
"Kenzi."
Kayla terkejut mendengar nama itu, kini ia mulai melemah dan melepas tubuh lelaki itu lalu teruduk lemas sambil menyender dinding. Arthur dan Sha melihat Mommy nya terlihat menahan luka mendekatinya.
"Mom, angun. Hiks ..."
"Mom, angun ," Sha mencoba menyadarkan Mommy nya
Kayla sempat senyum lalu berbicara, "Mbak jaga twin, aw."
"Nona, sadar nona," Rara mencoba menyadarkan
Tak lama, Kayla sudah dibawa beberapa anak buah Marvel ke rumahsakit dan kini wanita cantik itu akan operasi pencabutan pisau dipunggungnya.
Marvel yang baru saja datang, meraung-raung di depan ruangan operasi, Will , Leo dan Revan sampek kewalahan. Bebi melihat putranya kacau untuk kedua kali, tak tega melihatnya ia mengajak Ben untuk membawa Marvel agar di beri suntik penenang.
"Dokter bawa putra saya, saya minta dikasih penenang, saya tak tega melihatnya."
"Baik tuan."
Beberapa perawat dan anak buah membawa Marvel dengan posisi diikat agar ia tak berontak. Setelah mendapat suntikan penenang. Dan tak lama, ia akhirnya bisa diam dan tidur. Semua merasa lega , karena Marvel begitu shock saat tahu istrinya di tusuk.
......
Di ruang operasi, ada 5 dokter yang mengoperasi pengangkatan pisau dipunggung Kayla, mereka berusaha agar tak membuat nyawa melayang. Operasi berjalan lancar dan berlangsung selama 4 jam lamanya. Kini Kayla masih di ruang icu untuk perawatan lebih baik. Salah satu dokter yang menangani Kayla pun keluar ruangan dan memberitahu pada pihak keluarga.
"Selamat malam tuan, nyonya. Saya dokter bedah yang ikut operasi nona Kayla. Operasi berjalan lancar, tapi kemungkinan bangun hanya 30 persen karena nona kehilangan banyak darah.
"Semoga ada keajaiban," tambahnya
"Terimakasih dokter," Ben sambil mengusap wajahnya kasar
Bebi semakin menangis mendengar keadaan menantunya, para sahabat ikut larut dalam kesedihan. Ben bingung bagaimana menyampaikan pada putranya.
Ben mencoba menenangkan istrinya dulu, baru ia akan memikirkan jalan keluarnya. Hilda mendekati Mami nya agar Daddy menyelesaikan masalahnya.
"Pergilah Dad, cari siapa dalangnya " tutur Hilda yang sedari tadi tak kuat menahan tangis dan tumpah memeluk Mami nya.
"Baiklah, jaga Mami."
"Kami ikut, Om," Willi dan sahabat lain Marvel
Ben mengangguk, kemudian yang lain mengikuti Ben kemana langkah Ben. Di mobil, Ben yang sudah sedari tadi geram ia menyingsingkan lengan kemejanya lalu memgambil pistol di saku jas.
"Oke, mari kita bermain-main."
Ben memacu kendaraan sportnya menuju tempat target yang dipastikan tempat orang mencoba membunuh Kayla. Tak buth waktu lama, Ben dan sahabat Marvel sudah berada di halaman rumah agak besar. Ia mulai menghampiri penjaganya.
"Siang pak, ada rektor Aji."
"Maaf anda siapa ya, tuan."
"Saya Ben , bilang seperti itu."
"Oh ya tuan tunggu saya tanya sebentar."
Ben mengangguk sesaat penjaga membuka gerbang pintu rumah, rombongan 4 mobil itu pun masuk. Penjaga itu melongo dibuatnya karena mobil mereka tergolong mewah dan berkelas. Saat sudah terparkir di depan rumah, Ben mengajak Raka saja dan yang lain ia suruh tunggu.
"Nanti kalau ada apa-apa aku telpon kamu, Wil."
__ADS_1
"Baik Om."
"Ayo, Ka."
Raka mengangguk dan mereka berdua mulai memencet bel. Dan terbukalah oleh asisten rumah tangga.
"Silahkan duduk, tuan."
"Terimakasih."
Tak menyangka yang ia cari muncul turun dari tangga dengan santainya. Ben pun seketika menodongkan pistol di depan lelaki itu.
"Ada apa ini?" tanya Kenzi bingung
"Kau tak kenal aku, anak muda."
"Apakah anda tuan Ben."
"Tepat sekali."
