Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Ijinkan aku


__ADS_3

"Kenapa diem aja sih, tahu dari mana?"


"Bunda."


"Udahlah, kamu makan. Aku lanjut dulu."


Ben kembali pada kursi kebesarannya sedangkan Bebi makan yang ia sukai. Tak lama, Bebi malahan tertidur usai makan.


"Beb, kau nanti bareng aku atau-" ucapan Ben terputus saat ia melihat Bebi sudah tertidur.


"Huh, dasar emang ya. Habis makan tidur."


Ben meletakkan bolpoin lalu, beralih pada istrinya membenarkan tidur.


Dua jam kemudian, Bebi terbangun dan melihat sekitarnya ternyata dia masih di kantor. Ia melihat tubuhnya berselimut tebal.


"Jam berapa ya," ucap Bebi sambil melihat jam di dinding


Bebi menengok jam menunjukkan pukul 12 siang. Ia pun bergegas mencuci muka, ia celingukan mencari toilet nampak di ujung ada pintu tertutup bertuliskan privat dia berjalan pelan dan membukanya. Dan betapa terkejutnya saat dibuka ternyata, ruangan itu di desainnya cantik cukup dua orang untuk tidur lalu ada wastafel serta kamar mandi. Buru-buru, Bebi masuk ke dalam kamar mandi.


"Waw, keren sekali."


Di sisi lain, Brian, Johan, Axel serta Ben baru saja selesai meeting. Mereka kini menuju ruangan presdir.


"Jo, kau makan bareng aku atau dua anak muda ini," ucap Brian pada Johan asistennya


"Aku bareng kau, selera kita kan sama."


"Selera tua," celetuk Ben


"Kau bilang apa, hah," Brian tak terima


"Slow man," ucap Johan menenangkan diri


Tiba-tiba, ada sosok wanita cantik keluar dari ruang pribadi Ben, dan itu membuat seya terkejut.


"Ben, aku mau-"


"Bebi," ucap kompak para lelaki tapi tidak untuk Ben


"Oh my god, jadi ada menantuku," ucap Brian


"Jadi tadi gini, Dad. Bebi, sakit perut jadi aku suruh mereka jemput dia bawa kesini."


"Kenapa kamu jelaskan begitu, Daddy tak masalah asal tahu tempat aja begituan."


Wajah Bebi dan Ben seketika macam tomat menahan malu.


"Bebi, duduklah."


"Iya Dad."


"Aku rasa kalian butuh honeymoon."


"Apa!" kedua sejoli itu kompak


"Kenapa? Masih belum siap punya baby."


Bebi bingung menjawabnya sedangkan hati mereka belum bersatu.


"Begini aja, kalian luangkan waktu untuk sekali-kali makan malam atau sekedar jalan kemana gitu untuk saling kenal. Daddy tahu kalian belum ada rasa tapi sepanjang kalian bersama pasti rasa itu tumbuh. Dulu Daddy begitu dan kalau ingat butuh perjuangan ekstra, bukan begitu, Jo," Ucap Brian


"Benar sekali bos. Dan itu akan menjadi kenangan indah orangtuamu."


"Atau kau tinggallah berdua di apartemen sementara, Ben."


"Baik, Dad."


"Ya udah, Daddy pulang dulu. Kalian hati-hati, nanti pulangnya."


"Siap Dad."

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Usai Daddy Brian dan Johan kelyar dari ruangan Ben, kini giliran Axel


"Aku pamit, kak."


"Pamit, mau kemana?"


"Mau makanlah."


"itu, ada makanan," Ben menunjuk meja berisi bermacam makanan yang sudah di tata rapi lagi oleh Ben.


"Kau beli sebanyak ini."


"Udah, makan. Nggak banyak omong."


"Oke thanks. Kakak ipar udah makan."


"Udah kok, Xel, makanlah. Kamu nggak makan, Ben," tanya Bebi pada suaminya


Ben menengok dan berbalik kearah istri lalu mendekat.


"Kamu bertanya padaku."


"Iya , apa ada yang salah," Ben mendekati istrinya hingga jarak wajah mereka hanya sejengkal


Axel kesal bisanya kedua sejoli itu memamerkan kemesraan didepan mata. Belum saapi dijawb Ben ada yang menyahutinya


"Ada," Axel menyahuti ketus


"Kalian emang nggak ada akhlak, pamer mesra disini, berasa obat nyamuk aja. Udah, mending aku ke ruanganku."


