Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Akan menunggu


__ADS_3

Anak buah Ben kini dikerahkan untuk mencari berita tentang Raka  kekasih Hilda tentang kebenaran berita tersebut. 15 menit kemudian, telepon Ben berdering ia melihat dari salah satu anak buahnya ia beranjak dari kursi dan keluar dari kamar putrinya.


"Halo, bagaimana?"


"Maaf tuan Ben, benar tentang kecelakaan pesawat itu dan daftar penumpang ada nama tuan Raka dari New york. Pihak maskapai juga menyarankan agar keluarga yang bersangkutan segera datang untuk tes dna."


"Baik terimakasih."


Ben menutup telepon dan menghela nafas berat, ia bingung menyampaikan berita duka ini pada putri kecilnya. Tak terasa air mata Ben menetes, melihat keadaan semua ini. Ia berfikir, apakah ini karma dulunya dia mempermainkan wanita.


Bebi yang baru saja keluar dari kamar putrinya mencari sang suami  tak ada  di depan pintu. Ia berjalan pelan saat mengetahui suaminya di balkon, ia terkejut pula suaminya terlihat menangis.


"Dad, kamu kenapa?" tanya Bebi cemas


Ben mendongak dan menghapus air matanya


.


"Maafin aku Mi, jika di masa lalu membuatmu kesusahan," ucapnya lirih


"Ngomong apa sih, Dad. Mami nggak mengingat itu lagi, Mami ikhlas dan semua sudah takdir yang kuasa. Sekarang cerita Dad, ada apa sebenarnya?" tutur Bebi pada suaminya yang terlihat kacau


"Berita tentang Raka, benar Mi. Daddy bingung caranya gimana memberitahu Hilda."


Saat Bebi akan menjawab terlihat ada yang menyenggol vas bunga dekat balkon dan itu membuat keduanya menoleh ternyata Hilda mendengar semua


"Hil ... Hilda," teriak Ara


"Biar Mami kejar dia, Dad."


"Mami  di sini, Daddy aja."


"Hati-hati."


Hilda turun dengan langkah cepat lalu keluar dari halamannya mencari taksi, Para penjaga sempat melarang tapi Hilda bersikukuh, akhirnya mereka membukakan pintu gerbang. Tak lama, taksi datang membawanya.


Sedangkan Ben berhenti di pos penjagaan.


"Tadi dia kearah mana?" tanya Ben pada penjaga rumahnya


"Kearah sana tuan," tunjuk nya


"Makasih."


"Sama-sama tuan."


Ben melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan maksimal mengejar putri kecilnya yang sedang mengandung 6 bulan itu. Ben begitu khawatir keadaan putrinya itu. Ben menepikan mobil sejenak, lalu berfikir kemana putrinya pergi, sekian menit akhirnya tahu kemana tujuan Hilda.


Tak sampai setengah jam, Ben sudah berada di bandara. Ia berlari mencari  putrinya dan menoleh kanan kiri, hingga ia melihat ada kerumunan. Ben mempercepat langkahnya dan  benar saja, putrinya pingsan.


"Saya bantu tuan " ucap seseorang menawari


"Baik terimakasih."


Ben membawa putrinya ke rumah sakit terdekat lalu dokter mulai memeriksanya. Orang yang tadinya ikut mengantar itu berpamitan.


Sementara Ben masih menunggu dokter keluar dari ruangan tersebut.  Selang beberapa menit barulah dokter keluar.

__ADS_1


"Maaf tuan, apakah anda keluarga pasien bernama Hilda."


"Iya saya, orangtuanya."


"Begini tuan, putri anda shock akibat masalah tertentu, saya sarankan untuk tidak menambah pikirannya alihkan ke suasana baru, untung bayi nya kuat, jadi saya berikan vitamin dan penguat kandungan untuk putri anda."


"Baik dokter terimakasih."


"Sama-sama, saya permisi dulu."


Setelah dokter itu pergi , Ben masuk ruangan putri nya. Nampak Hilda termenung lalu ia mulai berbicara.


"Hilda akan tetap menunggunya, Hilda yakin dia masih hidup."


Ben menatap putrinya dengan tatapan tak tega, ia menghela nafas berat mendekati putri memberi pelukan hangat untuk menenangkannya.


"Menangislah sayang. Daddy akan selalu untukmu. Daddy menyayangimu," ucapnya lembut sambil mengecup puncak kepala putrinya.


