Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Terkejut


__ADS_3

Sosok itu adalah Jessi, turun dari mobil dan berjalan ke arah Rendra.


"Ren, kenapa kau disini."


"Aku diusir kakek. Dan bingung mau cari tempat tinggal, karena waktunya sudah malam."


"Ikutlah denganku. Di apartemen."


"Apa tak masalah?"


"Selama kita tidur terpisah tak masalah."


"Oke, aku ikut kau tuan putri."


"Bisa aja."


Rendi memasukkan koper ke bagasi lalu masuk ke dalam mobil. Mobil Jessi melaju sedang menuju apartemennya. Sampai di apartemen, Jessi dan Rendra turun dari mobil lalu mereka berjalan menuju lift. Namun siapa sangka, Rendra bertemu cinta pertamanya di lit.


"Rendra. Kamu Rendra kan " tanya Viona


"Maaf siapa ya."


"Aku Viona mantan pacarmu SMA, kau lupa," ucap Viona girang sambil melirik ke arah Jessi. Sedang Jessi kesal pura-pura tidak tahu.


"Vio, apa kabar?"


"Aku baik Ren, kamu tinggal disini."


"Nggak, aku main di tempat temenku. Ini kenalkan, Jessi."


"Hai," sapa ramah Jessi


"Hai. Ya udah kalian mainlah ke apartemenku, ya. Sampai jumpa."


Lift terbuka Viona pergi sedangkan Jessi pun tak lama, membuka apartemennya.


"Waw, keren."


"Ini punya kak Brian. Bukan aku."


"Tetap saja kau kecipratan kaya."


"Duduklah, aku ambilkan minum."


"Oke."


Sesaat Jessi kembali ke ruang tamu dengan membawa cemilan serta jus.


"Maaf ini aja."


"Kenapa repot, aku hanya numpang malam ini aja, Jes."


"Nggak repot kok. Oh ya tadi tuh cewek cantik banget serasi denganmu."


"Oh ya, kalau denganmu," Rendra berbalik tanya.


Seketika wajah Jessi berubah merah macam tomat.


"Apaan sih, ya kita jauhlah. Aku jelek mana ada yang mau."


"Hei jangan berbicara seperti itu."


"Udahlah sekarang kau istirahat. Ayo, aku tunjukkan kamarmu."


"Ayo."


Mereka pun naik ke lantai dua dan Jessi menunjukkan kamar.


"Ini kamarmu."


"Oke makasih."


Saat Jessi berbalik Rendra memanggilnya


"Jes. Makasih kau begitu baik."


"Iya, aku tidur dulu."


Rendra membuka pintu kamar dan alangkah terkejutnya ia saat tahu di dalamnya.


"Hancur sudah aku," Rendra menepuk jidatnya karena background di dalam kamar adalah meong kitty.


Rendra berusaha tenang agar ta terdengar Jessi. Ia memilih bergegas mencuci muka dan tidur.


"Semoga besok, pink ini sudah jadi warna lain."

__ADS_1


Rendra berdoa dan menuju alam mimpi. Sedangkand i kamar lain, Jessi menaha tawanya saat inga di kamar itu sudah di cat warna pink dan walpaper meong kitty.


"Aduh, nggak bisa bayangin Rendra melihanya. Astaga perutku sakit, hahahahha."


Jessi berdoa lalu menuju alam mimpi pula.


Keesokan harinya ada suara bel, Jessi terbangun dan turun ke bawah. Dan saat membuka betapa terkejutnya dia.


"Surprise."


"Kakak, Sella, kak Ayu, Ben, Xel."


"Pagi Tante."


"Kenapa kaget gitu?" tanya Brian


"Kau masih tidur ya, makanya kau terkejut."


"Ti-tidak."


"Lalu."


Tiba-tiba dari belakang Jessi muncul pria tampan masih dengan piyama tidurnya beralan ke arah Jessi.


"Jes."


Jessi tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Brian melongo ada Rendra di apartemennya. Semuanya pun berumpul di ruag tamu uantuk anak-anak dan Aunda di ruang tv. Brian akan menanyakan perihal keberadaan Rendra saat ini.


"Ehehm, sebenarnya kenapa tuan Rendra ada di sini?"


"Jadi begini kak," sahut Jessi tapi di putus omongannya oleh Rendra


"Maaf tuan Brian, saya yang minta tolong karena saya di usir oleh kakek. Kebetulan waktunya sudah malam kebetulan Jessi lewat. "


"Oh begitu, kalau ada yang tahu kalian serumah bagaimana?"


