
Esoknya, tubuh Ari merasakan panas dingin. Ia memakai selimut namun tak mempan malahan semakin menggigil. Dan terdengarlah suara ketukan dari pintu ia beranjak pelan dan membukanya.
"Marvel."
"Om, Om sakit kenapa pucat sekali," Marvel panik
"Om hanya demam, Vel."
"Alden bawa ke rumahsakit aja ya, takut tambah parah. Mari Om."
"Tapi Vel."
"Nggak apa, Om."
Marvel membantu memapah pria paruh baya itu dan saat akan keluar dari ruang tamu, ia berpapasan dengan Kayla.
"Loh Vel, kenapa Om Ari."
"Sakit yang, kamu di rumah dulu ya."
"Ya udah hati-hati."
Marvel dan Ari masuk ke dalam mobil dan tak lama mobil yang dikendarai Marvel sudah sampai di rumahsakit. Marvel yang tak tega mengambil kursi roda agar memudahkan ia mendorong. Saat berjalan di lorong, ia bertemu dengan Rere, Raka serta Hilda.
"Ri, kamu kenapa," tanya Rere panik melihat wajah Ari pucat
Raka melihat kepanikan di raut wajah sang Mama membuat ia tahu jika sesungguhnya perasaan tetap sama seperti dulu.
"Aku nggak pa, Re."
"Marvel bawa ke ruang periksa dulu, Tan."
"Tante ikut, Vel."
Marvel mengangguk dan melirik ke arah Raka yang tampak gelisah itu. Hilda menepuk bahu suaminya.
"Kalau kakak mau, kita ikut kesana," ajak Hilda sambil mengulas senyuman.
Raka tersenyum dan mengangguk, mereka berdua akhirnya mengikuti Ari di periksa. Satu jam kemudian, hasil rekam medis Ari keluar. Salah satu perawat keluar ruangan dan memanggil.
"Keluarga pasien tuan Ari."
"Saya sus."
"Mari silahkan nyonya."
Rere masuk ruangan dokter yang memeriksa Ari.
"Begini nyonya, tuan Ari sakit lambung karena sering telat makan. Saya saran biarkan rawat inap dulu untuk dua hari kedepan agar cepat pulih dan kita akan memeriksa ulang. Jika tak ada masalah serius diperbolehkan pulang."
"Baiklah dokter, silahkan. Apapun yang terbaik untuknya."
"Ya sudah nanti akan dipindah ke ruang rawat ya nyonya."
"Terimakasih dokter."
"Sama-sama."
Rere menemui Ari dan bertanya, " Apakah selama ini kau tertekan ,Ri."
"Sangat, aku mau makan saja tak ada nafsu. Maafkan aku Re, menyusahkanmu."
"Aku yang minta maaf Ri, karena jebakan wanita itu aku menceraikanmu."
"Ini sudah takdir Re, mana Raka."
"Ada di depan sepertinya. Mau aku panggilkan."
Tiba -tiba, perawat masuk ke dalam ruangan, mendekat brankar Ari.
"Maaf nyonya, kami akan pindahkan ruang rawat tuan Ari."
__ADS_1
"Baik suster. Silahkan."
Kedua perawat nampak keluar dari ruangan mendorong brankar menuju ruangan rawat vip . Sekilas Ari melihat putra nya pun ia tak berani menyapa karena perasaan takut di benci. Raka dan Hilda mengikuti perawat yang membawa Papanya.
"Selamat istirahat tuan."
"Terimakasih suster."
"Mau aku panggil Raka, Ri."
"Apa tak masalah, Re."
"Aku coba ya, kamu tunggu."
"Makasih Re."
Rere keluar dari ruangan nampak di depan ada Hilda dan Raka, Rere tersenyum menghampiri.
"Nak, temuilah Papa mu."
"Apa nggak apa, Ma."
"Nggak apa, ayo."
Raka tersenyum pada istrinya lalu masuk ke dalam ruangan Ari, ia mengetuk pintu dan melihat sang Papa tengah terbaring dengan wajah masih pucat.
"Sini nak," panggil Ari pada putranya
Raka berhambur memeluk pada sang Papa sambil menangis sesegukan.
"Maafin Papa."
"Papa nggak salah, Raka yang egois tak tau sesungguhnya. Maafin Raka, Pa."
"Nggak apa nak. Udah kamu elap tuh ingus mu, cowok kok nangis," Ari terkekeh
Raka tak menggubris omongan Ari tapi ia tetap memeluk erat, ia begitu rindu kasih sayang Papanya yang dulu selalu memanjakannya. Di balik pintu kaca ada Rere dan Hilda saling memeluk menatap keduanya haru. Rere bersyukur mantan suami dan Putranya kembali akur.