"Ada apa tuan? kenapa menodongkan senjata pada saya."
"Karena menantuku."
"Maksudnya tuan, menantu anda siapa?"
"Kayla. Kau berusaha membunuhnya kan, dan sekarang ia melawan maut, aku tahu itu semua kau yang melakukannya."
"Mana buktinya jika aku pelaku Penusukan itu."
Ben menyeringai dan semakin mendekat, " Bagaimana kau tahu, kalau Kayla tertusuk."
"Jawab jujur atau akan aku ratakan rumah serta dirimu, itu pengecut," bentak Ben membuat nyali Kenzi menciut
Dan akhirya Ben mengeluarkan tembakan peringatan.
Dor
"Saya mohon ampun, tuan. Saya memang otak dari perencanaan pembunuhan, saya kesal pada putra anda selalu menang apapun dari saya. Saya juga mencintai menantu anda Kayla, meski ia sudah bersuami."
"Dasar lelaki pengecut, kau hanya berani menyewa orang untuk melukai, Dasar pecundang, kau pantas mati."
Tiba-tiba, ada pria paruh baya dari tangga menimpali.
"Ada apa ini tuan-tuan."
"Putra anda membuat kesalahan fatal, dia berusaha membunuh menantu saya. Saya akan melaporkan pada pihak berwajib tapi kalau anda berusaha membantunya keluar, saya tak segan membunuhnya sekarang juga."
"Tenang tuan Ben, kita bisa bicara baik-baik."
Kenzi melirik sekilas lalu ia mencoba lari, tapi sayangnya ia kalah cepat dengan tembakan Ben.
Dor
"Aw."
Tembakan tepat di kaki Kenzi dan membuatnya pincang. Aji melihat putranya berjalan mendekat.
"Tuan, maafkan putra saya."
__ADS_1
"Tak ada maaf buat pecundang. Oh ya tunggu para pihak kepolisian akan membawanya."
Dan masuklah segerombolan petugas kepolisian dan wartawan masuk. Ben dan Raka keluar tanpa memberi jawaban pertanyaan dari para pencari berita tersebut.
Ben dan yang lain kembali memacu kendaraan menuju rumahsakit, sampai di sana mereka terkejut banyak yang menangis. Ben berlari mendekat diikuti yang lain.
"Ada apa Mi."
"Kayla kritis, Dad."
"Apa!" pekik Ben
"Sabar Mi, doakan terbaik untuk Kayla."
"Terbaik apa," tiba-tiba seseorang menimpalinya
"Mar-marvel," ucap kompak semua
"Mi, ada apa?"
"Itu, Kayla kritis."
Marvel terduduk lemas lalu ia ingat jika Kenzi pasti penyebabnya, ia berlari keluar rumahsakit dan memacu kendaraan menuju tempat yang dituju. Willi dan yang lain mengikuti Marvel takut hal yang tak diinginkan karena sedang dalam keadaan kacau.
Tak sampai setengah jam, Marvel sudah di depan rumah Kenzi.
"Pak Kenzi ada."
"Maaf aden siapa."
"Saya teman kuliahnya."
"Aden Kenzi berada di rutan baru saja dibawa pihak kepolisian."
"Baiklah, makasih pak."
Saat Alden akan masuk mobil, Willi memanggilnya.
"Biar aku yang nyetir, Vel."
Marvel mengangguk dan segera masuk mobil, mereka mengemudikan maksimal menuju rutan. Tak lama, Marvel keluar dari mobil dan berlari menuju ruangan lelaki sialan itu.
"Brengsek!"
"Pak, buka pintunya."
"Baik tuan."
Marvel pun meluncurkan bogeman berkali-kali hingga Kenzi tak sadarkan diri. Para sahabat mencoba melerai Marvel namun tak di indahkan ia membabi buta Kenzi hingga sekarat. Dan setelah puas melihat Kenzi tak berdaya, Marvel kembali ke rumah sakit bersama para sahabatnya.
Di rumahsakit
, Mami Bebi dan Ben saling berpelukan menguatkan satu sama lain, Ferry pun sama dengan Sinta. Sahabat Kayla juga ikut merasakan kesedihan mendalam dengan musibah menimpa.
Marvel baru saja tiba, meihat semua menangis semakin ketakutan dengan yang dipikirkan.
"Mi, Dad. Ada apa kalian menangis?"
"Vel, yang sabar ya nak."
__ADS_1
"Maksudnya Mi, nggak ... nggak mungkin kan Mi," mulai sesegukan