"Saya akan menikahinya."


Deg


Jessi terkejut penuturan dari Rendra, ia sepryi sedang bermimpi ceonya menikah dengannya.


"Apa anda sudah memikirkan semua?"


"Lalu Jessi."


"A-aku. Duh, please kak jangan tanya itu," ucap gugup Jessi buru-buru mask ke ruang tv


Sedangkan Brian dan Rendra tertawa seketika saat Jessi malu-malu.


"Hahahhahaha. Jessi, Jessi."


"Begini Rendra, saya tak masalah jika Jessi denganmu tapi giman adengan kakekmu?"


"Dia hanya saja tak tahu siapa Jessi sesungguhnya tuan Brian."


"Panggil seperti Jessi saja."


"Jadi begini kak, Kakek tahunya Jessi hanya sekretaris dan asal usulnya tak jelas."


"Oh begitu. Oke, aku tahu apa yang harus dilakukan."


"Maksudnya kak."


"Nanti kau juga tahu. kau panggil Jessi dan lain, kita makan bersama."


"Baik kak."


Rendra beranjak dari kursi lalu menuju ruang tv.


"Sayang, ayo kita makan dulu dan anak-anak juga. Ayo kak," ajaknya


"Hah, sayang."


"Ih apaan sih, Ren. Ayo kak, nggak usah hiraukan dia," Jessi makin malu dan keluar dari ruangan


Rendra tersenyum geli melihat tingkah malunya Jessi, ia emang sengaja karena di hati sudah tumbuh benih cinta.


Usai makan pagi bersama, Mereka berbincang namun ada dering telepon Brian.


"Siapa Dad?"


"Reyhan."


"Ada apa?"

__ADS_1


"Tak tahu."


"Bentar aku angkat dulu."


"Halo Rey."


"Bisa ke kafe."


"Sekarang?"


"Iya aku tunggu."


Brian menutup telpon merasa ada yang janggal dengan nada bicaranya Reyhan.


"Ada apa Dad?" tanya Ayunda menatap wajah Brian yang tampak gelisah


"Em, sayang. Aku harus nemuin Reyhan."


"Ada apa Dad?"


"Tak tahu sepertinya penting."


"Ya udah hati-hati."


"Iya."


"Daddy keluar bentar ya," pamit pada semua


"Iya dad, hati-hati."


Brian menelpon Johan sebelumnya jika dia bertemu dengan Reyhan. Kini pria tampan itu meluncur ke kafe tak bweselang lama mobil mewah Brian sampai. Brian melihat kafe masih sepi membuat ia waspada.


Dan dering telpon terlihat kontak Reyhan.


"Halo Rey, kau dimana?"


"Aku di belakang."


"Oke."


Saat Brian berjalan ke belakang kafe tiba-tiba, ada yang menyerangnya.


Duk


Duk


"Aw."


Brian mendongak melihat siapa yang menyerangnya ternyata adalah Reyhan


"Uhuk.. Uhuk."


"Rey, kenapa kau menyerangku."


"Tanyakan pada dirimu sendiri."


"Maksudnya apa ini?"


"Lihat ini," tunjuk Reyhan sebuah video di ponselnya.


Brian terkejut lalu dia mencoba menjelaskan, namun disela oleh Jenni.


"Sayang. Jangan asal percaya saja. Kau tahu sekarang jamannya sahabat makan sahabat," ucap Jenni manja sekligus melirik taja kearah Brian


Brian tersenyum menyeringai melihat Jenni berusaha membuat persahabatan dengan Reyhan hancur. Ia takkan kurang akal, sementara Brian akan mengikuti permainan darinya.


"Cuih, dasar penjilat."


"Kau tak waras ya, Mau gue pukul sampek nyawa elo melayang," ucap lantang Reyhan sampai menarik kerah leher Brian


"Silahkan saja Rey, kau akan tahu nanti jika sudah tiada."


"Brengsek."


Duk


Duk


Brian dan Reyhan semakin tak bisa diam mereka saling memukul satu sama lain, padahal selama ini bersahabat hanya karena satu wanita penjilat mereka menjadi musuh. Jenni tersenyum puas melihat kelakuan manusia bodoh itu menurutnya.


"Dasar nggak bergun! satu ceo kaya dan satunya mafia tapi kelakuan nggak jelas. Mending aku pergi ketemu sidia daripada melihat tontonan gak mutu," gerutunya


Saat Jenni berbalik badan ada seruan dari sesorang.


"Stop!"

__ADS_1


__ADS_2