Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya

Anak Geniusku Adalah Pewaris Kaya
Merelakan


__ADS_3

"Nanti kita bahas lagi, Daddy antar ke sekolah ya," Brian mencoba mengalihkan pembicaraan


"Baik Dad. Bunda kita berangkat dulu."


"Iya hati-hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sepanjang jalan, Brian tak berkata sedikitpun pada Ben. Axel heran kenapa Daddy nya berubah jadi pendiam sejak obrolan tadi di rumah pikirnya.


Tak lama, mobil sudah berhenti di depan sekolah.


"Daddy, hati-hati."


"Iya, kalian juga."


Saat Ben akan salam, Brian melajukan mobilnya kencang membuat Ben terkejut.


"Daddy, kenapa ya, Xel."


"Tahu, dari kita berangkat diem aja. Apa ada masalah di kantor ya."


"Mungkin, semoga cepat selesai."


"Amin. Udah, ayo masuk."


Ben masuk ke dalam ruang serba guna dan bersiap lomba cerdas. Axel dan juga temannya sudah duduk melihat kakaknya memenangkan lomba.


"Selamat pagi anak-anak, saya sebaai dewan juri lomba cerdas kali ini. Saya ingin semua tidak ada kecurangan. Dan ingat ya, kita siarkan secara live."


Prok


Prok


"Dan kita mulai ya, di harapkan diam."


Di kantor Baratawijaya, Brian dan asistennya Johan baru saja keluar dari ruang meeting. Dan mereka berpapasan dengan kliennya.


"Selamat pagi tuan Brian."


"Pagi tuan Roy."


"Saya sungguh kagum dengan bocah tampan di televisi itu, sungguh aku ingin kerjasama dengannya."


"Siapa gerangan itu, tuan Roy."


"Anda bisa lihat di televisi, saya jamin pasti tertarik."


"Oke, terimakasih tuan Roy."


Setelah kepergian kliennya, Brian masuk ke dalam ruangannya lalu menyalakan televisi. Dan saat televisi di nyalakan terlihat Ben sudah memegang piala dan di angkat teman-temannya.


"Ternyata Ben, Bri."


Brian terduduk lemas sambil berkata, "Haruskah aku merelakannya."


"Maksudmu apa, Bri?"


"Ben menang lomba, Jo. Artinya dia kan ke New york sekolahnya."


"Yang bener, keren."


"Tapi aku sungguh tak kuasa jika dia harus ke Newyork."


"Kenapa, Bri? Bukannya itu bagus, apalagi dia jenius."


"Aku masih ingin memantaunya, Jo."


"Ya kan kau bisa kesana, Bri. Berlebihan banget."

__ADS_1


"Kau belum merasakan rasanya anak masih kecil harus berjauhan. Dan kau tahu kan, aku begitu sibuk nggak mungkin bisa memantaunya ke sana. Sumpah Jo, aku bingung," ucapnya resah


"Bro, coba kau bicara pada anaknya. Jika anaknya mau, kau tinggal restui dan kau suruh anak buah buat jaga 24 jam kemanapun dia pergi. Aku tahu Ben, jadi incaran banyak pebisnis karena dia anak genius."


"Hei bro, kalau masih bimbang minta pendapat istrimu," tambah Johan


"Baiklah, makasih kawan."


"Aku mau ke sekolahnya dulu, sebelum ada yang membawanya."


"Siap, hati-hati."


Brian turun ke bawah lau mengemudikan mobil mewahnya menuju sekolah. Di sekolah, para siswa terkejut mobil mewah masuk ke dalam halaman. Saat turun ternyata adalah Brian baratawijaya orangtua dari Axel dan Ben. Salah satu siswa teman sebaya Ben tahu jika orangtuanya.


"Ternyata tuan Brian, pria kaya dan terkenal. Orangtua Axel dan Ben."


"Kok kamu tahu."


"Iya tahulah, aku kan baca berita. Lihat saja, nanti dia pasti nemuin Ben."


"Ok, siapa takut."


Dan benar saja, kini Brian masuk ke ruang guru tak lama Ben dan Axel masuk juga


"Nah kan, kau lihat."


"Belum tentu, mungkin mau kasih penghargaan Ben."


"Lalu, ngapain Axel ikut masuk jika ngasih penghargaan. Axel kan nggak ikut perlombaan "


"Benar juga ya, kita lihat saja dulu sampai kelar."


