
Wajah Brian nampak pias, Johan mepihatnya segera bertanya, " Ada apa Bri?"
"Kita harus buru-buru ke rumahsakit."
"Eits, biar aku yang mengemudi. Kau turun."
"Iya."
Johan pun bergenti mengemudi dengan kecepatan sednag 20 menit kemudian, barulah sampai.
"Dasar lelet," umpat Brian kesal dan meninggalkan Johan tanpa mengajaknya
Brian berlari menuju ruangan istrinya saat sampai dan membuka pintu ruanga ia di kejutkna
"Happy birthday to you."
"Surprise."
Brian menggeleng kepala pelan sambil tersenyum, karena ia kena tipu istrinya ternyata mereka menyiapkan kejutan spesial meski di rumah sakit.
Brian mendekat di ranjang istri lalu berdoa tak lupa meniup lilinnya.
"Ye..."
"Selamat ya, Dad," peluk Ayunda
"Makasih sayang."
"Happy Daddy," Ben dan Axel
"Makasih boy."
"Sella sayangnya, Daddy," Brian menggendong bayi mungil itu
Semua sahabat yang hadir tersenyum dan tertawa riang menyaksikan keluarga Brian bahagia meski banyak rintangan dan godaan tapi mereka tetap satu. Semua iri karena mereka begitu kompak.
Tak terasa waktu cepat berputar, 15 tahun kemudian.
1
2
3
Brak
"Kak Ben," teriak Axel berlari menghampiri Ben yang tergelincir
"Kak, kau tak apa."
"Dasar lo peyang. Lihat nih, aduh darah," ucap Ben kesal lalu pingsan
"Astaga, kakak kau itu. Model preman tapi takut darah," celetuk Devan
"Duh, berisik kau itu. Udah ayo bantu."
Saat mereka menggotong badan Ben tiba-tiba, bunyi dering telepon dari ponsel Axel.
"Xel, angkat tuh," suruh Reno
"Iya."
Dan saat mengetahui jika yang menelpon Daddy Brian. Axel reflek melepas badan Ben
Brug
"Aw."
"Ya halo, assalamualaikum Daddy."
"Astaga, Axel sialan."
Reno dan Devan tertawa cekikikan tapi tidak dengan Ben ia kesal bisanya di jatuhkan adeknya.
Usai menelpon, Axel baru sadar jika kakaknya ia jatuhkan buru-buru bertanya
"Eh, maaf kak. Reglek."
"Hahhahahaa."
"Diem kau."
Ben, berjalan pincang menuju motornya tak lama terdengar bunyi klakson satpol pp.
"Satpoll pp, kabur," seru Axel
Lagi dan lgi, Axel meninggalkan Ben yang kini terluka. Ben berusaha berlari namun tertangkap.
__ADS_1
Hap
"Nah, kan ketangkep. Siapa suruh main balapan liar," ucap seorang satpol pp
"Lepas. Kuat jug peganganmu."
"Iya lah, dari dulu aku jago. Mau kabur, nggak bisa tuan."
"Berisik."
Saat Ben menengok ternyata wanita cantik menjadi satpol pp, tai ia tak mau luluh . Dia pun memasang mode dingin.
"Lepasin, atau aku teriak kau mau perkosa aku."
"Nggak akan aku lepas, kau dengar."
Ben pun berteriak lantang
"Tolong... Tolong. Aku diperkosa," teriak Ben membuat para warga melihat dan ingin menghampirinya, Bebi yang melihat buru-buru melepas tangannya.
Ben melihat ketakutan pada gadis satpol pp itu menyunggingkan senyuman dan menagambil oangkah seribu. Saat para warga sudah tak memperhatikannya. Bebi menengok ke arah Ben ternyata.
"Sialan tuh cowok ya, Awas aja. Kalau ketemu lagi aku injak dia," Bebi kesal sambil menghentakkan kakinya di lantai.
Di tempat lain, Ben membersihkan lukanya di rumahsakit tempat Sella adeknya praktek.
"Tolong tutupi Sel," ucap Ben ketakutan melihat darahnya sendiri
"Astaga kakak, begitu aja takut. Tampang preman tapi kelakuannya kayak anak kecil."
"Aw. Pelan, dek."
"Hahahahaha, aku videoin biar pada tahu si most wanted kampus penaut darah."
"Sel, kau ini. Iseng banget, hapus atau kakak banting ponselmu," ancam Ben
"Iya-iya, galak amat. Kau tak jera juga ya kak, nanti kalau Daddy tau tahu rasa."
