
"Apakah aku boleh mengenalmu, Hil," tanya Rayan menatap Hilda penuh ketulusan
"Lebih baik kau pergi, Ray."
"Tapi aku," Rayan menghela nafas saat tahu gadis yang mengambil hatinya pergi begitu saja.
Rayan tak mau berhenti disitu saja, ia akan mencari tahu siapa Hilda sesungguhnya. Kini, pria tampan itu tengah berada di depan laptop mencari tahu semua. Di situ tertera nama Hilda beserta identitasnya, lelaki tampan itu semakin penasaran karena identitasnya di samarkan.
"Masak iya, dia hanya sebatang kara, nggak mungkin dilihat dari pakaiannya semua mahal," ucap Rayan bermain dipikirannya sendiri.
"Baiklah nona, kau buat aku penasaran. Jangan salahkan aku jadi penguntitmu sepanjang hari."
Tiba-tiba, ada ketukan dari pintu kamarnya, Rayan beranjak dari kursi dan membukanya.
"Ray, ayo sarapan dulu. Habis ini kamu ikut Bunda."
"Baik Bun."
"Oh ya, ini pakai nanti," Sarah memberikan paperbag pada putra angkatnya
"Siap Bun," ucapnya menyunggingkan senyuman.
"Kenapa kamu senyum-senyum. Apa ada sesuatu nak, sehingga kau tersenyum bahagia," tanya Sarah menyelidik
"Nggak ada kok Bun. Udah ayo, katanya ngajakin makan."
"Iya-iya, anak nakal."
Saat di meja makan dengan telaten, Rayan mengambilkan untuk Bunda nya. Rayan sangat menghormati Sarah, dia memuliakan Bundanya meski hanya orang tua angkat karena berkat jasanya menolong saat kecelakaan.
Sampai saat ini, Rayan belum mengingat siapa dia. Yang diingat hanya wajah cantik yang selalu muncul di mimpi dan itu mirip Hilda. Makanya ia ingin cari tahu semua tentang Hilda namun identitasnya tak jelas membuat ia ekstra lebih untuk mendalaminya. Mungkin butuh paparazi mengintai 24 jam.
....
Lelaki itu kini sudah rapi dengan setelan jas navy, rambut ia rapikan ke belakang sungguh memancarkan aura ketampanan yang hakiki. Lelaki itu juga tak lupa memakai kacamata hitamnya lalu turun menghampiri Bunda Sarah.
Saat turun, asisten sungguh kagum dengan ketampanan putra angkat Sarah. Sarah mengulas senyuman, dia berharap suatu saat Rayan menemukan istri yang baik.
"Come on, baby," ajak Rayan pada Bundanya
"Dasar nakal."
Mereka pun berangkat dengan diantar sopir keluarga, tak sampai setengah jam mobil mereka sudah sampai di sebuah toko kue. Saat Rayan turun untuk membukakan pintu mobil Bundanya, riuh karyawan disitu terpesona dengan tampannya putra Sarah.
"Huuuu."
"Waw, putra Bunda Sarah tampan amat."
Tak lama Spv memberitahu untuk segera menyambut kedatangan pemilik toko tersebut. Hilda yang karyawan baru diajak Meli dan Seli untuk berbaris di depan.
"Ayo Hil," Meli mengajak berbaris
"Eh, ada apa."
__ADS_1
"Itu pemilik toko datang, jadi kita harus menyambutnya."
"Oh begitu."
Dan saat Sarah bersama Rayan berjalan di red carpet yang sudah di pasang karyawan, Sesungguhnya Sarah malu tapi ini memang kemauan para karyawan menyambutnya.
Nampak dari kejauhan mata elang Rayan menangkap sosok yang ia kagumi. Ia tersenyum tipis dan tepat ia berhenti di depan Hilda Semua karyawna menunduk itu menegok kearah Hilda karena pemilik itu berhenti.
"Hah, kenapa berhenti di depan tuh cewek," tanya hati salah satu karyawan heran
Hilda yang sudah kecapekan menunduk, ia kesla dan berkata, "Lama amat sih," gerutunya
Hilda sontak menutup mulut karena di depannya nampak Rayan yang menyunggingkan senyuman, lalu ia menengok kearah teman-teman yang menatap karena ucapan barusan. Ia menutup mukanya dia ingin rasanya sembunyi di lubang semut.
Bunda yang melihat keduanya terkekeh apalagi tingkah Hilda yang lucu itu. Bunda mengulas senyuman pada Hilda dan berlalu bersama putranya.
