap Bebi sambil memberikan sebuah kotak merah pada suaminya dan Ben menerima
"Apa ini?"
"Bukalah."
Ben gugup membuka kotak dan ternyata isinya adalah sebuah tespek.
"Sayang, ini maksudnya-"
Bebi manggut-manggut lalu Ben memeluknya haru.
"Alhamdulillah, sayang. Ada junior disini."
"Nanti kita cari jadwal yang baik buat periksa kandunganmu sayang. Oh ya, kamu mau makan apa sayang."
"Sayang, kau ini berlebihan. Aku tak ingin apa-apa."
"Lalu, aku hanya diam aja saat istri hamil."
"Bukan begitu, nanti kalau pengen aku pasti ngomong."
"Oke. Kalau gitu, aku mandi dulu."
"Iya, aku siapkan bajunya."
"No, biar aku aja sayang. Kamu nggak boleh capek."
"Tapi."
"Sttt."
Bebi menghela nafas berat saat dirinya di larang capek oleh suaminya.
Usai mandi, terlihat ada dering telepon milik Ben tertera ada pangmilan dari Rudi.
"Iya halo, Rudi."
"Aku sudah tahu kebenarannya."
"Apakah wanita yang ku maksud."
"Iya."
"Cegah dia, jangan sampai ia lolos."
"Siap bos."
Ben menutup telpon lalu, menghampiri istri dan mengajak makan pagi bersama. Setelah 15 menit, Ben berpamitan pada istri.
"Hati-hati," ucap Ben dan mengecup kening istri
"Iya. Kamu juga."
Ben masuk ke dalam mobil sportnya lalu meluncur ke kantor. Tapi i sesampainya di sana, Ben beralih ke ruang bawah tanah. Di depan ruangan itu, ada Rudi menyambut Ben.
"Pagi bos," sapa Rudi menunduk
"Pagi. Semua aman?"
"Aman, bos."
"Baiklah, ayo masuk."
__ADS_1
Di dalam, nampak Dewi sudah diikat dan disumpal mulutnya dengan kain, Ben berjalan dengan tatapan mengerikan menuju Dewi.
"Kau tahu kesalahanmu, karena kau salah masuk rumah tanggaku, kau juga salah melawanku. Buka sumpal mulutnya!"
"Siap, bos."
"Apa maksudmu, Ben?"
"Katakan padaku, siapa yang ada di belakangmu, atau kau akan tahu akibatnya tengah berurusan denganku."
Dewi terkejut dengan ucapan Ben tapi dia memilih tak menjawab
"Oke, aku hitung. Jika dalam hitungan ketiga kau tak menjawab, jangan salahkan aku."
1
2
3
"Oke, aku jawab."
Ben tersenyum miring melihat wajah ketakutan Dewi.
"Siapa?"cerca Ben
"Tuan Devan."
"Brengsek, dia kenapa mengangguku."
"Dia kesal karena kau menolak tawaran kerjasama dengannya."
"Sial. Beri pelajaran buat wanita ini. Kalau perlu kau lempar ke kandang anjing."
Saat Ben akan keluar dari ruangan itu, Dewi memanggilnya.
"Ben maafkan aku," teriak Dewi tapi sialnya tak digubris
Ben tetap keluar dari ruangan dan ia mendengar jeritan gadis itu.
"Rudi, kita ke ruanganku."
"Baik bos."
Keduaya pun beralih menuju lift utama kantor, saat sampai di ruangan, ia sangat merindukan istrinya lalu menelpon.
"Aku di rumah sayang, ada apa?"
"Aku merindukanmu, apa kau tak emnginginkan sesuatu."
"Tak ada kalau makanan. Tapi aku merindukan Papa."
"Ya sudah, aku akan pulang. Kita ke makam ya."
"Beneran."
"Iya."
"Ya udah aku tutup , 15 menit aku sampai. Love you."
"Love you too."
