
Viona berjalan tanpa arah dan dia kini tak tahu harus apa, ia berjalan menuju gedung belakang sekolah. Terlintas di benaknya mengakhiri semua, Viona masuk ke dalam gudang ia melihat ada seutas tali lumayan panjang segera diambilnya.
Viona mengambil kursi usang yang di pojok lalu ia melemparkan tali keatas dan ia ingat perkataan seseorang membuatnya terngiang, "Ini kesalahan kau tau itu, hah. Denger ya aku nggak suka kau. Ini sebuah salah yang fatal, gugurkan kandunganmu."
Rasanya begitu sakit dengan ucapan yang dilontarkan pria itu. Ia tak tahu harus ngomong apa pada keluarganya jika dia sedang hamil dengan pria yang tak mau bertanggung jawab.
Dan saat ia mengalungkan tali itu di lehernya, tiba-tiba ada deseorang mencegahnya untuk bunuh diri.
"Stop! Vi, turun. Masa depanmu masih panjang kenapa kau lakukan itu," teriak Kayla cemas.
"Ke-kenapa kamu bisa di sini. Jangan cegah aku!" bentak Viona
"Aku kebetulan lewat dan lihat kau berjalan ke sini. Please, jangan lakukan itu, Vi. Aku akan bantu jalan keluarnya, jika kamu mau menganggapku sebagai temanmu."
Viona seketika tangisnya pecah dan berlari memeluk Kayla.
"Maafin aku, Kay. Selama ini. Kenapa kau baik padaku, hiks," ucapnya sesegukan
"Aku udah maafin, kita kan teman nggak boleh saling menjatuhkan. Sekarang kamu tenang ya."
Viona mengangguk dan mengusap air mata, sekiranya Viona mulai tenang. Perlahan ia berucap
"Rasanya sesakit ini Kay, jika kita tak diinginkan. Apalagi itu murni kecelakaan."
"Maksudnya apa Vi, coba jelaskan."
"Aku hamil, Kay. Dan pria itu tak mau bertanggumg jawab malahan suruh gugurin."
"Brengsek banget tuh cowok! Bagaimana ceritanya kau bisa bersamanya."
"Ada yang menaruh di minumanku saat di club. Aku nggak ingat dan saat bangun dan lelaki itu sudah tak pakai baju disebelahku. Dia minta maaf karena sudah berbuat itu dalam keadaan tak sadar. Tapi saat aku minta pertanggung jawabannya ia kesal dan minta aku gugurin."
"Lalu rencanamu apa?"
"Aku bingung Kay, aku ingin mengakhiri hidup. Eh kamu dateng."
"Kalau kamu bunuh diri sama aja nambah dosa. Aku akan membantumu Vi, tenang ya. Jangan lakuin hal yang salah lagi."
"Makasih Kay, kau baik. Kau malah yang ada buat aku saat terpuruk."
"Sama-sama. Maukah kau jadi sahabatku."
"Iya," Viona memeluk erat Kayla, ia bahagia bisa menemukan sahabat yang tulus.
Tak lama, Kayla mengajak Viona kembali ke kelasnya, dan saat berjalan keduanya melihat Marvel sedang berbicara dengan Sella. Kayla mengajaknya berhenti sejenak, terlihat Marvel mendorong badan Sella lalu pergi. Kayla tersenyum bahagia, Marvel bisa menjaga diri.
Kayla dan Viona melanjutkan kembali ke kelas masing-masing.
Di kelas, Lala dan Ega sedari tadi mencari Kayla tak kunjung kembali dI toilet. Akhirnya si cantik Kayla kembali kedua sahabat memeluknya erat.
"Hai Kay, oh my god. Kami cemas kamu tak ada sedari tadi," ucap Lala
"Sorry, tapi kalian nggak bilang Marvel kan."
Tiba-tiba ada celetukan dari belakangnya.
"Kamu dari mana sayang, hem?"
__ADS_1
"A-aku dari toilet Vel. Nanti aku akan bicara sesuatu sama kamu."
"Baiklah, aku tunggu," ucapnya dingin dan berlalu.
Kayla merasa ada yang aneh dari Marvel, entah apa itu atau karena dia cemas belum balik.
Tak lama, jam istirahat tiba. Kayla menunggu kedatangan suaminya namun sudah 10 menit juga belum muncul tak ada pesan pula.
"Kay, ayo makan dulu," ajak Lala
"Bentar deh, nunggu Marvel."
