
“Ehem.” Gilang berdehem.
Gita dan Fara saling berpandangan, Gita mengaduh tanpa bersuara dan mereka berdua
siap kabur. Kedua tangan Gilang lebih gercep menarik kerah keduanya.
“Mau kemana?” Tanya Gilang.
Gita dan Fara menoleh bersamaan. Gita meringis, “Mau kesana.” Gita menunjuk pohon
yang pertama kali mereka datangi. Gilang menengok dan melihat ada tumpukan
rumput dan beberapa cemilan dan air mineral.
“Aduh..perut gue tiba-tiba sakit nih. Kak tolong lepasin Fara, panggilan alam nih.” Fara
meminta Gilang melepaskannya. Fara lebih dulu membuat alasan mendesak ini agar
bisa terlepas dari Gilang dan tidak dapat ceramah.
Gita menyenggol lengan Fara, dia tahu kalau Fara berbohong agar bisa lepas dari
Gilang.
“Lo ya nggak setiakawan, main kabur tinggalin gue.” Bisik Gita.
“Daripada ntar nasib gue sama kayak lo.” Bisik Fara, dia lalu lari meninggalkan Gita yang
masih jadi tawanan Gilang.
“Di hukum?” Gilang memutar tubuh Gita hingga berhadapan dengannya. Gita nyengir tak
bisa mengelak lagi.
“Kenapa bisa di hukum?” tanya Gilang dengan melipak kedua tangannya di dada dan
pandangannya tajam ke arah Gita. Dia tidak terlihat seperti Gilang kekasihnya
melainkan Gilang sang ketua osis yang menegakkan kedisiplinan.
“Nggak tahu, Bu Ana nggak suka sama gue kali.” Gita masih mencoba ngeles dengan
memberikan jawaban yang tidak masuk akal.
“Nggak usah menyalahkan orang lain, lagian Bu Ana nggak akan mengeluarkan murid kalau
dia nggak bandel.” Gilang menatap Gita semakin tajam agar Gita mau mengakui
kesalahannya.
“Iya deh, gue di hukum karena lapar.” Jawab Gita tapi masih belum spesifik. Dia
menggigit bibir bawahnya dan memainkan kedua bola matanya. Gilang mengambil
napas dalam-dalam lalu menghelanya karena Gita masih berkelit.
“Iya-iya, gue makan di kelas saat pelajaranya Bu Ana. Dan tadi ada cewek rese yang baru
aja masuk beberapa hari sok-sokan merasa terganggu dan mengaduk kepada Bu Ana.
Kalau saja dia nggak ngadu pasti gue sama Fara nggak akan di hukum.” Gita
menjelaskan kronologinya. Meskipun tindakaanya salah namun Gita belum mau menyadari kalau dirinya yang
salah.
Tuk!
Gilang menyentil kening Gita, “Udah berapa kali coba di keluarkan gara-gara makan saat
jam kerja?” tanya Gilang.
“Baru satu.. dua..ti...” Gita mencoba menghitung berapa kali dia ketahuan saat makan
di rumah. “Lupa, tapa banyak sih.” Jawabnya tiba-tiba jujur.
__ADS_1
“Kayak begitu masih saja di ulangi, itu kan hal yang tidak baik bagaimana kalau lo
sama Fara nggak naik kelas.” Gilang menasehati Gita.
“Maaf.” Katanya sambil menundukan kepala.
“Gilang.. di panggil Pak Ikhsan.” Panggil Monika. Gilang menoleh lalu mengangguk.
“Gue balik dulu.” Gilang mengusap kepala Gita lalu berlari kembali gabung.
“Selamat.”Ujarnya sambil mengelus dadanya dan kembali ke tempat semula.
“Gita.” Panggil Fara dari balik pohon.
“Astaga, kaget gue. Lo ya kayak hantu tahu nggak tiba-tiba nongol dari pohon.” Gita
mengelus dadanya.
“Di kiranya gue mbak kun-kun.” Fara manyun.
“Ya habis tiba-tiba nongol.”
“Selamatkan lo.”
“Untung aja dia di suruh balik, kalau nggak masih panjang ceramahnya.” Jelas Gita.
Gita dan Fara mengipasi wajah dengan tangannya, panas matahari yang sangat terik
membuat mereka rasanya pengin meleleh.
“Hari ini luar biasa banget dah panasnya, rasanya mau mencair tubuh gue.” Kata Fara.
“Benar mana istirahat masih setengah jam lagi. Bisa-bisa pas bel bunyi kita tinggal
tulang belulang karena meleleh.” Tambah Gita.
