Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Aku tak berkhianat


__ADS_3

Ferry sudah dibawa oleh Rudi dan juga Rio ke rumahsakit. Sekitar satu jam akhirnya dokter yang menangani keluar dari ruangan. Rudi dan Rika berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan teman saya, dokter?" tanya Rudi memastikan


"Untunglah hanya ada memar saja tidak bahaya. Kalian bisa menengoknya."


"Terimakasih dokter."


"Sama-sama. Saya permisi dulu."


Ketiganya masuk ruangan, Ferry melihat kedatangan kedua sahabatnya berusaha untuk duduk. Rika yang tak tega membantu Ferry untuk bersandar.


"Bagaimana keadaanmu, penghianat?" tanya Rudi menatap tajam


"Rudi. Dia sahabat kita," ucap Rio mencoba melerai


"Stop Rio! penghianat sepertinya  harus di musnahkan. Dengar ya, kalau kak Ben tak punya hati mungkin sekarang tinggal nama kau saja. Dan satu lagi, kau tak ingat disaat kau terpuruk siapa yang mengangkatmu, tolol," bentak Axel


"Xel, ka sama gila nya dengan Ben. Berhenti menghakimi kita tanya dulu kebenarannya dari Ferry dan juga Rika."


Ferry menyadari kesalahannya tapi ia tak memungkiri perasaannya. Ia pun mulai bercerita pada kedua sahabatnya. Rika melihat ketegangan mereka, dia mencoba keluar memberi ruang ketiganya.


"Em, aku keluar dulu. kalian berbicaralah."


Setelah kepergian Rika, Rudi, Axel dan Rio duduk sedangkan Ferry mencoba menjelaskan.


"Begini, Rudi, Axel, Rio. Maafkan aku jika menurut kalian menghianati. Tapi demi Tuhan aku tak seperti itu, aku niatnya menolong. Dan lama kelamaan perasaan itu ada padanya, jadi jangan salahkan dia, dan awalnya aku ragu dia berubah tapi ternyata salah dia benar-benar berubah. Kalau kalian tak percaya lihat cctv di apartementku."


Rudi, Axel, dan Rio saling pandang


"Jadi tolong bantu aku, memberi pengertian pada Ben. Aku minta maaf, aku tak berniat menghianatinya."


"Kami mengusahakan tapi tak janji, kau tahu sendiri bagaimana dia."


"Terimakasih."


Di sisi lain tepatnya di mansion, Bebi dan yang lain sedang asyik menonton drakor kesayangan. Dan di saat akting ciuman tiba-tiba tv ada yang mematikan.


"Ah sial, siapa sih iseng banget," gerutu Bebi


Ketiga perempuan itu menoleh ke arah pintu ternyata ada Ben, mereka pelan-pelan keluar meninggalkan keduanya. Sedangkan Bebi masih makan cemilan sambil mengomel, dan tanpa di duga pria tampan gondrongnya mencium bibir yang mengomel itu. Bebi terkejut suaminya seenak jidat maen cium. Bebi menepuk dada Ben agar melepaskan, tapi malahan memperdalam. Sekian detik akhirnya Ben melepas pagutannya


Huh


"Ih menyebalkan, kau tuan muda," cibir Bebi pada suaminya yang malah cengengesan


.


"Habisnya kau ngomel  aja, kasihan baby kita ikutan nanti."


"Emang ngaruh?" tanya mengejek


"Tahu sayang," ucap Ben Mengedikkan bahu.


"Dasar sok tahu, udah beres urusannya."


"Udah, oh ya mana Alden."


"Lagi istirahat di kamar. Aku juga mau istirahat."

__ADS_1


"Ikut dunk, sayang."


"Come on, baby," ucap Bebi mengedipkan mata genitnya


"Dasar centil," Ben mengulas senyuman


Mereka berdua akhirnya beristirahat sejenak di kamar, satu jam kemudian ada panggilan telepon dari Rudi. Ben kesal sedari tadi ponselnya berdering dengan berat hati ia mengangkatnya.


"Halo, siapa?"


"Ketus amat bos. Dia sudah ditangani."


"Kalau nggak penting mending aku tutup."


"Eh Ben, dengerin dulu.  Sore nanti, kita ketemu di ruang kerja mu. aku  mau memberitahu sesuatu padamu."


"Baiklah, udah aku mau lanjut tidur."


Ben pun menutup teleponnya lalu kembali menuju alam mimpi. Sedangkan Rudi mengirim pesan pada Ferry, jika dia akan berbicara pada Ben.