Axel keluar sambil membawa makanannya, setelah memastikan Axel keluar sedangkan Ben, menarik tengkuk sang istri dan menciumnya. Ciuman itu membuat keduanya berdebar, sesaat dilepaskan oleh Ben agar bisa bernafas.


Ben dan Bebi menjadi salah tingkah. Ben beralih menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Sesekali Ben melirik istrinya yang bermain ponsel dengan isengnya ia mengirim pesan pada Bebi.


"Maaf, soal barusan."


Setelah mendapat pernyataan tentang dia adalah


"Apa kau sungguh?"


"Iya, aku kan mencoba menyukai mu meski hatimu bersama orang lain."


"Maksudmu Vivian."


"Tahu, siapa namanya," ucap Bebi pura-pura


Ben tersenyum mendekat lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Kau harus tahu, aku udah melupakan istri orang itu. Semenjak kau menolongku saat aku mabuk. Orangtuaku benar, memilihkanmu untukku."


Ben menghadapkan tubuh mungil istri agar berhadapan dengannya


"Jadi, kau mau menerimaku?"


"Iya."


Lalu, keduanya terlibat percintaan di ruangan itu seketika mode kedap suara otomatis pintu di nyalakan oleh Ben.


Di sisi lain, sekretaris Dion ingin minta tanda tangan Ben tapi ruangannya terlihat sunyi dan tertera Dnd. Ia bingung harus gimana, lalu terfikirkan oleh Dion untuk minta bantuan Axel. Pria tampan itu mulai mengetuk ruangan Axel.


Tok


Tok


"Masuk."


"Dion, duduklah. Ada apa?"

__ADS_1


"Maaf tuan Axel, saamau minta tanda tangan tuan Ben namun beliau sedang mode dnd.


"Hah mana ku lihat."


Dion menyerahkan berkas pada Axel lalu dibacanya.


"Oke, biarka aja disini. Nanti aku nyerahin ke dia. Kalau mode begitu ada istrinya di dalam."


"Oh begitu. Ya sudah tuan, saya kembali keruangan."


"Baiklah."


Axel mencoba menghubungi Ben tapi tak diangkat. Sedangkan yang di telpon baru saja selesai berdandan setelah puas bermain.


"Sayang, mau pulang sekarang."


"Iya capek, kau sih."


"Maaf, oke come on."


Ben memberikan lengannya pda istri dengan senyum merekah berjalan mesra dan saat kelar dari ruangan ada wajah yang ta menyukainya.


"Ehem, enak kan. Ini kau tanda tangani," ucap Axel


"Iya nanti, aku antar istri pulang dulu."


"Ciye.. Emang punya istri."


"Mau aku lempar pakai sepatuku."


"Ampun bang. Ya udah hati-hati, bye kakak ipar."


"Bye juga adik ipar."


Keduanya pun masuk ke dalam lift, saat di dalam lift semua mata tertuju pada pasangan ini. Mereka sungguh pasangan romatis dan cocok. Sampai di lobby pun menjadi pusat perhatian apalagi keduanya nampak ramah.


Mobil Ben melaju sedang, menuju rumahnya. Sesampainya , Ben tak ikut masuk ia hanya mengantar sampai d halaman rumah karena masih ada pekerjaan menunggunya.


"Sayang, nati kita makan malam. Kau dandan cantik, oke. Aku langsung baik."


"Baiklah, hati-hati Ben."


"Siap sayang," Ben mengecup kening istri lalu membukakan pintu mobil


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ben keluar dari halaman rumah menggunakan mobil sportnya, kembali ke kantor.


Sedangkan Bebi berjalan masuk ke dalam rumah saat membuka pintu iaterkejut ada mertuanya senyum.


"Bunda."


"Terkejut ya, mana Ben."


"Udah balik lagi, Bunda. Cuma mengantar pulang Bebi."


"Oh kirain ikut pulamg. Yaudah kamu maka dulu, Beb."


"Udah Bunda nanti aja, badan Bebi capek mau istirahat dulu."


"Habis olahraga," ucapnya menahan tawa


"Huh, Bunda."


"Ya uda sana tidur. Mau dibangunin jam berapa?"


"Nanti Bebi bangun sendiri, Bunda. Mau makan malam sama Ben."


"Oh ya, baguslah kalau begitu. Bunda seneng kalian udah deket."

__ADS_1


"Iya bunda, Bebi keatas dulu."


Saat sampai di kamar ada pesan dari suaminya Ben, membuat ia kesal.


__ADS_2