
Ben memacu kendaraannya menuju rumahsakit dengan kecepatan penuh. Rudi dan Rio berpegangan erat.
"Hei, bos. Aku masih doyan nasi," teriak Rudi ketakutan sambil memegang erat knop pintu mobil
"Hei tuan laknat, kau pelankan mobilnya. Aku masih sayang anak istri," cibir Rio tak kalah seru
Ben menggeleng kepala malas melihat dua sahabatnya ketakutan dan tak lama mobil mewah sudah berhenti di rumahsakit. Kedua sahabat buru-buru turun dan
Howek ... howek
Ben tersenyum tipis melihat keduanya muntah bareng, sungguh menjijikkan bagi Ben. Ben secepat kilat meninggalkan mereka berdua, kedua pria yang lemas tak lama sadar bahwa di rumahsakit tempat Reyhan. Saat mengusap bekas muntahan, tiba-tiba ada celetukan.
"Gila ya, jaman gini ada yang masih mabuk."
"Iya, ganteng-ganteng mabuk."
Rudi dan Rio malu sejadi-jadinya apa kata karyawan B jika ada yang tahu asisten mabuk. Ia baru kali ini dikatain seperti itu sungguh membuat pamornya anjlok.
Mereka berdua berlari saat sampai di depan ruangan Ferry nampak pemandangan tak biasa terjadi. Rudi dan Riotersenyum melihat Ben kembali bersama Ferry. Mereka berdua memberanikan diri mengetuk pintu.
"Masuklah," suruh Rika
"Waw, kau sungguh baik tuan," celetuk Rio mengulas senyuman
"Cih, siapa yang kau bilang."
"Kaulah."
Ben tersenyum miring tak menghiraukan.
"Lalu, bagaimana Rika?" tanya Rudi pada semua
"Aku akan menyerahkan diri," ucap lirih dan menunduk
"Keputusan ada di tangan istriku."
"Aku balik dulu, besok pagi aku balik ke Indo," menepui bahu Ferry
Ferry tersenyum mengangguk, " Hati-hati. Terimakasih bro."
Ketiganya kembali ke mansion Ben, Setelah kepergian mereka. Ferry menyuruh Rika duduk di dekatnya.
"Sayang, kesinilah," ucap lembut menepuk ranjang
"Ada apa?"
"Apa kamu mau minta maaf pada istri Ben."
Rika merasa ragu jika Bebi bakal memberikan maaf padanya, ia terlalu takut menghadapi kenyataan. Ferry melihat raut kecemasan di mata kekasihnya.
"Sayang, kau tahu istri Bebi. Dia baik, tak mungkin ia tak memaafkanmu, jadi aku antar kamu minta maaf agar kamu bisa bebas dan setelah itu aku akan menikahimu."
"Kau tak becanda kan, Fer."
"Wajahku terlihat becanda kah, sayang?"
Rika menggeleng pelan, lalu ia mengangguk menyetujui pendapat Ferry. Ferry lega masalahnya dengan Ben sahabatnya sudah clear dan satu lagi kebahagiaannya bisa mendapatkan wanita yang dulu ia cintai. Tinggal satu yang harus ia dapatkan dukungan yaitu dari istri Ben, Bebi.
Tak lama, ketiga pria tampan itu sudah berada di mansion. Ben melihat para wanita duduk manis melihat drakor kesayangan. Ketiga pria itu saling tatap lalu duduk di sebelah wanitanya masing-masing terkecuali Axel yang sedari tai nempel kayak perangko dengan Rina.
"Astaga Sayang, kau mengagetkanku."
"Iya kalian ini udah kayak hantu," gerutu Hesti
"Bukan Hantu tapi Gost rider," celetuk Wina tak kalah sengit
__ADS_1
Ketiga pria itu saling senyum lalu menggendong para istri bak bridal style menuju kamar. Para istri terkejut perlakuan tak biasa dari suami.
"Oh no, drakorku," teriak Bebi tak dihiraukan Ben
Sampai di kamar, Ben mendudukkan istri di tepi ranjang.
"Sayang, kita besok pagi balik ya."
"Beneran," tanya Ben kegirangan
"Sepertinya kau bahagia sekali, sayang?" tanya menyelidik
"Aku kangen Papa, kita lupatak wmngunjungi makamnya. Jangan begitu wajahnya."
"Oh begitu, aku kira ada."
Ucapan Ben terpotong malah dapat sambaran dari bibir manis Bebi, Ben terbelalak melihat kelakuan istri mulai berani padanya. Ben tak mau menyiakan kesempatan akhirnya malah memperdalam ciuman mereka hingga merasakan ******* nikmat dari bibir istrinya.
"Eughh, sayang."
"Kau selalu candu buatku sayang, desahanmu sungguh sexy," bisik Ben pada telinga Bebi membuatnya semakin merinding
Ben menelusuri setiap inci tubuh istrinya, sungguh bahagia nikmat tak ada tara bisa memiliki istri seperti Bebi. Pergulatan mereka berlangsung selama satu jam, Ben juga melakukannya dengan hati-hati ia ingat ada nyawa yang harus ia lindungi.
Mereka mengakhiri dengan kecupan manis, Ben mengecup hidung, mata, bibir istrinya. Ben dan Bebi terlelap
....
