
"Jessi," sapa Viona dengan mengalungkan tangannya di lengan Rendra.
Rendra menatap wajah Jessi terlihat seperti menyimpan kesedihan berusaha pura-pura tidak tahu. Entah mengapa perasaan Rendra begitu terluka saat wajah cantik nampak sayu.
"Em, hai. Kalian belanja juga," Jessi berusaha tenang
"Iya, Jes. Mau bareng nggak."
"Oh maaf Vio, aku udah bareng seseorang. Duluan ya," pamit Jessi
"Oh ya sampai jumpa."
Jessi sungguh sakit melihat pemandangan tersebut, ia mengusap air matanya, agar keponakan tidak tahu. Dan benar saja dua keponakan datang menghampirinya
"Tante. Udah kan."
"Udah Ben, Xel. Ayo pulang atau mampir makan dulu."
"Boleh."
Ketiganya pun ke kasir dan membayarnya , usai itu menikmati makan siang bersama di kafe.
"Tante, Om Rendra kok nggak ikut Tante ke rumah."
"Oh, Om Rendra lagi sibuk, Ben."
"Sibuk. Sibuk itukah, Tante," Ben tunjuk seseorang di sebrang kafe dan ternyata itu adalah Rendra bersama Viona terlihat mesra.
Seketika Jessi mengelak dengan wajah masih tenang.
"Itu temennya Ben, Tante kenal kok."
"Oh begitu tapi wajah Tante kenapa berbohong."
"Hei anak kecil sok tahu banget, udah selesai belum makannya."
"He... Udah kok Tante. Come on."
"Yuhu."
Ketiganya pun meluncur ke mansion Baratawijaya, sampai di sana mereka terkejut mendapati Rendra di rumah.
"Kamu."
"Om."
"Hai."
"Mau ketemu kak Brian " tanya Jessi
"Tidak, aku mau ketemu Kamu, Jes."
"Untuk?"
Axel dan Ben melihat ada sesuatu, mereka berpamitan.
"Kita ke dalam dulu, Om, Tante."
"Iya."
"Duduklah."
"Makasih."
"Aku mau ngasih ini untukmu," Rendra memberikan sebuah undangan pada Jessi
"Ini undangan kalian," tanya Jessi gelagapan
"Em, nanti kau baca ya. Aku boleh peluk nggak."
"Maaf, Ren."
"Oke baiklah, aku pamit ya. Salam buat kakak."
"Iya."
Setelah kepergian Rendra, air mata Jessi tumpah. Ia tak sanggup jika harus membuka undangan tersebut. Saat ia meletakkan undangan sekilas, Jessi melihat namanya di situ lalu membacanya.
"Jessi dan Rendra."
Jessi kemudian membacanya seksama dan berteriak.
"Sialan kau Rendra," teriaknya membuat semua penghuni terkejut dan menghampirinya
"Jes, ada apa?" tanya Ayunda
"Aku kesal kak, dia ngerjain aku," rengek Jessi pada Ayu
"Siapa?"
"Rendra."
"Tapi kan dia sayang dan tulus mencintaimu."
"Iya kak, aku pikir bakal kehilangan dia."
Dari belakang mereka, muncul sahutan
__ADS_1
"Tak kan terjadi."
Kedua perempuan itu menoleh ke arah suara tersebut.
"Rendra."
"Eits, belum ada peluk-peluk sebelum halal," Ayunda mengingatkan
"He.. Kak Ayu tahu aja," Jessi cekikikan
"Dasar kau ya, sekarang kalian makanlah dulu."
"Baik kak."
"Kau kalau soal makan nomer satu, Jes."
"Hahahahaha, kakak tahu aja."
Jessi dan Rendra makan lebih dulu, setelah itu mereka melanjutkan debat.
"Kenapa kau menyebalkan sih."
"Tapi ngangenin kan."
"Ih, percaya diri sekali anda tuan Rendra."
Tak lama, terdengar suara gaduh di halaman mansion.
"Ih apaan sih, ribut banget."
"Ayo kita lihat."
Dan saat keluar, di depan rumah dan ada rombongan keluarga Rendra.
"Hah, apaan sih, Ren," tanya Jessi sambil mencubit tangan Rendra
"Aw, sayang sakit."
"Itu ngapain kakek."
"Mana ku tau, sayang."
Leo sengaja membawa rombongan untuk hal tertentu.
"Hai Jessi," spaa Leo
"Hai Kakek, kenapa ramai sekali kakek."
"Nanti kau juga tahu, mana tuan Brian."
"Masih di kantor."
"Penting banget ya, kakek."
"Iya Jes, kalau nggak. Kakek nggak akan nyuruh."
"Baiklah, Jessi telpon dulu."
