Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Akhinya halal


__ADS_3

"Dad," panggil Ayunda pada Brian


Brian menoleh ke arah suara dan berhenti tertawa saat namanya dipanggil Ayunda. Bukannya Brian menyapa balik, malahan ia berlalu meninggalkan Ayunda. Tak terasa air mata Ayunda menetes untuk pertama kalinya, karena ia di acuhkan suami.


Saat di kamar pun, Brian tetap acuh. Pria tampan itu nampak dingin dari biasanya pada istri. Saat Ayunda ingin membantu memasangkan jas pada Brian, tapi ditepis dan kelar dari kamar.


"Dad."


"Daddy," teriak Ayunda


Teriakan Ayunda terdengar sampai di depan kamar Axel dan Ben yang kebetulan mereka akan membuka pintu.


Axel dan Ben merasa ada sesuatu pada orangtuanya. Ben ingin cari tahu setelah acara Tantenya selesai.


Sedangkan Ayu kini sudah menjadi lebih cantik dengan sedikit polesan tangannya. Wanita itu kini keluar dari kamar, ingin menghampiri putra-putranya tapi mereka sudah di depan pintu kamar.


"Waw, cantik sekali kau, nyonya," goda Ben pada Ayunda


"Bisa aja kau tampan. Come on," ajak Ayunda pada putra-putranya


"Daddy nggak bareng kita, Bunda," tanya Axel


"Daddy masih banyak yang diurus, Xel. Udah bareng adek juga tak masalah bukan."


"Iya Bunda."


Ayunda mengambil alih menggendong Sella dari babysitternya. Mereka pun masuk ke dalam mobil diantar sopir keluarga.


Di satu sisi, Brian sudsh datang duluan bersama teman-temannya. Sontak membuat Jessi dan kerabat dekat heran karena tak biasanya Brian bisa jauh dari Ayunda.


"Sayang, lihatlah bosmu tumben tanpa nyonya bos," tanya Nadia pada suaminya Johan


"Iya, mungkin emang Brian lagi ngurusin Jessi."


Tak lama, muncullah yang di nantikan oleh semua termasuk Jessi. Siapa lagi kalau bukan Ayunda, yang nampak begitu cantik nan anggun dengan balutan kebaya navy bersmaa dua bocah tampan serta baby Sella dan babysitter.


Semua mata tertuju padanya hungga Reyhan menyenggol lengan Brian menunjukkan bahwa istrinya datang.


"Bri, lihatlah istrimu," ucap Reyhan


Brian tak menjawab apapun, ia hanya tersenyum miring di hatinya. Ia sungguh tak tega namun ingin membuat pelajaran agar istri menuruti suaminya.


Sedangkan Ayu dan anak-anak duduk di dekat calon pengantin wanita dan beberapa menit Rendra datang bersama keluarga besarnya. Rendra semakin gugup saat sudah duduk di depan penghulu.


"Apakah bisa kita mulai, tuan," tanya penghulu


"Silahkan pak."


"Baiklah. Saya nikahkan dan kawinkan kau Rendra pratama dengan Jessica baratawijaya dengan maskawin berupa kafe dan rumah senilai 1 milyar di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Jessica baratawijaya dengan maskawin tersebut tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulillah."


Kemudian, Jessica diantar Ayunda menemui suaminya di depan penghulu. Kedua pengantin itu kini akhirnya halal. Dan satu persatu para undangan naik ke pelamainan, memberi ucapan selamat pada pengantin tersebut.


"Selamat ya kalian, ini ada hadiah dari kakak," ucap Brian memberikan sebuah amplop


"Apa ni kak," tanya Jessi


"Buka aja."


Jessi dan Rendra membuka amplop tersebut bebarengan dan mereka terkejut ternyata tiket honeymoon.


"Kak, ini ke Maldives."

__ADS_1


"Iya, untuk kalian."


"Masih kak," ucap peluk Jessi terharu pada kakak angkatnya Brian


"Makasih kak," ucap Rendra berganti memeluk


"Iya sama-sama."


"Kak, kenapa nggak bareng sama kak Ayu."


"Kau tak perlu tahu, Jes. Udah ya kakka tutun."


Saat akan turun tangan Brian di cekal oleh Jessu.


"Kak, jangan marahan. Kasihan kak Ayu. Jangan sampai kakak menyesal," ucap Jessi mengingatkan


"Iya, udah kakak turun."


Ayunda melihat suaminya turun, ia buru-buru menghampiri.


"Dad, aku minta maaf."


