Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Tanda teman


__ADS_3

Sha dan Dewa akhirnya tertawa bersama, tak lama mereka berdua dipanggil untuk segera makan siang. Namun saat Yasmine akan menyendokkan makanan ke dalam mulut tiba-tiba, ada yang merangkulnya dari belakang membuat semua bersorak.


"Cie..."


Kayla menoleh kebelakang ternyata suaminya sungguh kejutan baginya ia kira bakal lama bertemu, dia berdiri dan berbalik badan memeluk suaminya.


"Ehem. Nanti lagi, kita laper," deheman Lala dan Ega membuat semua menahan tawa.


Sontak keduanya melepas pelukan salah tingkah lalu twins berlalri memeluk.


"Daddy," seru dua bocah kecil itu.


"Hai kesayangan Daddy. Udah sekarang makan dulu ya."


"Siap Daddy."


Marvelpun beralih menyalami pemilik yayasan.


"Bu, apa kabar?"


"Baik nak Marvel, ayo makan dulu sama-sama."


"Oh makasih Bu, kami sudah makan."


"Kami," tanya Ega pada Marvel.


"Iya, aku dan Leo."


"Mana dia?"


"Hahahha cie pengantin baru kangen juga."


"Iya lah masak kamu doank, Vel."


"Taraaaa," Leo merentangkan tangannya dan Ega menutup mulut berlari pada suaminya, saat keduanya akan bermesraan sebuah celetukan dilontarkan oleh Marvel.


"Nanti lagi."


"Hahhahahaha," sorak semua.


Ega dan Leo sama-sama salah tingkah , Akhirnya mereka pun mulai makan siang bersama. Setelah sekitar satu jam disana, kini Marvel dan Kayla berpamitan pada pemilik yayasan.


"Kami pamit ya, Bu. Ini ada sedikit rejeki dari keluarga untuk anak-anak," Marvel memberikan amplop coklat berisi uang.


"Terimakasih nak, semoga sehat selalu, lancar dan berkah."


"Amin, makasih Bu. Sehat-sehat ya Bu, kalau ada waktu lagi, kami berkunjung."


"Iya nak, hati-hati."


Marvel celingukan melihat keberadaan Sha tak ada di sebelah Arthur.


"Mommy, Sha mana?"


"Hah, bentar aku cari dulu mungkin masih sama temen lain di belakang."


"Oke."


Di belakang, Sha berpamitan pada Dewa


"Kak, aku pulang dulu ya. Ini aku punya sesuatu buat kamu," memberikan sebuah gelang manik lucu berwarna hitam putih.


"Ini buat aku."


"Iya kak, tanda pertemanan kita. Nanti aku pengen ketemu kakak lagi."


"Baiklah terimakasih Sha. Aku akan menyimpannya."


"Ya uda kak, aku pergi dulu."


"Hati-hati."


Sha tersenyum dan berlari ke depan, Kayla terharu pada putrinya nampak bisa akrab dengan anak lain ia pun menghampiri Sha untuk segera pulang.


"Ayo nak."


"Iya Mom."


Marvel dan Kayla menuju kediamannya dan tak lama mereka sampai di rumah. Marvel menggandeng tangan istri dan juga kedua buah hatinya.

__ADS_1


"Mommy, sekarang viral ya."


"Hah, maksudnya."


"Lihat di internet atau di tv pasti wajahmu ada dimana-mama."


Kayla baru ingat jika ia pernah berfoto dengan kurir itu.


"He ... itu kebetulan sayang. Karena kurir bilang minta foto buat istrinya nyidam."


"Waw, sampai segitunya."


"Iya."


"Kamu emang luar biasa sayang, memang tak salah pilih Mami  memberikan  jodoh untukku."


"Cie gombal banget sih."


"Bukan gombal beneran, aku mencintaimu."


"Tahu ah, udah ayo masuk  aku lelah."


"Eh sayang, aku beneran lo," rengek manja Marvel mengejar istrinya menuju kamar.


.......


Sedangkan di tempat lain tepatnya di kampung Bunda Sarah. Hari ini Raka dan Hilda akan mengikuti Bunda Sarah di tempat prakteknya.


"Bun, Hilda sama Raka mau ikut tempat praktek. Soalnya pengen lihat suasana lama juga kan nggak disini,"ujar Hilda.


"Baiklah kalau kamu maunya gitu, ayo bersiaplah. Mana Berlian, Hil."


"Masih sama kak Raka di mandiin."


"Raka telaten banget sama Berlian, Bunda kagum sama dia."