Jessi mulai memencet nomor dan menghubungi Brian
"Halo, assalamualaikum Kak."
"Waalaikumsalam Jes, ada apa?"
"Begini kak, ada kakek Rendra kerumah. Bisakah kakak pulang, mau ada yang dibicarakan katanya penting."
"Oke baiklah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Brian menutup telpon dan memanggil Kohan.
"Ada apa bos?"
"Aku pulang dulu, ada tamu di rumah."
"Baiklah, hati-hati."
"Oke, kalau ada apa-apa kabari aku."
"Iya."
Brian turun ke bawah dan segera meluncur ke mansionnya. Saat tiba di mansion, ia terkejut banyak mobil terparkir di halaman. Brian turun dari mobil dan berjalan cepat masuk rumah.
"Assalamualaikum."
"Waaalaikumsalam."
Brian nampak terkejut Leo beserta keluarganya datang, ia pun menghampiri pria 65 tahun itu .
"Selamat siang tuan Leo," sapa Brian dan mengulurkan tangan bersalaman
"Selamat siang tuan Brian, maaf mengganggu anda."
"Tak masalah, silahkan duduk. Mohon maaf ini ada apa ya berkumpul semua?"
"Begini tuan Brian, saya sebagai keuarga dsri Rendra ingin meminangkan Jessi untuk Rendra."
__ADS_1
Seketika Jessi terbatum-batuk mendnegakannya
Uhuk.. Uhuk..
"Jes, kau tak apa," tanya Ayunda
"A-aku minum dulu, permisi," Jessi berlari menuju ryamg amkan emngambil air putih di susil Tendra
"Huh, astaga jantungku."
Rendra menyahuti omongannya
"Ada apa dengan jantungmu, sayang."
"Astaga, Rendra. Kmqu malah kayak hantu aja."
"Hahhahahha ka penakut juga."
"Nggak, siapa yang bilang," elak Jessi
"Iya-iya, ayo kembali ke ruang tamu."
"Iya."
Mereka kembali ke ruang tamu dan duduk. Usai sepakat kedua pihak keluarga.
"Jadi bagaimana Jessi kau menerima Rendra?" tanya Brian
"Iya, aku terima."
"Iyes, yuhuu. Kawin.. Kawin," teriak reflek Rendra membuat semua tertawa.
"Astaga, kau ini bikin malu aja bocah tengil," gerutu Leo
Brian dan Ayunda bahagia akhirnya Jessi menemukan cinta yang sesungguhnya.
Seminggu sebelum acara sakral Rendra dan Jessi, calon pengantin wanita harus di rawat do rumahsakit karrnaakecapekan dan stress meuju hari bahagia.
"Ayo syaang, minum obatnya," Rendra membujuk wanita kesayangannya
"Nggak mau, pahit."
"Mana ada obat manis sayang, itu kalau manis namanya sirup."
"Pokoknya tak mau," ucapnya sambil bersidekap
Dan tak lama terdengar suara gaduh dan mulai masuk ke ruangan.
"Hai-hai. Kenapa pada diem," tanya Ben
"Hah, sudah ku kira biang keladinya datang," gerutu Jessi
"Tapi kalau nggak ada kita, Tante kangen kan."
"Percaya sekali kau anak genius."
"Kok malah ribut, ayo sayang minum dulu obatnya."
"Hah, jadi belum obat,"tanya Axel
"Belum Xel. Makanya Om bingung membujuknya, apa kalian ada ide."
"Aku tahu," Ben pun membisikkan pada Axel.
"Tante masih nggak mau minum obatnya, ya sudah aku kasih ini mau," Axel menunjukkan mainan kecoak pada Jessi
"Aaaa, kecoak sialan," teriak Jessi sambil menutup mata
Ben dan Axel tertawa kompak, " Haahahahah, lucu Tante."
"Jadi mau minum obat atau di kasih kecoak, sayang."
Jessi yang geli dengan kecoak akhirnya mengiyakan
"Iya, aku minum tapi kasih gulanya juga."
"Iya sayang, bentar. Ben, tolong ambil itu teh nya ya."
"Siap bos."
Dan Jessi sudah meminumnya , tak lama terdengar dering ponsel Rendra.
"Siapa sayang," tanya Jessi
"Viona."
"Ya udah angkat aja."
"Oke."
"Ya halo Vi, ada apa?"
"Kamu dimana, Ren, aku minta tolong bisa nggak."
"Aku di rumahsakit, maaf aku nggak bisa."
"Ya sudah, salam buat Jessi."
__ADS_1
"Oke."
Rendra menutup telponnya lalu mengecek video yang masuk, ia terkejut di dalam video itu adalah seseorang.