Pukul 5 pagi, Ferry yang sudah baik mengajak Rika untuk segera menemui Bebi. Ferry melihat Rika duduk tampak gelisah. Ia tersenyum lalau menyemangati kekasihnya.
"Kau tenang, ada aku."
Rika tersenyum mengangguk lalu ia bangkit dari duduknya. Ia berusaha setenang mungkin, ia merasa ini karma baginya.
Tak lama, mobil Ferry sudah ada di halaman mansion Ben. Rika terbelalak melihat mansion Ben begitu besar dan luas mirip negeri dongeng. Ferry tersenyum menggandeng tangan Rika berjalan menuju mansion. Saat memencet bel dibukalah oleh maid.
"Pagi tuan, maaf dengan tuan siapa?"
"Saya Ferry."
"Baiklah tuan, saya panggil tuan Ben dahulu. Silahkan duduk."
"Terimakasih."
Maid buru-buru naik dan mengetuk pintu kamar bosnya
Tok
Tok
"Iya bik."
"Oh nona muda. Maaf mengganggu."
"Ada apa bik?"
"Ada tamu, nona muda. "
"Hah, siapa kesini sepagi ini bik."
"Katanya tuan Ferry, nona muda."
"Ferry. Baiklah suruh tunggu ya."
"Baik nona."
__ADS_1
Bebi menutup pintu tapi saat berbalik badan, ia terkejut ada Ben muncul di depannya.
"Aaaaa," jerit Bebi lalu dibungkam oleh Ben agar tak berteriak
Ben lalu membuka bekapan dan sang istri mengomelinya
"Kau itu mau buat aku mati mendadak, hah," ucap Bebi sebal
"He ... he. Maaf sayang. Tapi aku pengen becanda aja."
"Becandanya kelewatan, hantu."
"Ganteng gini dikatain hantu sih, sayang," rengek Ben manja
"Hadeh, terserahlah kau tuan muda. Udah sana mandi, ada Ferry kesini."
"Iya-iya," ucap Ben dan berjalan menuju kamar mandi tapi terhenti karena Bebi memanggilnya kembali
"Oh ya tunggu. Ada apa kamu dengan Ferry, sayang. Awas aja jika kau macam-macam," ancam Bebi menatap Ben tajam.
Ben seketika menelan ludah kasar, dan berusaha tersenyum lalu mengangguk.
Tak berapa lama, Ben sudah rapi dan turun menemui Ferry. Di ruang tamu, ternyata ada Rudi, Rio dan juga Axel sedang berbincang pada Ferry.
"Maaf tuan muda, mengganggu sepagi ini."
"Sangatlah mengganggu. Ada apa kau kesini, aku mau balik ke Indo."
"Tunggu, ada sesuatu aku mau sampaikan. ini mengenai."
Ucapan Ferry terhenti lalu melirik wanita cantik di sampingnya. Ben mengetahui maksud Ferry lalu, menimpalinya.
"Udah, langsung aja ngomongnya, Fer."
"Aku ingin bertemu Bebi, Ben," ucap Rika menunduk sambil meremas jemarinya karena tegang
Tiba-tiba, ada seruan dari belakang Ben
"Ada apa mencariku?" ucap Bebi sambil berjalan dan belum sadar ada seseorang menghancurkannya dulu. Ucapan Bebi seketika membuat Rika dan yang lain mendongak menatap bergantian
Bebi berhenti tepat disamping Ben, lalu ia tersadar saat mata cantik itu memandang wajah tak asing di depannya.
"Kau," tunjuk Bebi pada Rika
Rika yang ditunjuk menelan ludah kasar lalu ia beranjak berjalan mendekati Bebi
"A-aku Rika. kau masih ingat bukan, Bebi," ucapnya lirih dan ketakutan
Bebi masih tak bergeming, ia hanya terkejut ada wanita yang dulu ingin merebut suaminya. Betapa kesalnya ia di culik wanita itu dan akan diperkosa orang-orangnya. Tak terasa air mata Bebi menetes dipipi mulusnya, Ben menoleh dan memegang erat tangan istrinya. Ben tahu Bebi mengingat kejadian itu. Ben ingin mengelap air mata istrinya tapi ditepis Babi. Ia malahan maju mendekati Rika.
Plak
Rika di tampar oleh Bebi membuat nya terhuyun dan dibantu Ferry, Ferry ingin membalas tapi di cegah oleh Rudi dan Rio.
"Kau tahu karna perbuatanmu aku hampir kehilangan janinku. Dan sekarang kau ingin mengambil suamiku. Jangan harap!" cerca Bebi
"Bebi, maafkan aku. Aku dulu khilaf, tapi sekarang aku ingin minta maaf, aku akan menebus kesalahanku padamu dulu," Rika sesegukkan
"Bagaimana kalau aku minta nyawamu?" ancam Bebi
"Silahkan."
"Rik," ucap Ferry menggeleng
"Biarkan, Fer."
__ADS_1
Bebi merogoh pistol di saku celana belakangnya, Ben terkejut istrinya menyimpan senjata api itu. Bebi menodongkan senjata itu di dahi Rika
"Aku memaafkanmu."