Di rumahsakit, Ferry mulai di suapi makan oleh Rika.  Perhatian kecil yamg diberikan Rika membuatnya makin percaya jika Tuhan tak salah mengirim malaikat cantik padanya.


"Udah Rik," ucap Ferry pelan


"Kamu mau aku belikan apa?" tanya Rika lirih


"Rik, boleh aku ngomong sesuatu padamu?"


"Ya udah ngomong aja, Fer."


"Maafin aku, jika perasaanku salah tapi aku mencintaimu, Rik."


"Tapi Fer, kau tahu aku wanita iblis bahkan kata Ben, aku ular," menatap sendu Ferry


"Bagiku kau ratuku, kau berubah itu sudah cukup Rik. Jadi maukah kau menerimaku?"


Rika meneteskan air mata haru mengangguk, baru kali ini ia merasakan kebahagiaan sesungguhnya. Ia sungguh bahagia bisa mencintai dan dicintai. Wanita cantik itu kemudian berhambur memeluk Ferry, Ferry membalas kecupan singkat di puncak kepalanya.


Di mansion Ben, Rudi kesal sudah setengah jam ia menunggu bosnya tapi tak kunjung datang. Ia akhirnya memutuskan menggedor kamar Ben. Kini asisten mulai mengetuk pintu kamar Ben.


Tok


Tok


"Kau. Ada apa?" ucap Ben sambil mengucek mata masih setengah sadar


"Huh, untung bos. Kau lupa jika akan bertemu denganku aku nunggu sampek lumutan tahu."


"Ini jam berapa?"


"Jam 5 sore, you know."


"Apa! ok-ok tunggu aku mandi dulu."


"Aku tunggu di ruanganmu."


"Ok."


Ben segera menutup pintu dan menuju kamar mandi tak lama ia sudah rapi. Ia celingukan mencari keberadaan istrinya, ia beranggapan mungkin dibawah.  Buru-buru Ben, keluar kamar lalu ke ruangan kerjanya.

__ADS_1


Saat berjalan menuju ruangannya pria tampan nan gondrong berpapasan dengan Bebi.


"Sayang, kau tampak buru-buru?" tanya lembut istrinya


"Iya sayang, aku mau ketemu Rudi.  Kamu darimana?"


"Aku dari bawah lagi nonton, oh ya kapan balik."


"Bentar, nanti kita bicara lagi sayang."


Cup


"Oke, baiklah."


Ben melenggang ke ruangannya dan benar dua mahkluk hidup itu sudah berada di sana.


"Ada apa Rudi? jelaskan tanpa panjang banget intinya aja."


"Begini."


Saat akan mulai berbicara tiba-tiba pintunya diketuk oleh seseorang, Ben mendengus lalu berdiri melihat


"Sayang. ada apa?"


"Mau kopi nggak?" Bebi menawari


"Boleh, kalian juga mau."


"Boleh," ucap keduanya


"Oh ya, mana Axel? nggak ikut."


"Tau, tuh."


"Ok, di tunggu."


Ben menutup pintu kembali dan Rudi mulai berbicara lagi.


"Dia mengakui jika mencintainya Ben, lalu dia memberikan rekaman ini untukmu. Ia tak berniat menghianati hanya saja ia terjebak situasi ini," ucap Rudi memberikan disk cctv apartement Ferry


Ben menerima lalu ia mulai memutar disk di laptop nya. tatapan mata Ben tak bisa ditebak saat menonton cctv itu. Saat ketiganya bersitegang ada suara ketukan lagi


Bebi membuka pintu melihat raut wajah tegang mereka dengan segera melontarkan candaan.


"Pada tegang banget mukanya, mau ku siram ini biar nggak tegang."


"Tega sekali kau sayang," rengek manja Ben


Rudi dan Rio menepuk jidat bebarengan karena kalau Ben sudah berurusan dengan pawang pastinya akan luluh.


"Lebay. Ya sudah, selamat menikmati semua."


Bebi keluar dan suasana mencekam kembali lagi di ruangan itu. Ben  menyambar kunci mobil dan berkata.


"Ayo ikut aku."


Rio dan Rudi saling pandang dan buru-buru mengejar Ben, sampai di bawah ketiganya berlarian Bebi dan para perempuan lain memgerutkan dahi.


"Ada apa dengan mereka?"

__ADS_1


Bebi mengedikkan bahu tak mengerti, mereka lanjut drakor kesukaan.


__ADS_2