
Hesti dan Rudi sudah berada di ruang tamu menunggu bos nggak ada ahklak itu. Ben menggandeng istri tercinta menemui mereka.
"Hai Hes," sapa Bebi sambil mencium pipi kanan
"Hai juga Beb, makin cantik aja."
"Sama, kau juga. Ada apa ini."
"Kalau aku males ya nyapa kau, bosen," celetuk Ben dan duduk di sebelah Bebi.
"Kau ini Dad, meski sering ketemu ya nyapa dunk," tutur Bebi pada suaminya.
"Emang bos nggak ada akhlak ini, Beb."
"Dan kau asisten terlaknat. Ngapain kamu kesini nggak bosen ketemu aku mulu."
"Kalau bukan karena istriku, aku juga males kesini."
"Ih apaan sih, pa. Malah berantem nggak malu udah tua juga."
"Enak aja tua, gini-gini aku masih kuat buat kau kelimpungan."
Seketika semua tertawa, Hesti sungguh malu di depan Ben dan Bebi, suaminya ngomong nggak disaring terlebih dahulu.
"Udah-udah. Sebenarnya ada apa."
"Itu Leo mau melamar Ega, kalian kan udah pengalaman. Apa aja yang dibawa kesana."
"Waw, kau mau mantu. Habis ini sepi dunk."
"Ya taulah, kan dia anak semata wayang kami."
"Jadi apa aja, Beb."
"Perlengkapan wanita kamu pilih kiranya cocok buat calon menantu mu, Hes. Kue, buah dan lain juga. Macam perhiasan apalah kaya kita sering belanja."
"Nah itu, Ma. Kayak kalian biasa belanja," Rudi menimpali.
"Dasar sinting, bisanya cuma menimpali," Ben menyindir.
"Udah jangan berantem mulu, kupingku panas nih Pa."
"Maaf kanjeng," ucapnya sambil meminta ampun
Ben tertawa terpingkal-pingkal melihat Rudi tak bisa berkutik jika istri juga sudah keluar tanduknya.
Setelah Hesti minta saran dan ia juga ingat-ingat pesan Bebi sahabatnya itu. Dan akhirnya Hesti dan Rudi berpamitan karena sudah pukul 9 malam.
"Thanks Beb, Ben. Kita pulang dulu, Oh ya besok kalian harus ikut, ok."
"Hah, acaranya kapan Hes. Jangan mendadak dunk."
"Lusa kok."
"Gila, kamu belanjanya kapan."
"Ya besok Beb, kamu temenin aku. Please, boleh ya Ben," Hesti memohon.
"Iya boleh, bawa bodyguard Mami. Kalau nggak mau, ya tak ada ijin."
"Siap Dad."
"Oke see you, assalamukaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Ben dan Rudi saling mengacungkan jempol ke bawah, Bebi heran udah pada tua kelakuan masih kayak bocah. Setelah mobil Roy keluar dai gerbang, barulah Bebi dan Ben masuk ke dalam rumah.
"Dad, kita bawa apa pas acara lamaran Leo."
"Baiknya apa menurut Mami aja ya."
"Yang bener terserah Mami."
"Iya sayang, aku nurut kamu aja. Tapi gantinya kiss dulu dunk."
"Ih apaan sih Dad,malu dilihat bibik lo."
Huh
Ben yang udah gemes sama istri seketika menggendong tubuh mungil nan ramping itu membawanya ke kamar.
"Eh."
Para maid melihat keharmonisan keduanya nampak bahagia.
"Dari dulu mereka selalu romantis, jarang bertengkar."
"Iya doakan aja langgeng sampai maut memisahkan mereka."
"Amin. Udah yuk istirahat."
Keesokannya, Bebi terbangun dengan berjalan sempoyongan akibat pertempurannya tadi malam. Ia kini duduk di meja rias dengan muka kusutnya, ia sesekali masih menguap. Ben teebangun saat meraba disampingnya tak ada istri. Ia duduk di atas ranjang mengamati pergerakan sang istri sedari tadi menguap terus.
"Mau sampai kapan menguap terus sayang, nggak mandi," Bebi terlonjak kaget hingga terjatuh dari kursi.
"Aw."
Ben berlari dan menarik tangan istrinya kembali duduk.
"Kau ini sayang, ada aja ya. Kamu tuh masih ngantuk, ayo tidur lagi."