"Iya Bun, aku bahagia punya suami kayak kak Raka."


"Langgeng terus ya nak, sering-sering kesini loh."


"Amin."


"Hai Mami, Bunda."


"Udah siap."


"Let's go."


Mereka meluncur ketempat praktek kampung setempat yang biasa Bunda Sarah lakukan. Nampak di depan klinik tersebut sudah berjejer pasien dan mereka terkejut saat kedatangan Raka dan juga Hilda.


"Nak Raka, Hilda."


"Oh iya Pak, apa kabar."


"Saya baik nak, kalian lagi liburan ya."


"Iya Pak. Mau periksa ya."


"Iya nak."


"Baklah, sini Pak biar Raka bantu periksa."


"Loh kakak masih ingat," tanya Hilda pada suaminya.


"Kau meremehkan suamimu ini, sayang."


"Aku nggak bilang loh ya."


Tiba-tiba, ada banyak cewek berbaris ingin diperiksa oleh Raka, Hilda tersengag ada sekitar dua puluh cewek siap mengantri.


"Ka-kalian mau ngapain," tanya Hilda heran.


"Mau periksa kak, masak ya mau makan."


"Iya kak kebetulan banget ada kak Raka ksini, sangat membantu."


"Cih, dasar cewek centil."


"Oke, tapi jaga jarak. Kalau mau periksa,tolong dimengerti," ucap Hilda berlalu meninggalkan para cewek genit.

__ADS_1


Raka melihat tingkah istrinya menggeleng kepala tapi dia suka jika Hilda terlihat cemburu karena pertanda dia mencintainya.


Satu jam berlalu, tapi segerombolan cewek masih saja berdatangan. Hilda tak tinggal diam karena diam-diam ada yang mengambil gambar suaminya. Ia pun bergerak cepat memasang tulisan 'sudah tutup' di depan pagar klinik.


Bunda Sarah sedari tadi memperhatikan tingkah Hilda sungguh ingin tertawa tapi ia tahan.  Dan pasien Bunda Sarah tinggal satu orang lagi setelah selesai meriksa, Bunda membereskan ruangannya dibantu perawat.


"Bunda, mau langsung pulang," tanya perawat.


"Iya, mau maen sama cucu."


"Lucu sekali cucunya, Bunda."


"Iya, makanya pengen cepet pulang. Kamu cepetlah nikah."


"Nungguin kak Raka,ops," ucapnya segera menutup mulut.


Bunda Sarah menggeleng heran semua nampak tergila-gila dengan ketampanan  anak angkatnya itu.


Beberapa saat, Bunda mengajak pulang Hilda dan Raka. Saat  Hilda berjalan paling belakang tiba-tiba, ada yang menyerempetnya.


Brug


"Aw," ringis Hilda membuat Raka dan Bunda menoleh ke belakang.


"Hilda."


Raka seketika menghampiri Hilda yang jatuh, Raka memberikan putrinya pada Bunda Sarah lalu ia beralih pada istrinya.


"Sayang, kau kenapa?"


"Tadi ada menyerempetku, kak."


"Hah, brengsek. Ayo aku gendong kamu."


"Nggak usah kak, aku masih bisa jalan."


"Beneran."


"Iya."


Hilda pun berjalan agak sedikit pincang ia merasakan sakit teramat kaki nya seprtiny kaki terkilir saat jatuh tadi. Sampai di rumah, Hilda menyenderkan badan di pintu depan, Raka yang tak tega tanpa aba-aba menggendong istrinya untuk naik ke kekamar.


"Eh," Hilda malu jika dilihat Bunda saat digendong Raka ia pun membenamkan wajahnya di leher suami.


"Udah diem, nanti kita jatuh."


Di kamar, Raka membenarkan posisi duduk istri lalu ia bertanya.


"Masih sakit."


"Iya."


Rake melihat kaki Hilda terlihat bengkak, ia berfikir jikaì kaki istrinya terkilir.


"Sayang, kamu gigit ini ya. Aku akan membenarkan kaki mu yang terkilir," Raka memberikan batal agar Hilda menggigit itu, dan juga jika menjerit tak sampai terdengar orang


"Aku mulai sayang."


1


2


3


"Krek."


"Emmmmpt."


"Satu lagi sayang."


"Emmmmmpt."


"Nah sudah."


Huh


"Iya enakan kak. Alhamdulillah makasih sayangku," Hilda reflek mencium bibir suaminya membuat Raka tersenyum smirk  menghadap istrinya.


"Dan kau harus menuntaskannya."

__ADS_1


__ADS_2