
Penerbangan mereka berdua akhirnya sampai di bandara Singapura. Dan di sana keduanya sudah di jemput para bodyguard Marvel. Tiba di rumah mereka, Marvel masuk kamar sama hal nya dengan Alex. Para maid bingung, kenapa mereka hanya berdua saja dan sikapnya aneh.
"Ada apa dengan tuan besar dan tuan muda Alex ya?"
"Tahu, udah yuk kerja lagi."
Di kamar, Alex mengabari Mommy nya jika dia sudah tiba di rumah. Dan juga memberi kabar pada temannya di grup chat. Seketika grup chat menyerbunya.
"Woy, mana oleh-olehnya."
"Oey anak sultan, kue nya mana."
"Lex, besok datang lebih pagi. Kita tanding dengan cewek soalnya. Kita harus menang."
"Hah, kok team cewek."
"Maksudnya yang jago ada satu cewek, cantik pula, jangan sampai kau kalah, man."
"Oke-oke. Tenang aku nggak bakal kalah."
Begitulah isi chat grup teman-teman sekolah. Sesaat merasakan lelah lalu, ia memejamkan mata sejenak.
Keesokan hari.
"Pagi Dad," sapa Lex pada Marvel.
"Pagi Lex, kamu bareng atau bawa motor."
"Pakai motor aja, Dad."
"Ya udah hati-hati. Jam berapa tanding."
"Nanti pulang sekolah kok, Dad."
"Tak doain menang."
"Amin."
Mereka mulai berdoa dan menyantap makanan di pagi yang cerah ini, secerah hati Alex. Tak lama keduanya berpamitan pada maid. Alden masuk mobil sedangkan Alex membawa motor sportnya.
Tiba di sekolah, Alex diserbu para gadis cantik. Ia berlari agar para gadis tak mengejarnya namun ia malah menabrak seseorang.
"Aduh."
"Sorry."
"Eh kau itu nggak punya mata ya, jalan yang bener dunk," ucap gadis cantik bermata indah di depan Alex.
"Ops sorry. aku kan udah bilang."
"Berisik," ucapnya berlalu membuat Alex melongo bisanya ia dicuekin.
Dari kejauhan teman-teman Alex melihat adegan tadi dan mereka kini menghampiri nya.
"Eh Lex, gila tapi tuh cewek cantik banget."
"Iya, aku aja kaget lihatnya. Ada makhluk cantik nyasar ke sini."
"Eh Lex jangan terpukau sama wajahnya, dia itu lawanmu nanti."
"Maksudmu dia adalah cewek jago yang kau bilang lawanku nanti."
"Yoi."
"Gila, cewek itu emang bisa."
"Jangan ngremehin kau. Dia itu juara mulu, dan satu lagi dia pewaris tunggal Rahardian group."
"Oke, kita lihat saja siapa yang bakal menang aku atau dia. Aku jadi penasaran."
__ADS_1
"Aku taruhan mobil ku kalau kau menang, tapi kau kalau kau kalah mobilmu aku ambil," ucap Dio.
"Oke deal. Siap-siap aja kau nangis."
"Siapa takut."
Beberapa jam kemudian di sekolah Bina putra tepatnya sekolah Lala rahardian. Lala dalah terkenal judes dan anti cowok karena pikirannya hanya sukses dan maju seperti mimpi orangtuanya. Selain jago basket gadis cantik keturunan bule Amerika itu adalah jago bela diri. Dia adalah pewaris tunggal Rahardian group perusahaan terbesar di Singapura.
"La, ayo latihan dulu," seru Beni.
"Nggak ah, lagi males."
"Eh La, nanti kau kalah gimana."
"Nggak mungkin , udah sana main sama yang lain. Sumpah aku lagi badmood nih."
"Oke-oke."
Satu jam kemudian, sekolah Bina putra mulai ramai para siswa bersiap-siap memberi dukungannya. Tak lama, lawan mereka dari sekolah bimasakti datang, saat para pemain turun dari mobil semua mata tak berkedip memandang apalagi ada si tampan Alex.
"Waw, siapa tuh keren anjir."
"Wah aku nggak jadi pulang, mau dukung sekolah ah."
"Cih, kalau ada yang bening. Buru-buru kau itu."
"Udah diem, jangan berisik."
Alex, Dio, Rafi, Viko dan Egi sudah berada di lapangan basket bersama pelatih dan supporter dari sekolahnya.
"Gila ceweknya cakep-cakep. Cuy," ucap Dio.