Setelah pemilik itu pergi ke tempat lain, Hilda jadi bahan olok-olekan karyawan lain.
"Eh jangan sok kecakepan ya di depan Bos Rayan, dia itu nggak mungkin suka sama kau. Jangan mimpi," sergah salah satu karyawan yang menyukai Rayan
"Eh denger ya, aku nggak ada kepikiran kesitu. Dasar sok tahu, ayo Mel, Yan," ajak temannya
"Ayo, jangan denger uler keket membual, Hil."
"Weeek," Yanti menjulurkan lidah mengejek
"Uh awas aja kalian."
Fans fanatik Rayan itu akan membuat perhintungan pada Hilda jika masih berani mendekati idolanya.
Di kantor, Bunda Sarah dan para atasan memberi tau jika toko akan dipimpin oleh putranya Rayan.
"Jadi, saya mohon dukungannya untuk putra saya."
Dan semua tersenyum lalu mengangguk bebarengan dan memberi tepukan riuh.
"Terimakasih kalian sudah mendukung saya, mohon supportnya
Setelah acara penggantian pemimpin, Sarah mengajak ke ruangannya. Di situ Sarah memesankan makanan untuk putranya.
"Makanlah nak."
"Nanti aja Bun, aku mau keliling."
"Keliling atau godain Hilda."
"Apaan sih Bun, Rayan memang ingin keliling aja," elak Rayan padahal memang iya.
"Ya sudah sana, jangan lupa di makan nanti."
"Siap Bun."
Rayan penuh semangat berjalan berkeliling hingga ada bagian ada Hilda di situ, ia melangkahkan kakinya menuju Hilda. Saat teman-teman Hilda tahu jika kedatangan Rayan mereka satu persatu pergi, Hilda masih tak menyadari jika ia sudah sendirian.
__ADS_1
"Mel, mana tepungnya katanya mau ajarin aku."
Rayan memberikan tepung pada Hilda yang masih tak menyadari hal itu.
"Telurnya mana, Mel."
Rayan pun mengerjai Hilda karena cewek itu masih nggak sadar juga.
"Ini apaan sih Mel, kok telurnya gede amat."
Akhirnya Hilda sadar sepertinya sedang dikerjain, ia menoleh ke belakang ternyata ada Rayan mengedipkan mata genitnya.
"Kau."
Hilda kesal ingin pergi lagi dan lagi tangan kekar mencegahnya.
"Mau kemana kau, nona."
"Mau makan," ucap ketus
"Galaknya, udah ayo ikut aku," Rayan menggandeng tangan Hilda
"Eh."
Meli dan Yanti semakin penasaran ada hubungan apa mereka berdua. Karena melihat tingkah keduanya seperti sepasang kekasih.
Di sisi lain, Rayan dan Hilda sudah berada di ruangannya. Rayan mengambil makanan untuk Hilda, lelaki jika sudah menyukai perempuan dia akan memperlakukan seperti ratu.
"Ini makanlah."
"Nggak, kamu mau ngeracunin aku. Aku tidak terima," ucap melengos
"Hil-hil, kau lihat tampangku seperti itu. Dasar kemakan sinetron."
"Idih, siapa juga nonton sinetron. Kau kali, kok tahu sinetron."
"Bukan gitu hanya ibarat, mana mungkin cowok keren kayak aku nonton kek gitu. udah deh mending kau makan sebelum ususmu lemas."
"Ih maksa banget."
"Kalau nggak mau dipaksa, ayo makan tuan putri."
"Iya-iya ini aku makan. Dasar bawel," gerutunya
sambil mengunyah makanan hingga belepotan
Rayan heran masih ada cewek yang nggak sungkan-sungkannya makan seperti itu. Ia melihat ada belepotan, Rayan dengan cepat mengusap dengan tisu. Hilda terkejut atas perhatian dari Rayan, dengan cepat ia mengambil alih tisu tersebut.
"Makasih. Makasih juga untuk makanannya, aku harus balik."
"Hil, nanti aku antar pulang."
ucapan Rayan tak digubris perempuan cantik itu, ia berlalu karena ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan bertemu dengan putri kecilnya.
__ADS_1
Usai Hilda pergi, tiba-tiba, kepala Rayan pusing dan sekilas ada wajah tersenyum padanya dan itu mirip Hilda.
"Kenapa sangat mirip," pikir Rayan sambil memijat pelipisnya