Ben menutup telpon dan ia mengerjakan tugas sedikit lalu ia akan pulang. Usai mengerjakan semua, Ben pamit pada Rudi untuk masuk ke dalam ruangan.
"Rudi, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa kabari aku."
"Baik bos."
Saat akan keluar tiba-tiba Ben d serang sesorang hingga ua terhimpit dega dinding.
"Argh, kau. Mau apa hah," bentak Ben dengn suara lirihnya
"Kau kyrang ajar, Ben. Dimana putriku," ucapnya semakin menekan dada Ben
"Cih, putri sialanmu itu berusah menghancurkan keluatgaku, jadi aku pn punya pelajarn berharga baginya."
"Sialan kau."
Pria itu tengah baya itu di hempaskan balik oleh Rudi hingga terjatuh di lantai.
Bruk
"Argh. Brengsek kalian. Aku akan melaporkan kalian atas dugaan penculikan."
"Dan kau akan aku laporkan atas dugaan penggelapan uang."
"Rudi, panggil security buat ngusir tua bangka ini," suruh Ben
"Baik bos."
__ADS_1
Rudi memencet bel yang terhubung dengan bagian bawah, 5 menit kemudian, para security datang mengetuk.
Tok
Tok
"Masuk."
"Tolong, bawa tua bangka itu, pak. Kalau perlu panggilkan polisi."
"Baik, tuan."
"Ayo," ucap security sambil menarik tangan pria
tua itu.
Setelah kejadian itu,Ben memerintahkan memperketat apartemennya.
"Ya sudah, aku pulang dulu, Rudi."
"Baik bos, hati-hati."
"Iya."
Lagi dan lagi, saat ia akan melangkah kekayr langkahnya terhenti.
Seorang kurir mengetuk ruangan El membuatnya bingung.
"Permis tuan."
Sedangkan Arga menaikkan alis bingung, " Apa ini, pak?"
"Saya kurir mengantar pesanan dari nona Bebi untuk ada."
"Baik, terimakasih."
Ben menerima paperbag kiriman dari istri lalu, menelpon Bebi menanyakan.
"Halo syaang, apa kau mengirim seatu padaku."
"Iya dan tolong pakai sekarang juga."
"Apaan sih," gerutu Arga dan saat membuka isinya, ia menelan ludah kasarnya
"Sayang, kau tak bercanda kan?"
"Apa aku terlihat bercanda, sayang" ucap Bebi mengedipkan satu mata saat di video
Pikiran Ben ingin saja ia tenggelam, "Untung cantik."
"Kau bilang apa barusan, tuan Ben?"
"He ... he. Tak ada, sayang."
"Ayo buruan pakai sekarang juga."
"Sekarang sayang."
"Masak iya tahun depan, keburu udah lahiran kan aku," ucap sang istri dan duduk sambil memakan cemilan dan melihat suami
Ben menghela nafas berat lalu beranjak menuju ruang pribadinya, Arga menatap di cermin betapa malang nasibnya.
"Ya Tuhan, kenapa serba pink begini?" merutuki kebodohannya
"Seumur-umur hanya dia yang bikin seorang Ben malu seumur hidup. Untung sayang."
"Sayang, kau masih di sana bukan?"
"iya, liha nih aku pakai," Ben memaksa senyum
Bebi ingin tertawa tapi ia tahan samahalnya Rudi meliha bos nya menahan tawa.
"Diem, atau bonus aku potong," ancam Ben
"Sudah kan, aku pulang. Tunggu aku."
"Iya, inget jangan di copot."
"Iya sayangku."
Lalu, ia buru-buru masuk dan menutup lift nya
Usa bosnya tak terlihat, Rudi tertawa terpingkal-pingkal. Asisten itu berfikir apa jadinya saat sampaidi lobby.
Sedangkan Ben, percaya diri meski sesungguhnya ia ingin menutup wajahnya tapi demi istri, ia lakukan.
Saat akan masuk ke dalam mobil ada yang menyeletuknya.
"Astaga, kau Ben."
__ADS_1