
"Kau "
"Iya, kau itu kenapa nguli," ejek Ben
"Siapa yang nguli, kau aja sok tahu. Oh ya, ngapain kau kesini."
"A-aku hanya kebetulan lewat, " ucap gelagapan Ben padahal ia ingin tahu kemana istrinya pergi
"Oh ya, tapi bau-baunya kau tidak seperti itu," ujar Bebi menatap Ben penuh selidik
"Ya sudah kalau tak percaya, mau ikut bareng nggak. Mumpung aku lagi baik hati dan tidak sombong."
Bebi melihat suasana jalan sudah sepi, ia pun terpaksa mengiyakan.
"Iya," ucapnya dan masuk ke dalam mobil bagian penumpang belakang
Ben melongo melihat kelakuan istrinya
"Eh-eh siapa yang nyuruh kau duduk dibelakang, hah," bentak Ben
"Aku."
"Huh, dasar emang ya. Kau pikir aku sopirmu, pindah depan."
Bebi mengerucutkan bibir lalu, keluar dan pindah duduk di samping Ben.
Kini, mobil Ben melaju kencang menuju kediaman Baratawijaya. Sesampainya, Bebi tanpa ngomong aupun buru-buru keluar dari mobil. Ben ternganga, melihat Bebi seenak jidat keluar mobil tanpa permisi.
"Sialan tuh cewek main kabur aja tanpa menungguku," umpat Ben
Lelaki tampan itu pun keluar dari mobil berjala menuju dalam rumah. Sampai di ruang tamu, ia bertemu dengan Bunda nya.
"loh, Ben.kok sendiri? mana istrimu."
"Udah duluan naik ke kamar, Bun," ucapnya sambil mencium punggung tangan Bunda
"Oh, mungkin dia kecapekan, Ben. Sekali-kali kau ajak dia ke salon buat massage."
"Iya, kapan-kapan Bun. Ya udah, Ben istirahat juga."
"Baiklah, selamat istirahat."
Ben naik ke lantai dua kamarnya menggunakan lift. Saat ia membuka kamar, terlihat sepi dan gelap, perlahan ia berjalan dan saat menyelaan lampu.
Byar
"Aaa," jerit Bebi karena dia tepat memgganti baju
"Oh ****," umpat Ben buru-buru mematikan kembali lampunya dan keluar dari kamar
"Huh .. Huh. Dasar ceroboh dia. Makin lama makin kurang ajar dia."
__ADS_1
Ben merasakan sesuatu tengah berdiri karena ulah Bebi tadi, mau tak mau ia memilih pergi untuk menghilangkan pusingnya.
Ben turun kembali menuju Kafe milik temannya Rio. Saat sampai disana dia disambut Rio.
"Oh hai, bro. Kemana aja kau."
"Hai," ucapnya lesu
"Kenapa lesu begitu. Ah, aku tahu nggak dapet jatah kau ya, kan."
"Memang begitu."
"Hah, maksudnya beneran."
"Iya beneran dan itu semua karena surat."
"Maksudnya."
"Aku buat perjanjian dengan istriku, karena kita tak saling suka dari awal."
"Hah, jadi istri kau masih segel."
"Kalau segel atau nggak mana ku tahu, aku kan belum menyentuhnya. Kita aja berantem mulu."
"Kau sih terlalu dingin sama cewek."
"Memang karakter gitu."
"Hem, kau ubahlah jadi lebih manis, kasih perhatian kecil misalnya tanya udah makan atau bawakan kesukaannya apa gitu."
"Astaga, bro. Kau tahu dia milik orang. Awas aja kena karma tahu rasa."
"Makanya aku bingung, dan dilain sisi istriku masih punya kekasih."
"Apa? Kalian memang memusingkan dan bikin rumit. Terserah kau sajalah, Ben. Kau mau minum apa?"
"Bawakan aku bir, pusing kepalaku."
"Kau sendiri yang buat pusing. Ok, tunggu."
Tak lama, Rio membawa minuman spesial untuk sahabatnya. Ben ingat, bagaimana dia dua kali melihat tubuh mulus istrinya dan ia tak bisa menyentuh karena perjanjian dari awal. Gengsi yang ia utamakan menjandikan dia gundah gulana.
"Macam tak punya istri," gerutu Ben , lalu ia meneguk minuman itu hingga tak terasa Dua botol. Rio melihat tampang Ben sudah tak karuan ia pun menelpon istrinya.
