
Hilda merasa Raka sama saja seperti kakaknya yang mantan playboy itu. Hilda pun tak sadar mengambil alkohol dan meneguk ya.
Howek
"Minuman apaan nih," melihat gelas minuman, tiba-tiba ia mulai tak sadarkan diri.
Malam kian larut pesta ulangtahun Hilda berjalan lancar meski acaranya hanya di rumah, tapi jangan di tanya tetap saja mewah. Pukul satu satu dini hari, satu persatu berpamitan namun mereka tak sadar jika yang ulang tahun tak ada di tengah mereka.
.....
Keesokan harinya, Gadis kecil bernama Hilda mengerjab-ngerjab melihat sekeliling merasa buka di kamar sontak ia bangun. Dia menoleh kearah kanan dan betapa terkejut ada seorang lelaki tampan di sampingnya, seketika ia menjerit.
"Aaaa."
Raka terkejut ada cewek menjerit, baru kali ini ada yang berani teriak sekencang itu. Ia bangun dan mengucek mata.
"Hah, ngapain kamu di sini."
"Eh malah aku, kamu yang ngapain di sini."
"Tadi malam aku tak ingat habis minum lalu tak sadar, entah minuman apa yang aku minum."
"Sama aku juga."
Seketika tangis Hilda pecah melihat ia sudah tak pakai pakaian lagi dan seranjang dengan pria yang bukan suami.
"Huaaaaa, hiks ... Mami," tangis Hilda sesegukan sambil memegangi lututnya.
Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mencoba menenangkan gadis kecil itu.
"Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya."
"Tapi aku nggak mau sama kamu. Hiks ..."
"Lah terus."
"Aku benci banget sama kamu sejak kamu nabrak aku pertama kali, kau ngatain aku," ucapnya sambil masih nangis
Srookkk
Hilda mengelap ingusnya menggunakan sprei membuat Raka jijik, seketika ia menutup mulut menggunakan bantal.
"Terus aku harus gimana? Kalau kamu hamil."
"Hah, hamil. Masak iya satu kali langsung hamil."
"Mana tahu kalau senjataku tokcer," asal celetuk Raka.
Ucapan Raka membuat Hilda kesal lalu menimpuknya dengan bantal.
Pluk
"Aw, jahat banget."
"Biarin, omonganmu nggak ada saringannya ya."
"Saringannya di bawa Mama."
"Aih, sebel aku sama kau. Bisa aja jawabnya."
__ADS_1
"Udah dunk, ngambeknya. Kalau gitu aku mandi, capek bertarung."
"Ih dasar nyebelin."
Sesaat lelaki tampan itu sudah tampak segar, ia pun menarik tubuh Hilda agar segera membersihkan diri.
"Ih, ganggu aja. Hai, gadis kecil mandi dulu."
"Nyebelin banget sih."
Raka menggendong tubuh mungil gadis itu untuk segera mandi, Hilda sungguh gugup saat ia digendong ini pertama kalinya tubuhnya tersentuh lelaki selain Daddy dan rasanya sungguh beda.
20 menit kemudian, Hilda berubah bak bidadari ia sungguh terlihat cantik. Raka diam-diam memperhatikannya ia terpesona gadis kecil itu. Raka gugup menatapnya, hingga ia berusaha menetralkan hatinya dengan melihat ponsel. Sesaat, dering ponsel milik Hilda. Ia melihat tertera nomor Mami ia bingung mengatakan apa.
"Siapa?" tanya Raka heran kenapa tak diangkat
"Mami, aku harus bilang apa nih."
"Bilang di rumah temenmu aja, tadi malam kabur ke kafe, ada temen minta tolong gitu aja."
"Oke."
"Halo assalamualaikum Mi."
"Waalaikumsalam sayang, Hil kau dimana tadi malam kau menghilang."
"Iya Mi, maaf. Tadi malam ke kafe jemput temen urgent Mi, dan akhirnya tidur di kost nya."
"Oh ya sudah, kau nggak pulang."
"Ini mau pulang Mi."
"Ya udah, kau hati-hati. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Udah semua, ayo aku antar."
"Udah nggak usah pakai mikir, aku tetap tanggung jawab meski kau benci."
Akhirnya setelah dibujuk, Hilda mau diantar oleh Raka, ini membuatnya canggung pada lelaki yang selama ini ia benci.
