Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Kau istriku


__ADS_3

"Daddy dan Mommy kenapa nggak bilang kalau mau kesini, biar Arthur jemput."


"Gimana mau ngabarin kamu aja kayak patung hidup," celetuk Marvel membuat Kayla melotot


Arthur tersenyum kikuk karena yang di bilang Daddy nya memang benar, semenjak Kinan pergi dari hidupnya, waktu Arthur hanya untuk kerja dan kerja.


Arthur melihat suasana bersitegang akhirnya ia mencoba mencairkan suasana.


"Kak, pesenin minum dunk. Haus daritadi ini," ucap Alex


"Iya, maaf lupa," Arthur memesan delivery untuk semua anggota keluarganya. Sambil menunggu Marvel melihat kerjaan putranya di wiliam grup. Marvel bangga pada putranya tak sia-sia ia mengajari tentang perusahaan milik keluarga.


Tak lama pesenan datang dan Arthir mengajak untuk makan sejenak. Sekitar 20 menit akhirnya selesai acara makan bersama tiba-tiba, Alex bertanya pada kakaknya saat  meneguk air.


"Kak, siapa mantan playboy cassanova."


Uhuk ... uhuk


"Duh, kakak. Kayak anak kecil aja, aku tanya malah tersedak. Apa ada yang salah."


"Siapa yang menyuruh mu bertanya."


"Itu," semua menunjuk Marvel membuat ia menutup wajah dengan majalah.


"Daddy."


"Daddy ngomong apa."


"Daddy bilang kita keturunan mantan cassanova. Ya aku penasaran dunk kak."


"Huh, ada aja Daddy. Itu julukan Opa mu, Lex."


"Hah, maksudnya Opa Ben."


"Hem."


"Jadi."


"Jadi, kita itu keturunan mantan cassanova."


"Cassanova itu apa?"


"Hadeh, nanti tanya sendiri sama Opa mu, Lex. Daddy capek, kita pulang yuk Mom," ajak Marvel pada istrinya.


"Kamu nggak pulang, Arthur. Mommy kangen loh."


"Iya nanti Arthur pulang kok Mom."


"Beneran ya. Oh ya, persiapkan dirimu esok."


"Buat apa Mom."


"Kamu akan menikah, jangan harap bisa kabur," ancam Kayla.


"Ayo Dad, Sha, Alex kita balik."


"Siap Mommy."


"Hahhahhaha, mampus kau kak," ejek Alex pada Arthur.


Arthur shock terkulai lemas ia tak menyangka kepulangan orangtua untuk dirinya menikah. Bahkan dia juga tak tahu siapa pengantinnya. Dimas yang baru saja masuk ruangan mengerutkan dahi melihat Arthur seperti kurang tenaga menyenderkan badan di dinding.


"Hei, bro. Kau kenapa? Habis dipatok ular kah dimana?"


"Sialan, ini melebihi di patok ular."


"Maksudnya."


"Bantu aku di sofa dulu, rasanya kaki ku mati rasa, Dim."


"Lebay kau."

__ADS_1


Dimas memapah tubuh Arthur dan duduk di sofa.


"Ayo ceritain maksudnya gimana?"


"Besok aku dinikahkan."


"Apa!" pekik Dimas membuat telinga Arthur sakit.


"Eh kau itu, tahu tempat dunk kalau teriak, masak iya di telinga orang."


"Sorry, aku kaget man. Lalu apa yang akan kau lakukan, kau tahu siapa ceweknya."


"Boro-boro tau, aku aja cuma dikasih tau soal pernikahan besok udah lemas. Oh Tuhan, habislah riwayatku tak ada kesempatan memiliki Kinan, Dim."


"Berarti dia memang bukan jodohmu, kawan. Udah lah mungkin takdirmu begitu."


"Semua membuatku pusing, Dim. Kau besok harus ikut aku."


"Siap bos."


Tak terasa sudah  pukul 5 sore, sungguh berat bagi Arthur jika harus pulang. Ia menelpon Dimas agar ikut dengannya dan spesial hari ini tidur di rumahnya.


"Dim, ikut pulang ke rumahku."


"Tapi."


"Nanti bonus aku transfer."


"Beneran."


"Iya, hanya kau yang bisa diandalkan Dim."


"Hanya aku, ciah gombal kau Arthur. Udah ayo pulang."


Arthur dan Dimas pun turun dan masuk ke dalam mobil melajukan ke kediaman Ben. Sampai di sana, Arthur menghela nafas berat saat terlihat begitu ramai.


"Sumpah Dim, aku pengen kabur aja."


"Huh, iya-iya."


"Udah ayo, lemes amat. Kayak nggak makan setahun," Dimas menarik tubuh Arthur.


