
Paginya, Hilda dan Raka berpamitan pulang ke kota karena sudah harus kembali bekerja. Kini perempuan cantik itu sudah selesai mendandani buah hatinya Berlian.
"Cantiknya my baby," ucap Hilda sambil mencium pipi gembul bayinya.
"Ciluk baaa."
"Senengnya," ujar Raka keluar dari kamar mandi.
"Iya dunk, kita kan mau pulang. Ketemu Opa, Oma."
"Hanya itu."
"Iya."
"Tahu nggak aku pengen dibuatin Mami, ikan pepes."
"Apa!"
"Ih apaan sih kak, bikin kaget aja."
"Kamu yang ngagetin sayang, sejak kapan kamu pengen itu."
"Sejak tadi, karena pas lihat itu anak-anak di grup pada makan kayaknya enak gitu."
"Huh, dasar kamu ada aja sayang."
Sejenak Raka berfikir tentang permintaan Hilda yang aneh itu, dan ia pun bertanya pada istrinya.
"Sayang, kau udah datang bulankah?"
"Em, bentar deh aku ingat-ingat."
Sesaat ia mengingat dan ternyata belum datang bulan seketika ia terduduk lemas sambil menonyor dahinya sendiri. Raka mendekat dan duduk di sebelah lalu memeriksa dahi istrinya.
"Apaan sih kak."
"Kamu yang kenapa, main nonyor dahimu sendiri. Kan aku bingung dan memeriksa kau masih,"
ucapan Raka sengaja gak di lanjutkan karena menggoda istrinya.
"Kenapa nggak dilanjutkan, karena apa hayo," ucapnya sambil memolototi suaminya.
"Heee, peace. Aku nggak ngomong apa-apa loh ya."
"Dasar nyebelin."
"Jadi gimana sayang, kamu udah datang bulan belum."
"Em, belum kak," ucapnya lirih sambil menunduk.
Raka tersenyum lalu memegang dagu istrinya dan berkata, "Aku bahagia jika memang positif, sayang."
Hilda tersenyum dan memeluk suaminya,
"Makasih kak, aku bahagia."
.........
Sedangkan di tempat lain, Kayla dari kemarin malam sudah searching sekolah untuk anak-anaknya. Dan hari ini ia akan mendaftarkan sekolah untuk twins. Kini perempuan cantik Ibu dua anak itu membangunkan pemimpinnya yang masih molor.
"Sayang, ayo bangun."
"Em, satu menit lagi sayang."
"Satu menit udah lewat, mau berapa menit lagi hem. Atau mau aku siram," ancam Kayla pada suaminya.
Dan akhirnya si empu bangun juga setelah mendengar ancaman dari istrinya, ia mengucek mata dan melihat jam di dinding.
"Udah pagi ternyata, aku kira masih jam dua malam."
__ADS_1
"Kamu masih mimpi, sayang. Aku siram tahu rasa lo."
"Hee ... ini udah bangun sayang. Aku mandi dulu."
Cup
arvel mencium pipi istri dan berlari ke kamar mandi. Tak butuh lama, lelaki tampan itu sudah tampak fresh, Kayla menyunggingkan senyuman saat pandangan matanya tertuju pada dada bidang macam roti sobek itu sungguh membuatnya tergoda, dia berjalan pada suami dan memegang dada itu.
"Jangan kau menggodaku, sayang."
"Kenapa kau tergoda sayang, sekarang yang agresif kamu semenjak hamil."
"Tak tahu rasanya pengen megang aja."
"Iya tapi nanti kita bisa telat ngantar twins daftar sayang," celetuk Marvel membuat gairah Kayla surut.
"Huh, ada aja. Ya udah yuk," ucapnya sambil mengerucutkan bibir.
"Hei, jangan marah. Nanti pulang daftar kita lanjut oke. Senyum dunk," Marvel sambil mencolek dagu istrinya, Kayla akhirnya tersenyum.
Mereka keluar kamar dan mengetuk kamar twins, tapi tak juga dibuka pertanda si penghuni sudah turun. Marvel dan Kayla memutuskan turun dan benar mereka sudah ada di ruang makan.
"Pagi Dad, Mom," sapa twins.
"Pagi."
"Pagi nona, tuan," sapa Rara dan Riri.
"Pagi mbak."
"Ya udah ayo mulai berdoa dan setelah itu makan."
Kurang dari 15 menit ritual sarapan pagi mereka sudah selesai. Untuk hari ini Rara dan Riri tidak ikut karena Marvel memberikan istirahat.
