Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Surprise Marvel dan Kayla


__ADS_3

Sahutan itu adalah Marvel yang baru saja keluar dari kantor.  Ia merangkul tubuh ramping istrinya.


"Lin, mulai sekarang kau dipecat. Lain kali jangan asal ngomong tanya dulu baru ngomong. Atitude mu tak ada sebagai karyawan sungguh disayangkan cuma nilai tinggi tapi otak nggak dipakai. Ayo sayang, kita pergi dari sampah tak bermoral itu," ajak Marvel pada istrinya dan menggandeng ke ruangan.


Resepsionis mendekat dan berucap, "Tahu rasa lo."


"Sial banget sih. Baru aja 2 hari kerja."


Lina bergegas pergi dari kantor wiliam grup. Sedangkan  Marvel dan Kayla kini di ruangan Marvel.


.


"Itu tadi siapa, karyawan baru."


"Iya dia sekretarisku, pengganti sementara kan sekretarisku yang lama melahirkan, sayang."


"Oh ya mau makan dimana?"


"Aku terserah kamu sayang."


"Jangan lupa bilang asistenmu dulu kalau mau makan."


"Siap bu bos."


Marvel mulai memencet nomor  di teleponnya.


"Halo, keruanganku Nal."


Marvel menutup telpon dan  tak lama ada ketukan dari pintu. Marvel membuka pintu otomatisnya hanya dengan remote kontrol.


"Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu."


"Aku tadi udah pecat Lina, jadi tugasku untukmu mencari sekretaris  lagi.  Dan juga besok aku cuti pulang ke Indonesia selama aku tinggal, kabari apa saja lewat email."


"Eh ya, kamu mau nggak makan bareng  kita, Nal," tanya Marvel pada Ronald asistennya.


"Oh tak usah bos, saya makan di kantin."


"Baiklah, aku pergi dulu."


Marvel menggandeng tangan halus istri  masuk dalam mobil, menuju kafe terdekat. Disana Marvel tak sengaja bertemu dengan mantan kekasih abal-abalnya waktu SMA.


"Marvel kan," sapa Mira.


"Iya, ada apa?"


"Kau tak beda meski udah berumur, kau tetap tampan."


"Kalau mau muji sono ke laut, aku ogah dengar bualanmu, dasar tak berubah sudah bau tanah juga."


"Hei, Vel berhenti. Brengsek lo ya ngatain aku!" teriak Mira tapi tak digubris Marvel.


Kayla tertawa geli lalu bertanya  suami saat duduk di depannya.


"Ehem, seneng ya. Habis ketemu cewek."


"Hah cewek, bau tanah iya."


"Hei sayang, kau tak boleh menghinanya."


"Lalu, aku  harus menyanjung nya, sayang."


"Ya nggak gitu juga kali."


"Uda ah jangan bahas nggak penting. Oh ya, gimana Arthur."


"Kata Mami nggak pernah pulang, kerjaannya cuma dikantor aja."

__ADS_1


"Menyedihkan."


"Sama kayak kau."


"Loh kok bisa sayang."


"Nggak ingat kayak orang gila pas aku melahirkan."


Marvel ingat lalu, menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia jadi malu mengingat itu.


Setelah makan siang bersama, Marvel dan Kayla memutuskan melihat putrinya  Sha di butik. Dari depan terlihat sepi, Marvel turun untuk melihatnya.


Saat akan membuka pintu, Marvel terkejut ada lelaki lemah gemulai menyapanya.


"Hai ... hai tuan tampan, Daddy nya Sha. Pasti mau cari Sha ya."


"Astaga kau mengagetkan ku aja Fera."


"Hi.. hiii... maaf tuan, aduh eyke kan jadi malu. Mari masuk tuan, nyonya mana nggak ikut."


"Ada di mobil, bentar aku panggil kamu masuk aja. Bikin jantungan aja kau."


"Iya tuan, maaf," ucap Fera dan berjalan berlenggak lenggok kembali ke ruangannya.


Marvel bergidik ngeri untung tadi tak sampai mencium bibir jelek Fera karena terkejut di depannya.


"Sayang, ayo."


"Sha mana?"


"Sedang keluar bentar. Kita tunggu di dalem aja."


Kayla mengangguk dan masuk kedalam butik, di sana Fera menyambutnya kembali.


"Hai nyonya cantik secantik Fera yang tiada tandingannya dunia akhirat. Hee..."