"Ya uda kita mandi yuk."
"No."
"Kenapa?"
"Nanti nggak mandi malahan adanya badanku susah digerakkin. Udah minggir aku mandi dulu dan nggak boleh ngintip. Awas bintitan lo."
"Haish kau ya sayang, bisa nya ngancem suami mu ini," teriak Ben tak di dengar Bebi.
Setelah berendam dengan aroma terapi bunga lavender, Bebi merasa tubuhnya kembali fresh, ia pun segera keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet mengganti pakaian. Saat kembali dari walk ini closet ia melihat Ben kembali tidur, ia berjalan mendekat namun ia malah terjatuh akibat Ben mengejutkannya.
Buaaaa
"Aduh."
"Sayang maaf, ayo," Ben menarik tangan istrinya agar bisa duduk di tepi ranjang.
"Nyebelin banget sih, dari tadi bikin aku terkejut mau buat aku mati mendadak, hem."
"Nggak dunk sayang, udah ya. Mana ada yang sakit kah."
"Nggak ada," ucap ketus Bebi
"Please maafin Daddy."
Cup
"Aku mandi dulu, jangan kemana-man. Awas aja."
__ADS_1
Tak lama, pria tampan yang masih bagus badannya itu keluar dari kamar mandi, Bebi mendekat dan mulai mengeringkan rambut suaminya dengan hairdryer.
"Kau ada meeting kah Dad."
"Iya sayang, mungkin telat pulangnya. Apa kau masih kurang yang tadi malem sayang," goda Ben
"Ih apan sih, ini aja tulangku rasanya bengkok karenamu. Udah nih."
"Marvel emang nggak ke kantor Dad?"
"Ke kantor tapi siang kayaknya dia mau ke kafe dulu katanya."
"Oh ya udah, nanti kalau nggak capek mau ke rumah Marvel . Kangen Arthur sama Sha."
"Iya sayang, hati-hati ok."
"Iya kamu juga Dad."
"Ya udah, turun yuk."
Sampai di bawah, Ben dan Bebi seperti biasa menyuruh para maid untuk sarapan juga. 15 menit kemudian, Ben berpamitan lalu mengemudikan mobilnya menuju kantor Baratawijaya.
Sedangkan Bebi naik ke ke kamarnya mengambil sling bag dan bersiap menunggu jemputan Hesti. Dan sebuah klakson menandakan jika Hesti sudah menunggunya di bawah. Ia pun bergegas turun menemuinya.
"Hai Hes, yuk."
"Let's go."
Mobil mereka tak lama sudah sampai di mall xx, Bebi dan Hesti turun semua memberi hormat karena tahu istri pemilik mall. Sesungguhnya Bebi risih dengan perlakuan mereka ,karena ia tak ingin keberadaannya ditunjukkan.
"Pagi nyonya, silahkan mau cari apa," salah satu karyawan toko menyambutnya ramah
"Pagi, mbak mau lihat gaunnya itu."
"Oh ya nyonya. Saya ambilkan."
Karyawan itu mengambil gaun putih selutut untuk Bebi. Dan ia menempelkan di tubuh ternyata pas, akhirnya ia beli.
"Kamu mau yang mana Hes, buat calon menantumu, itu ada satu set."
"Beli perhiasan dulu yuk."
"Baiklah. Ayo."
Mereka menuju toko perhiasan mahal, Bebi melihat ada satu kalung membuatnya terpukau.
"Mbak, ambilkan kalung itu," Bebi menunjuk kalung indah berlian putih.
"Cantik sekali, Beb."
"Iya dunk, pilihan Mami Bebi."
"Ini kau udah pilih."
"Belum. Bingung nih mana yang cocok buat menantuku."
"Nah, ini Hes. Cantik seperti orangnya simple tetap elegan."
"Eh iya Beb, kamu makin tahu aja soal ginian."
"Ini semua gara-gara si bos," desis Beb membuat Hesti tertawa
"Hahahahhaha, tapi kau menyukai nya bukan."
"Iyalah, dia semangatku buat shopping."
__ADS_1
"Oh ya, jangan lupa undang anak yatim, untuk acara itu. Atas ijin Allah, pasti berkah semua dan lancar sampai hari H."
"Amine, siap Bu bos, kau yang terbaik."