"Mbak, kita berangkat dulu. Kalian pergi jalan-jalan aja dulu. Tapi jangan malam-malam pulangnya ya."
"Baik nona, tuan."
"Baik nona."
"Ya udah, assalamuaikum."
"Waalaikumsalam."
"Dah mbak Rara dan mbak Riri," twins berpamitan.
"Hati-hati ganteng, cantik."
Twins melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil mewah Marvel, diikuti Kayla dan Marvel. 15 menit akhirnya sampai di sekolah anak-anak yamg masih dibawah 5 tahun itu.
"Ye, kita sekolah," sorak twins.
"Seneng banget ya," tanya Marvel pada buah hatinya.
"Iya dunk, Dad. Banyak temen."
"Ya udah ayo turun."
Saat Marvel dan Kayla turun semua terkejut, karena sekolah mereka di datangi orang kaya seperti mereka. Marvel menatap istri seolah bertanya kenapa memilih sekolah di sini pikirnya.
"Aku mau anak-anak tak pilih teman dan saling menghargai satu sama lain, sayang."
Marvel tersenyum menggandeng tangan istrinya.
"Aku bangga padamu."
"Let's go," seru Kayla pada anak-anaknya.
Mereka berempat berjalan beriringan para Ibu-ibu sontak kagum melihat mereka tersenyum kearah mereka.
__ADS_1
"Sepertinya aku pernah lihat mereka dimana, ya," ucap salah satu Ibu dari murid sekolah tersebut.
"Kamu mimpi kali."
"Nggak kok, beneran."
"Apa wanita ini," salah seorang temannya menunjukkan foto Kayla pada Ibu itu.
Ibu sontak berseru, "Eh iya bener, astaga ternyata dia disini temen-temen."
"Maksudnya."
"Ih kalian itu ya, nggak up to date banget. Mereka itu anak orang kaya di negeri ini, yang perempuan tadi itu, menantu Arga wiliam," kata Ibu itu menceritakan semangat.
"Apa!" Pekik semua.
Di satu sisi, Marvel dan Kayla serta twins masuk dalam ruang kepala sekolah. Kepala sekolah yang sudah mengerti jika mereka itu adalah dari keluarga Wiliam segera mempersilahkan.
"Selamat pagi Pak," sapa Marvel.
"Pagi tuan Marvel, suatu kehormatan atas kedatangan anda. Ada yang bisa saya bantu," ucap kepala sekolah ramah.
"Begini Pak, saya ingin mendaftarkan putra putri kami di sekolah ini."
"Apakah beneran tuan?"
"Apakah wajahku terlihat bercanda, Pak."
"Oh tidak tuan, saya hanya memastikan saja. Karena seolah kami seperti ini keadaannya," ucap kepala sekolah merendah.
"Kami tidak masalah Pak, yang penting pendidikan yang bagus untuk anak-anak. Saya harap ada pada sekolah ini."
"Baik tuan, saya selaku kepala sekolah memastikan jika sekolah ini bagus untuk putra putri anda."
"Baiklah saya percaya itu, tolong masukkan nama putra putri kami. Ini data kami," tutur Marval
memberikan map berisi data putra putri nya.
"Baik tuan, tunggu sebentar."
Tak lama, kepala sekolah sudah kembali.
keruangannya dengan membawa lembaran.
"Maaf tuan jika lama, ini lembaran kopian data yang sudah kami masukkan putra putri anda," ucap kepala sekolah sambil memberikan lembaran pada Marvel.
"Biaya pendaftaran berpakah pak."
"Hanya satu juta saja pak."
"Baiklah saya minta rekeningnya pak, saya akan transfer."
"Ini tuan, silahkan."
Dan setelah selesai semua, Marvel dan Kayla berpamitan, tanpa mereka duga di dekat pintu keluar sekolah sudah berjejer rapi para Ibu-ibu.
"Sayang, kok ramai banget sih."
"Tahu," ucap Kayla mengedikkan bahu.
Tiba-tiba ada yang berseru memanggil nama Marvel.
"Tuan Marvel, minta tanda tangannya."
"Hah."
"Boleh ya, kami ngefans sama keluarga Baratawijaya."
"Semua," tanya Marvel memastikan.
__ADS_1
"Iya tuan."
Marvel dan Kayla menengok dari depan nya sampai paling ujung betapa banyak Ibu-ibu berjejer rapi seperti antri sembako.