"Oke."


Di ruang guru


"Jadi begini tuan Brian, Ben menang perlombaan dan hadiahnya sekolah ke New york."


"Itu harus ke sanakah, Pak."


"Oh sukurlah. Jadi kamu gimana Ben, mau tetap di sini atau ke Newyork?" tanya Brian pada putranya Ben.


"Ben tetep disini aja, Dad."


Wajah Brian yang semula di tekuk kini terlihat puas degan jawaban putranya.


"Baiklah, jadi begitu pak."


"Baik, tuan Brian. Jadi penundaan, kalau Ben ingin pindah ke sana segera hubungi saya ya, tuan."


"Baik Pak. Terimakasih.


"Daddy, nanti kita pulag telat ada ektra."


"Oke, kalaian hati-hati."


"Siap Dad."


"Ya sudah, saya permisi Pak."


"Silahkan Tuan."


Brian keluar dari ruang guru tapi ia terkejut saat ada dua siswa di depan pintu menatapnya aneh.


"Maaf apa anda, Tuan Brian?"


"Iya, ada apa?"


"Saya Rio temen Ben dan ini teman saya Ciko, kami haya ingin memastikan jika anda benar orangtua Ben dan Axel."


Brian mengulas senyum dan mengelus kepala siswa tersebut.

__ADS_1


"Hanya itu."


"Iya."


"Iya, saya orangtua Ben dan Axel."


"Baik, kami permisi tuan."


"Iya."


Di balik pintu, Ben dan Axel melongo melihat tingkah teman sebaya nya. Sedangkan Brian kembali ke kantor dengan perasaan senangnya.


Di tempat lain, Jessi baru saja membereskan kamar terdengar dering ponsel terlihat nama pemanggil adalah kekasihnya Rendra.


"Iya halo, assalamualaikum sayang. Ada apa?"


"Waalaikumsalam, bentar lagi Designer datang ke apartemenmu, sayang. Jangan kemana-mana."


"Baiklah, terimakasih."


"Assalamualaikum."


"Waaalaikumsalam."


Jessi menutup telpon dan tak lama terdengar bunyi bel. Ia berfikir mungkin yang dimaksud Rendra datang. Prempuan cantik itu turun dan membuka ternyata Seorang wnaita paruh baya.


"Selamat siang, apa benar ini apartemen Jessi."


"Iya benar, nyonya. Saya Jessi."


"Boleh saya berbicara sebentar," ucapnya dengan wajah datar


"Boleh, silahkan duduk nyonya."


Wanita paruh abay itu dudk dan mula berbicara kembali


"Jadi saya langsung pada pokok permasalahannya. Nona Jessi saya hanya minta anda membatalkan pernikahan dengan Rendra."


"Maaf anda siapa nyonya? kenapa tiba-tiba datang dan berbicara seperti itu."


"Saya orangtua dari Viona. Putri saya jadi gila karena perbuatan Rendra dan kamu."


"Maaf nyonya, itu adalah karma yang ia buta pada saya. Perlu anda tahu apa yang buat dia gila. Karena obsesinya ingin kembali pada Rendra dengan berpura-pura di culik."


"Tidak mungkin putri saya rekayasa seperti itu."


"Kalau anda ingin tahu bisa bertanya pada asistennya Rendra."


Wajah wanita itu berubah masam saat mendengar penuturan dari Jessi


"Saya lebih baik pulang daripada mendengar ocehan anda yang tak bermutu, permisi."


Wanita itu keluar dari apartemen dan Jessi menutupnya


"Astaga, ingin ku cakar saja bibirnya itu. Seenaknya saja menyuruh orang batal nikah," gerutu Jessi


Tiba-tiba bel bunyi kembali, Jessi beranjak dari sofa dan melihatnya dan saat di buka ia ingin memarahi


"Saya sudah bilang nyonya," ucapan Jessi terputus saat tahu yang datang adalah designernya.


"Ops, sorry. Ayo masuk mbak."


Jessi menutup pintu dan mulai mencoba gaunnya.


"Coba ini, nona."


"Oke."


Usai mencoba gaun pertamanya dan ternyata sudah pas di badan.


"Waw, pas banget mbak. Aku nggak mau makan yang berlemak dulu, nanti nggak jadi lagi nikahnya," ucap Jessi

__ADS_1


Dan ucapan Jessi ada yang menyahutinya


"Kata siapa?"


__ADS_2