"Halo , ini benar Bebi."
"Iya benar, Maaf dengan siapa?"
"Saya Rio sahabatnya Ben, tolong bawa dia pulang. Kasihan dia mabuk berat."
"Astaga, baiklah. Kau kirim alamatnya."
__ADS_1
"Oke."
Usai menutup telpon, Bebi bergegas mengganti baju dan menjemput suaminya di kafe.
Tak butuh lama, taksi yang ditumpangi Bebi sudah berhenti di depan kafe. Saat Bebi masuk, ia melihat suaminya mabuk berat dan sedang di rangkul wanita lain.
Bebi kesal dengan dengan cepat menyingkirkan tangan wanita itu.
Bruk
"Kau."
"Dia suamiku, jadi kau minggir."
Wanita itu menghentakkan kakinya karena gagal meniduri lelaki tampan.
Sedangkan Bebi membawa Ben ke hotel, ia berfikir tak mungkin membawa Ben ke rumah, nanti pasti kena marah orangtuanya.
Sekitar 15 menit, mereka sampai di hotel dan masuk ke dalam kamar yang sudah di pesan Bebi.
"Berat juga nih orang, maka apa coba," gerutu kesal Bebi.
Satu persatu, alas kaki, baju ia ganti namun belum sampai selesai, Ben bangun merangkul Beni lalu mencium bibirnya hingga terjadilah malam pertama mereka berdua.
Keesokan harinya, Bebi bangun lebih pagi kesal karena mahkotanya sudah direnggut oleh Ben dan cara paksa pula. Ia sesekali mengusap air matanya saat di kamar mandi. Sedangkan Ben bangun dan melihat sekitarnya bukan kamar melainkan tempat lain, seketika membuka mata lebar. Dia juga melihat sudah tanpa pakaian, Ia mengacak rambutnya kasar tak ingat apa yang di lakukan.
Ben mengumpat dan sesaat, ia menangis merutuki kebodohannya, ia takut jika meniduri gadis lain. Saat ia menangisi keadaan, nampak perempuan keluar dari kamar mandi dan itu adalah
"Bebi, kau."
Bebi tak menjawab dia menundukkan kepalanya dengan hanya memakai baju kemeja yang kebesaran milik Ben. Ben menatap wajah cantik istrinya dan ia mencoba mengingat bahwa dia sudah merenggut kesucian Bebi. Lelaki tampan itu mengambil boxer disebelahnya dan memakai lalu, menghampiri Bebi yang tengah terduduk sedih di kursi. Ben berjalan dan merangkul istrinya dan berkata, "Maafkan aku."
Bebi tak menjawab ucapan Ben, ia buru-buru mengganti pakaian lalu turun untuk pulang.
Ben hanya bisa diam dan mengikuti istrinya. Sampai di rumah pun, Bebi tak mau mengobrol apapun biasanya dia paling cerewet.
"Beb, mau ku ambilkan makan," Ben menawari sambil membenarkan dasi kerja tapi tak bisa-bisa. Bebi melirik kearah Ben, yanh kesusan memakai dasi. Ia beranjak dari kursi lalu membantunya. Meski Bebi marah tapi ia tetap melayani Ben memakaikan dasi. Ben sungguh tak enak pada istrinya, ia pun memegang tangannya.
"Beb, maafkan aku. Aku tak sadar."
"Maaf. Kau tahu, aku menjaganya untuk suamiku yang bener tulus mencintaiku bukan sepertimu," ucap keras Bebi sambil berlinang air mata
"Jadi, aku harus apa?"
"Terserah kau saja."
Bebi memilih ke balkon tanpa memperdulikan Ben lagi, Ben pun akhirnya turun dan makan pagi bersama orangtua serta adik-adiknya. Selama makan Ben hanya mengaduk makanannya. Axel, Sella dan Orangtuanya heran dengan Ben.
"Ben, dari tadi kau aduk aja makannya," ucap Brian
Sontak, Ben ingat dan segera memakannya. Axel melihat ada sesuatu pada kakaknya.
__ADS_1
Sampai di kantor pun, Ben tak menyapa balik para karyawan. Ia nampak melamun sejak tadi, Axel menggeleng kepala heran dan ia tak mau tinggal diam lalu menggebrak meja
Brak