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya."


"Pergilah temui Jessi, aku ada urusan," ucap Brian berlalu tak mengusir Ayunda


Lagi dan lagi Ayunda meneteskan air mata tapi ia usap secepat mungkin agar tak ada yag melihat, namun mata para sahabat jeli termasuk Jessi, tahu jika Ayunda baru saja menangis.


"Kak Brian, kenapa jahat begitu ya sayang," ucap Jessi memeluk suami agar hatinya tenang


"Udah, doakan mereka baik-baik aja," Rendra menenangkan istrinya


Jessi mengangguk pelan


Terlihat Ayunda dan anak-anak naik ke pelaminan dengan wajah sumringah padahal di hatinya penuh kesedihan hanya saja ia berusaha menutupinya.


Jessi tahu jika kakak iparnya tengah bersedih terlihat dari pelukannya yang erat ingin di tenangkan. Jessi pun mengelus bahu Ayunda pelan dan berkata, "Sabar kak, Jessi menyayangi kakak."


"Makasih ya, oh ya ini untuk kalian," Ayunda memberikan kado sebuah jam tangan.


"Kenapa repot kak," ucap Jessi lirih sambil mengusap air mata


"Hei, pengantin baru kenapa menangis," Ayunda mengusap air mata Jessi


"Nggak apa, jaga kesehatan kakak dan anak-anak."


"Kenapa ucapanmu seperti kakak mau kemana aja, kamu masih bisa temui kakak."


"He .. Iya kak."


"Ganti kita Bunda," seru Axel


"Eh iya lupa, ada bocah dua tampan."


"Ih dilupakan kita, Kak," ucao Axel pada Ben


"Becanda, Xel."


"Bunda turun dulu ya."


"Iya Bunda."


Ayunda kembali pada baby Sella dan babysitter , tak lama terdengar bunyi ponsel nya. Ia melihat ada nama Nadia.


"Iya halo, Nad. Ada apa?"


"Kau bisa ke depan."


"Iya bisa, tunggu."

__ADS_1


Di satu sisi, Nadia baru saja dari toilet mencari ponselnya entah kemana. Nadia pusing tak


menemukan ponselnya lalu keluar dari toilet menemui suaminya Johan.


"Sayanh, ponselku hilang."


"Kok bisa."


"Ada di tas dan ku taruh tasnya di wastafel bentar , soalnya aku nggak tahan. Aku seelsai dan melihat ponselku nggak ada."


"Astaga, kau ceroboh selai saamg. Udah d8 cari di toilet."


"Udah, aku sampek pusing nyarinya."


"Ya udah benatr aku tanya petugas kebersihan dulu, mungkin lihat."


"Oke, aku tunggu di meja tempat kita.:


"Oke."


Di tempat lain, Ayunda baru saja keluar dari gedung acara dan mencoba mencari Nadia.


"Kemana Nadia?"


Ayunda kebingungan dan tak lama Nadia menalpon kembali


"Halo Nad, kamu di mana?"


"Aku dekat halte."


"Kau ngapain di halte."


"Nanti au ceritain ,buruan ksini."


Ayunda tanpa curiga segera saja mencari Nadia hingga berjalan ke halte, bertepatan degn itu di tempat acara gelas berisi minuman yanh di pegang Brian tiba-tiba pecah


Pyar


Hingga pecahan gelas tersebut terdengar Jessi dan rendra. Jessi dan Rendra terlonjak kaget lalu berdiri melihatnya.


"Kak Brian."


"Bentar sayang, biar aku lihat kak Brian."


"Oke."


Rendra turun dari pelaminan lalu menghampiri Brian yang seperti kebingungan.


"Ada apa kak, kak Brian sakit?" tanya Rendra


"Oh nggak apa, Ren. Tak tahu kenapa tib-tiba gelas aku pegang pecah."


Rendra tak mau berpikiran jelek, ia tetap positif karena tak semua sesuai.


"Kakak mungkin lelah, udah makan?"


"Belum nanti aja."


"Nah itu mungkin, kakak tak terasa menjatuhkan gelas. Aku panggil pelayan buat ngambil makanan ya."


"Tak usah, Rey tolong ambilkan," ucap Brian


"Oke bentar."


"Kau kembalilah ke sana, temani istrimu, Ren."


"Baik kak, kalau ada apa-apa panggil Rendra aja."


"Iya."


Tiba-tiba ada teriakan dari seseorang membuat alunan musik berhenti.

__ADS_1


"Stop!"


__ADS_2