"Sha lagi beli keperluan butik katanya dia besok mau cuti ya."


"Iya. Emang ada orderan Fer."


"Iya ada nyonya, lumayan ada 3 gaun pengantin."


"Syukurlah."


Tak lama gadis cantik itu masuk terkejut ada orangtuanya.


"Mommy, Daddy. Udah lama."


"Lama, gara-gara lalatmu ini nggak pergi-pergi," celetuk Marvel membuat Kayla menyenggolnya agar tak sembarang becandanya.


"Apaan sih sayang."


"Lihat tuh kasihan dia," bisik Kayla menunjuk wajah Fera melengos.


"Hahaaahaa dasar gila kau, Fer. Gitu aja ngambek."


"Fer, kamu masuk aja ke dalem aja. Nanti darah tinggi loh," ucap Sha


Setelah Fera pergi, Marvel makin ketawa keras membuat Kayla menempelkan tangannya di dahi.


"Tak panas. Kamu lah minum obatkah sayang," tanya Kayla pada suaminya.


"Kamu menyebalkan sayang."


"Ih kenapa kalian kesini malah sayang-sayangan sih. Jadi iri," ucap Sha sebal.


"Hahahhaha nanti juga kamu ngerasain sendiri sayang. Nggak usah cemburu."

__ADS_1


"Tahu ah," Sha berlalu.


Di perusahaan Baratawijaya grup Indonesia,


Dimas kesal sahabatnya tak berubah. Akhirnya menarik Arthur untuk nongkrong di kafe milik Arthur. Arthur baru sadar jika ia sudah lama tak pernah mengunjungi tempat ini, hingga terlihat asing.


Arthur tersenyum lalu menghampiri meja bar miliknya.


"Malam tuan, mau saya buatkan minuman dingin menyegarkan agar suasana jadi sejuk," bartender menawari.


"Boleh, dua ya. Maafkan saya tak pernah kesini."


"Kami tahu anda sibuk tuan."


"Terima kasih, pengertiannya. Oh ya ini bonus untuk kalian," Arthur memberikan sebuah amplop berisi uang untuk karyawannya.


"Terimakasih tuan."


"Iya."


Sekitar diajak  Arthur berada di kafe miliknya setelah itu, Dimas mengajak untuk beristirahat di apartemennya saja karena sudah pagi.


Pagi sekali, Arthur bangun bersama Dimas dan berangkat bersama mereka tak tahu bakal ada kejutan besar di kantornya. Di perjalanan, Dimas mengajak Arthur untuk sarapan dahulu karena perutnya tak bisa diajak kompromi.


"Berhenti disitu Arthur, kita makan dulu."


"Huh, iya."


Arthur menepikan mobil dan berhenti tak jauh dari penjual bubur ayam tersebut. Semua mata memandang kearah mereka karena tak  biasa orang kaya mau makan sembarangan di pinggir jalan.


Kedua lelaki tampan itu menjadi pusat perhatian tatkala memesan bubur.


"Pak, buburnya dua ya. Sama teh anget."


"Baik tuan."


Tak lama bubur untuk mereka jadi, saat mereka menikmati makan, sorotan mata tertuju pada mereka. Arthur menjadi tak enak jika dipandang seperti itu. Ia buru-buru mengajak Dimas untuk pergi.


"Ayo Dim."


"Pak, uangnya ini ya," teriak Dimas.


"Terimakasih tuan."


Arthur dan Dimas masuk mobil dan melajukan ke kantor. Tak butuh lama mobil sport warna biru milik Arthur sudah berada di depan loby.


"Ini Pak," memberikan kunci mobil pada petugas parkir agar di parkirkan.


"Baik tuan."


Arthur dan Dimas masuk ke dalam kantor, mereka adalah idola baru karyawan Baratawijaya grup setelah Marvel dan Ben. Maka tak jarang  para karyawan terutama cewek lajang jika selalu ingin tampil sempurna dihadapan bos nya.


"Makin hari makin keren aja bos kita."


"Sumpah bikin nggak bisa tidur."


"Dasar tukang halu."


Akhirnya dua pria tampan itu sudah di depan ruangan, Arthur heran  kenapa ruangannya sudah terbuka ia buru-buru masuk.


"Surprise."


"Kalian."


"Waw, sungguh mengejutkan," celetuk Dimas.


"Hahahahha, kak Dimas terkejut tapi si kulkas santai aja," Sha heran

__ADS_1


__ADS_2