
Setelah Mami nya sudah tenang, Dira keluar dari kamar Mami. Ia pun memilih berada di ruang keluarga.
"Aku besok harus nemui kak Marvel, kasihan Mami."
Dira pun mulai mengirim pesan pada temannya untuk ikut menyelidiki.
"Lia, besok ikut aku ya."
"Kemana?"
"Aku mau cari tahu kakakku."
"Maksudmu kak Marvel."
"Iya siapa lagi."
" Coba aja tanya kak Wili, pasti tahu."
"Nggak nati malah panjag diangobrolnya, kamu tau kan."
"Tapi sebenarnya kamu suka kan."
"Oh apaan sih malah bahas dia. Udah pokoknya pulang sekolah ikut aku, please!"
"Iya-iya nonakaya, jangan lupa es krim untukku."
"Iya siapa pokonya. Maksih ya Lia."
"Iya."
Putri dari Ben dan Bebi sepakat akan mencari tahu sendiri, karena mereka sama-sama merindukan Marvel di tengah keluarga.
Pagi ini, Dira minta ijin pada kedua orangtuanya untuk membawa mobil sendiri sesuai kesepakatan dengan Lia sahabatnya. Sesaat, setelah mereka selsai makan pagi bersama, Dira pun minta ijin.
"Maaf Mi, Dad. Apakah Dira boleh bawa mobil. Nanti ada ekstra Mi, Dad."
Arga dan Ara saling menatap dan Arga pun mulai berbicara.
"Boleh sayang, tapi jangan ngebut."
"Siap Dad. Makasih udah ngijinin Dira."
"Iya sayang. Ya udah Daddy berangkat dulu,"tanya lembut Ben
"Baiklah, hati-hati. Assalamulaikum."
"Waalaikumsalam."
Bebi mengantar Ben sampai depan pintu rumah utama, hingga suaminya tak terlihat lagi.
Setelahnya, ia berencana mencari tahu tempat putranya.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di kost Marvel dan Kayla. Marvel dan Kayla sudah rapi dan siap menuju sekolah namun Marvel menyuruh Kayla duduk terlebih dahulu.
"Ada apa, Vel?" tanya Kayla bingung
"Ini buat kamu," ucap Alden sambil memberikan uang seratus ribu untuk istrinya
"Ini uang apa, Vel?"
"Ini halal, aku udah ketrima kerja dan ini gajiku. Maaf tapi tak seberapa," ucapnya sendu menatap sang istri
Kayla menerimanya dengan bahagia, ia terharu perjuangan Marvel, sifatnya berbeda 180 derajat.
"Makasih Vel, ini rejeki kita. Apakah aku juga boleh bekerja."
"Jangan Kay, kamu cukup doain suami mu ini."
"Baiklah. Oh ya apa kamu tak kangen keluargamu, Vel."
Deg
Marvel terkejut saat istrinya bertanya, ia ingin menangis tapi ia tak mau istrinya bersedih. Dia menahan semua rasa itu akibat keegoisan dulu. Kini, ia belajar semua dari hukuman Daddy nya.
"Ada rasa itu, tapi ini demi kebaikan kita sayang. Sekarang kita berangkat ya."
Kayla sungguh tak tega melihat raut wajah suaminya berubah masam, saat ia bertanya soal keluarganya. Kayla merangkul lengan Marvel berjalan menuju sekolah mereka. Saat keduanya berjalan, Ben sekilas melihat putra dan menantunya berjalan di trotoar. Ia ingin berhenti dan menyapa namun egonya menyuruh untuk melanjutkan jalan. Marvel juga melihat sekilas mobil mewah yang di lewat di depannya seperti milik Daddy.
Tak lama, Marvel dan Kayla sudah di sekolah. Setelah masuk kelas masing-masing, pukul 7 pagi bel berbunyi tanda jam pelajaran dimulai. Setelah belajar sekitar 3 jam lamanya, mereka berhambur ke kantin karena waktu istirahat. Saat Marvel akan menuju ke kelas Kayla, ada yang memanggil
Marvel berhenti sejenak dan menoleh ternyata adik angkatnya memanggil, ia pun mengulas senyuman.