Flasback on
Saat Hilda kembali ke acaranya, ia mencari Ica tapi tak ketemu. Dan tanpa sengaja minum yang rasanya aneh. Ia perlahan merasa badannya menggigil. Ternyata ada seseorang sengaja ingin menghancurkan keluarga Barawijaya perlahan mereka menyusup ke sebuah acara dengan menjadi bodyguard Ben. Minuman itu diberi obat perangsang dan tak hanya Hilda yang diberi tapi juga Raka agar mereka berbuat terlarang. Tubuh Raka dan Hilda di gotong di sebuah hotel tak jauh dari rumah, dan akhirnya secara tidak sadar keduanya melakukan hal terlarang.
Wanita itu tersenyum miring saat targetnya masuk perangkap.
"Lihatlah, kehancuran mu akan segera dimulai."
Flasback off
Raka dan Hilda sudah di depan gerbang keluarga Arga. Mereka turun bersama, Raka akan bersikap santai seperti biasanya. Hilda menoleh kearah Raka melihat ketegangan yang terjadi.
"Kak, tolong jangan beritahu ini pada Daddy dan Mami," Hilda memelas dan baru kalu ini, ia memohon pada Raka
"Tenanglah, aku tak akan beritahu ini," mengelus puncak rambut Hilda.
Hilda tenang saat ucapan Raka meneduhkannya, Kini keduanya turun dari mobil. Dan dari atas sana Ben dan Bebi melihat keduanya sejak mereka masuk gerbang utama. Bebi sudah menahan kesalnya ia menaruh curiga pada mereka.
__ADS_1
"Dad, tenang. Jangan gegabah."
Ben menghela nafas lalu ia menghebuskan pelan berulah Bebi menggandeng lengan suaminya turun. Ben bahagia mempunyai istri Bebi yang sabar dan hanya dia yang bisa menenangkannya. Dan tepat saat keduanya masuk, kemudian Ben dan Bebi mengintrogasi.
"Pagi Om, Tante" sapa Raka
"Pagi Ka, oh ya kenapa kalian bisa barengan,"
tanya Ben menatap keduanya dengan selidik.
"Maaf Om, tadi Raka tak sengaja melihat Hilda di depan jalan kebetulan Raka lewat saat akan ke rumah temen. Ya udah sekalian Raka antar."
"Oh begitu, makasih Ka udah ngantar Hilda sampek rumah."
"Sama-sama Om, Tante. Raka pulang dulu."
"Iya Ka, hati-hati."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Raka bernafas lega karena orangtua Hilda tak mengintrogasi sampai detail. Sedangkan Hilda kini ditatap dengan Daddy nya sampai memutari nya.
"Daddy, kenapa?"
"Kau tak macem-macem sama Raka, kan."
"Dad, Raka aja baru kenal Hilda. Masa iya, kita nggak-nggak."
"Ya mana tahu, bisa aja kan."
"Udah Dad, biarin Hilda istirahat dulu."
"Baiklah, udah sana naik ke kamarmu."
"Makasih Dad."
Hilda pun naik ke kamarnya di lantai 2, dan Ben mengajak istrinya untuk ke ruang kerjanya. Bwbi heran tumbenan suaminya mengajak ke ruangannya pagi ini. Ben duduk dan mulai berbicara.
"Mi, ada yang sengaja ingin menghancurkan kita."
"Maksudnya Dad."
"Iya saat pesta, Daddy curiga seseorang dan semoga kecurigaanku tak fatal."
"Siapa Dad," tanya Bebi penasaran
"Nanti kau juga tahu sayang, kalau sudah waktunya."
Bebi semakin penasaran dengan kalimat yang menggantung itu, Ben yang melihat wajah istrinya yang sedang berfikir, segera menggodanya.
"Udah, nggak usah dipikirin. Mending kita bikin adek," goda Ben membuat Bebi menjulurkan lidah.
"Mimpi."
Bebi berlalu menuju kamarnya, Ben berlari menyusulnya.
....
__ADS_1
Di kamar, Hilda baru kali ini merasakan suasana berbeda saat bersama Raka, beda saat dulu mereka masih belum kenal. Kedua sejoli berada di kamar larut dalam pikiran masing-masing.
"Kenapa rasanya berbeda."