"Daddy udah tahu," ucap Brian di ambang pintu membuat Ben menunduk
"Hei penakut darah, sana balik ke kampus. Kau ini ujian."
"I-iya Dad," ucap Ben nyalinya seketika menciut
Sella melihat kakaknya takut , menahan senyum
"Ya udah, Daddy balik ke kantor. Sel, Daddy balik ya," pamit Brian
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah kepergian Brian, Ben turun dari brankar dan buru-buru kembali ke kampus.
"Kakak balik dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Di tempat lain, Bebi bary saja samapi di kampus berjumpa kekasihnya.
"Hai beb," sapa Arya
"Hai, kau udah ujian."
"Udah, kau masuklah. Dosen udah daang."
"Baiklah, bye."
"Bye."
Arya tersenyum lalu pergi ke kantin. Sedangkan di satu sisi, mobil sport Ben tiba di halaman kampus membuat para mahasiswi berteriak.
"Waw, si most wanted."
"Keren abis dia."
"Duh mimpi terus kalau lihat pujaan hati."
"Dasr kau ini, tukang mimpi."
Saat Ben keluar dari mobil para mahasiswi sungguh kagum akan ciptaan Tuhan di epan mata. Ben memakai kcamat hitam dan bsrjalan menuju kelasnya tapi siapa sangka dia bertemu dengan gadis satpol pp.
"Hah, kau," tunjuk Ben pada Bebi.
Tapi Bebi, pura-pura tidak tahu.
Dosen melihat keterkejutan Ben, segera menyuruhnya duduk agar tak berisik.
__ADS_1
"Ben mau ujian atau mau pandang-pandangan," celetuk dosen
Ben kemudian duduk di sebelah Bebi dengan sangat terpaksa.
15 menit kemudian, Ben sudah selesai mengerjakan, sontak Bebi terkejut.
"What, dia sudah selesaI. Tak bisa dibiarkan ini," gerutu Bebi
Bebi dengan cepat menyelesakan ujiannya. Sedangkan kekasihnya sedag asyikan dengan selingkuhannya kantin.
"Sayang, buruan kau putusin dia."
"Iya, aku masih butuh dia buat uang Jajan."
"Tapi kapan."
"Aku cari waktu tepat dulu."
Ben yang melihat tingkah kekasih dari Bebi, sungguh jijik saat melewati meja menyeletuk
"Dasar penipu."
"Hei, kau bilang apa?" Arya tak terima
"Kau tuli ya."
"Sialan, kau emang."
Arya ingin memukul tapi ada seruan dI belakangnya.
"Sayang, kau ngapain?"
Ben tersenyum miring ternyata wanita galak itu juga kena tipu pria miskin ini.
"Eh Beb. Aku mau ngasih pelajaran sama dia, udah ganggu tempat ku buatmu," ucap Arya mencoba merayu Bebi
"Hahahaha dasar gila kau ya, hati-hati sama dia," ucap Ben berbisik pada Bebi dan berlalu
"Hei, kau ngomong apa hah."
"Udah, duduk. Ngapain di dengerin."
"Iya Beb. Kau mau minum atau makan."
"Dua-duanya."
"Oke, tunggu tuan putri."
Di tempat lain, dari kejauhan Ben melihat adeknya Axel tengah berpacaran di bawah pohon, dengan isengnya menimpuk kepala dengan botol mineral
Pluk
"Aw, sialan. Siapa menimpukku," Axel mencari pelakunya namun tak menemukan
Tiba-tiba saat Axel berbalik ia terkejut
"Aw, sialan kau kak."
"Hahahhaha, penakut."
"Kau juga."
"Kak, maaf aku tadi kelupaan kakak."
"Kau selalu begitu, untung aku bisa kabur dari satpol wanita."
"Hah, yang bener."
"Iya."
"Mau tau siapa satpol pp nya."
"Mau, siapa?"
"Itu," Ben menunjuk pada Bebi
"Hah, yang bener."
"Emang tampangku tukang tipu."
"Nggak, tapi sering ditipu."
"Sialan kau."
Saat Ben, Axel dan Mesya asyik mengobrol tiba-tiba, ada suara tabrakan
Brak
__ADS_1
Sontak mereka dan mahasiswa lain berdiri lalu berlari melihat keluar. Dan salah satu mahasiswa melihat tabrakan itu berteriak
"Tidak."