Dua hari kemudian, Marvel mendapat info dari pengacaranya jika Kenzi akan sidang pertamanya. Hari ini lelaki tampan itu bersiap menuju kampus bersama sang istri.
"Sayang, udah siap," tanya Marvel pada sang istri
"Iya bentar Vel, ini nyari syal."
"Hah, ngapain syal sayang."
"Itu kan karena kamu," omelnya sambil mengolesi bekas ****** di leher jenjangnya.
"He ... maaf sayang. Sini aku bantu olesin atau mau aku tambahin," goda Marvel
"Nggak usah, udah selesai ini."
"Come on ladies."
Sebenarnya Kayla risih dengan tampilannya macam mau ke kutub utara. Di bawah para babysitter melongo melihat Kayla menggunakan syal, Kayla melihat tatapan para babysitter langsung menjawabnya.
"Kena serangga tadi malam, kepalanya besar jadi ya gini deh," tutur Kala sambil melirik Marvel dan yang dilirik tersenyum tipis.
Kedua babysitter menahan tawa melihat tingkah kedua orangtua baby twin. Kayla beralih menggendong Sha.
"Sayangnya Mommy, nanti telat ya. Soalnya ada ekstra."
"Oh ya sayang, kok aku nggak tau," Marvel menyela omongan
"Pencak silat, mau ikut."
"Boleh."
"Nggak, yang ada nanti pada menatapmu bukannya latihan."
"Iya-iya, aku pake masker aja kalau gitu."
__ADS_1
"Udahlah Vwl, kamu nggak usah ikut. Kalau mau pulang baru jemput aku."
"Iya-iya, nggak usah cemberut. Aku jemput nanti."
"Axel dan Sha baik-baik di rumah ya. Nggak boleh nakal sama mbak."
"Aik Mom, Dad."
"Mbak, kami berangkat dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati nona, tuan."
"Iya."
Kayla melambaikan tangan saat akan masuk mobil, duo balita itu tertawa menatap kedua orangtua mereka sampaii mobil keluar gerbang.
....
Diperjalanan, Marvel tak pernah lepas menggenggam tangan istrinya yang terlalu bucin. Ia beberapa kali hampir kehilangan istrinya. Dan itu membuat terlalu posesif pada istri tercintanya seperti pada saat ini, Kayla merasakan gatal punggungnya ingin menggaruk saja malahan nggak bisa lepas.
"Vel, lepas. Aku gatal nih."
"Aku garuk ya, sini."
"Ih nyebelin deh."
"Hahahahha, iya. Nih aku lepas."
"Dasar nyebelin."
Tak lama, mobil Marvel datang bebarengan dengan mobil seseorang saat di depan gerbang Marvel ingin maju tapi tak bisa membuat nya kesal.
"Bentar sayang, bikin kesal aja," gerutunya
"Oke, nggak usah emosi Vel."
Marvel turun dari mobil istrinya dan menggebrak mobil tersebut.
Brak
"Keluar," teriak Marvel
Dan pemilik mobil keluar dan menyapa Marvel dengan genitnya.
"Hai Vel, apa kabarnya? Kau kuliah di sini bukan. Jadi kita pasti akan berjumpa selalu," ucap Revi mengedipkan mata genit
"Cih, dasar cicak. Kau mundur atau aku tabrak mobil mu, sampah."
"Sialan kau Vel, ngatain aku."
"Udah nggak usah banyak bacot, aku hitung ya."
1
Brum
2
Brum
Marvel sudah mulai ngegas mobilnya dan siap menabrak mobil milik Revi. Mahasiswa yang ada didalam kampus, mendengar suara ribut mobil, akhirnya keluar. Dan mereka terkejut mobil Marvel sudah mengeluarkan asap tebal tapi masih di tempat.
"Gila, mobil Marvel keren."
"Gila, makin tampan aja tuh hot Daddy itu."
"Kalau belum ada istri, aku akan daftar. Sayangnya hanya mimpi."
"Hahahhaha mimpi aja mulu."
"Udah-udah diem. Tuh lihat Marvel masih bersitegang tuh, sama siapa sih."
__ADS_1
Dan saat Marvel akan menghitung ke tiga, mobil Revi mundur. Marvel tersenyum smirk lalu masuk gerbang. Revi sungguh tak terima ia dipermalukan pada mahasiwa lain.