“Udahan yuk, lumayan loh kita cabutin rumputnya udah bisa buat makan kambing dua ekor
selama sehari.” Fara menoleh ke tumpukan rumput.
makan satu rumput kenyang.” Gita menunjuk setumpuk rumput yang hanya bisa buat
cemilan kambing bukan makan besar.
“Ya siapa tahu yang punya makan kambing Jaka Tarub terus yang ngasih makan bibinya,
siapa itu lupa gue.” Katanya Fara.
“Serah kata loh.” Gita melihat kearah Gilang yang masih pelajaran olahraga.
“Dari kejauhan saja kegantengan Kak Gilang masih kelihatan.” Gumam Gita sambil
memangku tangan. Fara ikut melihat ke arah Gilang, dia melihat kearah jam tangannya.
“Lima belas menit.” Kata Fara sambil menarik tangan Gita.
“Mau kemana eh..”
“Lihat lebih dekat kegantengan Kak Gilang.”
“Awas ya kalau lo jatuh cinta, gue mutilasi lo.” Ancam Gita.
“Gue mutilasi lo lebih dulu, gue nggak akan jatuh cinta sama Kak Gilang kecuali dia
yang nembak gue dulu.” Kata Fara sambil tertawa. Dan alhasil Gita memukul
kepala Fara lumayan keras.
“Bercanda” Katanya sambil nyengir kuda.
Gita dan Fara duduk di bawah pohon, mereka berdua nggak kapok meskipun tadi sudah
ketahuan.
“Lihat Far, Kak Gilang bikin gue meleyot.” Gita terpesona melihat Gilang yang sedang
__ADS_1
siap untuk lari. Wajah yang putih di penuhi keringat membuat kegantengan
tersendiri saat dia menyeka keringatnya.
“Sumpah baru sadar yang sesadar-sadarnya kalau Kak Gilang itu kegantengannya melebihi
orang-orang ganteng di sekolah ini.” Fara ikut terpesona.
Gita. Gita dan Fara sedang menikmati keindahan di kelas Gilang terganggu dengan teriakan seseorang, kehaluan mereka seketika buyar.
“Coba kita lihat yuk.” Ajak Gita.
Gita dan Fara ikut mendekati kerumunan, ternyata Monika yang terjatuh karena kakinya
terkilir.
“Gilang bantu Monika ke UKS.” Pinta Pak Ikhsan.
“Baik Pak, Monika bisa nggak berdiri?” Tanya Gilang. Monika menggeleng sambil
memegang pergelangan kakinya. Monika mengambil kesempatan ini agar bisa di
gendong Gilang.
Gilang langsung menggendong Monika, saat dia berdiri tegak matanya langsung melihat
Gita. Dan disitu Monika semakin mengambil kesempatan agar Gita cemburu. Gita
memutar tubuhnya supaya dia melihat lebih lama.
“Lang, kaki gue semakin sakit.” Kata Monika. Gilang langsung membawa Monika ke UKS.
“Dasar Monika, pasti cari kesempatan aja nih. Gue tahu tuh kaki nggak sakit.” Omel
Fara setelah mereka lewat dan seluruh siswa bubar karena bel sudah berbunyi.
Gita hanya diam karena bingung mau cemburu tapi Monika sedang cedera. Mau Biasa aja
tapi dia kesal.
“Sabar Buk.” Fara mengelus punggung Gita.
“Memangnya gue kenapa?” Gita pura-pura merasa baik-baik saja.
“Nggak usah sok kuat lo, wajah lo itu sudah menyiratkan kalau lo itu cemburu melihat
Kak Gilang menggendong Monika kan.” Fara membaca ekspresi wajah Gita dengan
tepat.
“Masa iya gue cemburu saat Gilang tolongin orang, itu namanya tidak
berperikemanusiaan.” Gita mengelak kalau dirinya cemburu.
“Masih saja nggak mau ngaku, padahal jelas banget di jidat lo tertulis cemburu.” Fara
menunjuk kening Gita.
Gilang menurunkan Monika di lalu berdiri, dia hendak pergi namun di tahan sama Monika.
“Lo mau kemana?”
“Gue panggil petugas dulu.” Gilang melepaskan tangan Monika.
“Gilang.” Panggil Monika.
“Ada apa?”
“Lo bakal temani gue kan?” tanya Monika.
“Sebentar lagi sahabat lo akan datang, lo diam saja sebentar gue panggil petugasnya.”
Kata Gilang.
“Gue nggak mau mereka, gue cuma mau lo.” Gumam Monika.
__ADS_1