Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Dalangnya


__ADS_3

"Kenapa kau menunjuk wanita itu, Jo."


"Dia pasti dalangnya."


"Maksudnya?"


"Wanita itu berada di tempat kejadian kecelakaan Ayunda."


"Kau kerahkan anak buah buat membuntuti wanita itu. Sedangkan kita ke jalan kemarin dimana kecelakaan istriku."


"Oke."


Wanita yang di maksud Johan kini, berjalan menuju keluar rumahsakit karena ia sudah tahu kondisi targetnya.


"Pantau dia, jangan sampai lolos."


"Baik bos."


Di perjalanan menuju rumahnya, wanita itu membuka rambut palsu. Tapi tiba-tiba, ada sebuah mobil menghadangnya.


Cit


"Aw, kau tak bisa nyetir."


"Sorry bos. Ada mobil menghadang kita."


"Mana?"


"Itu bos."


Wanita mnlebelan ludah kasar karena ia tak tahu siapa mereka dan sama ini ia tak pernah berurusan dengan orang lain.


Dan pqra bodyguard itu berjalan emngahmpirinya dan menggedor


Tok


Tok


"Buka pintunya," teriak orang tersebut


Dan saat ia membuka, dengan sigap bodyguard itu membius wanita itu. Dan membawanya ke suatu tempat.


Di tempat lain, Brian mendapat kabar jika target sudah di ruang bawah tanah.


"Halo bos, target siap."


"Oke."


Bria menutup telpon dan Johan bertanya


"Ada apa, Bri?"


"Target sudah diamankan."


"Bauslah, kita kesnan sekarang atau."


"Tunggu, kau minta tolong pada bodyguard untuk tanya cctv disini, dan suruh kasih ke aku."


"Oke."


15 menit kemudian, Brian dan Johan menuju ke ruang bawah tanah. Sampai disana, langkahnya terhenti karena mendapat telepon dari Jessi.


"Iya halo, assalamuaikum Jes."


"Waalaikumsalam kak. Kak, kak Ayu udah sadar."


"Alhamdulillah, baiklah kakak kesana."


"Iya kak, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Usai menutup telpon, Brian berbalik badan dan mengajak Johan ke rumahsakit.


"Bri, kenapa balik sih. Udah di ujung pontu juga," gerutu Johan bingung


"Diem, berisik. Atau kau ku lempar."


"Oke-oke."


Brian melajukan mobil nya agak kencang membua Johan berpegangan kuat.


"Brian, gila kau ya," teriak Johan


Brian tak menghiraukan ocehan asistennya, ia malah menambah kecepatannya. Dan Johan sam


semakin ketakutan.

__ADS_1


"Oh no, mami, anakmu masih ingin punya anak lagi," teriak Johan lagi


Brian cekikikan melihat wjaah ketakutan sahaatnya iti, tak lam mereka pun sampai di rumah sakit. Johan pun teriapar tak berdaya keluar dari mobil Brian, dan duduk bersandar di dekat mobil.


"Astaga, ceo sialan itu."


Tiba-tiba, ada seseorang menyapanya


"Anda nggak apa-apa, tuan."


"Saya masih hidup, sudah sana," usir Johan kesal


Sedangkan Brian baru saja masuk ryangan da berhambur memeluk Ayunda.


"Maafkan Daddy, sayang. Maaf, Daddy janji nggak baka bikin kamu sedih lagi, ya," ucap Brian mencium pipi Ayunda


Jessi bahagia akhirnya kakaknya berbaikan lagi. Tapi, Ayunda bukannya bahagia namun ia berkata, "Siapa anda?"


Deg


Brian melepas pelukannya saat istri bilang siapa dirinya.


"Sayang, jangan becanda. Ini tak lucu."


"Maaf saya tak mengenal anda?"


"Lalu, kau kenal siapa?"


"Yang aku ingat, aku menyayangi Brian bukan anda."


"Saya Brian, jadi anda menyayangiku."


"Percaya diri sekali anda."


"Sangat."


"Ah, udahlah kalian malah akting. Mau aku buatin sinetron sekalian," gerutu Jessi kesal


"He ... Sorry Jes. Apa ada yang sakit?"


"Nggak ada, bawa sini anak-anak, Dad. Aku kangen mereka."


"Ok siap nyonya."


Brian keluar dari ruangan menelpon bodguardnya agar menjemput anak-anak. Dan setelah menunggu kurang lebih 20 menit ahirnua anak-anak datang bersma abodyguardnya.


"Daddy, mana Bunda," tanya Ben


"Oh iya, tuan."


Mereka pun berjalan masuk ke dalam ruangan, Bem dan Axel berhambur memeluk.