Saat masuk rumah,  semua menyambut baik Arthur. Arthur tak percaya rumah sebesar ini bisa ful.


"Ini kayaknya satu negara diundang semua deh," celeteuk Arthur.


"Kau itu ada aja Arthur, kalau satu negara  bisa ambrol rumah ini."


Dan Bebi menghampiri cucunya tampan itu baru saja datang.


"Hai cucu Oma yang tampan. Oma seneng kau akhirnya pulang, kau harus terlihat segar juga saat besok. Udah  sekarang kau dan Dimas istirahatlah."


"Iya Oma. Kami naik ke kamar dulu ya," peluk Arthur bergantian dengan Dimas.


"Makasih Oma, udah ngijinin Dimas nginep."


"Sama-sama nak, selamat istirahat ya."


Di kamar, Arthur menghempaskan badannya diatas ranjang empuknya sudah lama ia tak menyapa kamar ini.


"Bro, kamarmu  kayak anak cewek. Wangi banget."


"Oma yang selalu menyuruh maid merawat kamar setiap hari meski nggak ada penghuninya."


"Aku salut sama keluarga kalian, meski kaya tapi tak pernah pilih kasih."


"Menurutku Baratawijaya mendidik keluarga sungguh diacungi jempol."


"Ya begitulah, makanya aku tak heran jika harta tak pernah habis."


"Udah tidur kau Dim, aku nggak bisa tidur."

__ADS_1


"Hahahhaha pasti udah nggak sabar buat besok kan."


"Tak sabar, kepalamu itu. Aku membayangkan mempelainya  seperti."


"Eka sugigih."


"Hi.... menakutkan. Gimana kalau kita tanding game aja, dari pada nggak bisa tidur nih."


"Boleh."


Di tempat lain, tengah mempersiapkan acara untuk perhelatan besok. Gadis itu bersholawat sepanjang malam agar hatinya tenang. Tapi ia kepikiran dengan sosok tampan itu, tak terasa air matanya menetes mengingat Arthur.


Pengajian di rumah Oma Rina di gelar meriah dan mengundang anak yatim piatu. Oma bahagia, cucu angkatnya esok akan jadi istri orang.


Pagi pukul 8, Gadis cantik itu sudah berada di hotel dan sudah selesai di rias, sungguh kecantikan hakiki, wajahnya ditutup cadar karena permintaannya agar tak  ada yang tahu. Kinan menginginkan kecantikannya dilihat oleh suaminya dahulu daripada orang lain.


"Kau sungguh cantik nona. Walau di tutup oleh cadar."


"Terimakasih mbak, kau juga cantik. Aku hanya ingin suamiku dulu yang lihat."


"Kau memang baik nona. Baiklah, kita tinggal menunggu acara ijabnya di mulai."


Di bawah, tepatnya di lantai dua acara akad nikah di mulai.


"Baiklah, mari kita mulai Bismillahirrahmanirrahim."


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau  Arthur Baratawijaya dengan Kinan putri dengan maskawin sebuah kafe dan rumah senilai 2 milyar di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Kinan putri dengan maskawin tersebut tunai."


"Gimana saksi."


"Sah "


"Sah."


"Alhamdulillah."


Semua bahagia akhirnya Arthur menjadi suami orang, Sha cekikikan saat kakaknya tak menyadari sebuah nama yang ia sebut,  nampak wajah pias Arthur menunjukkan ketegangan dirinya.


Dan tak lama, Arthur diantar Dimas menemui istrinya di kamar pengantin.


"Gila, Dim. Bisa mati berdiri aku."


"Ku jamin enggak."


"Kok bisa."


"Karena istrimu cantik."


"Menghalu aja kau."


"Kalau nggak percaya ya sudah."


Saat sudah di depan pintu, Arthur pun semakin gugup


"Astaga Dim. Balik yuk."


"Enak aja main balik, kasihan  istrimu dianggurin."


"Aku gugup sekali."


"Belum bobol gawang udah gugup aja kalau sudah gimana jadinya, Xel. Nggak keren Ceo kok penakut," ejek Dimas terkekeh.


Pintu di buka oleh wanita bercadar dan itu adalah istri Arthur. Ia menyalami punggung tangan Arthur. Sontak Dimas mendorongnya agar segera tahu siapa istrinya itu.


Kedua,ya pun duduk di tepi ranjang, "Maaf apakah aku boleh lihat wajahmu."


Istri Arthur mengamgguk setuju, perlahan tapi pasti Arthur membukanya dengan sedikit ketakutan melanda saat terbuka  betapa terkejut ternyata.


"K-kau istriku."

__ADS_1


__ADS_2