Tangis Hilda pun pecah saat ingat bagaimana selama ini hubungan mereka kucing-kucingan dengan Mama dari Raka.  Ia memeluk erat Daddy nya  tak lama ia tertidur sendiri. Ben memposisikan tidur Hilda dengan nyaman lalu ia keluar dari ruangan untuk memberitahu istrinya lewat telepon.


"Halo assalamualaikum Mi."


"Waalaikumsalam Dad. Bagaimana dia dimana?"


"Dia sempat pingsan lalu Daddy bawa ke rumhsakit sekarang. Nanti biar Marvel ngantar Mami ke rumahsakit ya."


"Iya Dad, hati-hati. Assalamulaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah menelpon istrinya kini beralih pada putranya Marvel.


"Waalaikumsalam nak. Kamu lagi dimana?"


"Marvel dan Kayla bersama twin lagi di Kafe ini Dad."


"Oh gitu, nanti kalau kamu udah nggak repot, jemput Mami antar ke rumahsakit. Nanti alamatnya Daddy kirim."


"Daddy sakit."


"Nggak  tapi adikmu Hilda. Udah nanti kamu kesini aja ya."


"Baik Dad. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ben menutup telponnya dan kembali ke ruangan putrinya, saat ia asyik mengecek laporan di laptop. Tiba-tiba, Hilda menjerit.


"Tidak. Kamu jangan pergi kak, aku mohon, hiks ... hiks."


Ben berlari mendekati putrinya menyadarkan lalu, memencet bel agar suster mendatangi.


"Sayang, bangun."


Hilda membuka mata melihat di depannya ada Daddy nya. Ia meneteskan air mata kembali, Hilda sadar bahwa ia benar kehilangan kekasihnya. Sesaat, suster datang menghampiri mereka.


"Selamat siang tuan. Ada yang bisa kami bantu."

__ADS_1


"Sus, putri saya mengigau."


"Baik, saya akan bertanya pda putri anda tuan."


"Hai nona, saya periksa dulu ya. Apa yang nona rasakan saat ini."


"Kehilangan."


Bem sontak menatap manik mata putrinya yang terlihat galau. Ia tak tahan dengan semua yang terjadi pada putrinya.


"Nah, nona saya sarankan maan yang bergizi dan jangan banyak pikiran kasihan baby anda."


Deg


Hilda baru teringat jika hal terpenting lagi yang harus ia nomer satukan yaitu buah hati yang ada di kandungan. Ia mengutuk diri sendiri melupakan bayi nya, ia bertekad akan berjuang demi buah hatinya dengan Raka.


"Baik sus, terimakasih."


"Sama-sama nona. Saya permisi nona, tuan."


"Iya sus."


Ben bahagia melihat raut wajah putrinya mulai sedikit berubah moodnya. Arga pun mendekat.


"Mau makan apa sayang, biar Daddy yang beliin."


"Aku mau bakso aja Dad, udah lama nggak makan itu terakhir bareng kak Raka."


"Ya udah Daddy belikan, ikhlasin semua sayang, kami ada untuk kamu. Kalau ikhlas pasti akan ada gantinya lebih baik."


"Baik Daddy, Hilda akan berusaha ikhlas," sambil menghela nafas berat.


Ben tersenyum dan beranjak dari sofa tapi saat akan membuka pintu untuk keluar bebarengan Bebi dan Ben baru saja datang.


"Hai Dad,"  Marvel cium tangan pada Ben bergantian Bebi istrinya.


"Hai Vel, Mi. Ayo masuk."


"Daddy mau kemana?" tanya Marvel


"Daddy mau beli pesenan adikmu."


"Hai Hil? gimana keadaanmu," tanya Marvel menuju brankar adeknya.


"Ya gini kak, kak Kayla nggak ikut."


"Nggak, dia jaga baby twin. Hil, tetap semangat ya."


"Makasih kak."


"Ini kakak bawain spesial buat kamu," ucap Marvel sambil memberikan satu box coklat kesukaannya.


"Makasih kak. Kau sungguh mengerti aku."


Tiba-tiba, muncul Dira membuat semua terkejut atas kedatangannya karena tanpa mengetuk terlebih dahulu dan memeluk Hilda.


"Hilda, kau ada yang sakit kah, yang mana?" tanya Dira nerocos

__ADS_1


"Astaga kau Dir, membuat jantung Mami mau copot. Ku kira tadi ada truk lewat," kekeh Bebi


"Ih Mami."


__ADS_2