"Maafin Ben, tak bisa menjaga Bunda."


"Axel juga bunda."


"Eh, kalian ngapain pada nangis. Cowok nggak boleh lemah, yang kuat ya."


"Baik Bunda. Oh ya, kapan pulang Bunda."


"Tak tahu Ben, nanti pasti dokter kesini."


"Udah, kalian duduk," ujar Johan


"Iya Om."


"Daddy akan mengadakan syukuran."


"Nggak usah Dad, aku nggak mau rame-rame."


"Ya sudah, saya nurut pada nyonya."


"Terimakasih tuan."


"Ya udah, Daddy keluar dulu. Ada yang mau nitip."


"Aku es krim."


"Aku coklat aja, Dad."


"Kalau Bunda."


"Nggak, aku mau tuan baik-baik saja sampek sini."


"Baiklah."


"Ya udah, aku juga mau pamit kak."

__ADS_1


"Oh ya terimakasih pengantin baru, maaf merepotkan. Oh ya, kau besok ke Maldives bukan."


"Sama-sama kak, kalau ke Maldives mungkin lusa kak, mau nyelesin di kantor dulu sebelum honeymoon," ujar Rendra


"Oh ok, have fun kalian."


"Iya kak, makasih. Kita pulang dulu, kak Ayu cepet sembuh, duo tampan dan baby cantik, Om pulang ya."


"Siap Om, hati- hati."


"Tante cantik juga pulang dulu ya."


"Yah, ikutan aja nih," ledek Axel


"Huh, dasar ini bocah. Iseng banget sih."


"Hati-hati Tante."


"Iya, jaga Bunda dan adek ya."


"Siap Tante," ucap Ben dan Axel


Brian, Jessi dan Rendra keluar dari ruangan dan diikuti oleh Johan. Sampai di depan rumah sakit, Brian dan Johan pamit ke tempat tujuan pada Rendra dan Jessi.


Brian melajukan mobilnya menuju ruang bawah tanah. Sampai di ruang bawah tanah, Brian dan Johan membuka ruangan itu dan terlihat wanita paruh baya tak karuan wajahnya.


"Siapa kau?"


"Cuih, tak perlu tahu saya siapa. Yang terpenting kalian sudah menangkapku bukan."


Brian menatap tajam kearah wanita itu lalu mencengkram dagunya kuat


"Aku bilang sekali lagi, jangan kau buat aku marah, nyonya."


"A-aku, istri dari neo grup."


"Oh ya, kenapa kau lakukan ini. Apakah yang menjadi motif kau."


"Kau membuat suamiku stroke, tuan BRIAN BARATAWIJAYA," teriaknya


"Apa? Kenapa saya yang jadi penyebabnya."


"Karena setelah kau menolak kerja sama, dia bangkrut. Karena kau yang bisa dia andalkan."


"Perlu kau tahu nyonya, saya tak terima karena perusahaannya banyak minus dari saya terutama kompensasi untuk karyawannya. Kemana hak karyawan tersebut, jagan bilang kau ikut memakannya. Dasar serakah, Sekarang terima akibatnya."


"Sialan kau, Brian."


"Hahhahahhha, mau marah. Silahkan."


"Kau ini iblis," bentak wanita itu


"Biar iblis tapi punya nurani sedangkan kau, pembantumu saja tak kau beri kelayakan. Dan sekarang saatnya pembalasan untuk istriku tercinta."


"Brengsek."


"Terserah kau emngumpat apapun. Kau, lakukan tugas terbaikmu," Brua tunjuk slaas au bodyguardnya untuk memberi pelajaran pada pelaku perencana pembunuhan istrinya


"Siap bos."


"Ayo, Jo," ajak Brian keluar


Saat akan masuk ke dalam mobil tiba-tiba tertahan pintu mobilnya.


"Tuan, ampuni sitri saya," ucap Ceo neo grup


"Kau, kau kenapa bisadisini."


"Maafkan saya tuan, saya mengikuti istri saya. Saya takut istri saya melakukan hal gila."


"Saya beritahu ya, istri anda semudah melukai istri saya. Jado jangan harap saya melepakan istri ada begitu saja. Untung saja istrinya menang melawan maut kalau tidak. Kalian udah aku hancurkan, mengerti," ucap Brian lantang


"Tapi,"


Brian sudah keburu masuk ke dalam mobil tak menggubris ucapan pria paruh baya tersebut.


Di perjalanan, ponsel Brian berdering terlihat nama istrinya.


"Halo Bunda, assalamuaikum."


"Waalaikumsalam, Dad. Ben dan Axel?"


"Ada apa dengan mereka?"


Ini visual mereka ya guys sesuai bayangan author


__ADS_1




__ADS_2