"Mungkin dia masih ada pelajaran, Kay. Kasihan babymu."
"Aku nunggu aja dulu, kalian duluan aja."
"Ya sudah kita bentar ya, soalnya aku laper banget."
"Oke."
Kedua sahabat itu mengerutkan dahi saat sampai di depan kantin nampak Marvel bersama sahabatnya tengah makan bersama. Ega dan Lala geram lalu menggebrak meja makan yang Marvel tempati.
Brak
"Oh ****," umpat Marvel karena kena cipratan kuah bakso seragamnya.
"Eh denger ya Vel, kau itu lelaki apa hah, biarin istri kelaparan nungguin kamu. Hatimu busuk juga ternyata."
"Kalian tahu apa tentang aku, hah."
"Kau itu jangan jadi pengecut, Vel," Leo
Saat mereka bertengkar hebat dan jadi bahan tontonan, Viona menghampiri Marvel.
"Vel, mana istrimu. Ini kasih ke dia ya, tadi udah bantu aku," Viona memberikan coklat sebagai tanda sahabat.
"Maksudmu apa, Vi."
Viona pun menceritakan semua apa yang terjadi bersama Kayla tak kurang sedikitpun. Dan penyesalan datang dihati Marvel, ia mengira Kayla menemui temannya cowok di belakang sekolah berkat hasutan Sella.
"Oh ****," umpat Marvel berlari secepat mungkin menuju kelas Kayla. Sampai di kelas, sudah banyak berkerumun.
"Ada apa ini."
"Itu Kayla, Vel."
Seketika Marvel melihat istrinya terkulai lemas di bangku sambil memegang ponsel.
"Astaga Kayla, maafin aku. Hiks ... maafin aku."
Tanpa menunggu lama, Marvel menggendong istrinya turun menuju rumah sakit, teman-teman yang ada di kantin berhambur mengejar keduanya.
"Vel," seru Willi
"Biar kami antar."
Marvel mengagguk dan memasukkan tubuh istrinya ke dalam mobil lalu, meluncur ke rumahsakit diikuti para sahabat.
__ADS_1
Di rumahsakit, saudara dari Ben melihat putranya willi dan keponakannya berlari menuju ugd. Dia mengejar mereka dan saat di depan ugd terlihat semua tegang.
"Ada apa ini" tanya Papa dari Willi pada semua
"Papa."
"Wil, ceritakan sebenarnya."
"Kayla telat makan, Pa," ucapnya lirih dan terbukalah pintu ugd.
"Permisi keluarga pasien."
"Saya Dokter, saya suaminya."
Dokter itu mengerutkan dahi melihat Marvel dari atas sampai bawah. Papa dari Willi melihat tatapan dari dokter pada Marvel tak enak segera ia menimpalinya.
"Dia memang suaminya dokter, dia keponakanku."
"Oh baiklah, ayo masuk."
Dokter mempersilahkan duduk dan mulai berbicara.
"Untung cepat di bawa kemari, nona telat makan dan dehidrasi, untung janin tak apa-apa."
"Makasih dokter."
"Ya sudah saya permisi."
Setelah dokter keluar, Marvel menangis sesegukan menghampiri istrinya. Ia benar-benar khilaf melakukan kesalahan dua kali. Ia berdoa agar istrinya memaafkan apa yang sudah ia lakukan.
"Maafin aku, sayang. Maaf."
Tak disangka ada tepukan di bahu nya , ia menoleh ada Daddy. Ia terlonjak kaget kedatangan Daddy.
"Daddy."
"Vel, berapa kali Daddy katakan. Cinta itu saling percaya, maafin Daddy. Daddy tak mau ini terjadi lagi, kau tak dibolehkan ketemu Kayla dulu sementara waktu. Kau pulang ke rumah, biar Kayla bersama Papa nya."
Deg
Marvel terkejut mendengar Daddy berbicara seperti itu.
"Tapi Dad."
"Ini demi kebaikan bersama, atau kau ceraikan kalau nggak mau, pecundang," bentak Ben
"Maafin Marvel, Dad."
"Daddy maafkan tapi itu syaratnya."
"Sampai kapan Dad."
"Sampai Kayla menginginkanmu dan memaafkanmu."
Mau tak mau Marvel menyetujuinya karena memang ini kesalahannya, Marvel pamit keluar dari ruangan. Di depan ruangan ternyata para sahabat masih setia menemaninya.
"Kami tetap bersamamu, Vel."
__ADS_1