"Dira. Apa kabarmu?" tanya Marvel lembut
"Kak, aku kangen kak Marvel. Kenapa kakak nggak hubungin kita," ucapnya sambil mengusap air mata
"Maafkan kakak, Dir. Kakak sengaja agar kalian tak tahu tentang kakak terutama Daddy. Kakak akan buktikan bahwa bisa mandiri."
"Udah sana, kamu makan. Kakak juga mau jemput Kayla," tambahnya
Marvel berlalu meninggalkan adik angkatnya sendiri,dan sedari tadi percakapan mereka di dengar para sahabat. Mereka ikut merasakan apa yang dialami Marvel. Willi muncul dan menghampiri Dira yang sedang bersedih.
"Dir, lebih baik kamu makan ya. Denger kan yang diucapkan kakakmu. Dia sekarang berubah, kau tenang saja," ucapnya menenangkan Dira
"Makasih kak, baiklah aku akan makan dulu. Kak Willi udah makan."
"Belum, bagaimana kalau kita bareng."
"Boleh kak."
Willi kegirangan melihat Dira tak menolak ajakannya, ia akan pamer pada para sahabatnya yang selalu mengejeknya. Lelaki tampan itu dengan percaya diri berjalan beriringan dengan Dira, semua mata tertuju pada keduanya apalagi Leo dan Revan melongo.
"Eh Leo, pukul aku. Ini mimpi kah," ucap Revan sambil mengucek mata memastikan bahwa tak salah yang ada di depannya.
__ADS_1
Dan pukulan mendarat di bahu Revan.
Bugh
"Aw, kau itu keras sekali mukulnya kamvret," teriak Revan
"Lah, kau sendiri yang nyuruh,Van," ucapnya terkekeh
"Ini keterlaluan, kau Leo," Revan sambil mengusap lengannya
"Dasar sinting," tambah Revan geram dan melanjutkan makannya
Sedangkan, Marvel dan Kayla tak makan di kantin, mereka makan bekal yang di bawa Kayla dan memakannya di gedung belakang sekolah. Saat makan bersama, Marvel dan Kayla terkejut ada Viona bersama teman-temannya memotret mereka. Marvel berdiri dan berjalan mendekat.
"Mana ponselmu," bentak Marvel
"I-ini," Viona gugup karena baru kali ini ia melihat Marvel marah begitu dengannya. Marvel dengan cepat menghapus yang ada di ponsel Viona, setelah selasai semua ponsel Viona ia lempar ke sembarang tempat. Viona melongo melihat ponsel barunya hancur.
"Oh no, brengsek kau Marvel," teriak Viona
Marvel mengajak pergi istrinya kembali ke kelas. Dan saat menyusuri lorong, Marvel menyuruh Kayla berhenti.
"Ada apa, Vel?" tanya Kayla
"Lihatlah, ada banyak minyak di sini."
Kayla melihat dengan teliti dan benàr saja minyak itu terlihat di lantai sangat banyak. Mereka pun berputar arah jalan menuju kelas. Lagi dan lagi ada kejutan untuk mereka ada seutas tali melingkar tepat di depan mereka.
"Aku tahu pelakunya siapa. Kau tunggu sini jangan melangkah sedikitpun, sayang."
Kayla mengangguk lalu Marvel pergi entah apa yang dilakukannya. Tiba-tiba, Alvin berlari terburu-buru dan ia menabrak tali di depannya.
Brug
Byur
Alvin tersiram ember berisi tepung tepat di atas kepalanya, semua para siswa yang melihat sontak tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Kayla pun ikut menahan tertawa melihat adegan Alvin. Dengan isengnya, Marvel memotret Alvin yang sudah bermandikan tepung itu.
"Waw, tinggal goreng aja jadi rempeyek kawan," Marvel cekikikan tapi menatap tajam Alvin
Dan para sahabat Marvel juga datang ikut mengerjai Alvin.
"Huahahahaha. Gila kegantengan hilang, tinggal goreng-goreng."
"Jadi ayam goreng."
Alvin sungguh kesal karena jebakannya malah kena dia sendiri. Di hatinya, ia mengumpat sejadi-jadi nya atas kejadian yang tak sesuai ekspetasi.
Marvel dan yang lain merasa sudah puas melihat rempeyek jadi-jadian. Akhirnya, mereka meninggalkan Alvin berkutat dengan tepung sendirian.
"Brengsek, sialan! Awas saja kau Marvel," ucapnya menyeringai
__ADS_1