"Kau itu dimanapun, kau bilang cakep."
"Hahhahahaa tahu aja."
"Eh sana yuk."
"Jika aku menang, kau akan jadi budakku selama sebulan tapi jika aku kalah sebaliknya," ucap Alex pada Lala.
"Oke, kita lihat saja nanti," ucap Lala menyenggol lengan Alex berlalu.
Alex mengepalkan tangan dengan wajah merahnya, ia bertekad tak mau dikalahkan cewek judes itu.
Sesaat pertandingan di mulai, pertandingan sekitar 40 menit, akhirnya pertandingan betakhir, Kemenangan di raih Bimasakti. Semua bersorak.
Huuuuu
Alex mengacungkan jempol ke bawah pada Lala, si judes itu hanya tersenyum tipis menatapnya. Dan tak lama babak terakhir semua sungguh tegang apalagi Lala dan Alex. Beberapa saat.
Yeee
Sorak Bima sakti supporter, Lala melongo di buatnya atas kemenangan lawannya.
Teman-teman tak menyangka kali ini Lala kalah dari lawannya. Lagi dan lagi Alex mengacungkan jempol ke bawahnya.
"Brengsek. Pasti curang dia!"
Lala yang kesal menghampiri Alex
"Kau pasti curang kan, kau membayar mereka bukan."
"Hei judes, apa kau bilang aku curang. Meski aku banyak duit aku main sportif."
"Dan satu lagi lihat tuh sipa yang curang," tunjuk Alex pada pelatih Lala.
Sungguh memalukan baginya, ingin rasanya tenggelam saat itu juga.
"Jadi jangan lupa perjanjian kita judes. Budakku selama satu bulan. Ini nomer hp ku, mulai besok pagi kau jemput aku di rumah nggak pake lama."
__ADS_1
Alex menyunggingkan senyuman dan pergi dari hadapan Lala. Lala tak terima dan menghentak-hentakkan kaki nya.
Sedangkan Alex dan kawan-kawan balik ke sekolah mereka. Sampai disana Dio mau kabur tapi tangan Alex mencegahnya.
"Eits mau kabur kau. Mana kunci mobil kau."
"Em, Lex, kamu ngga kasihan sama aku. Itu mobil kesayanganku. Gimana kalau berangkat sekolah kalau kau ambil."
"Cih dasa pecundang, makanya jangan berani menantangku. Udah kau pakai aja, aku juga nggak suka sama mobilmu."
"Beneran."
"Iya, atau aku berubah pikiran."
"Thanks Lex."
"Hem."
Alex sudah tak sabar esok pagi, untuk mengerjai si judes cantik itu. Kini lelaki tampan itu bersiap pulang. Saat perjalanan pulang ia melihat gadis tak asing di tepi jalan, ia berhenti sejenak dan menghampiri nya.
"Kau."
"Kenapa, kau kira siapa? Hantu."
"Aku kan nggak bilang. Kenapa mobilmu."
"Bannya kempes."
"Dan kamu nggak panggil tukang tambal ban gitu."
"Ponselku mati."
"Haahhahahha, sumpah kau itu menggelikan. Untung aku lewat jadi kau harus berterimakasih padaku. Aku telpon dulu."
Tak lama tukang tambal ban datang, Lala tersenyum kikuk di saat seperti ini Alex masih mau membantunya.
"Thanks."
"Oke. Oh ya jangan lupa datang pagi-pagi."
"Iya."
Alex pergi dan melajukan mobilnya kembali ke rumah. Lala sungguh malu kedua kalinya, ia akan mematuhi ucapan Alex jika jadi budaknya karena . Dia merasa tertolong berkat Alex.
Sampai di rumah, Alex merebahkan diri, namun saat ia akan memejamkan mata ada sebuah ketukan dari pintu kamarnya. Ia beranjak dan melihatnya.
"Daddy."
"Hai boy, gimana juara nggak."
"Alhamdulillah juara Dad. Berkat doa Daddy juga."
"Alhamdulillah, ini untukmu."
"Apa ini Dad."
"Kau ini coba teliti ini kunci apa."
Sekejap Alex meneliti dan terpampang disitu mereknya ia pun bertanya.
"Jadi."
"Ayo turun."
Di bawah ada sebuah mobil sport keluaran terbaru didepan mata Alex.
"Selamat Lex."
"Makasih Dad."
__ADS_1
Tiba-tiba ada yang menyeletuk dari belakang.
"Selamat Lex "